Makna Kerja dalam Hidup Manusia

Technorati Tags: ,,

3.bp.blogspot.com

3.bp.blogspot.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Tulisan ini merupakan salah satu bab dalam diktat Filsafat Manusia: Menjadi Manusia Otentik (Reza A.A Wattimena, 2011)

Pada tulisan ini dengan mengacu pada pemikiran Peter Drucker, saya ingin mengajak anda memikirkan tentang makna kerja di dalam kehidupan manusia. Sebagai acuan saya terinspirasi dari buku Management, Tasks, Responsibilities, and Practices. Peter Drucker adalah seorang ahli manajemen yang pemikirannya, menurut saya, memiliki dimensi filosofis yang sangat dalam.[1]

Kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran dan tubuhnya, manusia mengorganisir pekerjaan, membuat benda-benda yang dapat membantu pekerjaannya tersebut, dan menentukan tujuan akhir dari kerjanya. Dapat juga dikatakan bahwa kerja merupakan aktivitas yang hanya unik (dalam artian di atas) manusia. Di dalam Kitab Suci Yahudi yang sudah berusia sangat tua diceritakan bagaimana kerja merupakan hukuman Tuhan kepada manusia, karena ia tidak patuh pada perintah-nya. Sekitar 2600 tahun yang di Yunani, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul Work and Days.[2] Di dalamnya ia berpendapat, bahwa kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia.

Filsafat dan Kerja

Di dalam salah satu tulisannya, Franz Magnis-Suseno pernah berpendapat, bahwa refleksi filsafat tentang kerja dapat ditemukan sejak 2400 tahun yang lalu. Walaupun pada masa itu, kerja dipandang sebagai sesuatu yang rendah.[3] Warga bangsawan tidak perlu bekerja. Mereka mendapatkan harta dari status mereka. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada masa itu, manusia yang sesungguhnya tidak perlu bekerja. Ia hanya perlu berpikir dan menulis di level teoritis. Semua pekerjaan fisik diserahkan pada budak. Budak tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.

Pada abad ke 17 dan 18, refleksi filsafat tentang kerja mulai berubah arah. Salah seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke pernah berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak miliki pribadi. Hegel, filsuf Jerman, juga berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya. Karl Marx, murid Hegel, berpendapat bahwa pekerjaan merupakan sarana manusia untuk menciptakan diri. Dengan bekerja orang mendapatkan pengakuan.[4]

Secara singkat Magnis-Suseno menegaskan, bahwa ada tiga fungsi kerja, yakni fungsi reproduksi material, integrasi sosial, dan pengembangan diri. Yang pertama dengan bekerja, manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Yang kedua dengan bekerja, manusia mendapatkan status di masyarakat. Ia dipandang sebagai warga yang bermanfaat. Dan yang ketiga dengan bekerja, manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya.

Kerja dan Organisasi

Teori-teori ekonomi dan ilmu sosial juga banyak menganalisis tentang kerja. Walaupun begitu refleksi dan analisis tentang kerja yang melibatkan organisasi baru muncul pada awal abad ke-19. Menurut Drucker tokoh yang pertama kali merefleksikan konsep kerja di dalam organisasi adalah Frederick Taylor. Dalam arti ini kerja bukanlah lagi merupakan fenomena universal manusia saja, tetapi juga kerja yang melibatkan pekerja-pekerja tangan ataupun pekerja pengetahuan (knowledge worker). Pekerja tangan adalah orang yang bekerja dengan ketrampilan praktis. Sementara pekerja pengetahuan adalah pekerja yang tidak hanya membutuhkan ketrampilan praktis, tetapi juga pekerja yang melibatkan konsep abstrak yang memiliki cangkupan luas.

Yang pasti menurut Drucker adalah, bahwa kerja (work) dan bekerja (working) adalah dua hal yang berbeda. Pekerja (worker) adalah penghasil kerja (work), dan kegiatan menghasilkan kerja itu disebut sebagai bekerja (working). Dalam hal ini setiap pekerja haruslah ditata dalam organisasi yang setidaknya mampu mewujudkan dua hal, yakni mencapai produktivitas kerja yang dibutuhkan organisasi, dan memperoleh kepuasan personal melalui kerjanya itu.[5]

Drucker berpendapat bahwa kerja adalah sesuatu yang sifatnya impersonal dan obyektif. Dalam arti ini kerja adalah tugas. Untuk bekerja berarti orang menerapkan logika dan aturan yang berguna untuk mencapai suatu tujuan. Di dalam kerja ada logika yang mengatur arus kerja tersebut. “Kerja”, demikian Drucker, “membutuhkan kemampuan menganalisis, membuat sintesis, dan mengontrol proses.”[6] Misalnya anda adalah seorang penulis. Menulis adalah suatu kerja yang membutuhkan logika untuk mengetik, dan membaca tulisan yang telah diketik. Di dalam tulisan ada aturan dan logika yang harus dipatuhi. Tanpa aturan dan logika tersebut, tulisan tidak akan dapat dimengerti. Penulis harus menganalisis proses dan hasil tulisannya, membuat kombinasi yang tepat (supaya tulisannya bagus), serta mengontrol proses penulisan, supaya mendapatkan hasil yang diinginkan.

Maka kerja adalah sesuatu yang memiliki aturan dan logika tersendiri yang perlu untuk dianalisis. Inilah yang kiranya dilakukan oleh Drucker. Para pekerja –yang juga berarti setiap manusia- perlu untuk memahami prinsip dasar kerja dalam suatu urutan yang logis, seimbang, dan rasional. Hal ini tidak hanya berlaku untuk kerja yang menghasilkan barang materi, tetapi juga para pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan yang lebih menghasilkan konsep yang abstrak. Misalnya si penulis yang perlu untuk memahami susunan alfabet yang sifatnya logis, seimbang, dan rasional. Drucker bahkan berpendapat bahwa analisis atas kerja pertama kali bukan muncul di kalangan insinyur ataupun ahli teknik, melainkan dari tulisan yang memiliki aturan dan logikanya sendiri.

Di dalam organisasi cara berpikir yang berbeda perlu untuk dirumuskan. Di dalam organisasi kerja harus dikelola secara tepat, sehingga gabungan kerja dari beberapa bagian bisa menghasilkan satu tujuan yang sama. Itu sebenarnya inti manajemen, yakni mengelola sekumpulan orang dengan jenis pekerjaan yang berbeda untuk mengabdi pada tujuan yang sama. Inilah yang juga merupakan inti dari proses produksi. Di dalam organisasi kerja adalah suatu kegiatan yang perlu diatur secara kolektif. Kerja bukanlah soal individual saja. Kerja memerlukan proses kontrol untuk mencegah hilangnya fokus pekerjaan.

Dimensi Fisiologis Kerja

Drucker lebih jauh menajamkan, bahwa ada lima dimensi dari bekerja (working). Bekerja adalah aktivitas yang dilakukan oleh pekerja. Manusia adalah mahluk yang bekerja. Kerja adalah tanda dari kemanusiaannya. Kerja memiliki dinamika dan dimensi yang inheren di dalam dirinya. Dimensi pertama adalah dimensi fisiologis. Yang perlu ditekankan disini adalah, bahwa manusia bukanlah mesin. Cara ia bekerja pun berbeda dengan cara kerja mesin.

Mesin bekerja terbaik jika hanya mengerjakan satu tugas. Tugas itu haruslah dilakukan berulang, dan haruslah sesederhana mungkin. Untuk mengerjakan tugas rumit, mesin haruslah membagi tugas rumit tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, barulah mesin itu bisa bekerja. Mesin dapat bekerja dengan baik, jika ritme pekerjaan tersebut tetap, dan dengan stabilitas yang terjamin.[7]

Manusia bekerja dengan cara yang berbeda. Jika hanya mengerjakan satu pekerjaan secara berulang, ia dengan mudah menjadi lelah, bosan, dan meninggalkan pekerjaannya itu. Menurut Drucker manusia justru bisa bekerja secara maksimal, jika berada dalam koordinasi dengan manusia lainnya. Manusia bisa bekerja secara maksimal, jika ia menumpahkan seluruh dirinya di dalam pekerjaannya itu, dan bukan hanya fisiknya semata. Jika ia dipaksa bekerja seperti mesin, maka baik secara psikologis ataupun fisik, ia akan cepat merasa lelah.

Manusia bekerja terbaik di dalam koordinasi dengan manusia lainnya, dan bukan secara individual. Ia bekerja buruk di dalam ritme yang tetap. Ia harus bekerja di dalam suasana yang dinamis bersama dengan manusia-manusia lainnya. Tidak ada ritme yang universal, yang cocok untuk setiap orang. Setiap orang memiliki ritme bekerjanya masing-masing. Bahkan menurut Drucker keunikan ritme bekerja dapat disamakan dengan keunikan sidik jari setiap orang. Orang bisa marah ketika ia dipaksa bekerja tidak sesuai dengan ritmenya, dan dipaksa untuk mengabdi ritme bekerja orang lain.

Jika orang dipaksa untuk bekerja sesuai dengan ritme orang lain, maka ia secara otomatis akan mengalami penumpukan kotoran di otot, otak, dan aliran darah. Penumpukan kotoran itu akan melepaskan hormon stress yang mengakibatkan seluruh saraf menjadi tegang. Padahal menurut Drucker untuk bisa bekerja secara produktif, orang perlu untuk melepaskan diri dari semua tegangan yang ada di dalam dirinya. Atau setidaknya ia harus memiliki kontrol penuh pada perasaannya sendiri.

Berbeda dengan pandangan umum, di dalam suatu organisasi, orang perlu untuk bekerja dengan ritme dan koordinasi yang berbeda-beda. Di dalam bekerja, orang perlu variasi kecepatan dan ritme, walaupun fokusnya tetap sama. “Apa yang bagus di dalam rekayasa industri untuk kerja”, demikian tulis Drucker, “ternyata sangat jelek bagi manusia yang bekerja.”[8]

Dimensi Psikologis Kerja

Dimensi kerja kedua adalah dimensi psikologis. Dalam arti ini kerja bisa berarti berkat sekaligus kutuk. Orang perlu untuk bekerja. Namun seringkali kerja juga menjadi beban yang sangat berat. Setiap orang sudah dikondisikan untuk bekerja sejak mereka menginjak usia 3-4 tahun. Memang mereka belum boleh bekerja secara resmi di pabrik atau dimanapun. Namun mereka perlu untuk belajar berjalan, berbicara, dan yang terpenting, belajar untuk menjadi manusia. Ini semua menurut Drucker menciptakan kebiasaan untuk bekerja, untuk melakukan sesuatu guna mengembangkan diri.

Dari sudut pandang ini, fenomena pengangguran yang disebabkan oleh kemiskinan tidak hanya merusak situasi ekonomi seseorang, tetapi juga harga dirinya. Hegel seorang filsuf Jerman pernah berpendapat, bahwa kerja adalah aktualisasi diri seseorang. Drucker sendiri berpendapat bahwa kerja merupakan perpanjangan dari kepribadian manusia. Kerja adalah suatu pencapaian mimpi dan perwujudan prestasi. Kerja adalah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendefinisikan dirinya sendiri dan kemanusiaannya.

Sejak dulu manusia sudah memiliki pandangan, bahwa kerja adalah sesuatu yang suci. Kerja adalah suatu bentuk panggilan dari Tuhan. Kerja adalah suatu pengabdian, apapun bentuknya, dan semua itu layak mendapatkan penghormatan. Di Eropa pada abad ke-14, para rahib Benediktin bekerja di ladang dan sawah bergantian dengan mereka berdoa. Kerja tangan dianggap sebagai sesuatu yang sama sucinya seperti orang berdoa. Pemikiran ini bertentangan dengan pandangan kuno yang berpendapat, bahwa orang bebas tidak perlu, dan bahkan tidak boleh, bekerja kasar di sawah ataupun ladang. Di dalam bukunya yang berjudul The Republic, Plato menegaskan ada berbagai macam level manusia, dan setiap manusia memiliki pekerjaan yang sesuai dengan levelnya. Budak bekerja sebagai pekerja kasar di ladang dan sawah. Sementara para filsuf bekerja sebagai pemimpin kota yang bertugas menata politik.

Tentu saja pandangan para rahib Benediktin dan Plato saling bertentangan. Namun keduanya memiliki kesamaan, yakni keduanya mengecam pengangguran, dalam arti orang yang tidak mau bekerja. Kualitas manusia dilihat dari sejauh mana ia tekun dan unggul di dalam pekerjaannya. Di peradaban Cina kuno, setelah seseorang selesai mengabdi sebagai pekerja negara, ia tidak diharapkan untuk bersantai di masa pensiunnya. Sebaliknya ia justru diminta untuk lebih produktif menulis, melukis, mencipta musik, dan membuat puisi. Dasar dari cara berpikir ini adalah etika sosial Confusian, yang meminta orang untuk membagikan kebijaksanaannya. Tujuannya adalah menjamin stabilnya tatanan sosial yang ada.

Pada abad kedua puluh, pandangan tentang kerja juga belum banyak berubah. Walaupun masih dianggap sebagai bagian dari pekerjaan yang ‘kasar’, para petani dan buruh dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang layak dan perlu untuk dihormati. Di Eropa dan Amerika pada abad keduapuluh, kondisi kehidupan buruh dan petani sudah jauh meningkat, jika dibandingkan dengan satu abad sebelumnya. Hal yang sama menurut Drucker juga berlaku untuk para pelaut. Mereka adalah kelompok pekerja yang perlu mendapatkan perhatian besar, terutama karena kegiatan fisik yang begitu banyak, dan ancaman bahaya yang juga begitu besar.

Menurut Drucker pada era sekarang, apa yang dipandang orang sebagai bernilai telah berubah. Sekarang ini nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya. Hal ini terjadi karena konsep kepuasan hidup pun telah menyempit menjadi melulu kepuasan ekonomis. Materi yang bisa memuaskan diri tersedia banyak sebagai barang dagangan di mall dan pasar. Akibat surplus barang untuk memberikan kenikmatan itu, nilai kehidupan pun telah menyempit menjadi semata mengejar nilai ekonomis belaka. Kepuasan psikologis pun menjadi identik dengan kepuasan ekonomis.[9]

Gejala hedonisme yang sedang dominan di masyarakat, menurut Drucker, juga sebenarnya bukan menggambarkan dorongan murni manusia untuk mencapai kenikmatan itu sendiri. Gejala tersebut muncul sebagai reaksi terhadap berbagai penindasan yang dialami oleh kelas pekerja selama berabad-abad. Kelas pekerja pun kini meluas. Profesi guru dan artis, yang mengembangkan musik, lukisan, ataupun tulisan, pun kini dianggap sebagai profesi terhormat. Di negara-negara maju profesi sebagai guru dan artis mampu memberikan penghidupan yang layak. Namun di beberapa negara berkembang, profesi semacam itu masih dianggap kelas dua.

Banyak orang benci untuk bekerja. Mereka bermimpi untuk memiliki uang banyak, sehingga tidak lagi perlu bekerja. Namun pandangan itu tidak sepenuhnya tepat. Orang yang tidak bekerja, walaupun memiliki uang banyak, juga sulit untuk merasa puas dengan hidupnya. Mereka akan mengalami krisis identitas, karena pekerjaan membantu orang merumuskan identitasnya, walaupun tidak secara keseluruhan. Dalam ari ini dapatlah dikatakan, bahwa kerja memiliki dimensi psikologis yang mendalam, yang membantu orang untuk menentukan siapa dirinya.[10]

Dimensi Sosial Kerja

Drucker juga berpendapat bahwa kerja memiliki dimensi sosial. Kerja menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk bertemu dan menjalin relasi. Profesi seseorang menentukan tempatnya di masyarakat. Dengan mengatakan bahwa saya adalah guru, anda sudah menegaskan posisi anda di masyarakat, dan peran apa yang anda jalankan dalam relasi dengan orang-orang lain yang hidup bersama di masyarakat.

Lebih jauh juga dapat dikatakan, bahwa setiap orang butuh untuk bekerja, karena ia memiliki kebutuhan untuk menjadi bagian dari suatu kelompok, dan menjalin relasi yang bermakna dengan orang-orang yang ada di sana. Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berpolis. Artinya manusia adalah mahluk yang membutuhkan kelompok untuk menegaskan jati dirinya. Bekerja adalah cara terbaik untuk menjadi bagian dari suatu kelompok.

Seringkali orang memiliki beberapa komunitas dalam hidupnya. Bisa saja ia adalah pegawai rendahan di kantor, namun dianggap bijaksana dan layak pemimpin oleh teman-temannya di lingkungan rumah. Namun hal yang sama sebenarnya berlaku. Menurut Drucker orang-orang semacam itu membutuhkan pekerjaan untuk mengisi kebutuhannya akan pertemanan dan persahabatan dan juga tentu saja memenuhi kebutuhan ekonomi.

Di banyak perusahaan muncul banyak kebiasaan untuk mempekerjakan wanita yang sudah cukup dewasa (dalam arti sudah memiliki suami yang bekerja dan anak yang cukup mandiri) sebagai pekerja paruh waktu. Bagi Drucker wanita paruh baya tersebut menjadikan lingkungan kerja sekaligus sebagai tempat pencari (atau penambah) nafkah, komunitas sosial, dan tempat untuk mengobati kesepian yang mungkin saja mereka alami. Inilah tipe pekerja yang biasanya sangat setia pada perusahaan. [11]

Dalam arti ini ikatan emosional yang dibentuk di dalam pekerjaan tidak kalah kuatnya dengan ikatan keluarga. Ikatan pekerjaan muncul karena orang sering bekerja sama, walaupun mungkin mereka tidak terlalu suka satu sama lain. Dengan kata lain menurut Drucker, ikatan kerja memiliki dimensi yang obyektif. Dan dimensi itu bisa menjadi peluang yang sangat besar untuk membentuk suatu komunitas kerja yang bermakna. Di dalam komunitas semacam ini, keuntungan bukan lagi sebuah tujuan, melainkan hanyalah akibat dari ikatan antar pekerja yang kuat.

Dimensi Ekonomis Kerja

Untuk hidup orang perlu untuk bekerja. Sudah sejak dulu pernyataan ini berlaku universal. Hal ini sebenarnya menurut Drucker berakar pada fakta, bahwa manusia tidak mampu hidup sendiri. Ia tidak mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Maka ia memerlukan orang lain. Dalam kerangka yang lebih besar, manusia yang satu melakukan perdagangan dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing, dan membentuk apa yang disebut sebagai jaringan ekonomi (economic network). Di satu sisi jaringan ini memperkuat hubungan sosial antar manusia, terutama mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda, namun saling membutuhkan satu sama lain. Di sisi lain jaringan ini memiliki potensi untuk mendorong terjadinya konflik sosial, sebagai akibat dari perdagangan yang tidak mencerminkan nilai keadilan.

Ekonomi sudah selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia. Sekarang ini orang tidak mungkin melepaskan diri dari itu. Di dalam perjalanan waktu, ekonomi mengalami perubahan tujuan, yakni bukan lagi untuk pemenuhan kebutuhan murni, tetapi untuk mengumpulkan dan mengembangkan modal (capital). Modal menjadi tujuan utama. Uang pun kehilangan akarnya, yakni sebagai pemenuhan kebutuhan manusia. Uang dikejar demi uang itu sendiri, dan bukan lagi demi kesejahteraan manusia. Kerja pun bukan lagi demi pemenuhan kebutuhan hari ini, tetapi juga memiliki orientasi ke masa depan. Saya bekerja untuk pemenuhan kebutuhan saya 10 tahun lagi.

Upaya pengembangan modal tentu saja baik. Namun upaya itu menjadi merugikan, ketika modal dikejar demi dirinya sendiri, dan di dalam perjalanan melupakan apa yang sesungguhnya penting, yakni pemenuhan kebutuhan dasar manusia untuk bisa hidup dan mengaktualisasikan dirinya sendiri. Karl Marx seorang filsuf asal Jerman pernah berpendapat, bahwa ekonomi demi pengumpulan dan pengembangan modal tidaklah perlu dilakukan, karena di dalam perjalanannya, eksploitasi kaum pekerja adalah proses yang tidak dapat dihindarkan. Pemikiran Marx tersebut kemudian direvisi oleh para pengikutnya. Pengumpulan dan pengembangan modal tetap diperlukan sambil tetap memperhatikan kebutuhan dasar para pekerja.

Dimensi Kekuasaan Kerja

Di dalam organisasi selalu ada relasi-relasi kekuasaan, baik secara implisit ataupun eksplisit. Secara eksplisit kekuasaan paling tampak di dalam hubungan antara atasan dan bawahan, serta hubungan antara konsumen dan produsen. Di sisi lain ada kekuasaan yang sifatnya implisit, namun efeknya sangat terasa, seperti krisis global di pasar internasional, bencana alam, dan perubahan iklim yang mempengaruhi proses produksi, distribusi, ataupun konsumsi.

Dahulu kala orang tidak memiliki jam kerja. Konsep jam kerja baru ditemukan pada masyarakat industrial pertama di Eropa. Sekilas konsep ini memang tampak tidak relevan. Namun pada awalnya penerapan jam kerja mengakibatkan terjadinya culture shock di masyarakat di seluruh dunia. Di dalam organisasi modern, kerja haruslah direncanakan dan diatur dalam jadwal yang tepat. Mereka yang bisa bertahan di dalam rencana dan pengaturan tersebut akan memperoleh kenaikan pangkat. Tentu saja semua ini membutuhkan kontrol. Dan menurut Drucker kontrol adalah bentuk kekuasaan.[12]

Banyak pemikir yang berpendapat, bahwa organisasi modern adalah suatu bentuk alienasi (keterasingan). Orang menjadi tidak mengenal dirinya sendiri, orang lain, dan hasil kerjanya, jika mereka bekerja di perusahaan-perusahaan yang ditata secara modern. “Masyarakat modern”, demikian Drucker, “adalah masyarakat pekerja dan akan tetap seperti itu.”[13] Oleh karena itu relasi-relasi kekuasaan di dalam pekerjaan pun tidak akan pernah hilang. Otoritas adalah sesuatu yang sangat esensial di dalam organisasi modern. Dengan lugas dapat dikatakan, selama ada otoritas, selama itu pula ada relasi-relasi kekuasaan. Otoritas adalah sesuatu yang inheren di dalam sistem organisasi modern yang banyak digunakan sekarang ini.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

 


 

[1] Lihat Drucker, Peter, Management: Tasks, Responsibilities, and Practices, New York: Truman Talley Books, 1993.

[2] Dikutip oleh Drucker, 1993, 130.

[3] Lihat, Magnis-Suseno, Franz, Kota dan Kerja, Jakarta: Rangkaian Studium Generale, 2009, 4.

[4] Lihat, ibid, 5.

[5] Lihat, ibid, 131.

[6] Ibid.

[7] Lihat, ibid, 132.

[8] Ibid, 33.

[9] Lihat, ibid, 134.

[10] Lihat, ibid.

[11] Lihat, ibid, 135.

[12] Lihat, ibid, 138.

[13] Ibid.

About these ads

8 thoughts on “Makna Kerja dalam Hidup Manusia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s