Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

268603811_5003075596391383_6408820738431591105_nOleh Johannes Supriyono, Antropolog

Penaklukkan itu membawa luka. Membuat orang merasa hina!

“Bu, mungkin ibu bisa membuatkan rumah bangunan untuk saya berteduh. Ibu punya uang untuk itu. Tapi, ‘rumah’ bagi jiwa saya, biarlah saya menemukannya sendiri.” Kalimat itu diungkapkan dengan suara berat, beradu dengan isak tangis, di antara perdebatan penuh lupaan emosi seorang anak perempuan dengan ibunya.

Itu bukan satu-satunya perdebatan yang melibatkan mereka berdua. Dan, setelahnya pun masih terjadi beberapa perdebatan. “Sebagai orang tua, ibu kan ingin anak-anaknya ‘mapan’. Punya pekerjaan yang baik. Rumah yang layak. Setiap bulan menerima gaji. Saat tua nanti dapat pensiun. Seperti keluarga-keluarga yang lain, setelah beberapa tahun bisa membeli mobil. Tidak usah yang terlalu bagus, tapi cukup layak dipandang. Tidak membuat malu. Apakah itu salah? Normalnya orang hidup di masyarakat kan begitu.”

“Orangtua sudah bekerja keras. Menyekolahkan. Sampai ke perguruan tinggi. Selama bertahun-tahun sampai semua jadi sarjana; meskipun kadang kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Tidak peduli hujan tidak peduli panas, semua dilakukan agar anak-anaknya bisa hidup pantas, dipandang oleh orang-orang sekitarnya. Tentu, sebagai orangtua kan punya harapan. Merasa bangga anak-anaknya sudah jadi sarjana. Nah, di masa tua, orangtua inginlah melihat anak-anaknya berbakti. Tidak usahlah membawakan ini itu sebagai balas budi. Bukan. Cukuplah membuat orangtuanya dihormati. Nama keluarga harum. Sebagai sarjana, sudah selayaknya mencari pekerjaan yang pantas. Orangtua kan bisa hanya mengharapkan itu. Apakah harapan semacam itu berlebihan? Apa susahnya sih kalau anak-anak itu kemudian nurut untuk mewujudkan harapan orangtuanya. Tidak usah semua harapan. Cukuplah satu atau dua.” Kalimat-kalimat ini tidak keluar dengan nada rendah dan teduh. Mereka meluap dalam kemarahan akibat rasa kecewa.

Bapak dan ibu kami menginginkan harapan mereka diwujudkan oleh anak-anaknya. Pada masa tertentu, sebelum mereka menerima pilihan-pilihan kami, mereka menilai anak-anaknya tidak patuh dan mengecewakan.

Harapan itu tidak terpenuhi. Rasa pahitnya kecewa merasuk ke seluruh jiwa. Amarah keluarnya.

Tapi, apakah harapan-harapan agar dipenuhi oleh orang lain itu tidak ubahnya sebagai penaklukkan? Apakah itu tidak berbeda dari menggunakan orang lain untuk mencapai keinginan-keinginan diri sendiri?

***

Orang tua kami merasa ‘patah’. “Seperti tunas tanaman yang dipungkas oleh seekor ulat yang kejam,” kata ibu kami suatu siang di teras belakang.

“Apa yang membuat ibu kemudian bisa menerima?”

“Ibu berdoa. Belajar kepada Bunda Maria yang merelakan anak laki-lakinya menempuh jalan hidup sampai mati. Sebagai seorang ibu, ternyata Bunda Maria tidak berkuasa atas putranya. Ibu belajar memahami penderitaan dan pilihan hidup kalian masing-masing. Tidak gampang. Melepaskan satu per satu harapan-harapan yang selama bertahun-tahun ibu pupuk. Dulu sekali ibu membayangkan: satu per satu anak ibu akan menjadi ‘orang’. Lalu, setelah panen, ibu akan menggelar syukuran dan mengumpulkan keluarga besar. Nah, untuk kamu, ibu sudah membayangkan, jika ibu masih bisa menyaksikan mengingat umur ibu sudah tua, untuk menanggap wayang kulit semalam suntuk sebagai puncak syukuran keluarga. Tapi ternyata oh ternyata, kalian masing-masing memiliki pilihan hidup yang berbeda,” kali ini Ibu bertutur dengan suara ringan dan sesekali terselip nada tawa.

Melepaskan satu per satu: Ibu mencoba memahami dan menerima alasan keputusan anak-anaknya. Ibu melepaskan ‘kacamata’ yang pernah ia pakai untuk mengukur hidup dan pencapaian anak-anaknya. Ibu memahami kata-kata saudara saya. Kami masing-masing “menemukan hidup” yang ingin kami jalani.

“Ibu bisa membantu sedikit kalau kalian mau membuat rumah. Kayu-kayu jati di kebun masih ada beberapa. Bisa ditebang, dikeringkan, untuk membuat kusen-kusen. Untuk makan sehari-hari, hasil dari sawah tidak habis untuk kita makan selama setahun. Itu saja yang Ibu masih bisa,” katanya. Ya. Ibu berhenti pada ‘rumah bangunan’.

Beberapa tahun sebelumnya, ketika saya berlibur di rumah, ibu pernah bertutur, “Nak. Kamu masih ingat temanmu SMP, si Wiwid? Dulu keluar SMA terus pindah SPK, lalu lanjut Akper. Dia bernasib baik lho. Sekarang sudah jadi PNS. Belum lama diangkat sebagai kepala Puskesmas. Sudah bisa beli mobil bekas sendiri untuk berangkat kerja. Dia juga sudah membantu memperbaiki rumah orangtuanya. Anak-anak sekarang kok pinter-pinter cari uang ya. Cepat banget menjadi kaya. Generasi Ibu kalah pokoknya.” Tidak hanya tentang Wiwid. Ibu, yang cukup mengenal teman-teman masa kecil saya, terus mengikuti perubahan-perubahan di kampung kami. Kemudian, Ibu “melaporkan” pencapaian-pencapaian sukses teman-teman masa kecil.

Ibu berusaha memahami pilihan hidup kami dan melepaskan harapan-harapannya.

***

Tujuh tahun setelah ibu meninggal, saya mendengar kalimat bijak dari Opa Yance, tetangga selisih beberapa rumah.

“Hidup itu perjalanan. Bukan pertandingan untuk mencari juara satu, dua, tiga. Masing-masing orang menempuh perjalanannya sendiri. You punya jalan sendiri. Dia punya sendiri. Jadi, you tidak bisa bandingkan: Gua umur segini udah sampai punya mobil, rumah, deposito sekian. Dia masih belum selesai cicil rumah. Nah you punya anak empat, kan. You lihat sendiri lah. Masing-masing berbeda. Tidak ada yang sama. Maka you tidak bisa samakan empat anak itu. Masing-masing punya hidup yang mau dijalani. Sebagai orangtua nih ya, kalau Opa boleh kasih saran, kita sekadar menemani supaya anak-anak bisa menikmati perjalanan yang mereka pilih dengan gembira.”

Rokoknya ia linting sendiri. Dan, ia merokok jauh rumah. “Isteri tidak suka bau rokok. Daripada ribut-ribut yang nggak penting, apa susahnya saya keluar rumah. Isteri tidak terganggu.”

Opa Yance punya 2 anak. Semua laki-laki. “Anak Opa yang besar tahun ini 32 tahun. Opa tidak pernah bertanya kapan menikah. Tidak pernah juga Opa suruh you harus kerja di sana yang gajinya gede. Atau you harus bisnis ini yang prospeknya bagus. Si bungsu, you tahu, biasa beli motor terus dimodif, lalu dijual online. Dia bisnis online.”

Saya tidak tahu alasan Opa Yance menasehati begitu. Tapi, dalam keheningan sebelum lelap tidur, saya menggemakan lagi kata-katanya. Merenungkan sejenak dan menyadari kebijaksanaan di dalamnya. Kata-kata itu meneduhkan.

Masing-masing orang memilih jalannya. Masing-masing orang menemukan alasan bagi perjalanan yang ditempuhnya. Dan, pada titik tertentu, mungkin keputusan itu mereka sesali tapi tidak berdaya mengubahnya. Atau, baru saat menjelang ajal, keputusan itu mereka sadari keliru dan pada detak jantung terakhir air matanya penyesalan menetes.

Barangkali, menurut kacamata saya, orang tertentu telah membuat keputusan yang salah sehingga tidak bisa saya terima. Barangkali, lagi-lagi menurut penilaian saya, si A atau si B, telah tersesat dan semestinya sejak lama mengikuti kata-kata saya. “Harus saya akui. Kadang-kadang atau bahkan seringkali, saya merasa tahu yang baik atau lebih baik untuk orang lain. Dan bahwa orang itu mestinya mengikuti apa yang saya sarankan,” batin saya. Itulah godaan diri: merasa mengerti (dan berkuasa) untuk menentukan pilihan orang!

Apa yang mesti saya lakukan? Saya belajar memahami dan melepaskan.. mengosongkan diri dari harapan-harapan atas orang lain.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Hasrat akan Penaklukan: Dukkha”

  1. selagi membaca pengalaman penulis dengan ibunda saya merasa benar2 tertekan, tercekik dgn semua harapan dan impian.
    misal nya saya dalam keadaan tsb, saya usaha utk angkat kaki dan menjauh i “kalangan” yg menghambat perkembangan pribadi.
    membaca pengalaman penulis dgn opa yance, hati saya lega. masi ada harapan utk hidup dan berkembang dgn pribadi kita semestinya,seperti bekal kita sejak lahir.
    dengan jalan hidup sebagai “pemula” banya kesulitan hidup yg bisa teratasi , kita bisa senyum menoleh ke masa lampau dan berterima kasih dengan apa ada nya.
    karya diatas berbau sedikit “berlebihan”, bisa di mengerti, “pengalaman” versi penulis.
    ada pemikiran lain, bahwa cara menulis / bercerita yg berlebih2an menimbulkan perhatian dan minat utk membaca / mendengar.
    ada “anjuran(?????)” : semua nya hanya di lihat, di lihat, di lihat tanpa nilai.
    terachir saya lupa semua, semua hanya lah kosong !!
    salam hangat !!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.