Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

technorati.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Publish or perish, publikasikan karya, atau punah, itulah semboyan seorang pendidik dan peneliti. Sebagai seorang pendidik, kita punya kewajiban moral dan legal untuk menulis. Menulis itu berarti terutama menulis buku teks, atau menerbitkan karya penelitian yang telah dilakukan.

Menulis itu mengabdi pada tiga tujuan. Yang pertama adalah dengan menulis (buku teks), kita sebagai pendidik bisa membantu proses belajar peserta didik. Mereka memiliki panduan yang jelas tentang apa yang mereka pelajari. Mereka juga mendapatkan pengetahuan tentang kompetensi macam apa yang nantinya mereka dapatkan.

Sebagai peneliti, publikasi adalah jembatan antara peneliti dan masyarakat luas. Masyarakat luas bisa mendapatkan banyak hal berguna dari karya penelitian yang dipublikasikan. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki sumber data maupun analisis yang kuat untuk membuat kebijakan-kebijakan publik yang bermutu. Lanjutkan membaca Untuk Para Pendidik: Publikasi Karya, atau Punah…

Buku Bajakan di Alam Demokrasi

www-lacrosselibrary.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Bolehkah saya membaca buku-buku bajakan yang bisa dengan mudah diperoleh di internet dalam bentuk soft copy? Kalau boleh mengapa? Kalau tidak mengapa? Bukankah informasi dan pengetahuan itu untuk semua orang, sehingga bisa diakses oleh siapapun? Namun di sisi lain, bukankah buku itu adalah karya cipta seseorang yang berhak mendapatkan penghargaan atas karyanya tersebut? Kalau kita mengunduh secara gratis sebuah buku, bukankah kita melanggar hak si pengarang untuk mendapatkan penghargaan atas usaha kreatifnya menulis buku?

Pro Kontra

Di dalam salah satu eseinya yang berjudul The Ethics of Internet Piracy, Peter Singer mencoba menganalisis masalah ini. Ia membuat alur berpikir berikut. Bayangkan jika saya mencuri buku dari orang lain, maka orang itu akan mengalami kerugian. Saya untung, tetapi ia rugi. Ini jelas salah, dan tidak boleh dilakukan. Lanjutkan membaca Buku Bajakan di Alam Demokrasi

Mengubah Paradigma Pendidikan di Indonesia

http://blogs.tribune.com.pk

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Sudah lama di Indonesia, profesi guru dan dosen dianggap sebagai profesi kelas dua. Mereka yang memiliki kompetensi tinggi justru lebih ingin menjadi praktisi bisnis, insinyur, ataupun dokter. Sementara, orang-orang yang kebingungan mau jadi apa nantinya justru memasuki sekolah-sekolah pendidikan. Pandangan ini jelas salah, dan perlu diubah.

Di sisi lain, salah satu akar utama masalah pendidikan di Indonesia adalah lemahnya otoritas pendidikan yang ada. Dalam arti ini, lemah berarti otoritas tersebut tidak memiliki konsep pendidikan yang jelas, dan sembarangan mengeluarkan kebijakan yang justru kontra produktif bagi pengembangan pendidikan. Saya yakin jika para petinggi pendidikan di Indonesia ditanya, apa arti pendidikan, mereka tidak akan mampu menjawab secara jelas dan tepat. Lanjutkan membaca Mengubah Paradigma Pendidikan di Indonesia

Guru dan Kepemimpinan

http://www.arthit.ru

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya

            Guru yang baik adalah seorang pemimpin yang baik. Dengan kata lain, untuk menjadi pemimpin yang baik, orang perlu belajar untuk menjadi guru yang baik. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara menjadi guru yang baik? Menurut Richard Leblanc, pengajar di York University, Ontario, Kanada, ada 10 hal yang mesti diperhatikan, supaya kita bisa menjadi guru yang baik. (Leblanc, 1998) Artinya, ada 10 hal juga yang mesti ada, supaya kita bisa menjadi pemimpin yang baik. Mau tahu? Saya akan jelaskan lebih jauh.

Cinta

            Leblanc berpendapat, bahwa inti dari pengajaran dan pendidikan adalah cinta. Dalam hal ini, bisa juga dikatakan, bahwa cinta, dalam soal pendidikan, itu lebih penting daripada penalaran rasional semata. Di dalam cinta, ada niat untuk mendorong orang untuk belajar, untuk membantu mereka menemukan sendiri pola belajar yang pas, untuk menemukan diri mereka sendiri. Setuju? Lanjutkan membaca Guru dan Kepemimpinan

Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

http://2.bp.blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Yang kita perlukan sekarang ini adalah jiwa peneliti militan. Bagi mereka penelitian adalah hidup itu sendiri. Penelitian itu nikmat dan berharga pada dirinya sendiri. Entah ada dana atau tidak, ada hibah atau tidak, ada yang memesan atau tidak, ada poin atau tidak, mereka tetap meneliti.. meneliti… meneliti.. tanpa henti.

Bangsa Indonesia merindukan lahirnya generasi baru peneliti bangsa ini yang mempunyai habitus (kebiasaan yang tertanam di dalam gugus berpikir dan tindakan) baru, di mana mereka (para peneliti dan akademisi) tidak lagi meneliti untuk mengejar proyek (pemburu hibah dan peneliti pesanan) atau mengumpulkan angka semata (guna cepat meraih gelar guru besar/professor), melainkan untuk mencari kebenaran (truth seeking) sesuai dengan bidangnya masing-masing, dan, dengan demikian, mengangkat harkat dan martabat manusia (human dignity) Indonesia ke tempat yang luhur. Lanjutkan membaca Penelitian Ilmiah dan Martabat Manusia

Filsafat Steve Jobs

apple.com

dan “Kesalahan-kesalahan” yang Bijaksana

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang pasti ingin menjadi ahli dalam satu bidang tertentu. Ada yang ingin menjadi ahli kesehatan (dokter), ahli mesin (insinyur), ahli politik, ahli pendidikan, ataupun apapun. Namun apa sebenarnya arti kata “ahli”? Seorang ahli fisika ternama, Niels Bohr, pernah menulis begini, “seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan yang dapat dibuat pada satu bidang yang amat sempit.”

Jadi seorang ahli adalah orang yang telah membuat semua kesalahan pada satu bidang yang amat spesifik. Itulah kiranya pendapat Bohr, dan didukung oleh seorang ahli neuropsikologi, Jonah Lehrer. Jika dipikir lebih jauh, inilah juga inti belajar, yakni membuat kesalahan pada satu bidang, lalu membuat perbaikan, lalu membuat kesalahan lagi. Pendidikan bukanlah seni menghafal, melainkan suatu “kebijaksanaan yang lahir dari kegagalan.” (Lehrer, 2011) Lanjutkan membaca Filsafat Steve Jobs

Guru atau Buruh?

school-clipart.com

Oleh Dedy Suryadi

Pemerintah berencana menambah jam mengajar guru PNS dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 27,5 jam pelajaran.

Rencana itu akan direalisasikan awal Januari 2013. Pemerintah beralasan, jam kerja guru selama ini lebih sedikit daripada para birokrat sehingga banyak guru PNS yang keluyuran di mal atau di pasar selama jam kerja. Keinginan pemerintah ini telah menimbulkan kegusaran di kalangan pendidik. Bukan karena merasa terusik waktu santainya, melainkan karena beban guru yang sesungguhnya tak dipahami oleh para pembuat kebijakan. Lanjutkan membaca Guru atau Buruh?

Solusi bagi Universitas Publik

Oleh Andri G Wibisana

Dalam tulisan berjudul ”A New Vision of the Public University”, Michael Burawoy—Guru Besar Sosiologi di UCLA, Amerika Serikat—menyatakan bahwa saat ini universitas publik di berbagai belahan dunia sedang mengalami krisis.

Menurut dia, krisis itu terjadi karena ada benturan berbagai kepentingan dengan kebijakan negara. Pada satu sisi, posisi penting universitas publik melahirkan keinginan agar universitas mampu mengeluarkan gagasan dan solusi berguna bagi masyarakat. Di sisi lain, pemotongan anggaran negara dan invasi konsep ”pasar” pada setiap dimensi universitas telah mendorong universitas publik melakukan komersialisasi pendidikan. Lanjutkan membaca Solusi bagi Universitas Publik

Guru di Negeri Bohong

blogspot.com

Oleh SIDHARTA SUSILA

Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.

Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?

Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok. Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang diperjuangkan. Lanjutkan membaca Guru di Negeri Bohong

Menara Gading

barnesandnoble.com

Oleh Sulistyowati Irianto

Peristiwa penganugerahan doctor honoris causa oleh Universitas Indonesia kepada Raja Arab Saudi adalah sebuah cermin yang menggambarkan terputusnya hubungan antara dunia akademik dan masyarakat luas, sekaligus juga peradaban global.

Apakah ini terkait dengan problem politik dan sistem pendidikan di Indonesia secara luas, yang menyebabkan universitas seperti teralienasi dari konteks kemasyarakatan? Apakah salah arah dalam dunia pendidikan kita sudah demikian kronisnya, sampai tak diketahui lagi ke mana universitas akan dibawa?

Mengherankan, UI yang menempatkan dirinya sebagai world class university justru melakukan hal yang bertentangan dengan kepedulian global terhadap isu kemanusiaan. Kecenderungan ilmu pengetahuan global saat ini makin menyatukan pandangan akan pentingnya pendekatan interdisipliner, di mana perspektif kemanusiaan yang dianut bersama di kalangan ilmuwan. Dengan demikian, terbentuklah perspektif dan sensitivitas kolektif bila bersinggungan dengan isu kemanusiaan. Lanjutkan membaca Menara Gading

Membedah Industri Pendidikan Tinggi

Oleh : Anita Lie

sexysocialmedia.com

KOMPETISI global juga sudah melanda dunia pendidikan. Setiap tahun, saat lulusan SMA dan SMK bersaing untuk mendapatkan institusi pilihan, perguruan tinggi pun berlomba-lomba mempromosikan diri dan menjaring calon-calon mahasiswa potensial. Potensial bisa berarti mampu secara akademis atau finansial.

PERGURUAN tinggi dari luar negeri pun tidak mau kalah, dan gencar berpromosi. Begitu pula perguruan-perguruan tinggi swasta (PTS) melakukan berbagai upaya pemasaran dan menjadikan dunia pendidikan tinggi seperti bisnis dan industri. Lanjutkan membaca Membedah Industri Pendidikan Tinggi

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

pixzii.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas. Lanjutkan membaca Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

marxist.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Haruskah pendidikan tunduk pada dunia kerja? Haruskah pendidikan mengubah kurikulumnya sesuai dengan tuntutan bisnis dan industri semata? Itulah pertanyaan yang mesti kita jawab sekarang.

Sekolah dan perguruan tinggi berlomba mengubah kurikulum, supaya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Berbagai hal praktis yang harusnya bisa dipelajari sendiri juga dimasukan ke dalam kurikulum untuk menarik siswa. Dunia bisnis dan industri pun meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk melakukan ini. Bahkan mereka bersedia melakukan investasi. Lanjutkan membaca Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

Universitas Kerakyatan

http://www.bized.co.uk
Oleh Agus Suwignyo
Berbeda dengan universitas di Eropa yang kelahirannya bersifat top-down dan cenderung elitis, universitas yang dikelola pemerintah di Indonesia lahir dari penderitaan dan perjuangan rakyat. Sayangnya, perkembangan universitas negeri di Indonesia hari demi hari kian menjauh dari kalbu kerakyatan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai amanah hakiki keberadaannya.

Universitas di Eropa mewarisi tradisi universitas Katolik yang lahir dari jantung Gereja. Universitas didirikan karena inisiatif hierarkis demi kemaslahatan bersama warga dan mencerminkan pandangan teologis ”Allah yang turun ke bumi”. Maka, tak jarang universitas merupakan hadiah raja kepada rakyat dengan misi menghadirkan suar kebenaran (gaudium de veritate) melalui pendidikan dan penelitian. Lanjutkan membaca Universitas Kerakyatan

Sekolah untuk Apa?

blogspot.com

Oleh Rhenald Kasali

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Lanjutkan membaca Sekolah untuk Apa?

Korupsi dan Keluhuran

blogspot.com

Oleh Jansen Sinamo

Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya sebesar kelipatan bulat konstanta Planck.

Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya”, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya! Lanjutkan membaca Korupsi dan Keluhuran

Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

3.bp.blogspot.com

Dipresentasikan di Universitas Airlangga Surabaya, 19 Mei 2011

Oleh Reza A.A Wattimena

Ruang publik adalah sebuah ruang tempat dibentuk dan dimatangkannya opini publik. Di dalamnya orang-orang berkumpul, saling bertukar pendapat, saling memahami, dan sampai pada satu keputusan tentang satu masalah di dalam hidup bersama. (Wattimena, 2007)

Misalnya ada masalah terkait seorang mahasiswa yang terpaksa putus kuliah. Pihak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) Fakultas akan menanyakan penyebab utama dari peristiwa ini kepada dekanat. Lalu pihak BLM juga akan bertanya kepada mahasiswa terkait, apakah ia menerima keputusan ini dengan lapang dada. Jika ada masalah maka BLM akan membuat forum.

Forum ini bertujuan untuk dua hal, yakni perubahan keputusan, atau menjelaskan keputusan yang telah dibuat, sehingga seluruh pihak yang terkait bisa memahaminya. Tujuan forum adalah memberi legitimasi bagi setiap keputusan yang terkait dengan kepentingan bersama.  Lanjutkan membaca Mahasiswa, Ruang Publik, dan Pendidikan

Nilai Moral di Balik Pendidikan Sains

nettieshue.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Andi adalah seorang insinyur teknik sipil. Ia memperoleh IPK tertinggi di universitasnya. Banyak orang mengagumi kecerdasannya. Masa depan cerah menantinya, begitu anggapan banyak orang.

Kini ia bekerja di salah instansi pemerintah yang terkait dengan pembangunan jalan raya di berbagai kota di Indonesia. Di dalam proses kerja, ia seringkali membuat tender untuk para kontraktor yang paling sesuai dengan keperluan proyek pemerintah.

Ia seringkali bermain curang dengan meminta uang sampingan dari para kontraktor tersebut, supaya mereka mendapatkan tender. Walaupun seringkali kontraktor tersebut tidak cukup kompeten untuk menjalankan proyek terkait.

Selama berpuluh tahun ia menggunakan cara itu. Ia pun menjadi kaya raya. Gaya hidupnya jauh melampaui pendapatan resminya. Bagaimana kita menanggapi fenomena ini? Andi ternyata tidak sendirian. Lanjutkan membaca Nilai Moral di Balik Pendidikan Sains

Beriman secara Ilmiah, Mungkinkah?

3.bp.blogspot.com

Akan Dipresentasikan di Paroki Santo Yakobus Citra Raya Surabaya pada tanggal 29 Mei 2011.

Oleh Reza A.A Wattimena

            Apa artinya menjadi orang yang beriman? Beriman berarti meyakini seperangkat ajaran tertentu, sekaligus nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Beriman berarti percaya bahwa seperangkat ajaran tertentu bisa membawa hidup manusia ke arah yang lebih baik. Ini berlaku untuk semua agama, ataupun ideologi yang ada di dunia.

            Beriman tidak hanya memahami ajaran, tetapi juga menghayati nilai yang terkandung di dalam ajaran itu. Misalnya di dalam agama Katolik diajarkan, bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Di balik ajaran itu terkandung nilai, bahwa manusia haruslah rendah hati, karena Tuhan saja bersikap rendah hati dengan bersedia menjadi manusia. Tuhan saja rela berkorban untuk manusia. Masa kita tidak mau berkorban untuk orang-orang sekitar?

            Orang tidak boleh hanya beriman, atau memahami nilai-nilai hidup dari imannya. Orang juga mesti menerapkan secara konsisten nilai-nilai itu di dalam hidup kesehariannya. Jika tidak diterapkan maka iman dan penghayatan nilai hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Dengan kata lain harus ada kesesuaian antara keimanan yang diyakini, nilai-nilai hidup yang diperoleh, dan perilaku keseharian.

            Itulah artinya menjadi orang beriman sekarang ini. Lanjutkan membaca Beriman secara Ilmiah, Mungkinkah?

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

2.bp.blogspot.com

Oleh: Yudhistira ANM Massardi

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya. Lanjutkan membaca Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!