P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

face-man-migraine-aura-against-rainbow-shards-oil-surrealism-165763079Oleh Reza A.A Wattimena

“Kekuatan untuk mengubah hal-hal yang bisa diubah

Menerima hal-hal yang tak bisa diubah

Kebijaksanaan untuk membedakan keduanya”

Suasana tempat makan itu ramai. Di sana, seorang teman berkomentar tentang buku saya: Urban Zen. “Memang mengapa jika hidup itu menderita? Mengapa harus panik?”, begitu tanyanya.

Memang, hidup harus terus bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu penting untuk direnungkan. Hidup memang tak harus selalu bahagia. Derita adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Lanjutkan membaca P4 (Pertolongan Pertama pada Penderitaan)

Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

9efaf190325473.Y3JvcCw4NDQsNjYwLDAsMTY5Oleh Reza A.A Wattimena

Sekitar jam 10 malam, bilangan Tanah Abang Jakarta, saya berjalan. Baru saja selesai berjumpa dengan seorang teman dari jauh. Saya kaget, karena ada sosok berjalan di kegelapan. Ia tidak menyerupai manusia.

Ternyata, ia adalah seorang perempuan. Tubuhnya ditutupi oleh kain dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia berjalan biasa, namun tampak menyeramkan, karena pakaian yang ia gunakan. Saya teringat film Sundel Bolong yang saya tonton sewaktu saya kecil. Lanjutkan membaca Kemunafikan Membuat Nalar Buntu

Distraksi Sebagai Derita

600px-Joos_de_Momper_the_Younger,_Anthropomorphic_Landscape_c.1600-1635Oleh Reza A.A Wattimena

2022 sudah tiba. Sebenarnya, itu hanyalah angka. Ia tak sungguh punya makna. Namun, karena kebiasaan manusia selama ribuan tahun yang bersifat global, maka ia memiliki pola tetap yang bermakna.

Tahun-tahun sebelumnya tak mudah. Pandemik mengancam nyawa dan kesehatan batin banyak orang. Krisis ekonomi menggiring milyaran orang ke dalam jurang kemiskinan. Yang lebih parah, kecemasan akan masa depan yang tak pasti terus menghantui dunia. Lanjutkan membaca Distraksi Sebagai Derita

Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Suami isteri yang saya kenal dengan sangat baik itu berjuang untuk menyingkirkan segala bentuk penderitaan dari jalan hidup anaknya. Secara verbatim suami berkata kepada saya suatu pagi, ketika anaknya masih kelas 2 SD, “Cukup kami orangtuanya yang kerja keras banting tulang ke kebun. Biar kami saja yang kehujanan kepanasan. Anak-anakku tidak perlu. Pokoknya cukup belajar yang rajin. Kalau sekolahnya pintar, kelak dia akan jadi ‘orang’.”

Mereka bertani. Di samping rumah ada 3 ekor sapi yang harus dikasih makan. Ada ayam bangkok dan ayam kampung di kandang berbanjar. Pagi dan sore harus dikasih makan. Ada kolam ikan gurame dan nila—ikan-ikannya harus dikasih makan. Untuk menjaga kebun dari orang jahil, delapan ekor anjing dilepaskan. Semuanya mesti dikasih makan dua kali sehari. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Kehormatan: Dukkha

Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

3685179-HSC00002-6

Oleh Johanes Supriyono, Antropolog

Suatu ketika, saya berjumpa seorang teman yang libido sekolahnya tinggi. Di ruang kerjanya ia setengah pamer tentang rencana sekolahnya. “Saya selesai S2 tepat waktu. Nilai saya A semua. Saya lulusan terbaik. Tesis saya sangat layak dibukukan. Kamu tertarik untuk membacanya? Ada banyak referensi yang saya rujuk untuk membahas topik penelitian saya.” Kemudian bla bla bla bla bla…. Sangat panjang. Aura bangga menguar dari mulut; mengiringi setiap kata.

“Saya sedang menyiapkan proposal penelitian S3 saya. Ke luar negeri,” katanya lagi. Lagi-lagi ia menggarisbawahi alasan bahwa ia sangat spesial dan penting untuk masuk ke pergaulan internasional. Ia merasa dirinya selayaknya menjadi bagian dari komunitas ilmuwan trans-nasional. Ia suka mengutip kalimat-kalimat dari buku yang ia pernah baca. Juga ia suka mengubah kalimatnya ke dalam bahasa Inggris yang terdengar sangat fasih. Sekurang-kurangnya di telinga saya. Lanjutkan membaca Hasrat Akan Pengakuan: Dukkha

Musuh Terbesar Semua Agama

Stupidity is Dead! Long Live Stupidity! A Rant - South Florida FilmmakerOleh Reza A.A Wattimena

Sampai ke pelosok desa, agama telah menjadi bagian dari keseharian orang Indonesia. Agamanya pun beragam. Namun, hampir tak ada tempat yang bebas dari agama di Indonesia. Inilah keadaan kita di awal abad 21 ini.

Salah satu sebabnya adalah karena gagalnya pemerintah memberi rasa aman pada warganya. Sebaliknya, pemerintah justru menjadi penindas terhadap warganya sendiri. Para pelayan rakyat justru mencuri uang rakyat, guna memperkaya diri. Para penegak hukum justru mendiamkan, dan bahkan kerap menjadi pelaku pelanggaran hukum itu sendiri. Lanjutkan membaca Musuh Terbesar Semua Agama

Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Taylor Swift's Video for "Style" Is Totally Dreamy | InStyleOleh Reza A.A Wattimena

Tak biasanya, saya mendengar lagu-lagu baru. Namun, ini perkecualian. Taylor Swift, salah satu musisi perempuan terbaik di dunia saat ini, merekam dan menyebarkan ulang salah satu lagu lamanya. Judulnya All too Well (10 Minute Version) (Taylor’s Version) (From the Vault).

Lagu itu unik. Durasinya 10 menit. Ini sungguh tak biasa untuk musik jaman sekarang. Itu juga salah satunya yang membuat saya tertarik. Anda juga bisa melihatnya dengan gratis di Youtube, termasuk film pendek yang dibuat atasnya. Lanjutkan membaca Keindahan dari Kesementaraan (Dari Friedrich Nietzsche sampai Taylor Swift)

Murka yang Bermakna

GoodTherapy | Recognizing and Addressing Anger Before It Becomes RageOleh Reza A.A Wattimena

Bolehkah orang murka atau marah? Bolehkan orang bersikap keras dalam keadaan-keadaan tertentu? Bolehkah makian keras dilontarkan antar manusia? Apakah murka itu sepenuhnya salah?

Murka itu terasa di dada. Napas sesak, dan jantung berdetak keras. Tekanan darah meninggi, dan menghasilkan dorongan keras ke kepala. Kata dan makian keras pun keluar dari mulut, dan kerap merusak telinga. Lanjutkan membaca Murka yang Bermakna

Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Jaundice. alex gross | Surrealism painting, Graphic design photo  manipulation, Pop surrealismOleh Reza A.A Wattimena

Kata pepatah, fitnah lebih jahat dari pembunuhan. Tampaknya, ungkapan itu memang benar. Jika dibunuh, orang kehilangan tubuhnya. Jika difitnah, tanpa tanggapan yang tepat, orang bisa kehilangan mata pencahariannya, harga dirinya dan bahkan juga hidupnya.

Saya sendiri sudah berulang kali difitnah. Karena iri atau salah paham, banyak kebohongan disebarkan tentang diri saya. Ada fitnah yang sungguh merusak, sampai mempengaruhi banyak sisi hidup saya. Namun, sebagian besar fitnah hanya gosip di belakang yang tak bermakna. Lanjutkan membaca Ketika Difitnah: Sebuah Perspektif Zen

Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

SSAE Online Exhibit: Hillsborough County 2021 - Salvador Dalí MuseumOleh Reza A.A Wattimena

Apakah anda ingin hidup di negara yang bebas korupsi? Apakah anda ingin tinggal di negara bebas dari radikalisme agama yang merusak? Apakah anda ingin tinggal di negara yang pemerintah dan organisasi swastanya bekerja dengan sempurna? Saya iya.

Jalannya hanya satu, yakni benahi pendidikan. Jangan memilih menteri yang tak kompeten. Jangan memilih pejabat pendidikan atas dasar kompromi politik busuk. Indonesia terus melakukan dua hal ini, sehingga pendidikan kita sama sekali tidak bermutu. Lanjutkan membaca Beginilah (Seharusnya) Sistem Pendidikan Indonesia

Belajar untuk Menderita

WebSyters | Suffering in silence, Art, Fictional charactersOleh Reza A.A Wattimena

Sejak kecil, kita diajarkan untuk menjadi juara. Kita diminta untuk melakukan yang terbaik di segala hal. Sistem sekolah mendukung hal itu. Sistem ekonomi kapitalisme Indonesia juga sejalan dengan itu.

Namun, kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Kita tidak pernah diajarkan untuk menderita. Padahal, di dalam hidup, orang tak selalu bisa menang dan senang. Derita dan kekalahan kerap datang berkunjung, tanpa diundang. Lanjutkan membaca Belajar untuk Menderita

Kritik atas Nalar Religius

I am not going to Mars - Surreal paintings - Gyuri Lohmuller - Paintings &  Prints, Religion, Philosophy, & Astrology, Other Religion & Philosophy -  ArtPalOleh Reza A.A Wattimena

Tiga buku Immanuel Kant membentuk wajah Filsafat Eropa Modern. Judulnya adalah Kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Rasio Murni– 1781), Kritik der praktischen Vernunft (Kritik atas Rasio Praktis– 1788) dan Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Kemampuan Mempertimbangkan – 1790). Sampai detik ini, banyak orang masih membaca buku-buku tersebut. Di dunia akademik, pandangan Kant di dalam buku-buku itu masih menjadi tema penelitian yang terus relevan.

Kata Kritik bukanlah berarti ketidaksetujuan. Di dalam ketiga buku itu, kata kritik berarti penyelidikan yang menyeluruh. Kant memang ingin memeriksa tiga kemampuan dasar dari pikiran manusia, yakni soal pengetahuan, moralitas dan estetika. Untuk Indonesia, pola kritik serupa kiranya diperlukan untuk hidup beragama. Lanjutkan membaca Kritik atas Nalar Religius

Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Garuda Indonesia | Fine Art Print | ghinan's artist shopOleh Reza A.A Wattimena

Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dari sudut pandang ini, Pancasila adalah kesepakatan yang mengikat jutaan orang yang hidup di ribuan pulau untuk hidup bersama dalam satu payung politik yang disebut sebagai Indonesia. Pancasila menampung keberagaman suku, ras, agama dan beragam turunan identitas sosial lainnya. Ia memang dirancang untuk menampung perbedaan, dan mengarahkan itu semua pada satu tujuan, yakni keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Bangsa yang Tersesat

Namun, karena beragam sebab, bangsa kita tersesat. Pancasila tetap dipegang, namun hanya sila pertama yang terus menjadi perhatian. Sila pertama ini bahkan digunakan untuk bersikap tidak adil terhadap keberagaman agama yang ada. Ketidakadilan terhadap kelompok agama minoritas, dan penindasan yang berkepanjangan terhadap hak-hak perempuan, seolah dibenarkan oleh sila pertama ini. Lanjutkan membaca Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Pin on * First Aid Kit InventoryOleh Reza A.A Wattimena

Dua tahun belakangan, karena tuntutan pekerjaan, saya tenggelam dalam kajian neurosains dan filsafat. Banyak hal yang membuka mata saya. Beberapa tulisan sudah diterbitkan di http://www.rumahfilsafat.com dan beberapa jurnal. Tahun depan, ada tawaran mendadak untuk memberikan beberapa materi terkait soal serupa.

Neurosains adalah kajian ilmiah tentang hubungan antara otak, kompleksitas sistem saraf dan hidup manusia secara keseluruhan. Kajian ini dimulai pada akhir abad 20, dan meledak di awal abad 21, sampai sekarang. Begitu banyak eksperimen dilakukan. Banyak hal baru yang ditemukan, atau pandangan lama yang mengalami pembuktian. Lanjutkan membaca Neuro(Z)en: Menjadi Bijaksana secara Ilmiah

Tentang Relasi Manusia dan Alam

Mesangat - HomeOleh Johanes Supriyono, Antropolog

Pak Yus seorang pemancing ikan di Danau Mesangat. Ketika ditanya nama panjangnya, jawab singkat: Iyus. “Nama panjang-panjang pun yang diingat orang pasti yang pendek,” kelakarnya. Sehari-hari, jika tidak sedang tidak enak badan, ia pergi memancing. Itulah pekerjaannya.

Pagi hari, ia menajur. Puluhan kail berumpan ikan-ikan kecil atau katak kecil ia pasang di permukaan Danau Mesangat. Danau itu dipenuhi ikan-ikan toman (Channa micropeltes)—ikan toman dikenal sebagai predator buas. Danau itu juga adalah habitat bagi buaya badas kuning dan buaya sepit (Tomistoma schlegelii). Meski ada spesies ikan yang lain, target utama tajur Pak Yus adalah ikan toman. Lanjutkan membaca Tentang Relasi Manusia dan Alam

Kutukan Homo Corruptus

js4853's deviantART gallery | Surrealism painting, Surrealism, PaintingOleh Reza A.A Wattimena

2012, saya menulis buku dengan judul Filsafat Anti Korupsi: Membedah Hasrat Berkuasa, Pemburuan Kenikmatan dan Sisi Hewani Manusia di balik Korupsi. Buku itu unik. Ia tidak membahas korupsi dari sisi politik ekonomi semata, seperti buku-buku korupsi pada umumnya. Buku ini membahas korupsi dari sisi pelakunya, yakni manusia yang jiwanya sudah membusuk: homo corruptus.

Homo Corruptus

Homo corruptus adalah mahluk yang koruptif. Nilainya sebagai manusia sudah membusuk. Yang ada di otaknya hanya mencuri, terutama mencuri dalam jumlah besar untuk memuaskan hasrat kerakusannya. Di Indonesia, homo corruptus memegang jabatan tinggi, mulai dari pejabat partai politik sampai dengan menteri penanggung jawab krisis. Lanjutkan membaca Kutukan Homo Corruptus

Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Madrid surrealism show offers escape from pandemic reality | Spain | The  GuardianOleh Reza A.A Wattimena

Hampir 20 tahun, saya mendalami filsafat secara sistematik. Dalam kaitannya dengan teologi dan agama, ada perdebatan-perdebatan abadi yang muncul dalam wacana filsafat. Saya berpendapat, bahwa perdebatan-perdebatan itu hampa. Semua itu muncul dari kesalahpahaman yang berakar pada agama-agama Timur Tengah.

Ada enam isu yang terus muncul. Pertama adalah isu tentang kaitan antara agama dan ilmu pengetahuan, juga antara iman dan ilmu. Agama dianggap berpijak pada kepercayaan murni. Sementara, ilmu berpijak pada akal budi murni. Hubungan keduanya rumit, seringkali penuh kekerasan, dan tak akan bisa terdamaikan sepenuhnya. Lanjutkan membaca Keluar dari Perdebatan-perdebatan Hampa

Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Salvador Dali - Surreal - 101 Art GalleryOleh Reza A.A Wattimena

Sebagai sebuah jalan hidup yang lahir ribuan tahun silam, apakah Zen masih cocok untuk jaman sekarang? Inilah jaman penuh krisis yang datang bergantian. Orang hidup dalam kebingungan. Perubahan datang begitu cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian dan kecemasan besar bagi hidup banyak orang.

Zen lahir dari India, kemudian menyebar ke Cina, Jepang, Korea, Eropa, Amerika Utara dan seluruh dunia. Tak ada yang sungguh tahu, kapan Zen lahir. Ada yang merunutnya kembali ke Siddharta Gautama 2600 tahun silam. Namun, sejauh saya teliti, jauh sebelum Gautama lahir, Zen sudah berkembang subur di India. Lanjutkan membaca Zen untuk Segala Keadaan dan Segala Jaman

Mengapa Negeri Surga Khatulistiwa Terus Terjebak di Abad Kegelapan?

Dark Ages and Renaissance Art Masters – Dark Art and CraftOleh Reza A.A Wattimena

Negeri surga Khatulistiwa itu sungguh dicintai para dewa. Alamnya indah nan mempesona. Budayanya kaya dan berwarna. Surga dunia sudahlah hadir, dan tak perlu menunggu ajal tiba.

Negeri surga Khatulistiwa itu pernah menjadi pusat Dharma dunia. Hukum-hukum kebenaran dipelihara dan diwariskan kegenerasi berikutnya. Inilah hukum-hukum alam yang membebaskan dan membawa pencerahan. Namun, sayang, negeri surga tersebut kini tenggelam di dalam kegelapan. Lanjutkan membaca Mengapa Negeri Surga Khatulistiwa Terus Terjebak di Abad Kegelapan?

Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan

beingindonesian | Bepergian, Indonesia, DanauOleh Reza A.A Wattimena

Alkisah, hadirlah sebuah negeri indah di Khatulistiwa. Para dewa tersenyum, ketika negeri ini tercipta. Ribuan pulau terurai ditemani oleh sinar mentari yang tak ada habisnya. Jika sungguh ada surga, maka negeri ini adalah surga terindah yang pernah ada.

Alamnya begitu kaya. Ini mengundang iri dari seluruh dunia. Apapun yang ditabur begitu mudah tumbuh. Tanpa perawatan dari manusia, semua tercipta begitu indah, dan begitu nyata. Lanjutkan membaca Alkisah, Sebuah Negeri Terjebak di Abad Kegelapan