Kemerdekaan Pikiran

freedomideas.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah 60 tahun lebih, bangsa ini merdeka. Namun secara politik dan ekonomi, bangsa ini sama sekali belum merdeka. Korupsi menggerogoti sistem politik yang ada. Ekonomi dikuasai oleh segelintir orang yang rakus kuasa dan harta. Keadilan sosial masih jauh dari nyata.

Ini semua terjadi karena bangsa kita masih terjajah dalam soal cara berpikir. Banyak orang hidup dengan sikap patuh buta pada ajaran moral tradisional yang tak lagi relevan. Banyak pula orang hidup dijajah oleh sikap rakus dirinya sendiri yang tak mempertimbangkan situasi. Yang sungguh kita butuhkan sekarang ini bukan hanya kemerdekaan politik, namun juga kemerdekaan cara berpikir.

Kemerdekaan Berpikir

Kemerdekaan berpikir adalah kemampuan untuk mempertimbangkan segala sesuatu secara jernih dan mandiri. Orang bebas dari tekanan politik kekuasaan, ketika mempertimbangkan pilihan maupun tindakannya. Orang bebas dari paksaan moral tradisi maupun agama, ketika mempertimbangkan keputusannya. Orang bebas dari sikap rakus dirinya sendiri, ketika ia mempertimbangkan pilihannya.

Penjajahan terjadi ketika orang tidak bebas untuk mempertimbangkan pilihan hidupnya. Penjajahan terjadi ketika orang tidak mau berpikir sendiri, melainkan menyandarkan diri sepenuhnya para moral tradisional ataupun agama yang tidak selalu relevan. Ia hidup atas perintah dan aturan, serta bukan atas pertimbangannya sendiri. Ia dijajah walaupun statusnya merdeka.

Para fanatik terjajah ketika iman mendikte mereka untuk berbuat sesuatu, tanpa pertimbangan mandiri. Para fanatik terjajah ketika kemampuan akal budi mereka dipasung oleh sikap percaya buta yang menggambarkan kelemahan serta kekosongan hati. Para fanatik terjajah ketika mereka malas berpikir, dan menyerahkan diri pada otoritas yang tak dapat diandalkan. Di tengah status politik “merdeka”, para fanatik tetap terjajah.

Inilah yang terjadi di Indonesia. Kaum fanatik hidup dan menularkan fanatismenya. Akal budi dipasung atas nama kepercayaan buta. Buah dari sikap fanatik adalah intoleransi, yang bermuara pada kekerasan pada “yang lain”, terutama yang berbeda.

Para kapitalis rakus terjajah, ketika penilaian mereka dibutakan oleh hasrat menumpuk modal dan memperkaya diri semata. Mereka terjajah ketika solidaritas dan kemanusiaan lenyap ditelah ambisi kuasa dan harta belaka. Di tengah kebebasan ekonomi yang mereka punya, pikiran dan hati mereka terbelenggu oleh kerakusannya sendiri. Hidup mereka hampa tanpa makna, dan menumpuk barang untuk mengisi, tanpa pernah sungguh terisi.

Kaum kapitalis rakus menguasai ekonomi Indonesia. Keadilan sosial tinggal slogan tanpa wujud nyata. Yang kaya semakin kaya, sementara yang tak berpunya tetap menderita, bahkan semakin sulit hidupnya. Walaupun secara politik terlihat merdeka, namun secara ekonomi, dan terutama dalam soal cara berpikir, bangsa kita dipasung oleh sikap rakusnya sendiri.

Tak Hanya Pencitraan

Kemerdekaan cara berpikir amat penting. Tanpa itu tidak akan ada inovasi dan kreativitas. Tanpa inovasi dan kreativitas, bangsa kita akan tertinggal di dalam derap globalisasi. Setelah 60 tahun merdeka secara politis, kemerdekaan berpikir adalah sesuatu yang perlu diwujudkan.

Tanpa kemerdekaan berpikir yang diikuti dengan keadilan sosial, kemerdekaan hanyalah pencitraan. Tak heran jika banyak orang mencap pemerintah kita sebagai pemerintah pencitraan. Semua kebijakan hanya manis di mulut, berbuah pencitraan, tetapi tanpa hasil nyata yang bisa dirasakan. Sampai detik ini kita masih hidup dalam penjajahan cara berpikir tradisional yang tak relevan, maupun sikap rakus diri yang buta pada situasi maupun kenyataan.

Rakyat membutuhkan kemerdekaan yang tak hanya sekedar pencitraan. Rakyat membutuhkan kemerdekaan ekonomi, supaya mereka bisa hidup layak sebagai manusia. Rakyat membutuhkan kemerdekaan politis, supaya keinginan dan kebutuhan mereka menjadi pertimbangan utama para penguasa. Ini semua dapat terwujud, jika moral tradisional yang tak lagi relevan diperbarui ulang, dan sikap rakus diri dapat ditahan.

Inilah yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa. Kemerdekaan adalah jembatan emas untuk menuju kesejahteraan bersama. Kesejahteraan yang tidak dilihat melulu material belaka, tetapi kesejahteraan hati dan pikiran yang sesuai dengan kenyataan. Kemerdekaan yang tak dilihat secara formal politik semata, tetapi kemerdekaan substasial yang memberikan ruang bagi hati dan pikiran untuk sungguh berbicara, serta didengarkan. Ya.. didengarkan…

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s