Menunggu itu Zen

NYWA ART PROJECT

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup ini menunggu. Sewaktu janin, kita menunggu untuk dilahirkan ke dunia. Sewaktu kita kecil, kita menunggu untuk menjadi dewasa. Begitu seterusnya, sampai ajal tiba.

Di kehidupan sehari-hari, menunggu pun merupakan bagian penting dari hidup. Kita menunggu transportasi untuk mengantarkan kita ke tempat kerja. Di tempat kerja, kita pun menunggu untuk bisa menyelesaikan pekerjaan kita, dan, jika mungkin, bisa naik pangkat. Mulai dari antri di berbagai tempat, sampai menunggu jodoh, menunggu menjadi bagian besar dari hidup kita. Lanjutkan membaca Menunggu itu Zen

Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Nick Jeong

Oleh Reza A.A Wattimena

Pesta demokrasi, atau pemilihan umum, terbesar sudah dekat. Seperti layaknya pesta, ia bukanlah yang utama. Justru demokrasi yang sebenarnya dilaksanakan di antara masa-masa pemilihan umum semacam ini. Inilah yang kiranya terlupakan.

Demokrasi adalah kontrak sosial Indonesia. Ia tak bisa diubah sembarangan ke arah sistem politik lain. Upaya melakukan perubahan hanya akan membawa konflik berkepanjangan, karena mengkhianati kontrak sosial yang mengikat ribuan suku, ras dan agama ke dalam satu ikatan politik. Jika ini terjadi, perpecahan adalah buahnya, dan Indonesia pun hanya akan menjadi kenangan. Lanjutkan membaca Demokrasi “Dari, Oleh dan Untuk” Indonesia, Sebuah Pertimbangan

Hidup yang Paripurna

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap orang ingin hidupnya penuh. Ini berarti, ia ingin bahagia bersama orang-orang yang dicintainya. Ia juga ingin hidup berkecukupan. Bisa dibilang, hidup yang penuh dan utuh adalah tujuan tertinggi yang bisa dicapai seseorang.

Namun, hidup yang penuh tidak terjadi begitu saja. Jaman kita penuh dengan hal-hal yang membuat hidup menjadi sempit dan rumit. Penderitaan mencengkram siapapun, tak peduli kaya atau miskin, sehat atau sakit dan cakap ataupun buruk rupa. Hidup yang penuh harus dibentuk secara cermat. Lanjutkan membaca Hidup yang Paripurna

Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno

Franz Magnis-Suseno,

Rohaniwan; Mantan Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

Kompas, 12 Maret 2019

Istilah ”golput”, singkatan dari golongan putih, menurut Wikipedia, diciptakan tahun 1971 oleh Imam Waluyo bagi mereka yang tak mau memilih. Dipakai istilah ”putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih di kertas atau surat suara di luar gambar parpol peserta pemilu kalau tak menyetujui pembatasan pembentukan partai-partai oleh pemerintah Orde Baru.

Jadi, golput artinya sama dengan menolak untuk memberikan suara. Setiap kali ada pemilu, kemungkinan golput, diperdebatkan. Memang, UU pemilu kita, seperti halnya di mayoritas demokrasi di dunia, tak mewajibkan warga negara harus memilih. Masalahnya: bagaimana penolakan warga negara untuk ikut pemilu harus dinilai? Lanjutkan membaca Golput: Tulisan Franz Magnis-Suseno

Aku Ada,… Maka Aku Bosan….

Oleh Reza A.A Wattimena

Descartes, pemikir Prancis, terkenal dengan pandangannya: Aku berpikir, maka aku ada. Sudah banyak penjelasan tentang pandangan itu. Banyak pula variasi diberikan terhadapnya. Saya hanya ingin menambah satu, yakni aku ada, maka aku bosan.

Mengapa bosan? Ya, ini salah satu penyakit lama saya. Saya gampang sekali merasa bosan. Ketika sibuk, saya bosan dengan kesibukan. Ketika tak ada pekerjaan, saya juga bosan. Lanjutkan membaca Aku Ada,… Maka Aku Bosan….

Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

palace-of-wisdom

Oleh Reza A.A Wattimena

            Banyak orang cerdas di jaman ini. Mereka penuh dengan informasi dan pengetahuan. Namun, kebijaksanaan tak mereka miliki. Akibatnya, kecerdasan tersebut digunakan untuk menipu, korupsi dan merusak kebaikan bersama.[1]

Yang dibutuhan kemudian adalah nalar kebijaksanaan (Vernunft-Weisheit). Nalar kebijaksanaan lebih dari sekedar nalar keilmuan. Di jaman sekarang ini, nalar kebijaksaanaan menjadi panduan utama, supaya kecerdasan bisa mengabdi pada kebaikan bersama. Ini juga menjadi amat penting di tengah tantangan radikalisme dalam segala bentuknya, dan banjir informasi palsu yang melanda kehidupan kita. Sebagai ibu dari semua ilmu, filsafat adalah ujung tombak untuk membangun nalar kebijaksanaan. Lanjutkan membaca Membangun Nalar Kebijaksanaan: Filsafat, Media dan Demokrasi

Kritisisme Kedangkalan

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tak menikmati keindahan sekuntum bunga? Warnanya indah. Baunya harum. Bunga kerap menjadi simbol cinta dan keindahan yang membahagiakan hati manusia.

Namun, bunga tak datang dari langit. Ia datang dari tanah dengan berbagai macam campuran yang ada. Jika anda ingin bunga, maka anda harus bekerja dengan tanah, dan segala campurannya, seperti pupuk, air dan sebagainya. Anda harus berani mengotori tangan anda. Lanjutkan membaca Kritisisme Kedangkalan

Belajar Memilah

Morgan Library

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kita perlu belajar untuk berpikir terpilah. Artinya, kita perlu belajar untuk membedakan antara ruang publik dan ruang privat. Di dalam ruang publik, kita berperan sebagai warga negara dan bagian dari masyarakat. Di dalam ruang privat, kita berperan sebagai mahluk pribadi dengan pandangan hidup yang khas, namun tetap menghargai hukum serta hak-hak orang lain.

Dua Lapis Kenyataan

Di mata semesta, semuanya adalah satu energi. Tidak ada perbedaan. Fisika modern sudah lama menyatakan hal ini. Energi itu satu, dan tak akan pernah lenyap. Ia hanya berubah. Lanjutkan membaca Belajar Memilah

Membongkar Jeroan “Gerombolan”

The Austin Chronicle

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, kebenaran rupanya kerap tunduk pada tekanan gerombolan. Jika banyak orang berkumpul menuntut sesuatu, biasanya akan dituruti, walaupun itu bertentangan dengan akal sehat. Beragam kasus bisa dideret, mulai dari ketidakadilan yang menimpa Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) pada 2017 lalu, sampai tekanan para supir ojol terhadap petugas keamanan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Mengapa gerombolan bisa mendikte kebijakan?

Di abad 21 ini, gerombolan bisa dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah gerombolan nyata. Ini adalah gerombolan orang yang berdemo di jalan menuntut sesuatu. Gerombolan ini dapat dengan mudah dilihat dengan mata. Lanjutkan membaca Membongkar Jeroan “Gerombolan”

Menimbang Irasionalitas

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia. 2019. Irasionalitas menjadi raja. Indonesia terbelah di antara dua kubu calon presiden. Permusuhan terasa di udara, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Keluarga dan pertemanan terpecah, karena perbedaan pilihan politik. Ini ditambah dengan mutu yang amat rendah dari salah satu calon presiden dan wakil presiden yang penuh dengan korupsi, kolusi, nepotisme, kriminalitas dan kerakusan.

Indonesia. 2019. Kesenjangan ekonomi ikut menambah irasionalitas yang terjadi. Pemukiman kumuh bersandingan dengan pemukiman kaya. Gerobak busuk bersandingan dengan mobil mewah. Saya masih heran, mengapa orang miskin, yang jumlahnya ratusan juta itu, tidak merampas kekayaan orang-orang kaya yang rakus dan korup? Lanjutkan membaca Menimbang Irasionalitas

Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)

Fiveprime

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti Lintas Ilmu, Tinggal di Jakarta

Kita hidup di dunia para cyborg. Cyborg adalah manusia yang bergabung dengan mesin, guna menjalani hidup kesehariannya. Di berbagai tempat, kita melihat para cyborg bergerak menjalani hidupnya. Sebagian besar mereka tak sadar, bahwa mereka telah menjadi cyborg.

Mesin, dalam arti ini, bisa berupa kaca mata, alat kesehatan sampai dengan ponsel cerdas yang kini tak lagi bisa terpisah dari hidup manusia di abad 21. Tanpa alat-alat canggih ini, para cyborg tak bisa hidup. Mereka cacat dan ketergantungan pada teknologi. Sebagian dari diri mereka sudah menjadi robot. Lanjutkan membaca Cyborg dan Biopolitik (Antara Jürgen Habermas, Yuval Harari dan Thomas Lemke)

Publikasi Terbaru: Belajarlah Sampai Ke Finlandia

Bendera Finlandia

Strategi Keamanan Siber yang Menyeluruh dan Perubahan Budaya

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di The Ary Suta Center Series On Strategic Management Januari 2019 Lanjutkan membaca Publikasi Terbaru: Belajarlah Sampai Ke Finlandia

Kekuasaan dan Kesementaraan

Dave Lebow

Oleh Reza A.A Wattimena

2019 ini, banyak orang harus berpisah dengan kekuasaan. Anggota legislatif akan berakhir pada jabatannya. Kemungkinan besar, banyak yang tidak lagi terpilih. Pemilihan presiden masih tetap mengarah pada petahana. Namun, semua kemungkinan selalu terbuka.

Di tengah semua ini, banyak orang harus berpisah dari uang yang mereka punya. Para caleg yang akan mengalami depresi, karena gagal terpilih, walaupun sudah mengeluarkan uang banyak untuk kampanye. Para donor dan partai politik yang harus kalah, walaupun sudah mengeluarkan uang banyak juga untuk kampanye jagoan mereka. Kita mungkin kerap lupa, bahwa kekuasaan, seperti segala yang ada, akan berakhir.   Lanjutkan membaca Kekuasaan dan Kesementaraan

Pengakuan Seorang Marxis-Zennist

Ricardo Levins Morales

Oleh Reza A.A Wattimena

Di dalam filsafat, Marxisme adalah cinta pertama saya. Saya masih ingat buku tulisan Franz Magnis-Suseno yang berjudul Pemikiran Karl Marx. Seingat saya, buku itu terbit pada 1999. Itu merupakan salah satu buku filsafat pertama yang saya baca sampai selesai.

Sewaktu itu, saya masih di bangku SMA. Saya masih ingat perasaan saya waktu itu. Pikiran begitu tercerahkan. Dada begitu berkobar oleh semangat untuk membuat perubahan. Sejak itu, saya menjadi seorang Marxis. Lanjutkan membaca Pengakuan Seorang Marxis-Zennist

Karya dan Derita

19bb88bee29f4398401f8d53d88c031d
Jan Zrzavy – The Suffering

Oleh Reza A.A Wattimena

Ketika derita menyengat kuat, sebuah karya pasti lahir. Begitulah yang diyakini para artis sekaligus pekerja kreatif seluruh dunia. Beberapa artis dan pemikir besar, Hemingway, Nietzsche bahkan Michaelangelo, mengalami masa-masa depresif yang cukup panjang dalam hidupnya. Di akhir hidupnya, Nietzsche bahkan sudah kehilangan kewarasannya.

Berbagai penelitian juga menunjukkan, ada kaitan cukup erat antara derita depresi dengan lahirnya sebuah karya kreatif. Ini juga berlaku di berbagai bidang karya kreatif, mulai dari penulis, pematung, musisi dan sebagainya. Mengapa ini terjadi? Apakah ini tak terhindarkan? Lanjutkan membaca Karya dan Derita

Dilema “Generasi Aku”

vincentfink

Oleh Reza A.A Wattimena

Dewasa ini, kita sering mendengar istilah “Generasi Aku”, atau “Me Generation”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola pikir sekaligus pola perilaku manusia-manusia jaman ini. “Generasi aku” dianggap sebagai generasi yang egois. Mereka hanya mementingkan kepentingannya sendiri, tanpa peduli pada persoalan-persoalan yang lebih besar.

Generasi aku ini juga dianggap sebagai generasi narsis. Mereka senang dipuji. Mereka senang memamerkan diri mereka. Jika tidak ada prestasi nyata, yang dipamerkan adalah wajah ganteng dan cantik hasil polesan aplikasi ponsel cerdas terbaru. Lanjutkan membaca Dilema “Generasi Aku”

Selalu Jatuh Cinta

Adam Martinakis

Oleh Reza A.A Wattimena

Ah, jatuh cinta memang berjuta rasanya. Tanya saja kepada mereka yang pernah, atau sedang, jatuh cinta. Setiap detik, hanya si dia yang muncul di kepala. Rasa rindu terus menusuk di dada, sampai waktunya tiba untuk berjumpa dengan si dia.

Di Jakarta, cinta datang tanpa diduga. Ia menyelinap masuk, ketika hati ditikam kesepian yang membara. Pasangan berganti begitu cepat, bagaikan cuaca yang tak pernah bisa tertebak. Ketika peluang untuk mendapatkan cinta menjadi begitu besar, ironisnya, kemungkinan untuk terlepas dari cinta pun juga meningkat. Lanjutkan membaca Selalu Jatuh Cinta

Tarian Kematian

Daniel Johnson

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup ini memang seperti menari. Kita bergerak, sering tanpa pola, tanpa arah. Namun, intinya, kita terus bergerak. Kita bekerja. Kita menjalin hubungan dengan orang lain. Kita bahagia, dan kita pun menderita.

Namun, menyimak keadaan dunia di akhir 2018 ini, tarian kita seolah berubah menjadi tarian kematian. Kita menari bukan untuk merayakan kehidupan, melainkan untuk merusak dan menebarkan petaka. Di berbagai bidang kehidupan, kita bergerak, tidak ke arah kebaikan bersama (common good), melainkan ke arah kehancuran bersama (common destruction). Di banyak bidang kehidupan, kehancuran terjadi secara perlahan, namun pasti. Lanjutkan membaca Tarian Kematian

Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Oleh Reza A.A Wattimena

Sabtu, 15 Desember 2018. Perjumpaan antara teman lama terjadi di Blok M Square, Jakarta. Kita berjumpa untuk saling berbagi cerita. Kita berjumpa untuk saling mendukung dalam nestapa.

Ada teman lain yang akan datang. Namun, ia terhalang. Kami paham, dan berjanji untuk tetap saling berhubungan. Percakapan pun dilanjutkan di tengah gemeriuh Blok M Square yang begitu kaya akan kehidupan. Lanjutkan membaca Atas Nama Iwan: Sebuah Kisah Cinta

Ada dan Hibrida

WallHere

Oleh Reza A.A Wattimena

Dalam salah satu acara untuk masyarakat luas di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) minggu lalu, saya mendengarkan satu ide yang amat menarik dari Komaruddin Hidayat, salah satu pemikir publik terbesar di Indonesia saat ini. Ia berkata, bahwa generasi sekarang adalah generasi hibrida (bercampur aduk). Latar belakang orang tua datang dari beragam suku dan ras. Ini membuat identitas etnis dan ras menjadi begitu cair di Indonesia sekarang ini.

Pernyataan itu langsung menyentil diri saya. Saya memang hibrida, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Kedua orang tua saya adalah kumpulan dari beragan suku, etnis dan ras. Ayah saya keturunan Ambon, Belanda, Portugis dan Batak, mungkin masih ada yang lainnya. Sementara, ibu saya keturunan Cina, Padang dan sedikit percikan Jawa Surabaya. Akhirnya, lahirlah manusia yang berambut keriting, bermata sipit, dan berbadan besar. Lanjutkan membaca Ada dan Hibrida