Panduan untuk Memahami Platon: Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Panduan untuk Memahami Platon[1]

Survei Singkat atas Karya-karya dan Cara Berpikir Platon

Reza A.A Wattimena

Platon adalah warga Athena yang berasal dari keluarga aristokrat. Ia aktif hidup dan berfilsafat pada abad keempat sebelum masehi. Ia adalah pengikut setia dari Sokrates. Tulisan-tulisannya menunjukkan hal ini dengan sangat jelas. Hampir semua isi tulisan Platon, yang kebanyakan bergaya dialog, menjadikan Sokrates sebagai tokoh utamanya. Sokrates adalah guru dari Platon. Ia adalah filsuf yang suka berjalan-jalan di pasar, dan mengajukan pertanyaan kritis kepada orang disana tentang berbagai hal, seperti tentang keadilan, manusia, pengetahuan, kebenaran, dan sebagainya. Ia dihukum mati oleh pemerintah Athena, karena dianggap meracuni pikiran anak muda pada jamannya. Di dalam tulisan-tulisannya, Platon, dengan menggunakan nama Sokrates, seringkali berfilsafat sambil bernostalgia tentang bagaimana keadaan politik Athena sebelum dirobek oleh perang saudara, atau mengalami kekalahan perang dari Sparta. Filsafat politiknya juga muncul dari imajinasi dan nostalgia semacam itu.

Tulisan-tulisan awal Platon lebih banyak bernada pembelaan terhadap pandangan-pandangan Sokrates tentang penghukuman dan kematian. Dialog yang paling terkenal adalah Apology, yang merupakan reproduksi dari pidato Sokrates saat pengadilannya. Pada dialog Gorgias, Platon menuliskan perdebatan tentang pilihan antara kehidupan berpolitik atau kehidupan berfilsafat. Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, terlibat dalam perdebatan keras dengan seorang retoris, seorang sophis di dalam Protagoras, dan seorang ahli agama di dalam Euthyphro. Melalui dialog-dialognya, Platon tetap berpegang teguh, bahwa filsafat merupakan jalan utama untuk sampai pada kebenaran dan keutamaan. Ia menolak semua pendekatan lainnya.

Di dalam Meno, Symposium, dan Phaedo, Platon mengembangkan pemikirannya ke ranah etika, metafisika, epistemologi, dan psikologi. Metode yang ia gunakan adalah metode hipotesis. Di dalam metode ini, orang mengajukan pendapat, lalu ditanggapi secara bersama-sama di dalam diskusi oleh orang lainnya. Di dalam dialog ini pulalah Plato mulai menjauhkan diri dari pandangan-pandangan Sokrates, dan mengajukan pandangan-pandangannya sendiri. Dua teori yang kiranya khas Platon adalah teori tentang forma dan teori tentang keabadian jiwa. Teori tentang forma mengacu pada pengetahuan tentang suatu benda yang tidak berada di dunia empiris, tetapi merupakan eidos yang bersifat abadi, tidak berubah, dan cukup diri. Misalnya, eidos tentang keindahan mendefinisikan apa yang dimaksud dengan keindahan. Keindahan di dalam realitas merupakan partisipasi terhadap eidos keindahan. Eidos keindahan merupakan esensi dari keindahan. Eidos ini bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, keindahan di dalam realitas sifatnya relatif dan berubah-ubah. Di dalam Phaedo, Platon menulis, bahwa argumen ini hanya bisa dibenarkan, jika teori ini konsisten dengan kebenaran-kebenaran lainnya. Di dalam Republic, ia menulis bahwa teori tentang forma baru bisa dibenarkan, jika argumennya koheren dengan satu prinsip tertinggi yang disebutnya sebagai “yang baik”. Yang baik merupakan sumber dari segala eidos. Ia adalah to agathon.

Teori tentang keabadian jiwa dipertahankan oleh Platon di dalam dialog-dialognya. Asumsi dari teori ini adalah, bahwa jiwa dan tubuh merupakan dua entitas yang terpisah. Pada waktu hidup, dua entitas ini saling bergandengan di dalam diri manusia. Akan tetapi, entitas ini akan murni terpisah pada saat orang meninggal. Argumen ini pertama kali muncul pada dialog Meno, ketika membicarakan tentang bagaimana orang bisa sampai pada pengetahuan apriori tentang kebenaran matematis. Menurut Platon, dengan menggunakan mulut Sokrates, kebenaran matematis tidaklah diberikan orang lain kepada kita dalam bentuk informasi. Kita mengetahuinya melulu dengan penalaran kita, terutama dengan menggalinya dari dalam diri kita sendiri, di mana terdapat memori laten yang sudah selalu ada. Dalam perjalanan waktu, orang lupa akan pengetahuan yang sudah mereka punya. Kelupaan pertama akan eidos terjadi, saat jiwa memasuki tubuh. Tubuh membuat jiwa kehilangan pengetahuannya. Proses belajar sebenarnya adalah proses mengingat kembali. Di dalam dialog Phaedo, Platon mengajukan argumen bahwa orang yang mendedikasikan hidupnya untuk berfilsafat, yakni untuk mencari kebijaksanaan, akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya, ketika ia mati dan meninggalkan tubuhnya. Ketika mati, ia akan mencapai kebijaksanaan, dan terbebas dari belenggu tubuh. Ia akan sampai pada pengetahuan murni tentang eidos kembali, sama seperti sebelum jiwa memasuki tubuh.

Buku Republic merupakan karya terbaik Platon. Buku ini ditulis, ketika ia sedang subur-suburnya berfilsafat. Di dalam buku itu, metafisika dan epistemologi di dalam filsafatnya diterjemahkan dalam konteks filsafat politik. Platon merumuskan tentang kota yang ideal. Kota yang ideal adalah kota yang diatur dengan prinsip keadilan. Kota itu dibentuk dengan pemerintahan komunisme, di mana semua tata kehidupan bersama diatur oleh seorang filsuf-raja juga atas dasar prinsip keadilan. Seorang filsuf raja adalah seorang filsuf yang ambil bagian di dalam kehidupan politik. Ia adalah orang yang telah terlatih untuk berpikir abstrak tentang eidos dan matematika. Ia memiliki keutamaan yang diperlukan untuk menciptakan harmoni di dalam masyarakat. Tata politik yang ideal hanya bisa terwujud, jika dipimpin oleh seorang filsuf raja yang memiliki pemahaman tentang eidos dan tentang to agathon.

Sampai sekarang, banyak ahli Platon masih berdebat, apakah filsafat politik Platon tentang filsuf-raja, baik perempuan ataupun pria, memang dimaksudkan untuk diterapkan, atau tidak. Tulisan-tulisan Platon sendiri, jika dibaca secara detil, menujukkan pesimisme yang besar terhadap kemungkinan manusia untuk sampai kehidupan bersama yang ideal. Metafor yang paling terkenal di dalam buku republic adalah analogi gua. Di dalam metafor tersebut digambarkan, bagaimana orang pada umumnya lebih senang terjebak dalam ilusi di gua, dan menolak untuk dicerahkan oleh para filsuf yang berhasil keluar dari gua dan melihat matahari sebagai simbol kebenaran. Teori psikologi Platon juga cukup pesimis. Ia menggambarkan bagaimana manusia terdiri dari akal budi, emosi, dan hasrat. Ketiga elemen itu seringkali berkonflik, dan pada akhirnya menciptakan keraguan moral, yang berujung pada kejahatan. Platon juga menulis dialog berjudul Timaeus. Di dalam dialog ini, ia berpendapat, bahwa alam semesta diciptakan oleh seorang tukang agung, yang menciptakan segala sesuatu dengan ketepatan rasio matematik yang sangat akurat.

Dialog-dialog ini memberikan kontribusi besar bagi perkembangan filsafat. Namun, kontribusi terbesar tampaknya diberikan oleh teks Platon yang berjudul Parmenides. Di dalamnya, Parmenides mengajukan kritik terhadap koherensi logis teori forma Platon tentang eidos. Menurutnya, teori forma Platon tidak menampung proses dialektika, yang notabene merupakan pola gerak realitas. Di dalam Theaetetus, Platon menulis tentang kritiknya terhadap kebenaran relatif yang diajukan oleh kaum sofis. Dua karya terakhir Platon adalah Statesman dan Laws. Statesman berisi pengetahuan praktis tentang cara seorang negarawan memerintah rakyatnya. Sementara, Laws terdiri dari 12, yang belum selesai ditulis, bahkan sampai Platon meninggal.

Mengenai Cara Berpikir Platon

Salah satu metode yang dipakai oleh Platon di dalam mengemukakan pendapatnya adalah metode bidan. Metode ini didapatkannya dari Sokrates. Metode bidan adalah metode yang menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk sampai pada kebenaran. Metode bidang berusaha menemukan kebenaran melalui proses bertanya terus menerus, karena kebenaran tidak terletak di luar diri manusia, tetapi di dalamnya. Pertanyaan membantu orang untuk sampai pada kebenaran yang sebenarnya sudah ada di dalam dirinya. Jadi, seperti bidang yang membantu ibu melahirkan anak, begitu pula seorang filsuf mengajukan pertanyaan untuk membantu orang melahirkan kebenaran yang sudah ada di dalam dirinya.

Filsafat Platon juga menunjukkan tegangan yang besar antara apa yang ideal dan apa yang faktual. Yang ideal adalah apa yang seharusnya. Sementara, yang faktual adalah apa yang terjadi. Di dalam filsafat Platon, yang ideal adalah eidos. Sementara, yang faktual adalah benda-benda di dalam dunia nyata. Eidos adalah esensi dari benda-benda yang ada di dalam dunia konkret. Filsafat politik Platon juga berbicara tentang tata sosial masyarakat dengan menggunakan eidos sebagai panduannya, jadi bukan suatu tips praktis untuk membangun negara. Eidos adalah esensi yang bersifat abadi dan tidak berubah. Sementara, benda-benda di dunia konkret adalah benda-benda tidak abadi dan terus mengalami perubahan.

Platon secara tegas menentang relativisme dalam segala bentuknya. Relativisme adalah pengetahuan yang menyatakan, bahwa kebenaran itu bersifat plural, tergantung pada konteksnya. Menurut Platon, kebenaran semacam ini sama sekali tidak bisa disebut sebagai kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya adalah eidos dari kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak berubah. Segala pernyataan yang mengklaim kebenaran itu relatif masihlah berada di tataran realitas konkret sehari-hari, dan belum sampai pada eidos. Pengetahuan semacam itu masihlah merupakan doxa, yang belum mencapai kemurnian kebenaran.

Platon juga menjadikan filsafat sebagai jalan hidup. Jalan filsafat adalah jalan untuk menemukan kebenaran dan kebijaksanaan. Jalan hidup lainnya berorientasi pada kenikmatan sesaat yang diberikan oleh materi. Sementara, jalan filsafat menawarkan kebahagiaan yang muncul, karena orang memandang kebaikan itu sendiri. Jalan hidup filsafat, menurut Platon, melepaskan orang dari penjara tubuh, yang membuat orang tidak mampu sampai pada kebenaran. Oleh karena itu, seorang filsuf tidaklah takut pada kematian. Kematian adalah pemusnahan badan. Jika badan dimusnahkan, maka jiwa terbebas dari penjara badan. Jiwa akan kembali menemukan kebenaran yang sempat diambil dari padanya.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s