Distraksi Sebagai Derita

600px-Joos_de_Momper_the_Younger,_Anthropomorphic_Landscape_c.1600-1635Oleh Reza A.A Wattimena

2022 sudah tiba. Sebenarnya, itu hanyalah angka. Ia tak sungguh punya makna. Namun, karena kebiasaan manusia selama ribuan tahun yang bersifat global, maka ia memiliki pola tetap yang bermakna.

Tahun-tahun sebelumnya tak mudah. Pandemik mengancam nyawa dan kesehatan batin banyak orang. Krisis ekonomi menggiring milyaran orang ke dalam jurang kemiskinan. Yang lebih parah, kecemasan akan masa depan yang tak pasti terus menghantui dunia.

Ini tentu tak bisa dibiarkan. Tahun baru, kita perlu cara berpikir baru. Kita tak bisa terus hanyut dalam cemas dan derita berkepanjangan. Kita perlu keluar dari neraka.

Neraka adalah keadaan batin. Ia bukanlah tempat. Ia tidak hanya ada, setelah kita mati. Detik ini dan disini, kita berada di neraka, jika batin kita tersiksa.

Sudah jelas, bahwa emosi-emosi jahat adalah neraka. Jika kita membenci, maka kita berada di neraka. Jika kita mendendam, maka kita berada di neraka. Namun, ada satu neraka yang sangat halus, sehingga kita mengabaikannya.

Dzongsar Rinpoche, Master Buddhis Tibet, menyebut neraka halus tersebut sebagai distraksi. Ia halus, tetapi bisa terjadi setiap saat. Batin yang terdistraksi adalah neraka itu sendiri. Emosi bisa kecil, namun distraksi akan menggiring orang langsung ke neraka.

Distraksi membuat orang tak sadar, apa yang sedang ia lakukan. Ia bernapas, namun ia tak sadar, bahwa ia bernapas. Orang berjalan, namun pikirannya melantur. Ia tidak sadar, bahwa ia sedang berjalan. Distraksi membuat tubuh di satu tempat, namun batin terbang jauh ke tempat lain.

Distraksi membawa ilusi. Masa lalu yang telah lama lewat seolah kembali terjadi. Hal-hal yang menyakit darinya pun terasa di masa kini. Ilusi lain terkait dengan masa depan yang belum terjadi. Distraksi menghadirkan rasa cemas luar biasa tentang apa yang belum, atau tidak akan, terjadi.

Karena distraksi, kita kehilangan saat ini. Kita kehilangan momen indah di masa kini. Padahal, masa kini ini unik. Ia tidak diulang, dan akan lewat begitu saja, jika tidak diperhatikan.

Akibatnya, emosi pun mengayun tajam. Penyesalan dan kecemasan datang silih berganti. Hidup menjadi terasa hampa dan tak bermakna. Jika ini terjadi, kita sudah berada di neraka.

Dalam jangka panjang, derita bisa menciptakan berbagai penyakit. Tubuh akan rusak, karena fungsi organ yang tak berjalan baik. Daya tahan tubuh menurun, sehingga infeksi rutin terjadi. Kewarasan pun bisa runtuh di depan mata, jika derita dibiarkan berkuasa.

Mengapa distraksi terjadi? Ini terjadi, karena kita bodoh. Kita tak paham, apa arti hidup ini. Kita mengira hidup itu berada di masa depan yang perlu terus direncanakan, atau di masa lalu yang terus diratapi.

Padahal, hidup itu sederhana. Ia terjadi disini dan saat ini, selalu. Distraksi lenyap, ketika kita hidup disini dan saat ini dengan penuh kesadaran. Ini sangat mudah, namun juga sangat sulit, terutama bagi manusia modern yang begitu terbiasa berencana jauh ke depan.

2022 sudah tiba. Tentu, kita tak mau terus berkubang dalam derita. Kita ingin keluar dari neraka. Sudah waktunya, kita belajar untuk memahami kebenaran yang selalu ada ada di depan mata kita disini dan saat ini. Jangan ditunda lagi.

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander AntoniusLebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

4 tanggapan untuk “Distraksi Sebagai Derita”

  1. begitu lah hidup.
    neraka dan surga bukanlah dimasa depan, kalau kita sudah mati, tapi justru disaat ini , di detik ini.
    ada baik nya, kita belajar sebagai pemula, dan tetap pemula, walaupun “latihan” kita adalah “kebohongan terbesar dalam hidup”.
    tetapi kl itu satu2 nya jalan utama utk nalar sehat dan jati hati, why not utk di laksanakan dan di mulai didetik ini ????
    membaca karya anda membuat hati tambah terbuka. pandangan ini pun sangat relativ, salah2 gila.
    salam hangat !!

    Suka

  2. Masuk neraka awalnya was was gelisah tertekan kacau pikir dkk . Masuk surga saat kita bersyukur damai sukacita Krn Roh menyatu dg Tuhan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.