Menyelami Kesejatian Bersama Adi Shankara

Oleh Reza A.A Wattimena

Manusia gemar mencari. Ia mencari uang, pengakuan, cinta, dan kekuasaan. Ia berharap, agar semua itu memberinya kebahagiaan. Namun, setelah memperolehnya, kegelisahan sering kembali. Ada sesuatu yang terasa kurang. Dari sinilah pertanyaan filosofis muncul. Siapa sebenarnya yang terus mencari itu? Dan apakah yang sungguh dicarinya?

Pertanyaan semacam ini berada di jantung pemikiran Adi Shankara. Ia adalah salah satu filsuf terbesar dalam sejarah India. Ia hidup sekitar abad kedelapan. Pemikirannya dikenal sebagai Advaita Vedanta. Kata advaita berarti tanpa dua. Ini bukan sekadar teori tentang alam semesta. Ini adalah upaya untuk membongkar kesalahan manusia dalam memahami dirinya sendiri.

Riwayat hidup Shankara bercampur dengan legenda. Tradisi menyebut ia lahir di Kaladi, wilayah Kerala, India Selatan sekitar abad ke delapan. Sejak kecil, ia digambarkan memiliki kecerdasan luar biasa. Ia kemudian meninggalkan kehidupan rumah tangga, dan menjadi pengembara spiritual. Ia belajar kepada Govinda Bhagavatpada. Dalam garis perguruannya, nama Gaudapada juga menempati tempat penting. Namun, banyak rincian kehidupannya tidak dapat dipastikan secara historis.

Kisah tradisional menggambarkan Shankara berkeliling India. Ia mengajar, menulis, dan berdebat dengan pemikir lain. Ia disebut wafat pada usia tiga puluh dua tahun. Kisah itu menarik. Namun, nilai pemikirannya tidak bergantung pada kebenaran setiap cerita. Yang penting adalah keberanian intelektualnya. Ia tidak puas dengan jawaban yang diwariskan begitu saja. Ia berusaha menemukan inti terdalam pengalaman manusia.

Shankara bukan pencipta Advaita Vedanta dari ruang kosong. Gagasan nondual sudah berkembang dalam Upanishad dan tradisi sebelum dirinya. Sumbangannya terletak pada penataan argumen. Ia membaca teks-teks kuno secara sistematis. Ia menulis komentar atas Upanishad, Bhagavad Gita, dan Brahma Sutra. Karya Upadesasahasri juga dikaitkan secara kuat dengan dirinya. Melalui tulisan tersebut, Advaita memperoleh bentuk filosofis yang tajam.

Apa inti ajarannya? Hanya ada satu kenyataan mutlak. Shankara menyebutnya Brahman. Brahman bukan benda. Ia bukan pribadi raksasa yang tinggal di suatu tempat. Ia bukan pula konsep yang bisa ditangkap sepenuhnya oleh pikiran. Brahman adalah dasar dari segala sesuatu. Semua perubahan muncul dalam ketergantungan padanya. Namun, Brahman sendiri tidak bergantung pada apa pun.

Di sini muncul gagasan yang lebih mengguncang. Hakikat terdalam manusia, yang disebut Atman, tidak terpisah dari Brahman. Perbedaan muncul pada tingkat tubuh, pikiran, sejarah, dan identitas sosial. Namun, semua itu bukan hakikat terakhir diri. Rumusan Upanishad berbunyi tat tvam asi. Artinya, engkau adalah itu. Yang dicari di luar ternyata tidak terpisah dari yang paling dalam.

Tentu ini bukan pernyataan bahwa diri pribadi manusia adalah Tuhan. Justru sebaliknya. Ego, atau diri pribadi, adalah bagian dari persoalan. Kita menganggap diri sebagai nama, pekerjaan, bangsa, agama, atau pengalaman masa lalu. Semua itu memiliki fungsi. Namun, semuanya berubah. Jika seluruh identitas berubah, mengapa kita memperlakukannya sebagai inti keberadaan yang abadi? Pertanyaan ini menggoyang kebiasaan berpikir kita.

Shankara menggunakan konsep avidya. Artinya ketidaktahuan mendasar. Ini bukan sekadar tidak tahu sejarah atau matematika. Ini adalah kekeliruan mengenali diri. Kita mengira diri hanya tubuh yang menua. Kita mengira diri hanya pikiran yang sibuk. Kita melekat pada hal-hal yang terus bergerak. Akibatnya, rasa takut, kesombongan, dan penderitaan mudah muncul.

Untuk menerangkan kekeliruan itu, tradisi Advaita menggunakan contoh tali dan ular. Dalam cahaya redup, seseorang melihat tali. Ia mengiranya ular. Tubuhnya menegang. Ketakutan muncul. Padahal, ularnya tidak pernah ada. Ketika cahaya datang, kesalahan lenyap. Tidak perlu membunuh ular. Yang diperlukan hanyalah melihat dengan tepat.

Konsep lain yang penting adalah maya. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai ilusi. Namun, terjemahan itu mudah menyesatkan. Shankara tidak sekadar mengatakan, bahwa dunia tidak ada. Dunia bekerja pada tingkat pengalaman sehari-hari. Api tetap membakar. Kelaparan tetap menyakitkan. Ketidakadilan tetap melukai. Yang dipersoalkan ialah anggapan, bahwa dunia yang berubah memiliki keberadaan mandiri dan mutlak.

Advaita membedakan kenyataan sehari-hari dari kenyataan tertinggi. Pada tingkat sehari-hari, perbedaan penting. Ada guru dan murid. Ada keputusan dan akibat. Ada tanggung jawab moral. Pada tingkat tertinggi, segala perbedaan tidak berdiri terpisah dari Brahman. Dua sudut pandang ini tidak boleh dicampur seenaknya. Jika dicampur, filsafat berubah menjadi alasan untuk menghindari kenyataan.

Karena itu, ucapan “semua hanyalah ilusi” bisa berbahaya. Orang miskin tetap membutuhkan makanan. Korban kekerasan membutuhkan perlindungan. Masyarakat membutuhkan keadilan. Kesadaran akan kesatuan tidak boleh menjadi dalih untuk bersikap acuh. Justru jika batas diri tidak mutlak, penderitaan orang lain tidak bisa dipandang sepenuhnya asing. Nondualitas semestinya memperluas tanggung jawab, bukan menghapusnya.

Namun, bagaimana pengetahuan pembebasan itu diperoleh? Bagi Shankara, pengetahuan bukan sekadar mengumpulkan informasi. Membaca seribu buku tidak otomatis membuat seseorang bebas. Ia menekankan mendengar ajaran, merenungkannya secara kritis, lalu menghayati maknanya dengan mendalam. Tradisi menyebut proses ini sravana, manana, dan nididhyasana. Pikiran perlu bekerja. Namun, pikiran juga perlu mengenali keterbatasannya.

Salah satu latihan intelektualnya tampak dalam ungkapan neti, neti. Bukan ini. Bukan itu. Tubuh dapat diamati. Maka, tubuh bukan keseluruhan subjek yang menyadari. Pikiran dapat diamati. Emosi juga datang dan pergi. Lalu, apakah yang memungkinkan semua itu disadari? Pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan identitas baru. Ia mengarahkan perhatian pada kesadaran yang tidak mudah dijadikan objek.

Di sinilah pemikiran Shankara terasa dekat dengan kegelisahan manusia modern. Kita hidup dalam banjir informasi. Kita mengetahui banyak hal. Namun, sering tidak memahami diri. Kita menguasai teknologi. Namun, kita sulit menguasai dorongan untuk membandingkan diri. Kita membangun citra di media sosial. Lalu, kita menjadi budak dari citra buatan sendiri. Kemajuan karir tidak selalu sejalan dengan kejernihan batin.

Akan tetapi, Shankara tidak mengajarkan kemalasan. Ia memberi tempat bagi disiplin diri, pengendalian hasrat, ketulusan, dan tindakan yang tidak dikuasai kepentingan yang sempit. Tindakan baik membantu menjernihkan batin. Namun, tindakan bukan pengganti pengenalan yang benar. Orang dapat menjalankan ritual dengan sempurna, tetapi tetap sombong. Orang dapat berbicara tentang kesatuan, tetapi tetap membenci sesamanya. Pengetahuan harus mengubah cara hidup.

Di sini kita perlu bersikap kritis. Pemikiran Shankara lahir dalam masyarakat dengan hierarki sosial yang kuat. Sejumlah penafsirannya tetap menerima pembatasan keagamaan berdasarkan kedudukan sosial. Hal ini tidak boleh disembunyikan. Kita bisa belajar dari pandangan nondualitasnya, tanpa membenarkan seluruh kondisi sosial zamannya. Filsafat yang hidup harus sanggup mengkritik warisan sejarahnya sendiri.

Ada pula persoalan filosofis yang belum selesai. Jika hanya Brahman yang mutlak, dari mana ketidaktahuan muncul? Bagaimana kesadaran tanpa batas tampak sebagai individu yang terbatas? Tradisi Advaita menawarkan berbagai jawaban. Namun, perdebatan tidak pernah sepenuhnya berhenti. Ini justru mengingatkan kitam bahwa suatu ajaran tidak menjadi kuatm karena kebal terhadap pertanyaan. Ia menjadi berarti, ketika mengundang penyelidikan yang jujur.

Kita juga tidak perlu mengubah pandangan Shankara menjadi klaim ilmiah yang sudah terbukti. Sains meneliti dunia melalui pengamatan dan pengujian. Advaita bertolak dari pembacaan Upanishad, argumentasi, dan penyelidikan tentang kesadaran. Keduanya dapat berdialog. Namun, keduanya tidak identik. Kerendahan hati intelektual diperlukan, agar kebijaksanaan tidak berubah menjadi fanatisme baru.

Bagi Shankara, tujuan terdalam perjalanan ini adalah moksha, yakni pembebasan. Pembebasan bukanlah sekadar pengalaman menyenangkan. Bukan pula pelarian menuju dunia lain. Pembebasan berkaitan dengan lenyapnya kesalahan pemahaman tentang siapa diri kita. Kebebasan ini dapat dipahami sebagai lepasnya ketergantungan mutlak pada segala identitas sementara. Hidup terus berjalan. Namun, hubungan dengan pengalaman berubah secara mendasar.

Bayangkan, seseorang kehilangan pujian. Dahulu, ia marah. Kini, ia mampu mengamati luka pada egonya. Ia tidak harus menyangkal rasa sakit. Ia juga tidak harus menjadi budaknya. Bayangkan, seseorang berhasil. Dahulu, ia merasa lebih tinggi dari orang lain. Kini, ia bersyukur, tanpa perlu merendahkan siapa pun. Contoh-contoh ini bukan keseluruhan moksha. Namun, keduanya menunjukkan arah transformasi batin.

Pada akhirnya, Adi Shankara tidak sekadar menawarkan jawaban tentang Brahman. Ia mengubah arah pertanyaan manusia. Dari “apa yang harus kumiliki?” menjadi “siapakah aku?” Dari “bagaimana aku mengalahkan orang lain?” menjadi “mengapa aku merasa begitu terpisah?” Di tengah dunia yang terpecah oleh identitas dan perebutan kuasa, pertanyaan itu tetap relevan. Pembebasan sejati terjadi, ketika manusia telah sungguh mengenali dirinya.

===

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Dipublikasikan oleh

avatar Tidak diketahui

Reza A.A Wattimena

Pendiri Rumah Filsafat. Pengembang Teori Kesadaran, Agama dan Politik. Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022), Filsafat untuk Kehidupan (2023), Teori Transformasi Kesadaran (2023), Teori Tipologi Agama (2023), Zendemik (2024), Teori Politik Progresif Inklusif (2024), Kesadaran, Agama dan Politik (2024) dan berbagai karya lainnya. Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.