Tuhan dan Uang: Pertautan Ganjil di Dalam Hidup Manusia

free-pictures.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Bangsa Indonesia hidup dan berkembang dengan banyak masalah. Dari sudut pandang filsafat, salah satu masalah yang cukup pelik adalah fenomena “penjualan Tuhan” oleh pihak-pihak tertentu untuk memenuhi kepentingan ekonomi dan politik mereka. Dengan slogan-slogan yang berbau agama, orang memperoleh dukungan politik dan ekonomi untuk kepentingan pribadi mereka. (Prasetyono, 2011) Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang: Pertautan Ganjil di Dalam Hidup Manusia

Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

free-pictures-photos.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Elias Canetti (1905-1994) [1]adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Crowds and Power yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia. Lanjutkan membaca Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

Untuk Tujuan yang Lebih Tinggi

free-pictures-photos.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Apakah anda pernah membaca buku tulisan Clay Christensen, seorang dosen di Harvard Business School, yang berjudul The Innovator’s Dilemma? Konon sebagaimana dinyatakan oleh James Allworth, buku itu adalah salah satu buku favorit Steve Jobs, salah satu pendiri dan orang yang memimpin perusahaan Apple Computer di AS mencapai masa jayanya. (Allworth, 2011)

Isinya kurang lebih begini. Di dalam perkembangan teknologi, ada beberapa perubahan yang disebut sebagai perubahan disruptif, yakni perubahan yang menggoyang tatanan yang ada. Pada awalnya perubahan ini hanya berupa inovasi yang seolah tanpa arti. Namun dalam perjalanan waktu, karena masyarakat semakin melihat nilai tambah dari inovasi ini, maka terjadilah perubahan, di mana inovasi ini menjadi penguasa pasar yang baru. Lanjutkan membaca Untuk Tujuan yang Lebih Tinggi

Pengusaha (Anti) Korupsi

Oleh Reza Syawawi

http://s1.hubimg.com

Transparency International yang berbasis di Berlin, Jerman, meluncurkan Bribe Payers Indeks 2011 (2/11). Sebuah instrumen untuk mengukur sejauh mana tingkat suap pengusaha dalam menjalankan bisnisnya yang dilakukan di sejumlah negara.

Dalam survei ini, Transparency International menyurvei sekitar 3.000 eksekutif perusahaan di 28 negara yang dikategorikan maju secara ekonomi, termasuk Indonesia. Bahkan, semua negara yang tergabung dalam G-20 dilibatkan dalam survei. Hasilnya, China dan Rusia di urutan paling ”buncit”, posisi ke-27 dan ke-28. Perusahaan di negara ini dikategorikan paling sering melakukan praktik suap demi kelancaran bisnisnya. Sektor terkorup adalah yang berkaitan dengan pekerjaan umum dan konstruksi. Lanjutkan membaca Pengusaha (Anti) Korupsi

Mengenal Elias Canetti

Oleh Reza A.A Wattimena 

            Elias Canetti (1905-1994) adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. [1] Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Masse und Macht, atau Crowds and Power, yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia.

Menurut beberapa komentator pemikiran Canetti, buku itu sendiri lahir dari keprihatinan Canetti, ketika melihat pembakaran Palace of Justice di Wina, Austria pada 1927. Buku itu sendiri nantinya terbit pada 1930-an, namun baru menarik perhatian banyak orang pada dekade 1960-an, tepatnya setelah Canetti memperoleh hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di London. Namun begitu ia tidak banyak mengembangkan hubungan dengan para penulis maupun pemikir dari Inggris. Lanjutkan membaca Mengenal Elias Canetti

Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Yang kita perlukan sekarang ini adalah jiwa peneliti militan. Bagi mereka penelitian adalah hidup itu sendiri. Penelitian itu nikmat dan berharga pada dirinya sendiri. Entah ada dana atau tidak, ada hibah atau tidak, ada yang memesan atau tidak, ada poin atau tidak, mereka tetap meneliti.. meneliti… meneliti.. tanpa henti.

Bangsa Indonesia merindukan lahirnya generasi baru peneliti bangsa ini yang mempunyai habitus (kebiasaan yang tertanam di dalam gugus berpikir dan tindakan) baru, di mana mereka (para peneliti dan akademisi) tidak lagi meneliti untuk mengejar proyek (pemburu hibah dan peneliti pesanan) atau mengumpulkan angka semata (guna cepat meraih gelar guru besar/professor), melainkan untuk mencari kebenaran (truth seeking) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan, dengan demikian, mengangkat harkat dan martabat manusia (human dignity) Indonesia ke tempat yang luhur. Lanjutkan membaca Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

Satu Dunia, Satu Luka

http://onoda.files.wordpress.com

Kepemimpinan dan Perubahan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Mesir awal 2011, tepatnya di Tahrir Square, kita melihat sesuatu yang mengagumkan. Massa berkumpul untuk menyatakan protes mereka pada rezim yang berkuasa. Di sampingnya ada orang-orang yang menyediakan makanan gratis untuk massa demonstran, juga ada pelayanan medis, dan bahkan hiburan, supaya para demonstran tidak bosan. Di akhir demonstrasi massa yang sama kemudian membersihkan tempat demonstrasi, dan bubar secara damai.

Tahrir Square adalah ruang publik, yakni ruang milik masyarakat. Maka masyarakat memiliki tanggung jawab untuk merawatnya. Ruang publik adalah rumah sesungguhnya dari rakyat, yakni tempat mereka berjumpa, dan menyatakan kegelisahan serta harapan mereka. Maka ruang publik harus bersih, dan rakyatlah yang harus menjamin kebersihannya. (Benhabib, 2011) Lanjutkan membaca Satu Dunia, Satu Luka

Negara, Pasar, dan Jaminan Sosial

Oleh Makmur Keliat

Setiap orang yang berusia muda dan produktif secara alamiah pasti akan menjadi jompo dan tidak produktif. Setiap orang yang sehat pasti akan pernah jatuh sakit. Bahkan setiap orang yang tengah bekerja suatu ketika mungkin akan dapat kehilangan pekerjaannya karena berbagai sebab, seperti kecelakaan atau karena pemutusan hubungan kerja.

Bagaimana memperlakukan orang-orang seperti ini? Haruskah orang yang lanjut usia, yang tidak sehat, ataupun yang tidak memiliki pekerjaan itu dibiarkan begitu saja untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya? Lanjutkan membaca Negara, Pasar, dan Jaminan Sosial

Catatan Seorang Peneliti

http://magonia.haaan.com

Oleh Tri Ratnawati

Di era Reformasi dengan keterbukaan politiknya pascarezim Soeharto, dinamika politik Indonesia sangat tinggi. Harapan masyarakat terhadap kemajuan dan perbaikan di segala bidang kehidupan juga tinggi.

Tidak mengherankan apabila harapan masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian, khususnya bidang ilmu politik, juga tinggi.

Saya juga mengerti apabila ada pihak yang kadang kecewa atas hasil-hasil penelitian kami (lembaga penelitian negeri/pemerintah), yang dinilai ”di bawah” kualitas hasil-hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat tertentu yang cukup punya reputasi. Namun, masyarakat perlu juga tahu beberapa kendala yang saya (dan kemungkinan sebagian kawan-kawan peneliti lainnya) hadapi selama ini. Lanjutkan membaca Catatan Seorang Peneliti

Pemimpin dan Solidaritas Bangsa

http://c.tadst.com

Oleh F. Budi Hardiman

Globalisasi mengubah banyak hal secara mendasar. Di dalam konstelasi baru ini ’bangsa’ mulai kehilangan khasiatnya sebagai perekat kebinekaan.

Rezim-rezim reformasi berhenti bercerita tentang bangsa. Penguatan identitas etnis di daerah-daerah mengancam integrasi sosial. Agama pun dipakai sebagai kode pemerasan dan bisnis teror. Politik suap bersanding dengan apa yang disebut demokrasi mewabah di berbagai sektor. Inovasi-inovasi kultural dan wilayah perbatasan diklaim negara tetangga. Para peneliti kita pun diincar pihak asing. Semua ini terjadi nyaris tanpa sentimen kebangsaan untuk menangkalnya segera.

Jika organisme politis menjadi begitu kompleks, para pemimpin di sana menjadi peragu dan lamban bertindak terhadap ancaman-ancaman ketahanan nasional. Hilang martabatnya, orang kita pun rentan menjadi korban trafficking atau diperdagangkan sebagai pembantu di luar negeri. Semua ini membuat kita bertanya-tanya, benarkah kita suatu bangsa? Lanjutkan membaca Pemimpin dan Solidaritas Bangsa

SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

Dengan Bangga

Menyelenggarakan

SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT

IMAN DAN AKAL BUDI Lanjutkan membaca SIMPOSIUM NASIONAL FILSAFAT: IMAN DAN AKAL BUDI

Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

http://www.globalresearch.ca

Oleh Reza A.A Wattimena

Tahun 2011 adalah tahun yang cukup bersejarah untuk umat manusia. Sampai Oktober 2011 setidaknya sudah ada beberapa peristiwa yang mengubah “wajah” dunia.

Musim semi di Arab, di mana rakyat di daerah Arab dan Afrika Utara mulai bergerak melawan pemerintahan diktator yang menindas mereka, kerusuhan di London terkait dengan kebijakan pemerintah yang dirasa merugikan rakyat, protes dari kelas ekonomi menengah di Israel terkait dengan semakin mahalnya harga rumah tinggal dan mahalnya biaya hidup, gerakan sosial (nasional) India melawan korupsi di negaranya, kontroversi terkait dengan hubungan Tibet dan Cina, dan yang terbaru adalah gerakan menduduki Wall Street di New York dan di berbagai bursa efek di seluruh dunia, termasuk Bursa Efek Indonesia di Jakarta. (Roubini, 2011) Lanjutkan membaca Indonesia, Krisis Ekonomi Global, dan Pancasila Kita

Puisi yang Menyangkal Demokrasi

blogspot.com

OLEH BANDUNG MAWARDI

Ketika berhadapan dengan demokrasi, puisi adalah sangkaan dan sangkalan. Ia menantang dan menghardik. Karena demokrasi itu elitis dan dominatif, puisi pun pantas untuk menampik dengan rasa gerah dan marah. Demokrasi ternyata bukanlah sebuah garansi bagi kemakmuran, keadilan, dan kesetaraan. Demokrasi adalah sebuah kekuasaan, yang ternyata diskriminatif, berkah bagi elite, tetapi pelit bagi kaum yang pailit.

Maka, puisi pun dituliskan dan lantang disuarakan untuk mengoreksi cacat bawaan demokrasi itu. Puisi adalah resistensi dan menolak arogansi politik yang dibangun di atas fondasi demokrasi. Konon, serangan yang dilakukan Socrates pada demokrasi Yunani kuno antara lain juga menggunakan kutipan-kutipan puisi yang sarkastik. Puisi pun menjadi sangkalan atas selebrasi demokrasi sejak awalnya di Yunani. Dan, Socrates pun menjadi martir karenanya. Lanjutkan membaca Puisi yang Menyangkal Demokrasi

Steve Jobs dan Kepemimpinan yang “Brengsek”

Oleh Reza A.A Wattimena

Semoga anda tidak bosan dengan artikel tentang Steve Jobs. Saya ingin kembali mengunjungi sosok hidup, yang telah meninggal, dari Steve Jobs, pendiri dan reformis perusahaan Apple. Tapi ini bukan sekedar kunjungan, melainkan suatu upaya untuk belajar lebih jauh tentang cara berpikir yang mendasari keputusan-keputusan hidupnya.

Seperti dicatat oleh Gene Marks di dalam majalah Forbes, Jobs, jelas, adalah seorang jenius dalam bidang pengembangan teknologi alat komunikasi. Namun kunci utama kesuksesannya bukanlah karena dia kreatif, brilian, dan pekerja keras, setidaknya bukan hanya itu. Kuncinya –menurut Marks- adalah karena dia adalah orang brengsek. Jobs adalah seorang wirausahawan yang kreatif, brilian, pekerja keras, dan… brengsek. Jangan marah dulu. Saya jelaskan lebih jauh. Lanjutkan membaca Steve Jobs dan Kepemimpinan yang “Brengsek”

Bangkitlah, Patriotisme Indonesia!

pancasila at blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Masihkah kita bisa bicara soal patriotisme sekarang ini? Di tengah situasi negara yang pemimpinnya penuh dengan korupsi, serta berbagai masalah bangsa lainnya yang tak terselesaikan, masihkah kita bisa mencintai bangsa Indonesia sekarang ini? Mari kita mulai dengan pengertian singkat. Patriotisme adalah rasa cinta pada bangsa dan negaranya sendiri. Rasa cinta itu terwujud di dalam tindakan nyata. Ada empat aspek dari patriotisme. (SEP, 2011)

Yang pertama, patriotisme mencakup afeksi, yakni perasaan sayang dan cinta, pada negara dan bangsanya. Yang kedua, patriotisme mencakup kepedulian pada kekayaan maupun permasalahan negaranya sendiri. Yang ketiga, patriotisme mencakup beragam upaya untuk memperbaiki situasi bangsa dan negara. Yang keempat, patriotisme mencakup kesediaan untuk rela berkorban, demi kebaikan bangsa dan negaranya. Lanjutkan membaca Bangkitlah, Patriotisme Indonesia!

Indonesia 2050 seperti Apa?

 

http://ayobicara.com

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Dengan jumlah warga sekitar 400 juta pada tahun 2050—jika pertumbuhan penduduk 1,48 persen per tahun berkelanjutan—Indonesia mungkin akan menggeser posisi Amerika Serikat yang kini berada di peringkat ketiga—setelah China dan India—dengan jumlah penduduk 325.000.000, berkat program keluarga berencana yang dijalankan.

China dan India dengan penduduk masing-masing 1,3 miliar dan 1,1 miliar tampaknya akan tetap berada di puncak saat penghuni planet Bumi ini mencapai 9.850 juta (mendekati 10 miliar) tahun itu. Para pakar demografi umumnya mencemaskan laju pertumbuhan penduduk yang dahsyat itu jika negara-negara di dunia tidak cukup awas memperhitungkannya lebih awal. Hanya tersisa 39 tahun menjelang umat manusia berada pada angka yang mencemaskan itu. Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, laju pertumbuhan penduduk yang tak terkendali pasti akan mengundang masalah-masalah serius yang sulit diperkirakan akibatnya. Lanjutkan membaca Indonesia 2050 seperti Apa?

Bekerja dengan Hati

Oleh Satryo Soemantri Brodjonegoro

Beberapa hari lalu dunia kehilangan Steve Jobs, seorang visionaris Apple Group yang melegenda karena visi hidupnya yang menakjubkan. Dalam beberapa hari ini pun dunia dicerahkan tampilnya sejumlah pemenang Hadiah Nobel di sejumlah bidang, seperti kimia, fisika, kedokteran, dan sastra.

Jika kita cermati riwayat hidup para pemenang Hadiah Nobel tersebut ternyata mengandung satu kesamaan yang hakiki, yaitu mereka semua bekerja dengan hati. Mereka sangat mencintai pekerjaannya. Lanjutkan membaca Bekerja dengan Hati

Filsafat Lalat?

http://en.clipart-fr.com

Belajar Berpikir Kritis

Oleh Aluysius Bayu

            Bagi banyak orang, lalat adalah hewan yang menjijikan. Lalat terbang ke sana- kemari, ia hinggap di tempat sampah, di kotoran hewan, bahkan mungkin di makanan kita. Dengan keadaan seperti ini, lalat membawa banyak kuman di tubuhnya dan menjadi penyebar penyakit, sehingga banyak orang berusaha menjauhkan makanan dan minuman mereka dari lalat, agar tidak terkena penyakit seperti diare dan sebagainya. Maka, predikat hewan yang menjijikkan sangat tepat ditujukan kepada lalat.

            Akan tetapi, jika kita bisa melihat secara detail bagian-bagian tubuh lalat, kita akan menemukan satu bagian lalat yang sungguh menjadi inspirasi bagi kita untuk belajar kritis. Bagian itu adalah mata lalat. Mengapa mata lalat bisa menjadi inspirasi belajar kritis? Mata lalat yang majemuk dapat memberikan inspirasi pada pikiran kita untuk berefleksi tentang sudut pandang dan cara berpikir para filsuf, yakni para pecinta kebjaksanaan. Sebab, mata majemuk lalat melihat suatu ‘hal’ dari beberapa pembagian mata majemuknya, sehingga lalat bisa menangkap obyek yang dilihatnya dengan jelas. Begitu pula belajar sikap kritis, ibarat mata lalat, pikiran kita diajak untuk mengenali sudut pandang para filsuf satu per satu dalam memahami dunia. Lanjutkan membaca Filsafat Lalat?

Rasa Malu

gibbsmagazine.com
Oleh Abdul Waid

Menjamurnya pelbagai cerita miris di Tanah Air kita akhir-akhir ini, yaitu korupsi anggaran, penggelembungan nilai proyek, kerakusan jabatan, dan beragam praktik lain, menciptakan kesangsian kepada kita tentang apa sebenarnya makna sebuah habitat yang bernama manusia.

Manusia sebagai sebuah habitat dikisahkan oleh Will Richard Bird dalam novelnya, The Shy Yorkshireman (1955). Menurut kisah itu, apa yang secara mencolok membedakan habitat manusia dengan binatang bukanlah logika ataupun kepiawaian. Bukan pula keberanian dan ketakutan. Binatang, sebagaimana manusia, bisa saja berlogika, piawai, berani, dan takut.

Kucing, misalnya. Jika binatang mengeong ini mencuri ikan di dapur, lalu mendengar suara pintu terbuka, ia akan lari kencang ketakutan. Namun, jika ikan yang dimakan sengaja diberi tuannya, kucing pun khusyuk melahapnya tanpa menghiraukan kegaduhan apa pun di sekelilingnya. Kucing, tampaknya, bisa berlogika: mana makanan yang direlakan pemiliknya dan yang tidak. Lanjutkan membaca Rasa Malu

Filsafat Steve Jobs

apple.com

dan “Kesalahan-kesalahan” yang Bijaksana

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang pasti ingin menjadi ahli dalam satu bidang tertentu. Ada yang ingin menjadi ahli kesehatan (dokter), ahli mesin (insinyur), ahli politik, ahli pendidikan, ataupun apapun. Namun apa sebenarnya arti kata “ahli”? Seorang ahli fisika ternama, Niels Bohr, pernah menulis begini, “seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan yang dapat dibuat pada satu bidang yang amat sempit.”

Jadi seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan pada satu bidang yang amat spesifik. Itulah kiranya pendapat Bohr, dan didukung oleh seorang ahli neuropsikologi, Jonah Lehrer. Jika dipikir lebih jauh, inilah juga inti belajar, yakni membuat kesalahan pada satu bidang, lalu membuat perbaikan, lalu membuat kesalahan lagi. Pendidikan bukanlah seni menghafal, melainkan suatu “kebijaksanaan yang lahir dari kegagalan.” (Lehrer, 2011) Lanjutkan membaca Filsafat Steve Jobs