Militansi

wapedia.mobi

 

Oleh: Reza A.A Wattimena

Bangsa kita krisis militansi. Orang terjebak dalam rutinitas. Mereka menjalani hidupnya dengan terpaksa. Kerja pun dijalan dengan separuh hati.

Tak heran banyak hal gagal dijalankan. Pemberantasan korupsi gagal. Pengentasan kemiskinan gagal. Perlawanan pada teror bom kini tersendat.

Menjadi militan berarti hidup dengan sebuah nilai. Bahkan orang rela mati demi terwujudnya nilai tersebut. Menjadi militan tidak melulu sama dengan menjadi fundamentalis. Nilai hidup seorang militan lahir dari penempaan kritis dan reflektif.

Itulah yang kita perlukan sekarang ini.

Nilai

Setiap orang haruslah hidup dengan nilai. Ia perlu memiliki cita-cita tertentu. Cita-cita itu terwujudkan secara nyata dalam nilai yang mempengaruhi cara berpikir dan perilakunya. Nilailah yang membuat hidup manusia bermakna.

Sekarang ini di Indonesia, banyak orang hidup tanpa nilai. Mereka tidak memiliki cita-cita luhur sebagai arah hidupnya. Yang menjadi fokus hidup mereka hanyalah keuntungan sesaat. Tak heran mereka merasa hidupnya hampa.

Nilai adalah prasyarat bagi semangat militansi. Bahkan militansi dapat diartikan sebagai suatu sikap hidup yang berpegang pada nilai dalam setiap pola pikir maupun perilaku. Orang militan bersedia mati di dalam proses mewujudkan suatu nilai. Orang semacam inilah yang semakin hari semakin sedikit di Indonesia.

Kritis

Orang militan berbeda dengan orang fundamentalis. Bagi kaum fundamentalis kebenaran adalah akar (fundamen) dari suatu ajaran tertentu yang tak lekang oleh berlalunya waktu. Mereka tidak melihat bahwa konteks sudah berubah. Mereka menutup mata pada jaman yang terus berubah.

Sementara orang militan hidup dengan sikap kritis. Dengan sikap kritis pula, mereka memilih nilai apa yang akan mereka perjuangkan. Dengan pola berpikir kritis, mereka mencari cara, bagaimana nilai-nilai itu bisa jadi nyata di dalam dunia. Orang militan hidup dengan prinsip yang teguh, namun fleksibel pada tataran perilaku di dalam proses mewujudkan prinsip itu.

Di Indonesia kita jauh lebih banyak menemukan orang fundamentalis, daripada orang militan. Sikap militansi dengan mudah kita temukan pada sosok bapak-bapak bangsa Indonesia, seperti Bung Hatta, Bung Karno, Sutan Sjahrir, dan bahkan Tan Malaka. Sementara sekarang ini yang kita temukan adalah sikap fundamentalis, seperti pada fundamentalisme religius maupun fundamentalisme uang.

Ini semua terjadi karena kita jarang sekali berpikir kritis. Kita habis ditelan rutinitas. Kita habis ditelan sikap pengecut di hadapan otoritas. Dan kita tidak pernah sungguh belajar dari pengalaman.

Akibatnya sebagai bangsa kita sulit sekali untuk berubah. Kita seperti diracuni sikap bebal yang takut akan perubahan. Kita mencintai cara berpikir lama. Kita tidak bisa lepas dari pola berpikir klise dan kampungan. Di dalam kereta peradaban, kita pun tertinggal di stasiun nun jauh di sana.

Menjadi Militan

Menjadi militan berarti hidup dengan nilai. Menjadi militan berarti mampu dan mau berpikir kritis di dalam setiap situasi. Menjadi militan berarti memiliki cita-cita luhur untuk kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun sosial. Menjadi militan berarti berani berkata benar, ketika seluruh dunia ketakutan terhadap sosok penguasa yang menindas.

Dan yang terpenting menjadi militan berarti siap mati untuk mewujudkan suatu cita-cita. Inilah sikap hidup yang semakin langka di dunia.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

About these ads

2 thoughts on “Militansi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s