Menuju Pendidikan yang Mengubah Hati

Pendidikan yang Mengubah Hati

Reza A.A Wattimena

Dunia pendidikan kita carut marut. Idealisme pendidikan untuk mengembangkan keseluruhan diri manusia terancam musnah digantikan pendidikan sebagai mesin pencetak uang instan.

Untuk mendapatkan pendidikan yang bermakna, orang harus keluar banyak uang. Padahal, tidak semua orang Indonesia mampu memenuhi kebutuhan itu.

Sekolah sebagai institusi pendidikan pun tidak lagi murni, namun dilumuri kepentingan untuk mendapatkan uang, sehingga mereka bisa survive dengan membayar upeti pada pemerintah. Sekarang ini, jika ingin bertahan sebagai sekolah yang unggul, maka sekolah haruslah menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk pelicin ke pemerintah.

Inilah praktek kotor yang terus berlangsung, namun tampak tidak lagi menjadi tema persoalan, karena sudah dianggap biasa. Kejahatan sudah dianggap banal.

Ekonomi

Hal yang sama terjadi di dalam bidang ekonomi. Banyak pengusaha harus membayar uang pelicin kepada pemerintah, supaya mereka tetap bisa melakukan bisnis.

Pada hari-hari raya, pejabat pemerintah, mulai dari yang tinggi sampai yang rendah, ramai-ramai meminta upeti dari pengusaha. Upeti itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Uang upeti itu kemudian digunakan untuk membuat pesta-pesta keagamaan demi menjaga citra pejabat tersebut di mata masyarakat. Dengan membuat pesta-pesta itu, maka kesalahan-kesalahan si pejabat seolah terhapuskan, padahal tidak.

Tidak jarang pula ditemukan, banyak pejabat yang meminta uang upeti dari para pengusaha sekedar untuk liburan ke luar negeri bersama keluarganya. Pengusaha tidak bisa menolak. Jika mereka menolak, maka bisnis mereka bisa terhambat nantinya.

Korbannya adalah para buruh. Keuntungan dari bisnis, yang seharusnya cukup besar untuk meningkatkan gaji buruh, diberikan kepada pejabat pemerintah yang korup. Gaji buruh tetap rendah. Kemiskinan pun jadi penyakit akut yang sulit sekali disembuhkan.

Hukum

Korupsi di bidang hukum pun sudah bukan lagi rahasia. Para “prajurit hukum”, yang seharusnya menjadi pionir pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, justru melestarikan budaya korupsi, dan membuat hukum menjadi impoten di hadapan para pelanggarnya.

Hakim, jaksa, dan pengacara tak berdaya di hadapan suap. Hati nurani dan etika profesi mereka terancam musnah, karena tak mampu menahan suap.

Tidak hanya itu, undang-undang kini pun bisa dipesan, asalkan dengan nominal finansial yang mencukupi. Kontradiksi dalam undang-undang yang ada sudah bukan hal baru lagi. Kontradiksi itu pun ditutupi dengan uang.

Di mata para pejabat hukum, kejahatan tidak lagi dikenali sebagai kejahatan, tetapi sebagai barang dagangan. Tidak berlebih jika analis ekonomi, B. Herry Priyono, berulang kali menegaskan bahaya homo oeconomicus di dalam semua dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Pendidikan yang Mengubah Hati

Bidang politik dan hukum tidak lagi bisa diharapkan untuk membawa perubahan. Kultur dan sistem yang sudah eksis di kedua bidang itu sudah terlalu kotor dan akut untuk bisa mengubah dirinya sendiri.

Harapan utama kita adalah pada bidang pendidikan. Akan tetapi,bidang ini pun juga dipenuh masalah.

Politik uang mewarnai bidang ini. Pendidikan pun seringkali jatuh pada pengajaran yang bersifat teknis semata, dan tidak pernah menyentuh hati para peserta didik.

Para praktisi dan teoritikus pendidikan harus mulai menggalakan pendidikan yang mengubah hati. Pendidikan semacam ini tidak hanya mengajarkan hal-hal teknis kepada mahasiswa, tetapi mengubah hatinya ke arah yang lebih bermoral.

Akal bisa dipakai untuk tujuan apapun, tetapi hati menggambarkan otentisitas jiwa manusia. Sastra dan filsafat adalah kunci untuk mengubah hati para peserta didik.

Pendidikan hati mampu menyentuh kedalaman sanubari orang, sehingga ia berubah. Tentu saja, metode menghafal juga tidak berguna di dalam membentuk hati seseorang.

Teknik menghafal membunuh kreatifitas dan dinamika intelektualitas peserta didik. Para peserta didik harus diajak untuk mulai peduli dengan dunia. Kepedulian yang tidak didasarkan pada hitungan untung rugi, tetap pada solidaritas yang berbasis hati serta kepekaan.

Hati yang terbuka, sabar, dan peka kepada orang lain bukan karena kesamaan identitas, seperti satu agama, satu bangsa, ataupun satu ras, dan juga bukan karena motif keuntungan finansial, tetapi karena hati nurani yang menjerit untuk peka menolong siapapun atau apapun yang membutuhkan.

Untuk mencapai tujuan perubahan hati ini, para praktisi pendidikan haruslah mengubah asumsi dan metode mengajar mereka. Mereka harus mengajar peserta didik untuk berpikir dengan jernih, sekaligus dengan keberpihakan yang jelas pada cita-cita kehidupan bersama yang lebih baik. Bentuk dialog imajinatif dan diskusi rasional sangat cocok dengan ini.

Kemampuan teknis, seperti menghitung, membuat besi, mengolah minyak, memang perlu. Akan tetapi, bangsa ini lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki hati. Kehadiran mereka bagaikan oasis segar di tengah padang gurun krisis sosial yang terjadi sekarang ini.***

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s