Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan

The Labyrinth Institute

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang, dan Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS)

Menjadi ekstrimis di abad 21 adalah sebuah godaan besar. Orang berpikir hitam putih tentang banyak hal, sesuai dengan versi mereka. Tidak ada usaha untuk berpikir kritis untuk mempertanyakan anggapan-anggapan di dalam diri. Menjadi ekstrimis itu mudah, karena memang orang tak perlu banyak berpikir.

Menjadi radikal di abad 21 juga gampang. Kata radikal, sejatinya, menggambarkan usaha untuk mencari akar (radix) dari pemahaman tertentu. Namun, di abad 21, kata itu menggambarkan orang-orang yang justru tak pernah sampai ke akar pemahamannya, sehingga jatuh pada kedangkalan berpikir.

Mereka lalu menjadi jahat terhadap perbedaan. Sekali lagi, amatlah mudah untuk menjadi radikal di abad 21, karena orang, juga, tak perlu berpikir banyak.

Menjadi orang emosional, penuh kemarahan dan kesedihan terhadap keadaan, juga merupakan godaan tersendiri. Ketika hal-hal yang terjadi tak sejalan dengan keinginan, orang lalu bersikap keras dengan marah atau sedih berlebihan. Orang menjadi budak atas emosi dan pikirannya yang sebenarnya bersifat ilusif, yakni datang dan pergi, tanpa inti. Ini, juga, tidak memerlukan kedalaman dan kematangan berpikir.

Menjadi ekstrimis, radikal dan emosional adalah hal mudah. Namun, dampak buruknya luas dan dalam. Mereka siap menyakiti orang lain, demi mempertahankan kesempitan dan kemalasan berpikir mereka. Tidak hanya itu, dengan bersikap radikal, ekstrim dan emosional, orang juga menyakiti dirinya sendiri.

Belajar dari Filsafat Yunani Kuno

Bagaimana keluar dari lingkaran ekstrimis, radikal dan emosional semacam ini? Kita bisa belajar dari dua tradisi besar di dalam sejarah pemikiran dunia, yakni dari tradisi filsafat Yunani kuno dan tradisi pemikiran Tibet. Di dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, Aristoteles adalah pemikir yang tepat, guna membahas masalah ini. Sementara, di dalam tradisi Tibet, pemikiran Buddhisme Tibet juga banyak membahas soal ini.

Bagi Aristoteles, tujuan utama dari hidup manusia adalah mencapai kepenuhan hidup (Eudaimonia), atau kebahagiaan sejati. Ini dapat dicapai, jika orang hidup dengan keutamaan, yakni karakter dan sikap baik dalam hidup yang membawa kedamaian di dalam diri, maupun dalam hubungan dengan orang lain. Keutamaan hanya dapat diperoleh, jika orang hidup di jalan tengah, yakni jalan yang tidak jatuh pada titik ekstrim tertentu. Ini juga disebut sebagai moderasi, atau bertindak secara sesuai dengan keadaan yang ada.

Jika orang terlalu baik, maka ia akan dimanfaatkan orang lain. Jika orang tidak baik, maka ia akan dibenci orang lain, karena menciptakan banyak kesulitan. Jika orang suka berbohong, maka ia akan kehilangan kepercayaan dari banyak orang. Namun, jika orang terlalu jujur, maka ia akan juga menyulitkan orang lain.

Saran Aristoteles, orang boleh baik, tetapi jangan terlalu baik. Orang boleh jujur, tetapi jangan terlalu jujur. Inilah yang disebut sebagai keutamaan jalan tengah. Dengan cara berpikir ini, orang tidak akan jatuh pada ekstrimisme, radikalisme ataupun sikap emosional berlebihan di dalam menanggapi sebuah keadaan.

Belajar dari Kebijaksanaan Tibet

Pemikiran Tibet terkait erat dengan Buddhisme. Dalam arti ini, Buddhisme sendiri adalah sebuah jalan untuk terbebas dari penderitaan hidup, dan menyadari inti jati diri manusia yang sebenarnya. Filsafat Yunani kuno lebih sibuk memikirkan cara manusia bertindak di dalam hidup, supaya ia bisa mencapai kepenuhan hidup. Pemikiran Tibet lebih sibuk membahas soal hakekat dan gerak pikiran manusia.

Ketika emosi kuat dan pikiran kacau melanda, orang lalu kehilangan kebahagiaan. Ia memasuki gerbang penderitaan (Samsara) dan kebingungan. Menghadapi ini, banyak orang menolak pikiran dan emosi yang kuat tersebut. Namun, usaha ini sia-sia, karena emosi dan pikiran kuat tersebut justru semakin kuat, dan mengganggu.

Ada orang lainnya yang justru mengejar pikiran dan emosi tersebut. Mereka pun terhanyut di dalamnya. Karena pikiran dan emosi yang membuat kalut, mereka lalu melakukan hal-hal bodoh yang merugikan diri mereka sendiri, dan orang lain. Kebijaksanaan Tibet mengajak orang untuk menghindari dua ekstrim ini, yakni ekstrim mengejar, ataupun ekstrim menolak.

Yang dianjurkan kemudian adalah menyadari dengan lembut (gentle awareness) semua emosi dan pikiran yang datang. Ketika marah, kemarahan lalu disadari dengan lembut. Ketika sedih, kesedihan lalu disadari dengan lembut. Orang lalu bisa “berada bersama” (coexist) dengan semua pikiran dan emosinya, tanpa terjebak di dalam penderitaan.

Inilah jalan tengah yang ditawarkan kebijaksanaan Tibet. Jalan tengah tertinggi bukan hanya di tingkat sikap dan karakter manusia, tetapi dimulai dari pikirannya. Ketika pikiran bisa mencapai titik jalan tengah, yakni kesadaran yang lembut dan terbuka terhadap segala pikiran dan emosi yang datang, maka orang pun akan menemukan kebijaksanaan dan welas asih yang sudah selalu ada di dalam dirinya. Kebijaksanaan dan pengetahuan tertinggi tidak berada di luar diri manusia, melainkan di dalam dirinya.

Kebijaksaan Tibet dan filsafat Yunani Kuno mengajarkan orang untuk tetap tegar dan tenang di dalam naik turunnya kehidupan. Keduanya menawarkan cara untuk membentuk pikiran dan tindakan yang kokoh, walaupun keadaan terus berubah. Buahnya adalah kedamaian di tengah badai kehidupan yang penuh ketidakpastian. Jika sudah begitu, orang tak akan tertarik lagi pada segala bentuk ekstrimisme, radikalisme ataupun mengumbar emosi kemarahan maupun kesedihan yang berlebihan.

Tertarik mencoba?

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

6 tanggapan untuk “Dari Yunani sampai Tibet: Tentang Jalan Tengah Kehidupan”

  1. St. Ignatius Loyola juga menawarkan jalan tengah yang dirangkum dalam Latihan Rohani. Salah satu ajarannya adalah Tantum Quantum yang secara sederhana artinya adalah mengusahakan apa yang kita butuh, dan tidak menginginkan sesuatu karena diburu nafsu. Hal ini menjelaskan bahwa hidup harus seimbang. Menurut St. Ignatius hal ini hanya dapat diperoleh apabila ada keselarasan antara pikiran, hati, dan raga. Jadi saya rasa Filsafat Yunani Kuno serta Tradisi Kebijaksanaan Tibet memiliki benang merah yang sama dengan ajaran St. Ignatius Loyola sebagai tawaran jalan tengah kehidupan ini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s