Dendam dan “Bagaimana Jika?”

layoutsparks.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dendam adalah sesuatu yang amat problematis. Konfusius –seorang filsuf asal Cina kuno- pernah menyatakan, “Sebelum anda melakukan balas dendam, galilah dua kuburan.” Yang satu mungkin untuk korban balas dendam anda. Namun yang kedua untuk siapa? Untuk anda?

Dendam

Menurut Simon Critchley, seorang filsuf asal Inggris, balas dendam adalah suatu “hasrat untuk membalas suatu luka ataupun kesalahan yang diciptakan oleh orang lain, dan seringkali dengan jalan kekerasan.” (Critchley, 2011) Logika balas dendam adalah, jika kamu memukul saya, maka saya akan memukulmu kembali.

Pertanyaan kritisnya adalah apakah luka dalam diri saya hilang, ketika saya membalas memukul orang yang sebelumnya memukul saya? Critchley melanjutkan jika kita bertindak dengan motivasi membalas dendam, bukankah diri kita sendiri pada akhirnya menjadi semacam perwujudan dari rantai kekerasan yang, kemungkinan, akan berjalan tiada akhir? Lanjutkan membaca Dendam dan “Bagaimana Jika?”

Kita Mau ke Mana?

2.bp.blogspot.com

Oleh Franz Magnis-Suseno

Dua tahun dalam kepresidenan kedua Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa Indonesia seperti tenggelam dalam lumpur rawa egoisme, kepicikan, dan keputusasaan. Sebelas tahun sesudah gerakan reformasi menuliskan pemberantasan KKN di atas panji-panjinya, ternyata korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela seperti belum pernah tersentuh.

Kelas politik memberikan tontonan yang memalukan dan mengkhawatirkan kepada masyarakat. Sejauh kita layangkan pandangan, tak kelihatan sebuah visi, cita-cita luhur, bahkan sekadar keberanian dalam kepemimpinan. Lanjutkan membaca Kita Mau ke Mana?

11/9

encuentos.com

Oleh Goenawan Mohamad

Sudah sepuluh tahun lewat. 11 September 2001. Tapi saya ingat: malam itu, sembilan jam setelah dua pesawat itu ditabrakkan ke Menara Kembar di New York dan seluruh dunia terguncang, saya berdiri di tepi Bleecker Street, Greenwich Village.

Saya bersama Komponis Tony Prabowo. Kami terdampar di New York. Berdua dalam perjalanan ke sebuah kota kecil di California untuk menyiapkan revisi opera kami Kali, kami tak bisa bergerak oleh kejadian 11 September itu: tak ada pesawat boleh terbang dari kota ini, masuk ke kota ini. Lanjutkan membaca 11/9

Marx, Kapitalisme, dan Masalah Kepemimpinan

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar dua abad yang lalu, Karl Marx, seorang filsuf asal Jerman di abad 19, sudah meramalkan, bahwa kapitalisme akan mengalami masalah besar. Beberapa ramalannya tidak terjadi. Namun beberapa telah terjadi. Di dalam tulisannya Umar Haque (2011) memberikan beberapa catatan.

Ramalan Marx

Yang pertama Marx menyatakan, bahwa kapitalisme akan memiskinkan kaum buruh. Kaum buruh akan diperlakukan semata sebagai alat, dan akan diekspoitasi habis-habisan oleh para pemilik modal. Gaji akan tetap sementara harga barang-barang kebutuhan akan terus meningkat, dan situasi kerja akan semakin tidak manusiawi. Lanjutkan membaca Marx, Kapitalisme, dan Masalah Kepemimpinan

Buku Filsafat Terbaru: Bapa-bapa Gereja Berfilsafat

Karya dari Agustinus Ryadi

Dekan Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Buku yang akan Anda baca ini, Bapa-Bapa Gereja Berfilsafat, lahir dari materi kuliah Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, terutama zaman Patristik yang penulis berikan mulai tahun 2010 sampai sekarang di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya. Dengan meningkatnya minat terhadap filsafat Abad Pertengahan, hadirnya buku referensi yang dapat menghubungkan pemikiran para pemikir zaman Patristik, dalam hal ini Bapa-Bapa Gereja, sangatlah diharapkan, khususnya tentang penafsiran para Bapa Gereja yang sangat berharga mengenai pokok iman (Tritunggal). Entah mengapa buku referensi filsafat para Bapa Gereja sangat minim di pustaka filsafat Indonesia. Hadirnya buku ini merupakan upaya untuk menambah referensi filsafat abad pertengahan, khususnya Bapa Gereja di bumi kita ini. Lanjutkan membaca Buku Filsafat Terbaru: Bapa-bapa Gereja Berfilsafat

Filsafat untuk Para Pemimpin

learningleader.weebly.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa yang dibutuhkan untuk membuat sebuah notebook? Saya membayangkan ada ratusan ribu orang yang diperlukan, mulai dari pengumpul material plastik, penjaga keamanan, tukang masak, supir, distributor, desainer, sampai penjaga toko. Sebuah produk apapun bentuknya adalah hasil dari kerja sama ratusan ribu pihak.

Hasil karya nyata dari sebuah peradaban adalah sebuah “produk” yang merupakan hasil dari berbagai anggota masyarakat yang ada. Produk tersebut bisa berupa buku, komputer, pesawat, dan sebagainya. Produk tersebut harus cukup rumit dan indah, sehingga mampu mencerminkan keindahan sekaligus kerumitan dari masyarakat yang menciptakannya. Lanjutkan membaca Filsafat untuk Para Pemimpin

Menara Gading

barnesandnoble.com

Oleh Sulistyowati Irianto

Peristiwa penganugerahan doctor honoris causa oleh Universitas Indonesia kepada Raja Arab Saudi adalah sebuah cermin yang menggambarkan terputusnya hubungan antara dunia akademik dan masyarakat luas, sekaligus juga peradaban global.

Apakah ini terkait dengan problem politik dan sistem pendidikan di Indonesia secara luas, yang menyebabkan universitas seperti teralienasi dari konteks kemasyarakatan? Apakah salah arah dalam dunia pendidikan kita sudah demikian kronisnya, sampai tak diketahui lagi ke mana universitas akan dibawa?

Mengherankan, UI yang menempatkan dirinya sebagai world class university justru melakukan hal yang bertentangan dengan kepedulian global terhadap isu kemanusiaan. Kecenderungan ilmu pengetahuan global saat ini makin menyatukan pandangan akan pentingnya pendekatan interdisipliner, di mana perspektif kemanusiaan yang dianut bersama di kalangan ilmuwan. Dengan demikian, terbentuklah perspektif dan sensitivitas kolektif bila bersinggungan dengan isu kemanusiaan. Lanjutkan membaca Menara Gading

Membedah Industri Pendidikan Tinggi

Oleh : Anita Lie

sexysocialmedia.com

KOMPETISI global juga sudah melanda dunia pendidikan. Setiap tahun, saat lulusan SMA dan SMK bersaing untuk mendapatkan institusi pilihan, perguruan tinggi pun berlomba-lomba mempromosikan diri dan menjaring calon-calon mahasiswa potensial. Potensial bisa berarti mampu secara akademis atau finansial.

PERGURUAN tinggi dari luar negeri pun tidak mau kalah, dan gencar berpromosi. Begitu pula perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) melakukan berbagai upaya pemasaran dan menjadikan dunia pendidikan tinggi seperti bisnis dan industri. Lanjutkan membaca Membedah Industri Pendidikan Tinggi

Kepemimpinan, Keputusan, dan Kejernihan Jiwa

business-strategy-innovation.com

Oleh Reza A.A Wattimena

            Setiap hari kita diminta membuat keputusan. Mulai dari hal kecil, seperti belok kiri atau kanan, sampai hal besar, seperti akan menikah atau tidak, jika ya lalu dengan siapa, kita diminta untuk memutuskan. Kadang banyak hambatan seperti tak cukup waktu, tak cukup data, tak cukup pengetahuan, dan sebagainya. Namun keputusan tetap harus dibuat.

Di dalam membuat keputusan, orang perlu memperhatikan jiwanya. Aspek material seperti sumber daya uang ataupun barang tetap perlu diperhatikan. Namun yang tak kalah penting adalah perhatian pada aspek gerak jiwa, terutama gerak jiwa para pemegang keputusan. Inilah yang sekarang ini kerap terlupakan. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Keputusan, dan Kejernihan Jiwa

Buku Baru: Etika Komunikasi Politik

Buku ini adalah ajakan untuk membangun komunikasi politik yang berkualitas, sehingga mampu membangun kehidupan bersama yang cerdas, sejahtera, berdasarkan pada kemerdekaan dan perdamaian abadi. Saya menulis satu artikel di dalam buku ini. Editor buku ini adalah mantan kolega saya di Universitas Atma Jaya, Jakarta, yakni Prof. Alois Agus Nugroho. Buku ini bisa didapatkan di Pusat Pengembangan Etika, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

ISBN: 978-602-8904-07-0

Merawat Kepemimpinan

wholenewconcepts.com

Oleh Reza Wattimena

Saya membayangkan ada yang disebut sebagai “tanah” kepemimpinan. Di dalam “tanah” imajiner ini, ada semua zat yang diperlukan, supaya muncul para pemimpin yang berkualitas, yang siap membawa bangsa Indonesia keluar dari berbagai persoalan. Zat-zat tersebut adalah nilai-nilai dasar kepemimpinan yang menjadi bagian integral dari kultur masyarakat, sikap fleksibel birokrasi, dan sikap terbuka dari komunitas sekitar. Lanjutkan membaca Merawat Kepemimpinan

Kemerdekaan Ekonomi?

yea.com.jo

Oleh Kwik Kian Gie

Faktor sangat penting yang membakar semangat para pejuang kemerdekaan kita ialah bahwa kemerdekaan politik merupakan jembatan emas menuju kemakmuran yang berkeadilan dan kesejahteraan rakyat.

Dua hari lagi bangsa Indonesia 66 tahun merdeka secara politik. Sebelum Indonesia dijajah, kemerdekaan politik sudah ada dengan kekuasaan di tangan para raja dan sultan. Namun, begitu VOC datang, banyak sekali raja dan sultan yang menjual kekayaan ekonomi beserta rakyatnya—yang diperlakukan bagaikan budak—kepada VOC. Lanjutkan membaca Kemerdekaan Ekonomi?

Kemerdekaan Pikiran

freedomideas.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah 60 tahun lebih, bangsa ini merdeka. Namun secara politik dan ekonomi, bangsa ini sama sekali belum merdeka. Korupsi menggerogoti sistem politik yang ada. Ekonomi dikuasai oleh segelintir orang yang rakus kuasa dan harta. Keadilan sosial masih jauh dari nyata.

Ini semua terjadi karena bangsa kita masih terjajah dalam soal cara berpikir. Banyak orang hidup dengan sikap patuh buta pada ajaran moral tradisional yang tak lagi relevan. Banyak pula orang hidup dijajah oleh sikap rakus dirinya sendiri yang tak mempertimbangkan situasi. Yang sungguh kita butuhkan sekarang ini bukan hanya kemerdekaan politik, namun juga kemerdekaan cara berpikir. Lanjutkan membaca Kemerdekaan Pikiran

Janji Kemerdekaan

blogspot.com

Oleh Anies Baswedan

Kibarannya membanggakan. Merah-Putih berkibar gagah di tiang bambu depan rumah batu. Rumah sepetak kecil, alasnya tanah, dan atapnya genteng berlumut. Berlokasi di tepi rel kereta tak jauh dari Stasiun Jatibarang, rumah batu itu polos tanpa polesan material mewah.

Pemiliknya jelas masih miskin. Namun, dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi ribuan penumpang kereta yang tiap hari lewat di depan rumahnya: Kami juga pemilik sah republik ini. Kami percaya di bawah bendera ini kami juga akan sejahtera! Lanjutkan membaca Janji Kemerdekaan

Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia

us.123rf.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Satya (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pimpinan perusahaan. Ia dipercaya menjadi CEO (Chief Executive Officer) di salah satu perusahaan berskala nasional di Jakarta. Ia amat menguasai core business perusahaannya. Namun sayangnya banyak orang, termasuk kolega maupun bawahannya di perusahaan, tidak mempercayainya.

Ketika Satya ada mereka tampak ramah dan bersahabat. Namun ketika ia pergi, mereka berbicara di belakang tentang kejelekan-kejelekannya. Bagi mayoritas anak buah dan kolega di perusahaan yang ia pimpin, Satya adalah pimpinan yang otoriter, tidak ramah, dan arogan. Hmm.. pola semacam ini banyak terjadi di berbagai organisasi di Indonesia. Apakah di tempat anda terjadi hal semacam ini?   Lanjutkan membaca Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia

Intinya, Memanusiakan Manusia

kompas.com

Nama Jokowi—nama populer Joko Widodo—tidak melulu dikenal sebagai Wali Kota Solo. Namanya dikenal di belahan negeri ini yang gersang akan pemimpin yang dicintai rakyatnya. Bersama wakilnya, FX Hadi Rudyatmo, Jokowi berhasil membangun Solo sebagai sebuah kota yang memanusiakan manusia.

Sementara pedagang kaki lima di kota lain dikejar-kejar petugas ketertiban kota, di Solo mendapat tempat layak untuk berusaha. Jokowi juga menata kota untuk kehidupan warganya yang lebih baik, termasuk menyediakan transportasi massal.

Kepemimpinan yang prorakyat, disertai dengan tindakan bersih, jujur, dan antikorupsi dirindukan negeri ini. Setidaknya hal itu ditandai dengan jumlah penanya di rubrik Kompas Kita yang lebih banyak mengharapkan Jokowi maju menjadi pemimpin lebih tinggi lagi. Lanjutkan membaca Intinya, Memanusiakan Manusia

Berani Menjadi Indonesia

Oleh YUDI LATIF

globalfirepower.com

Keterpurukan bangsa ini bermula dari ketidakberanian para pemimpin politik untuk menjadi Indonesia. Kemajuan kerap didefinisikan sebagai pencarian keluar. Berbeda dengan pernyataan sastrawan Meksiko, Octavio Paz, yang mendefinisikan modernitas sebagai pencarian ke dalam.

Jawaban tidaklah hadir dari pergulatan mendalam atas kenyataan yang hidup di Tanah Air sendiri, tetapi sekadar memungut resep dari luar yang diterapkan paksa tanpa penyesuaian dengan sistem pencernaan sosial-budaya. Akibatnya, kemajuan berarti peminggiran jati diri bangsa sendiri. Suatu proses alienasi yang melahirkan mentalitas pecundang. Lanjutkan membaca Berani Menjadi Indonesia

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

pixzii.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas. Lanjutkan membaca Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

Putra Mahkota

Oleh Komaruddin Hidayat

http://www.funkymonkeybedrooms.co.uk

Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan mulia itu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun. Lanjutkan membaca Putra Mahkota

Kebakhilan

flckr.com

Oleh Goenawan Mohamad

Ia tak gila. Atau ia bagian dari patologi yang tak tersendiri. Anders Behring Breivik, memakai seragam polisi, membidik dengan tepat anak-anak muda yang sedang berkemah di Pulau Utoeya. Sebanyak 68 orang terbunuh di pulau di Danau Tyrifjorden, 38 kilometer dari Oslo, itu pekan lalu. Delapan lain mati karena ledakan bom. Breivik ditangkap. Pengacaranya membelanya dengan mengatakan: orang ini sakit jiwa. Lanjutkan membaca Kebakhilan