Dulu, saya tukang demonstrasi. Di kampus, saya aktif di seksi sosial gerakan mahasiswa. Rapat, diskusi dan turun ke jalan menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Ada kemarahan melihat ketidakadilan. Ada pula harapan besar, bahwa dunia bisa diubah.
Api idealisme menyala kuat. Keadilan bukan sekadar konsep di ruang kuliah. Ia adalah tuntutan hidup. Kami ingin negara berpihak pada rakyat, bukan pada segelintir orang yang memiliki uang dan kekuasaan.
Kini, zaman telah berubah. Saya lebih banyak menulis, meneliti dan mengajar. Otot untuk berdemonstrasi tampaknya sudah tak ada. Namun, api yang sama tetap hidup, walaupun bentuk perjuangannya berbeda.
Saya semakin yakin, bahwa mahasiswa memiliki tempat istimewa di dalam kehidupan demokratis. Mereka berada pada masa, ketika pikiran relatif bebas dari tuntutan kekuasaan dan kepentingan ekonomi. Inilah privilese yang amat berharga. Tentu, tidak semua mahasiswa menikmatinya secara sama.
Ada yang harus bekerja untuk membayar biaya kuliah. Ada yang hidup di bawah tekanan keluarga dan tuntutan ekonomi. Namun, kampus tetap menyediakan kemungkinan langka. Orang bisa belajar mempertanyakan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang dianggap suci oleh masyarakat.
Di sinilah kemurnian berpikir menjadi penting. Kemurnian bukan berarti selalu benar. Ia berarti keberanian mencari kebenaran, tanpa lebih dulu menjual pikiran kepada kekuasaan. Mahasiswa harus mampu berkata tidak, ketika dunia memaksa mereka ikut berbohong.
Dalam Epistemologi Pembebasan yang saya kembangkan, pengetahuan tidak boleh berhenti pada hafalan. Pengetahuan harus membebaskan manusia dari kebodohan, prasangka dan manipulasi. Berpikir kritis harus disertai kejujuran intelektual. Tanpa itu, gelar akademik hanya menjadi hiasan kekosongan.
Mahasiswa juga memiliki energi yang besar. Mereka dapat membaca semalaman, berdiskusi sampai pagi dan tetap turun ke jalan keesokan harinya. Energi ini adalah kekuatan politik. Jika dipadukan dengan kejernihan, ia mampu menggoyang kebijakan yang tak adil.
Teknologi membuat kekuatan itu semakin besar. Jaringan mahasiswa kini melampaui kampus dan kota. Mereka bisa mengorganisasi bantuan hukum, menyebarkan kajian dan mendokumentasikan penyalahgunaan kekuasaan. Solidaritas bisa bergerak cepat, tanpa perlu menunggu izin dari siapa pun.
Namun, teknologi juga menyimpan racun. Informasi palsu menyebar lebih cepat daripada pengetahuan. Kemarahan mudah dimanipulasi algoritma media sosial. Aktivisme pun bisa berubah menjadi pertunjukan untuk mencari perhatian, bukan usaha untuk mengubah kenyataan.
Gerakan mahasiswa juga harus membangun hubungan dengan masyarakat luas. Buruh, petani, guru dan kelompok-kelompok yang tertindas memiliki pengalaman yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah. Mahasiswa harus mendengarkan mereka. Perjuangan tidak boleh berubah menjadi kesombongan kaum terdidik yang merasa paling memahami penderitaan rakyat.
Di sinilah Teori Transformasi Kesadaran menjadi relevan. Kesadaran distingtif melihat dunia sebagai pertarungan antara aku dan mereka. Ia mudah melahirkan kebencian. Kesadaran yang lebih jernih mampu mengkritik keras, tanpa kehilangan kemanusiaan.
Maka, mahasiswa tidak cukup hanya berani. Mereka juga harus sadar. Keberanian, tanpa kejernihan, mudah berubah menjadi fanatisme. Kejernihan, tanpa keberanian, hanya menjadi kenyamanan pribadi yang tak berguna bagi masyarakat.
Dalam Teori Politik Progresif Inklusif yang saya kembangkan, politik harus diarahkan pada keadilan dan kebaikan bersama, bukan hanya bagi kelompok sendiri. Bukan hanya bagi mereka yang seagama atau sepaham. Bahkan, alam dan generasi mendatang harus menjadi bagian dari perhatian politik.
Mahasiswa mesti mengingat prinsip ini. Jangan sampai perjuangan demokrasi hanya melahirkan penguasa baru dengan watak lama. Jangan sampai pemimpin gerakan hari ini menjadi penindas esok hari. Sejarah terlalu sering mempertontonkan tragedi semacam itu.
Saya menyebut salah satu akar persoalannya sebagai kerakusan ontologis. Manusia berusaha membuat dirinya terasa penting melalui jabatan, pengakuan dan dominasi atas orang lain. Penyakit ini menjangkiti pejabat, pengusaha, bahkan aktivis. Tak seorang pun kebal terhadap godaan tersebut.
Sementara itu, bahaya nyata mengancam mahasiswa yang bersuara. Intimidasi, kriminalisasi dan kekerasan dapat membungkam kritik. Mereka yang mempertahankan ruang demokrasi justru bisa kehilangan rasa aman. Kita tak boleh menganggap keadaan semacam ini wajar.
Terlebih ketika berhadapan dengan rezim tuli. Kritik masyarakat diperlakukan sebagai gangguan. Kebijakan dibungkus slogan, sementara pengalaman rakyat diabaikan. Demokrasi berubah menjadi ritual pemilihan, tanpa kesediaan sungguh-sungguh untuk mendengarkan.
Dalam keadaan seperti itu, mahasiswa kembali diperlukan. Mereka adalah pengingat, bahwa kekuasaan bukan milik penguasa. Kekuasaan adalah titipan rakyat. Ketika titipan itu disalahgunakan, perlawanan damai merupakan bagian sah dari tanggung jawab warga negara.
Saya memandang mahasiswa yang menjaga kebebasan dan keadilan sebagai pahlawan demokrasi. Namun, kepahlawanan bukan alasan untuk menghalalkan segala cara. Gerakan harus menjauhi kekerasan, kebohongan dan kebencian. Tujuan yang baik menuntut cara yang juga dapat dipertanggungjawabkan.
Kita yang tak lagi kuat turun ke jalan tetap memiliki tanggung jawab. Kita bisa menyediakan ruang diskusi, bantuan hukum, dukungan logistik dan karya yang menjernihkan persoalan. Kita bisa menyebarkan informasi yang telah diperiksa. Kita bisa berdiri bersama mereka, ketika ancaman datang.
Dukung mahasiswa dengan segala cara yang sah, damai dan tersedia. Jangan biarkan mereka sendirian menghadapi kekuasaan yang enggan mendengar. Sebab, ketika suara kritis mahasiswa dipadamkan, yang kehilangan masa depan bukan hanya kampus. Seluruh dunia kita ikut menjadi gelap.
Mahasiswa bukan pemilik kebenaran. Namun, selama keberanian mereka bertemu dengan akal sehat dan kepedulian, mereka adalah salah satu penjaga harapan terakhir demokrasi. Api itu harus terus menyala. Bukan untuk membakar manusia, melainkan untuk menyadarkan dunia.
Keterangan tulisan:
Buku Teori Transformasi Kesadaran Unlimited bisa diunduh disini: https://rumahfilsafat.com/buku-teori-transformasi-kesadaran-teori-tipologi-agama/
Buku Teori Kerakusan Ontologis akan segera terbit
===
Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

