Hamburg-Konferensi Tingkat Tinggi G20: Refleksi Setelahnya

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Seorang teman mengirim email. Dia warga negara Jerman yang tinggal di Hamburg. Dia ikut serta di dalam demo menentang konferensi tingkat tinggi negara-negara G20 di Hamburg pada 7-8 Juli 2017 lalu. Kemudian, ia ditahan polisi, dan sampai 6 Agustus 2017 kemarin, ia belum dibebaskan. Dia meminta saya menyebarkan pesannya soal ketidakadilan global yang disebabkan oleh negara-negara G20 tersebut.

Forum G20

G20 adalah forum dari kerja sama internasional, terutama pada bidang ekonomi dan finansial. Pada 2017 ini, negara-negara G20 memiliki 4/5 produksi bruto global, dan menguasai ¾ perdagangan global. Negara-negara G20 juga adalah rumah dari 2/3 manusia di dunia. Pada 2017 ini, Konferensi Tingkat Tinggi G20 akan diadakan di Hamburg pada 7-8 Juli 2017. Lanjutkan membaca Hamburg-Konferensi Tingkat Tinggi G20: Refleksi Setelahnya

Gelar Akademik dan Tanggung Jawab Politik

c.tribune.com.pk

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Kita hidup di masyarakat yang banjir gelar akademik. Gelar-gelar akademik, seperti S.H. (Sarjana Hukum), M.M (Magister Manajemen) dan Dr. (Doktor), dipertontonkan di berbagai acara, mulai dari pemilihan legislatif, pilkada sampai dengan undangan perkawinan. Gelar akademik menjadi semacam lambang kebangsawanan. Penggunanya dianggap lebih cerdas dibanding dengan orang-orang yang tanpa gelar.

Gejala ini juga terjadi di Jerman. Pemikir asal Muenchen, Julian Nida-Rümelin, bahkan menulis buku dengan judul Der Akademisierungswahn (delusi akademik) pada 2014 lalu. Di dalam buku itu, ia berpendapat, bahwa masyarakat Jerman dilanda kegilaan akademik. Semua orang ingin masuk universitas dan mendapat gelar akademik, walaupun mereka, sesungguhnya, memiliki bakat di bidang lain, selain bidang akademik.   Lanjutkan membaca Gelar Akademik dan Tanggung Jawab Politik

Keadilan untuk Semua? Sebuah Tantangan

Oleh Reza A.A Wattimena

Naskah pemancing diskusi untuk Acara Diskusi dan Peluncuran Buku “Keadilan untuk Semua?” pada Rabu 26 Juli 2017 pukul 9.15 di Universitas Presiden, Cikarang, Indonesia

Mencari dan mempertahankan keadaan yang adil, itulah salah satu tantangan abadi di dalam kehidupan manusia. Plato sendiri, salah satu filsuf terbesar di dalam sejarah Filsafat Barat, juga menegaskan, bahwa keadilan merupakan keutamaan terpenting yang bisa dimiliki manusia. Kehidupan pribadi dan kehidupan bersama bisa berjalan lancar, jika ditata dengan adil. Sejahat apapun orang, namun jika ia bisa bersikap adil, maka kejahatannya akan menjadi relatif di hadapan sikap adilnya tersebut.

Sebagai sebuah keutamaan yang penting, keadilan juga memiliki beragam makna. Arti dari keadilan juga menentukan, bagaimana keutamaan tersebut dibentuk dan dikembangkan di dalam diri manusia. Pemahaman tentang keadilan juga berubah seturut dengan perubahan kehidupan manusia. Salah satu pertanyaan terpenting di sini adalah, apakah ada yang disebut sebagai konsep keadilan universal, ataukah keadilan amat tergantung dari pemahaman masing-masing orang dan kelompok yang memiliki latar belakang sosialnya masing-masing? Lanjutkan membaca Keadilan untuk Semua? Sebuah Tantangan

Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan

The Labyrinth Institute

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Menjadi ekstrimis di abad 21 adalah sebuah godaan besar. Orang berpikir hitam putih tentang banyak hal, sesuai dengan versi mereka. Tidak ada usaha untuk berpikir kritis untuk mempertanyakan anggapan-anggapan di dalam diri. Menjadi ekstrimis itu mudah, karena memang orang tak perlu banyak berpikir.

Menjadi radikal di abad 21 juga gampang. Kata radikal, sejatinya, menggambarkan usaha untuk mencari akar (radix) dari pemahaman tertentu. Namun, di abad 21, kata itu menggambarkan orang-orang yang justru tak pernah sampai ke akar pemahamannya, sehingga jatuh pada kedangkalan berpikir. Lanjutkan membaca Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan

Peluncuran dan Diskusi Buku: Keadilan untuk Semua?

Kami mengundang anda semua.

Silahkan datang dengan terlebih dahulu mengabari ke email library.program@president.ac.id

Kami tunggu kedatangan anda. 

 

Poster Peluncuran Buku Keadilan

Dunia Pasca Fakta

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Dunia memang terus berubah. Kadang, perubahannya begitu cepat, sampai tak masuk akal lagi. Di tahun 2016 lalu, kata masyarakat pasca fakta (postfaktische Gesellschaft) menjadi kata tahun ini di Jerman. Di tahun 2017 ini, yang mengalami keadaan “pasca fakta” bukan hanya masyarakat Jerman, tetapi juga dunia.

Di dalam dunia pasca fakta (postfaktische Welt), kebenaran tak lagi penting. Yang dicari adalah kehebohan sesaat. Politisi bisa memenangkan pemilu bukan karena ia berpijak pada nilai-nilai kebenaran, melainkan karena ia mampu menghibur massa dengan kebohongan dan kehebohan yang dangkal. Orang bisa menjadi pemimpin organisasi, bukan karena ia mampu memimpin dengan prinsip-prinsip yang benar, melainkan karena ia mampu berkelit dalam kebohongan dan tipu daya, sehingga mempesona penguasa. Lanjutkan membaca Dunia Pasca Fakta

Belajarlah Kepemimpinan dari… Air

Caucasian mid adult professional business woman holding up blank dry erase board in front of her face.

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Air adalah unsur terkuat di bumi. Ia mampu memadamkan apapun. Dalam jumlah  yang cukup, panas bumi pun bisa dipadamkannya. Ia bersifat lembut, lentur namun amat perkasa.

Ini sejalan dengan kebijaksanaan Timur kuno. Kekuatan tertinggi tidak datang dari sikap garang, atau marah, melainkan dari kelembutan, seperti air. Sikap lembut berarti menerima apapun yang terjadi, tanpa memilih. Dari keterbukaan total semacam itu, lahirlah rasa welas asih dan kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Belajarlah Kepemimpinan dari… Air

Apa Permainanmu?

s.aolcdn.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Dunia ini… panggung sandiwara.. ceritanya mudah berubah…. Begitulah lirik lagu rock klasik Indonesia yang berjudul panggung sandiwara.  Ada untaian kebijaksanaan di dalam lirik tersebut. Memang, setiap orang memiliki peran di hidup ini. Namun, peran ini tidaklah tetap, melainkan terus berubah, sesuai keadaan.

Hidup ini bagaikan bermain sinetron. Kadang, kita memainkan peran orang yang berhasil. Kadang, kita memainkan peran orang yang gagal. Tak ada yang abadi. Lanjutkan membaca Apa Permainanmu?

Karya Terbaru: “Under the Same Sun”: The Roots of Cosmopolitanism in Stoic Worldview

19397157_10154858804932017_755277151037130867_n

“Under the Same Sun”: The Roots of Cosmopolitanism in Stoic Worldview

Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

dalam AEGIS Journal of International Relations. School of International Relations, President University, Indonesia,

19424102_10154858804942017_5309257007079080670_n19424141_10154858804902017_152108208760457418_n

Karya Terbaru: Globalization: Citizenship and Its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations

Globalization: Citizenship and Its Challenges, Cosmopolitanism as an Alternative Paradigm in International Relations

Oleh Reza A.A Wattimena dan Anak Agung Banyu Perwita, Dosen di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Proceeding The 3rd International Indonesian Forum for Asian Studies: Borderless communities & nations with borders, Challenges of globalisation

Universitas Gadjah Mada & Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Download di Link berikut: Proceeding

 

Agama di Era Globalisasi

quicktoptens.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Agama lahir di dunia ini sebagai berkah semesta. Ia mengajarkan hubungan manusia dengan penciptanya, hubungannya dengan semua mahluk serta hubungannya dengan diri sendiri. Agama mengajarkan kedamaian dan cinta, baik ke dalam diri maupun kepada semua mahluk. Ia membuat hidup manusia menjadi seimbang.

Sekarang ini, agama telah menjadi organisasi global dengan ruang lingkup seluas dunia itu sendiri. Cabangnya ada di berbagai negara, baik agama yang diakui maupun yang tidak. Agama sendiri adalah institusi global yang lahir dari pengalaman mistik seseorang. Pengalaman mistik itu lalu berkembang menjadi ajaran, tata nilai dan jalan hidup tertentu. Lanjutkan membaca Agama di Era Globalisasi

Macet Lagi… Macet Lagi…

si komo lewat tol
Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional di Universitas Presiden, Cikarang,  Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

            Sewaktu saya kecil, saya punya satu lagu favorit. Judulnya adalah “Si Komo Lewat Tol”. Nada lagu ini begitu mudah untuk melekat di telinga: macet lagi macet lagi.. gara-gara si Komo lewat. Sampai sekarang, ketika menghadapi macet, saya suka bersenandung lagu itu pelan-pelan, sambil menyetir.

Lagu itu adalah tanda keluhan orang-orang kota besar yang harus menghadapi macet setiap harinya. Komo adalah binatang komodo yang menjadi simbol dari segala sesuatu yang menyebabkan kemacetan. Ia besar, kuat dan amat sulit untuk dipindahkan. Ini berarti, semua orang tampak memiliki teori sendiri tentang penyebab kemacetan. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena penyebab kemacetan itu besar dan kuat, seperti si Komo. Lanjutkan membaca Macet Lagi… Macet Lagi…

Buku Terbaru: Esei-esei Keadilan untuk Ahok

Penulis:

Abdy Busthan, S.Pd., M.Pd.

Dr. phil. Reza A. A. Wattimena

Pdt. Dr. Mesakh A. P. Dethan., M.Th., MA.

Fransiskus Ransus, S.S., M.Hum

Suhendra, M.A.

Pengantar

Oleh Reza A. A. Wattimena (Dosen Hubungan Internasional di Universitas Presiden Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies/PRECIS)

Penulis adalah cermin dari jamannya. Ungkapan ini jelas mengandung kebenaran di dalamnya. Penulis adalah para pemikir. Mereka menuangkan gagasan mereka ke dalam karya sebagai sebuah tanggapan atas keadaan jaman. Itulah yang kiranya dilakukan para penulis buku ini. Mereka membaca jaman, dan memutuskan untuk terlibat di dalam jaman mereka melalui karya nyata.

Memang, kita hidup di jaman yang penuh dengan ketidakadilan. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), politikus yang tegas menghadapi korupsi dan keterbelakangan di ibu kota Indonesia, justru menjadi korban dari kesempitan berpikir masyarakatnya sendiri.

Buku ini adalah tanggapan para penulis dan pemikir atas keadaan yang penuh ketidakadilan semacam ini. Para penulis buku ini mengupas beragam hal yang penting untuk hidup bersama, seperti kaitan antara agama dan politik, kemanusiaan, keadilan, radikalisme dan nasionalisme yang sempit. Mereka juga mencoba menawarkan jalan keluar dari beragam kesempitan berpikir yang terjadi.

Tujuan mereka sederhana, yakni terciptanya masyarakat beradab yang cerdas dan adil untuk semua. Tujuan yang amat indah, namun amat sulit terwujud di dalam kenyataan.

Buku ini juga merupakan sebuah buku perjuangan, tepatnya perjuangan melawan ketidakadilan. Sebagai rakyat, kita perlu memiliki keberanian sipil untuk bersuara, ketika melihat ketidakadilan. Keberanian sipil itu diwujudkan di dalam karya yang tentu berguna untuk kebaikan bersama. Harapannya, buku ini bisa mengundang kita semua untuk merefleksikan ulang sikap, keputusan dan perilaku kita di dalam berpolitik, supaya bisa semakin mendekati keadilan yang sesungguhnya.

Buku berjudul ―esai-esai Keadilan untuk Ahok― ini juga terbit tepat pada waktunya. Bangsa Indonesia tengah dirudung hantu perpecahan, akibat ketidakadilan yang dirasakan di banyak tempat. Bangsa Indonesia membutuhkan titik tolak yang sama, supaya bisa tetap bersatu, dan bekerja sama mewujudkan keadilan dan kemakmuran untuk semua, tanpa kecuali. Titik tolak yang sama, yang lahir dari kedalaman renungan dan pemikiran, inilah yang ditawarkan buku ini, terutama menanggapi ketidakadilan yang ditimpakan kepada Ahok.

Semoga buku ini bisa memberikan pencerahan, dan membuat kita bijak di dalam menyingkapi kehidupan bersama kita. Harapan saya juga, semoga para pembuat kebijakan dan tokoh masyarakat membaca buku ini, dan terbuka pikirannya, sehingga bisa memberikan dan menghadirkan keadilan yang amat sangat dibutuhkan, tidak hanya oleh Ahok, tetapi oleh seluruh komponen dalam bangsa ini. Semoga harapan saya tidak tinggal menjadi sekedar harapan. Selamat membaca

Cikarang, 24 Mei 2017,

Bisa diperoleh di

Penerbit: Desna Life Ministry,  Jln. Bakti Karya 20 B, Kecamatan Oebobo, Kupang – NTT Telp. 081-333-343-222
E-mail: desnapenerbit@yahoo.com Website: desnapublishing.blogspot.co.id

 

Bar..bar…

RT.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Beberapa bulan belakangan, dunia dikepung berbagai serangan teroris. London, Kabul, Jakarta dan Marawi adalah beberapa tempat yang terus menjadi sasaran bom, maupun tindak kekerasan teroristik lainnya. Keadaan di Timur Tengah juga masih terus diliputi konflik dari berbagai pihak yang saling tumpang tindih. Di berbagai tempat, diskriminasi berdasarkan agama dan ras masih terus menjadi makanan sehari-hari.

Di dalam negeri, keadaan politik juga terus memanas. Vonis terhadap Ahok, salah satu Gubernur terbaik sepanjang sejarah Jakarta, mengoyak rasa ketidakadilan tidak hanya rakyat Indonesia, tetapi juga dunia internasional. Berbagai kecaman datang di hadapan ketidakadilan yang dipertontonkan di depan publik ini. Keadaan diperparah dengan muaknya masyarakat terhadap tindak korupsi para elit politik, mulai dari dugaan korupsi ketua umum partai politik besar, sampai dengan dugaan korupsi salah satu tokoh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Lanjutkan membaca Bar..bar…

Rasa Sakit dan Kelembutan

dailycreativity.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center of International Studies (PRECIS)

Ia hanya ingin bepergian di malam hari, melepaskan penat, setelah seharian bekerja. Tak disangka, ada ledakan terjadi, dan langsung melukainya. Ia pun terkapar, dan baru sadar, setelah tiba di rumah sakit dengan rasa sakit yang nyaris tak tertahankan di sekujur tubuhnya. Puluhan orang mengalami kejadian serupa pada 22 Mei 2017 lalu di Kampung Melayu, Jakarta.

Di tempat lain, awalnya, ia hanya ingin menikmati liburan dengan cara-cara baru. Bungee Jumping, yakni melompat dari ketinggian beberapa ratus meter dengan menggunakan pengaman, tampak merupakan ide yang bagus. Namun, kecelakaan pun terjadi, sehingga patah kaki pun tak terhindari. Musibah memang tak pernah diminta. Namun, ia selalu datang berkunjung. Lanjutkan membaca Rasa Sakit dan Kelembutan

Dinamika Partai Politik di Era Globalisasi: Beberapa Butir Pemikiran

surrealist-art-illustrations-05
youthedesigner.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Di dalam masyarakat demokratis, seperti indonesia, perubahan politik amatlah dimungkinkan. Ada banyak cara untuk mewujudkan ini. Salah satu jalan terbaik adalah menyalurkan aspirasi politik untuk perubahan ke arah yang lebih baik melalui partai politik. Bisa dibilang, partai politik adalah kendaraan utama perubahan di dalam masyarakat demokratis. Tentu saja, ada jalan-jalan lain yang dimungkinkan, misalnya melalui berbagai karya di dalam berbagai organisasi masyarakat sipil, atau pendidikan masyarakat luas. Namun, jalan perubahan melalui partai politik adalah jalan tercepat, dan memiliki dampak yang paling besar.

Di dalam ranah filsafat politik, partai politik memiliki sejarah yang khas. Partai politik adalah persilangan langsung antara pemerintah dan masyarakat sipil. Persilangan ini amat dibutuhkan di dalam masyarakat demokratis, supaya sepak terjang pemerintah tetap berada di dalam pengamatan dan kendali dari masyarakat sipil, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di dalam demokrasi. Partai politik ini berpijak pada kebutuhan masyarakat sipil akan kehidupan bersama yang damai, adil dan makmur. Partai politik mengemas semua ini ke dalam seperangkat ideologi yang menjadi landasan utama semua karya partai tersebut, terutama ketika mereka duduk di pemerintahan. Lanjutkan membaca Dinamika Partai Politik di Era Globalisasi: Beberapa Butir Pemikiran

Lex iniusta non est lex: Refleksi tentang Hukum, Keadilan dan “Fenomena Ahok”

 

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang,  

Sejak 2014 lalu, “fenomena Ahok” tidak hanya menggetarkan Jakarta, tetapi juga dunia. Dengan berbagai tindakan dan keputusannya, Ahok, sebagai Gubernur Jakarta, menggoyang tata politik Jakarta. Tindakannya mengundang kecaman, sekaligus pujian dari berbagai pihak. Ia bahkan memperoleh penghargaan sebagai salah satu gubernur terbaik di dunia. Banyak gubernur di Indonesia menjadikan Ahok sebagai teladan kepemimpinan dan tata kelola kota. Berbagai penelitian pun dibuat untuk menganalisis gaya kepemimpinan Ahok yang memang berbeda dibandingkan dengan kepemimpinan sebelumnya di Jakarta.

“Fenomena Ahok” ini semakin memanas, ketika ia terserat kasus penodaan agama, dan diputuskan bersalah oleh hakim. Seketika itu pula, tanggapan dari berbagai penjuru dunia datang. “Fenomena Ahok” pun justru menjadi semakin fenomenal. Saya ingin meninjau fenomena ini dari sudut pandang perdebatan di dalam kajian hukum klasik, yakni tegangan antara hukum dan keadilan. Lebih dari itu, saya juga ingin melihat pengaruh unsur politik di dalam kaitan antara hukum dan keadilan tersebut.  Lanjutkan membaca Lex iniusta non est lex: Refleksi tentang Hukum, Keadilan dan “Fenomena Ahok”

Terorisme dan Transendensi

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Sebagian Naskah Diskusi untuk Seminar “Beyond Terrorism: Understand The Past and Prepare for The Future” di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 17 Mei 2017

Terorisme sudah setua peradaban manusia itu sendiri. Sekelompok orang melakukan tindak merusak, demi menyebar teror, dan memecah belah, guna mewujudkan kepentingan politik, ideologis maupun religius tertentu. Landasan berpikir mereka bersifat sempit dan tertutup. Dengan landasan ini, mereka menghancurkan perbedaan, dan menyebarkan ketakutan.

Ada beragam penelitian tentang akar dan cara menanggulangi terorisme. Namun, ada satu hal yang menjadi kunci dari semuanya, yakni kemampuan transendensi. Ini adalah kemampuan manusiawi untuk melihat dunia dengan kaca mata yang lebih luas dari kepentingan diri, keluarga ataupun kelompoknya. Pendek kata, transendensi adalah kemampuan manusia untuk melampaui kepentingan sempit diri dan kelompoknya, lalu melihat dari sudut pandang orang lain, serta kepentingan yang lebih besar. Transendensi terkait erat dengan kemampuan dasar manusia lainnya, yakni empati. Lanjutkan membaca Terorisme dan Transendensi

Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Oleh Reza A.A Wattimena

Morning Star: Surrealism, Marxism, Anarchism, Situationism, Utopia. by Michael Lowy

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

Di seluruh dunia, kita menyaksikan gerakan radikalisasi. Orang-orang menjadi radikal di dalam beragama, sehingga kehilangan akal sehat, dan bersikap keras terhadap perbedaan. Orang justru semakin tertutup melekat pada identitas etnis, ras dan agama mereka di jaman globalisasi ini. Inilah salah satu ciri mendasar dari globalisasi, yakni paradoks antara keterbukaan di satu sisi, dan ketakutan untuk bersikap terbuka di sisi lain.

Radikalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi radikal. Orang yang sebelumnya bersikap sehat terhadap identitasnya kini berubah menjadi amat keras, dan takut pada perbedaan. Lebih dari itu, mereka bahkan menjadi kasar dan keras terhadap orang lain yang berbeda dari mereka. Ciri khas radikalisasi adalah sikap yang menjadi semakin intoleran. Lanjutkan membaca Deradikalisasi, Keterbukaan dan Manusia Pembelajar

Terbitan Terbaru: Ecocity for Jakarta, Historical and Conceptual Approach

IMG20170422211912Oleh Reza A.A Wattimena, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang

One of the negative effects of the development of science and technology is the destruction of natural ecosystem. This happens, because of the inefficient use of energy, and the method of its extraction, in various areas of modern life. The existence of megacities, such as Jakarta, the capital city of Indonesia, contributes to these problems. One of possible solutions for this is the discourse of ecocity as an alternative model for the future in the context of urban planning. The essence of this discourse is nature as metaphysical foundation and standard measures. This concept will be translated in various factors, such as humane city environment, universal accessibility of the city, efficient use of energy and environmental friendly urban planning. This writing will try to see the possibility to apply the principles of ecocity to Jakarta.

Salah satu sisi negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kehancuran dari alam. Ini terjadi, karena penggunaan energi yang tidak efisien, juga di dalam cara untuk menemukannya, di dalam berbagai segi kehidupan modern. Kehadiran berbagai kota besar, seperti Jakarta, ibu kota Indonesia, juga menyumbang di dalam permasalahan ini. Salah satu jalan keluar yang mungkin adalah dengan memperhatikan wacana tentang ecocity sebagai model alternatif bagi tata kota di masa depan. Inti dari wacana ini adalah alam sebagai dasar metafisis sekaligus ukuran. Inti ini nantinya akan diterjemahkan ke berbagai bentuk, seperti lingkungan kota yang manusiawi, akses universal bagi kota tersebut, penggunaan energi yang efisien dan perencanaan kota yang ramah lingkungan. Tulisan ini akan mencoba melihat kemungkinan penerapan prinsip-prinsip ecocity untuk Jakarta.

Bisa didapatkan di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Jl. Jend. Sudirman No.51, RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Setia Budi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12930, Indonesia, +62 21 5727615