Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Garuda Indonesia | Fine Art Print | ghinan's artist shopOleh Reza A.A Wattimena

Dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dari sudut pandang ini, Pancasila adalah kesepakatan yang mengikat jutaan orang yang hidup di ribuan pulau untuk hidup bersama dalam satu payung politik yang disebut sebagai Indonesia. Pancasila menampung keberagaman suku, ras, agama dan beragam turunan identitas sosial lainnya. Ia memang dirancang untuk menampung perbedaan, dan mengarahkan itu semua pada satu tujuan, yakni keadilan dan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Bangsa yang Tersesat

Namun, karena beragam sebab, bangsa kita tersesat. Pancasila tetap dipegang, namun hanya sila pertama yang terus menjadi perhatian. Sila pertama ini bahkan digunakan untuk bersikap tidak adil terhadap keberagaman agama yang ada. Ketidakadilan terhadap kelompok agama minoritas, dan penindasan yang berkepanjangan terhadap hak-hak perempuan, seolah dibenarkan oleh sila pertama ini. Lanjutkan membaca Yang Terpenting, Namun Terlupakan

Sesudah Humanisme, Sebuah Resensi Buku

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Unika Widya Mandala Surabaya

Editor buku “Membongkar Rahasia Manusia: Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat” (2010), serta salah satu penulis buku “Menjadi Manusia Otentik” (Akan Terbit 2012)

Siapa itu manusia? Apa artinya menjadi manusia? Inilah salah satu pertanyaan abadi yang amat penting untuk dijawab dengan berpijak pada konteks kehidupan kita yang terus berubah. Buku terbaru F. Budi Hardiman yang berjudul Humanisme dan Sesudahnya, Meninjau Ulang Gagasan Besar tentang Manusia terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) ingin menanggapi pertanyaan itu dengan menelusuri sejarah perkembangan paham humanisme dari masa Yunani Kuno sampai era sekarang ini. Ia juga mengajukan argumennya sendiri yang disebutnya sebagai konsep “Humanisme Lentur”.

Alam dan Tuhan

Di dalam filsafat, refleksi tentang manusia sebenarnya baru dimulai, setelah kaum Sofis di masa Yunani Kuno mengajukan argumen, bahwa manusia adalah ukuran bagi segalanya. Setelah kaum Sofis melepaskan diri dari paradigma kosmologis para filsuf pra Sokratik, yang menjadikan alam sebagai pusat kajiannya, barulah para filsuf, macam Sokrates, Plato, dan Aristoteles, mulai memikirkan soal manusia, dan kehidupan yang ada di sekitarnya.

Di abad Pertengahan Eropa, paham humanisme, yakni paham yang menjadikan manusia sebagai fokus kajiannya, berkembang di bawah payung agama Kristiani. Dalam arti ini, manusia adalah citra Tuhan, yakni model yang tidak sempurna dari Tuhan itu sendiri. Sebagai citra Tuhan, manusia memiliki dimensi transenden yang sudah selalu tertanam di dalam dirinya. Namun, di masa ini, konsep kebenaran dan apa artinya menjadi manusia dimonopoli oleh tafsir-tafsir religius, yang seringkali menjadi “alat kontrol kebebasan individu.” (hal. 9)

Sebagai sebuah paham dan gerakan intelektual, humanisme sendiri baru menemukan kepenuhannya di dalam humanisme modern. Dalam arti ini, humanisme modern adalah “upaya untuk menghargai kembali manusia dan kemanusiannya dengan memberikan penafsiran-penafsiran rasional yang mempersoalkan monopoli tafsir kebenaran yang dahulu kala dipegang oleh kombinasi ajaib agama dan negara.” (hal. 8) Humanisme modern adalah upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu tafsir religius yang kerap kali memasung kekuatan-kekuatan kodrati manusia. Lanjutkan membaca Sesudah Humanisme, Sebuah Resensi Buku