Jika ada Tuhan, Mengapa ada Kejahatan dan Penderitaan?

Dark-Evil-41164

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

“…Dihadapan penderitaan yang sejak berabad-abad melimpah diatas dunia ini,

ajaran agama Kristiani tentang Allah yang mahakuasa dan maha baik

tidaklah meyakinkan…”[1]

Max Horkheimer

Bentuk ateisme yang paling sering ditemukan dewasa ini adalah penolakan adanya Tuhan berdasarkan fakta adanya penderitaan yang dialami manusia. Penolakan itu mendasarkan diri pada satu titik, yakni jika Allah, dengan segala kualitasnya yang serba Maha-, sungguh ada, mengapa ada penderitaan yang dialami oleh manusia? Penderitaan tersebut bukan hanya dialami oleh manusia karena kesalahan mereka sendiri, tetapi oleh manusia-manusia yang notabene tidak bersalah, seperti anak-anak kecil, dan sebagainya. Tulisan ini mau memaknai pemahaman filosofis macam itu dengan pendekatan yang lebih bersifat eksistensialis. Artinya, eksistensi Tuhan tidak dipahami sebagai sebuah entitas yang ikut campur secara langsung di dalam pergulatan dunia manusia, melainkan Tuhan sebagai entitas yang membantu manusia untuk mengintegrasikan penderitaannya ke dalam keseluruhan pengalaman hidupnya sebagai manusia, sehingga penderitaan tersebut tidak membuat manusia menjadi runtuh, melainkan semakin matang sebagai manusia yang dewasa. Tesis ini mungkin masih mengundang pertanyaan lebih jauh. Akan tetapi, tesis ini, pada hemat saya, bisa memberikan kontribusi pada diskursus tentang eksistensi Tuhan dan penderitaan manusia. Selamat mengikuti.

“…Saya tidak akan berpanjang-panjang, tetapi saya akan berbicara sekeras dan segigih mungkin. Kejahatan ada. Ini adalah sebuah fakta. Dengan membabi buta ia membabat baik yang tak bersalah maupun yang bersalah. Ia menimpa anak-anak. Itu saja. Itu cukup. Masalahnya telah beres. Tak ada apapun atau seorang pun yang akan membebaskan Allah dari derita anak kecil, si buyung yang tidak bersalah; betul, tidak ada, selain fakta bahwa ia tidak ada…”[2]

Ingatan kita masih segar atas bencana tsunami yang menelan begitu banyak korban, baik itu materi maupun jiwa, di Aceh Desember 2004 lalu. “…Diantara segala kepiluan, kebalauan, dan kepanikan melakukan apa saja yang mungkin dalam menghadapi katastrofi dasyat, sebagaimana gempa dan tsunami di Aceh Desember 2004 lalu, biasanya selalu mendekam pertanyaan besar; apa mau Tuhan dengan semua ini…” tulis Haidar Bagir dalam salah satu artikel di Kompas.

Jauh sebelum itu, tahun 1940-1945, di Jerman, sekitar 6 juta orang Yahudi tewas di dalam kamar gas atas perintah Hitler. Begitu banyak tragedi di masa silam, yang terjadi menimpa manusia. Pengalaman-pengalaman negatif tersebut sungguh membekas dalam benak kolektif kita sebagai manusia.

Menyimak begitu banyak fakta negatif penderitaan dalam hidup manusia, kita mungkin bertanya-tanya, dimana Tuhan, yang diyakini Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kasih, ketika penderitaan berdarah tersebut terjadi? Pertanyaan itulah yang merangsang keheranan saya ketika pertama kali menulis paper ini. Berbagai argumen dan kontra argumen telah diajukan. Tapi, itu semua tidak dapat memuaskan keheranan dan rasa ingin tahu yang ada di dalam diri saya. Rasa heran, terkejut, sedih atas nasib manusia yang serba tidak jelas, atas fakta adanya manusia yang mampu melakukan kejahatan yang begitu besar, sehingga menciptakan penderitaan yang juga begitu besar bagi manusia lainnya. Keheranan dan keterkejutan akan melimpahnya kejahatan dan penderitaan yang ada di muka bumi ini mendorong saya untuk mempertanyakan kemahakuasaan Allah, kemaharahiman Allah. Mungkinkah ada Tuhan yang membiarkan adanya penderitaan di dunia ini? Jika kita menempatkan seluruh pertanyaan tersebut dalam konteks filsafat, pertanyaan tersebut menyangkut masalah teodisea, yakni masalah bagaimana memahami sifat keadilan Allah berhadapan dengan fakta adanya penderitaan.

Di sisi lain, kita dapat saja berpendapat bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang cukup penting untuk direfleksikan, apalagi kalau dikaitkan dengan pertanyaan tentang Tuhan. Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Rabbi E. Davidovic ketika ia di Auschwitz diajukan pertanyaan mengapa. Ia berkata, “…tidak. tidak. Saya sama sekali tidak berpikir tentang apa pun. Disana kami tidak berfilsafat. Kami hanya berupaya: bagaimana kami masing-masing dapat bertahan dari hari ke hari…”[3] Bagi dia, satu-satunya reaksi yang dapat dianggap sah ketika manusia berhadapan dengan penderitaan adalah berjuang memeranginya. Ketika tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, sang penderita haruslah bertahan dalam solidaritas dengan mereka yang menderita, itu tentunya kalau dia mau bertahan terus dalam penderitaannya. Walaupun begitu, peran refleksi dalam konteks ini tetaplah penting. Refleksi filosofis tentang penderitaan sama sekali tidak mau menggantikan peran praksis. Refleksi memiliki sumbangannya sendiri. Hal itu tentunya juga demi praksis yang lebih manusiawi dan konsisten. Peran refleksi tidaklah tergantikan, terutama ketika orang berhadapan dengan fakta adanya penderitaan.

Dari sudut teologi, persoalan teodisea sudah dibuka ketika kita membaca penderitaan yang dialami oleh seorang yang saleh. Orang itu adalah Ayub. Ayub berseru, “…Aku telah bosan hidup,…Aku berseru minta tolong kepadaMu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku… Anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap dalam tubuhku… semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: Yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakanNya…”[4]

Epikuros merumuskan problem ini dengan, pada hemat saya, baik sekali. Dia menulis, “…Atau Allah mau meniadakan kejahatan tetapi Ia tidak dapat, atau Ia dapat tetapi tidak mau, atau IA tidak mau dan tidak dapat, atau Ia mau dan dapat melakukannya. Jika Ia mau, tetapi tidak melakukannya, berarti Ia lemah, tetapi itu tidak sesuai dengan hakekat Allah. Jika Ia dapat melakukannya, tetapi tidak mau, berarti Ia buruk hati; tetapi ini pun tidak sesuai dengan hakekat Allah. Jika Ia tidak mau dan tidak dapat, berarti Ia sekaligus buruk hati dan lemah; tetapi kalau begitu Ia bukan Allah. Bila ia mau dan dapat – memang begitulah seharusnya Allah- maka dari manakah asalnya kejahatan, dan mengapa Ia tidak menghapuskannya?”[5] Dengan ini, fakta bahwa penderitaan merupakan batu sandungan paling berat bagi mereka yang mau percaya kepada Allah tidak dapat diragukan lagi.

Filsafat sudah sejak lama bergulat dengan masalah ini. Dalam bukunya, Leahy berpendapat bahwa fakta bahwa dalam dunia ada kejahatan dan penderitaan merupakan sebab utama orang menjadi ragu-ragu apakah memang ada Allah yang baik, yang menciptakan dan memelihara alam raya dengan manusia yang ada didalamnya.[6] Seluruh masalah eksistensi Allah dan penderitaan manusia ini dapat dirangkum dalam satu pertanyaan, apakah sebab yang mendorong Allah untuk membiarkan adanya kejahatan dan penderitaan merajalela dalam dunia, yang kita percayai diciptakanNya?[7]

Leibniz menyebut masalah ini sebagai masalah teodisea. Kata teodisea ini berasal dari kata theos yang artinya Allah, dan dike yang artinya keadilan. Secara singkat dapat dirangkum sebagai, masalah pembenaran keadilan Allah. Mengapa kita mempersoalkan keadilan Allah dihadapan sidang manusia? Karena Allah dipahami sebagai pencipta alam raya bersama dengan manusia dan seluruh isinya, serta bertanggung jawab penuh akan dinamika dan keselamatan ciptaanNya. Pemahaman seperti itu tentunya bertabrakan dengan fakta bahwa ada begitu banyak kejahatan, keburukan, penderitaan yang berlangsung di dalam alam ciptaanNya itu, terutama yang dialami oleh mereka-mereka yang tak bersalah. Hal inilah yang sesungguhnya menjadi masalah utama. Apakah fakta seperti itu adil? Apakah Allah bisa dibilang maha adil jika Ia membiarkan kejadian-kejadian negatif tersebut terjadi?

Inti masalah penderitaan sebenarnya sudah sangat sempurna dirumuskan oleh Epikuros dalam kutipan diatas. Solusi atas masalah penderitaan juga tidak bisa begitu saja dilemparkan kepada manusia. Manusia tidak pernah dapat sempurna dalam melakukan suatu tindakan yang positif, selalu ada pamrih, ada kelemahan, ada kekurangan di berbagai celah. Manusia terbatas dalam kemampuan fisik, dalam kejernihan berpikir, dalam kedewasaan emosional, dan sebagainya. Oleh karena itu, manusia tidak akan pernah menjadi sempurna dalam semua tindakan yang dilakukannya. Hal itu tentunya berbeda dengan hakekat Allah. Allah, kalau dia memang ada, tidak terbatas sedikit pun. Dalam konteks inilah para filsuf, dalam kesepakatan dengan para teolog agama-agama teistik, sejak semula sudah menyetujui bahwa Allah itu adalah maha-tahu, maha-kuasa, maha-adil, maha-kasih, dan sebagainya.[8]

Dari titik inilah lahir pertanyaan, mengapa ada penderitaan? Apakah Allah tidak dapat mencipta dan mengembangkan manusia tanpa menyiksa manusia itu sendiri? Apakah Allah tidak dapat menciptakan alam semesta tanpa penderitaan? Apakah IA tidak dapat, atau tidak mau? Keduanya tidak dapat dibenarkan. Jack Miles merumuskan masalahnya begini, adanya penderitaan di dunia ciptaanNya merupakan masalah Allah yang paling besar.[9]

Persoalan tersebut semakin mendesak dengan nyatanya fakta bahwa begitu melimpahnya penderitaan yang ada di dalam dunia.[10] Hal itu juga bisa berarti, mengapa ada orang atau kelompok tertentu yang tertimpa penderitaan tanpa dapat mengalami hal positif sama sekali. Artinya, terlalu banyak penderitaan yang terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, terlalu banyak darah yang dicurahkan secara sia-sia oleh penderitaan. Fakta tersebut semakin mempersulit untuk menjelaskan mengapa Allah, yang diyakini maha-kuasa dan maha-kasih, membiarkan kejahatan dan penderitaan seperti itu berlangsung.

Yang harus diperhatikan adalah, bahwa masalah pembenaran keadilan Allah ini tidaklah muncul di lingkungan semua agama. Bagi masyarakat yang menganut pandangan dualisme, kita dapat melihat adanya prinsip baik dan prinsip buruk, sehingga penderitaa memang harus diandaikan ada. Masalah teodisea hanya muncul jika Allah dipahami sebagai realitas personal-dialogal, dan bila setiap orang secara personal memiliki nilai pada dirinya sendiri di hadapan Allah maupun manusia lainnya. Eksistensi penderitaan menjadi masalah ketika Allah dipahami sebagai realitas yang peduli pada manusia, yang adil, yang berbelas kasih, yang membebaskan, yang suka mengampuni, yang menyembuhkan. Atas dasar penghayatan Allah sebagai realitas yang menyelamatkan dan menyembuhkan inilah penderitaan atas manusia-manusia yang tak bersalah semakin tidak dapat dimengerti.

Berbagai Argumentasi yang Menolak Eksistensi Allah

Kalau kita mau menyimpulkan, perjalanan teodisea pada jaman modern akan bermuara pada penolakan secara radikal eksistensi Allah. Penolakan itu dilakukan lebih atas dasar kepantasan moral dari sudut pandang manusia. Bertitik tolak dari itu, Emmanuel Levinas mengatakan, “…kelemahan dan ketidakmahakuasaan Tuhan disini memiliki korban manusia yang sangat banyak. Pantaskan kita mengatakannya demikian?…Tahukah anda, saya tidak mengerti perihal kemahakuasaan Allah, sekarang ini, setelah Auschwitz… kataku: harganya terlalu mahal, dan korban itu bukanlah Allah, melainkan kemanusiaan… kenosis dalam ketidakmahakuasaan ini memakan terlalu banyak korban manusia…”[11]

human_suffering_142 Argumentasi yang senada, menolak kepantasan moral Allah, juga dapat kita temukan pada tulisan Ernst Bloch. Bagi Bloch, kisah Ayub dalam kitab suci dapat dimengerti sebagai sebuah pesan bahwa seorang manusia melampaui Allahnya karena kesadaran moralnya bertahan di hadapan Allah, yang notabene adalah hakim yang meragukan. “…Dalam kitab Ayub mulailah sebuah pembalikan nilai yang luar biasa…: seorang manusia dapat lebih baik, dapat berperilaku lebih baik daripada Allahnya… Kesadaran moral Ayub bertahan dihadapan Yahwe, Hakim yang meragukan…seorang manusia melampaui, ya mengatasi Allahnya (dari kaca mata moral), itulah logika kitab Ayub…”[12] Bloch ingin menegaskan bahwa setelah Ayub, setiap bentuk argumentasi pembenaran atas keadilan Allah menjadi meragukan. “…Allah yang sungguh-sungguh mahakuasa dan mahabaik tidak akan berdiam diri dan nampak lelah dan lemah. Baik terhadap pendosa, apalagi, sebagaimana ditunjukkan oleh Ayub- terhadap mereka yang benar dan adil…”[13] Apakah Allah dapat disebut kudus dan suci kalau ia, secara moral, lemah? Dapatkah Allah yang secara moral lemah dan ragu-ragu, tidak cukup tegas memihak yang lemah dan menderita, menjadi Allah bagi manusia?

Jawaban atas berbagai argumentasi diatas cukup jelas, bahwa Allah telah kehilangan kepantasannya untuk dipercaya di mata manusia, karena Ia berdiam diri ketika penderitaan terjadi di depan mataNya. Hal itu bertentangan dengan hakekatNya yang mahakuasa, Ia ternyata tidak mampu atau tidak mau mencegah ketidakadilan terhadap mereka-mereka yang tak bersalah, tidak mampu menghapuskan penderitaan. “…penolakan untuk melakukan intervensi sungguh tidak bermoral. Kendati saya ini mahluk terbatas, namun saya lebih bermoral daripada Dia, karena saya berontak terhadap situasi semacam itu. Sama saja kalau dikatakan bahwa IA tidak ada, sebab Allah yang tidak bermoral itu sama dengan ketiadaan Allah…”[14] Di titik inilah Stendhal merumuskan sebuah diktum termasyur yang konon membuat Nietzsche iri, “…Satu-satunya alasan untuk memaafkan Allah adalah dengan menegaskan, bahwa Ia tidak ada…”[15] Odo Marquard juga bependapat searah dengan Stendhal, bahwa demi kemuliaan Allah, sebaiknya Ia tidak ada saja. Dalam konteks ini sebenarnya mau ditegaskan bahwa yang menjadi subyek sejarah bukanlah Allah, melainkan manusia. Ini adalah konsekuensi logis dari optimisme modernitas pencerahan atas konsep emansipasi dan otonomi manusia. Manusia modern dengan otonomi dan rasionyalah, dan bukan Allah, yang akan membawa sejarah manusia menuju kesempurnaannya, yakni penghapusan segala bentuk penderitaan. Leahy merangkum gerak teodisea modern itu dengan baik sekali, “…Rasa berontak terhadap kejahatan telah menyebabkan orang menyangkal Tuhan, justru karena mereka percaya akan kemutlakkan kebaikan moral itu sendiri…” Leahy juga menambahkan, “…sedemikian transendenlah nilai moral itu, sampai orang ateis lebih suka menyangkal Allah daripada menlihat nilai moral berkompromi dengan kejahatan…kewajiban itu sedemikian kuatnya, sehingga orang merasa perlu menyangkal Allah atas nama kewajiban itu…”, dengan kata lain, “…seseorang menyangkal Allah untuk tetap setia kepada kemutlakkan nilai moral tersebut…”[16] Begitulah problem pembenaran keadilan Allah dapat diatasi dengan menghilangkan salah satu premis dasarnya, yakni eksistensi Allah. Dengan demikian, Allah telah mati.

Pertanyaan menentukan berikutnya adalah, apa yang terjadi setelah Allah mati? Pertanyaan tersebut semakin mendesak ketika dihadapkan pada fakta bahwa penderitaan ternyata tetap ada, bahkan penderitaan tersebut tampil dalam bentuk yang baru dan lebih mengerikan? Dengan menyatakan bahwa Allah telah mati, permasalahan teodisea tidak otomatis terselesaikan, manusia tidak otomatis terbebaskan. Ketika Allah dinyatakan mati, manusia kehilangan tempat tujuannya untuk berkeluh kesah, manusia kehilangan tempat untuk mendapatkan penghiburan dalam menghadapi penderitaan yang terjadi di dalam hidupnya. Siapa kini yang bertanggung jawab, setelah Allah disingkirkan, atas segala penderitaan yang tetap melimpah dalam sejarah manusia ini? Pencerahan telah membawa manusia untuk menempati tahta yang dulunya dipegang oleh Allah. Dengan paham emansipasi dan kebebasan, manusia kini berdiri sebagai subyek dari sejarah, dialah yang bertanggung jawab atas segala penderitaan, dan juga kemajuan kualitas kehidupan manusia yang terjadi di muka bumi ini. “…dengan demikian situasinya menjadi cukup pelik, bahkan tidak menentu lagi. Kemutlakan yang ilahi diganti dengan kemutlakan yang manusiawi, tapi zat mutlak baru ini tidak berdaya berhadapan dengan kejahatan, karena kejahatan itu sedemikian menggunung sehingga menimbulkan kekagetan dan rasa berontak…”[17] Manusia, yang kini menduduki tahta Allah itu, ternyata, “…sama sekali tidak memadai untuk menghadapi masalah kejahatan yang merupakan skandal: sebab manusia sama sekali bukan korban kejahatan tetapi juga pelaku kejahatan…”[18] Mungkin benar kata Nietzsche, tindakan kita membunuh Allah adalah tindakan yang terlalu besar bagi kita.

“…kemana sekarang dunia ini bergerak? Kemana kita bergerak? …Masih adakah atas dan bawah? Tidakkah kita menjadi tersesat dalam ketiadaan yang tanpa batas? Tidakkah kita terjerat di dalam ruang yang kosong? Tidakkah dunia kita menjadi lebih dingin? Tidakkah malam-malam kita menjadi lebih gelap?…bagaimana kita sang pembunuh Allah menghibur diri kita sendiri? Yang mahasuci dan mahakuasa yang sampai kini dimiiki dunia, telah berlumuran darah karena pisau kita…tidakkah perbuatan ini terlalu besar untuk kita? Tidak ada perbuatan yang lebih besar?…” demikian tulis Nietzche.[19]

Filsuf yang banyak membicarakan tema ini adalah Albert Camus. Bagi dia, hidup di dunia ini sangatlah terbatas, bahkan bisa dikatakan bahwa hidup ini absurd. Akan tetapi, absurditas hidup itu sama sekali tidak boleh dihadapi dengan keputusasaan, sebaliknya hidup harus dihadapi dengan sikap heroik. Harus diakui, kita bisa saja mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah mitos-mitos dimana begitu banyak kenyataan pahit yang menimbulkan penderitaan disembunyikan. Sejak abad ke-18, hilangnya mitos-mitos itu telah membawa perubahan besar pada seluruh cara manusia memandang dunianya, karena kematian kini menjadi tanpa harapan, tanpa makna. Di titik itulah Camus mengajak kita untuk menerima kematian yang tanpa harapan dan tanpa makna itu dengan lapang dada, menerima keterbatasan kita tanpa jatuh ke dalam keputusasaan.[20]

Dalam novelnya yang berjudul Sampar, Camus melukiskan salah seorang tokohnya, yakni Dr. Rieux, sebagai seorang dokter yang terus berjuang sekuat tenaga untuk mengatasi wabah sampar, walaupun dia tahu bahwa pada akhirnya semua usahanya akan sia-sia juga. Dengan kata lain, walaupun dia tahu bahwa dia akan kalah, Dr. Rieux tetap saja terus melakukan apapun yang dapat dilakukan untuk mengatasi wabah sampar tersebut.

Dalam kaca matanya, sampar bukanlah hanya sekedar penyakit, atau wabah. Hidup ini sendiri adalah sampar! “…satu kegagalan yang terus menerus…”[21] itulah makna sampar bagi Dr. Rieux. Hidup ini memang absurd, tapi idealisme moral untuk terus berjuang tetaplah harus dipertahankan. Oleh karena itu, Dr. Rieux tetap bertahan dalam upayanya memerangi sampar, walaupun ditinggalkan oleh teman-temannya. Ketika salah seorang sahabatnya mengingatkan bahwa perjuangan melawan “…akan selalu bersifat sementara saja, begitu saja…”[22] Dr. Rieux menyetujuinya sambil menambahkan, “…tetapi itu bukan alasan untuk menghentikkan perjuangan…”[23] Nilai-nilai moral harus tetap diperjuangkan, walaupun dunia ini sebagai keseluruhan adalah absurd dan tanpa makna. Inilah inti dari nilai heroik yang dithawarkan Camus.

Heroisme seperti itu memang sangat mengagumkan. Akan tetapi, dapat dipastikan akan segera muncul pertanyaan seperti ini di dalam benak kita, berhadapan dengan absuditas hidup manusia, dengan fakta bahwa satu-satunya yang pasti adalah fakta bahwa kita akan terus gagal, akankah klaim etis dengan perjuangan nilai-nilai moralnya layak untuk dihayati dan dihidupi? Mampukah kita mempertahankan solidaritas kita dengan mereka yang menderita, terutama ketika kita mengetahui bahwa solidaritas itu pun pada akhirnya akan sia-sia saja? Masihkan kita memiliki kekuatan untuk berjuang, ketika absurditas eksistensi manusia ternyata begitu definitif? Jawaban yang mungkin muncul mungkin adalah tidak, manusia tidak akan mampu bertahan. Tanpa harapan dan makna akan Allah, yang akan menyempurnakan segalanya, ia tidak akan mampu bertahan menghadapi begitu melimpahnya penderitaan. Solidaritas terhadap mereka yang menderita rupanya menuntut suatu harapan dan makna yang tidak dapat diperolehnya sendiri, melainkan hanya didapatkan dari Allah.

Jawaban Teodisea Klasik dan Keterbatasannya

Ada yang berpendapat bahwa penderitaan haruslah ditempatkan di dalam keseluruhan realitas. Dengan demikian akan kelihatan, bahwa ia memang perlu ada, antara lain demi kebaikan dan terang yang lebih besar. Ibaratnya sebuah lukisan, keindahan justru didapatkan kalau kita memasukkan warna gelap ke dalam lukisan itu. Filsuf Perancis Rene Descartes pernah berkata, “…sesuatu itu bisa tampak sangat tidak sempurna bila berdiri sendiri. Tetapi hal yang sama akan kelihatan sangat sempurna bila dilihat sebagai bagian dari alam semesta…”[24] Atau, kita bisa melihat argumentasi yang dirumuskan oleh Leahy, “…kejahatan kehilangan sifat jahatnya bila diletakkan dalam perspektif perkembangan total: penderitaan tidak lain selain krisis pertumbuhan: peperangan adalah benih lahirnya sejarah; pengorbanan yang dilakukan generasi sekarang memungkinkan kelanjutan eksistensi masyarakat di masa datang…”[25] Dengan kata lain, disini penderitaan dan kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang positif karena ditempatkan di dalam keseluruhan realitas. Akan tetapi, kita akan segera melihat bahwa, argumentasi tersebut tidaklah mencukupi karena dangkal dan tidak sesuai dengan kesadaran moral kita jika berhadapan dengan paham yang menempatkan manusia sebagai subyek, yang tidak pernah boleh dijadikan sebagai alat untuk mencapai sesuatu di luar dirinya, serta juga gagasan tentang Allah yang mencintai setiap pribadi manusia.

suffer Kita akan menemukan argumentasi yang senada dalam pemikiran Leibniz. Bagi Leibniz, dalam segala kebijaksanaanNya yang tak terhingga, Allah tentu saja tahu berbagai macam kemungkinan dunia yang dapat diciptakan. Nah, karena Ia sekaligus mahakuasa dan mahabaik, maka dunia yang sudah diciptakan ini adalah dunia paling baik yang mungkin diciptakan, sebuah dunia yang paling baik yang mungkin. Maka dari itu, setiap penderitaan haruslah diintegrasikan dalam keseluruhan dunia yang baik itu. Kritik pun masih tetap dapat dilontarkan, yakni manusia saja masih dapat membayangkan dunia yang lebih sempurna, terutama dunia dimana sama sekali tidak ada kejahatan dan penderitaan, serta segala sesuatu yang negatif. Menanggapi hal itu, Leibniz dengan baik sekali menulis, “…memang, orang dapat membayangkan adanya dunia tanpa kejahatan dan tanpa penderitaan…, sebagaimana dilukiskan dalam roman-roman utopis… tetapi dunia seperti itupun tidak lebih baik dari dunia kita. Saya tidak akan membuktikannya secara rinci. Bagaimana saya dapat melukiskan yang tak terbatas serta mengenalinya dan membandingkannya? Tetapi, kita harus setuju, bahwa Allah telah memilih menciptakan dunia ini sebagaimana ia ada. Kita tahu juga, bahwa seringkali sebuah kejahatan menghasilkan kebaikan yang tidak akan ada tanpa adanya kejahatan itu…”[26]

Dengan demikian, ada kebaikan yang dihasilkan keburukan-keburukan itu. Ada yang positif dari sesuatu yang negatif. Oleh karena itu, dunia yang memiliki hal-hal negatif didalamnya mempunyai hal-hal positif lebih banyak daripada dunia yang sama sekali tidak memiliki unsur-unsur negatif. Sayangnya, menurut saya, argumentasi seperti ini tidak akan banyak berbunyi di telinga orang yang menderita. Bahkan juga dapat ditafsirkan bahwa Leibniz mendorong orang untuk berpaling dari kenyataan keras penderitaan, atau untuk menutupi ciri-ciri skandal dari penderitaan. Selain itu, kita juga tidak akan menemukan pertimbangan-pertimbangan yang lebih mendetail dari persoalan mengapa orang harus menderita.

Masih ada argumentasi lain yang cukup layak untuk dipertimbangkan, yakni rasa sakit dan penderitaan fisik pun dapat berguna bagi perkembangan biologis kemudian. Pengalaman pahit pun dapat memurnikan hati orang dan membuatnya semakin dewasa. Tentu saja harus diakui bahwa pengalaman sakit dapat menimbulkan keberanian untuk bangkit. Kesalahan sekarang dapat menjadi peringatan untuk terus menjadi lebih baik di kemudian hari. Sejarah pun sudah menunjukkan, banyak orang justru mengalami perkembangan rohani karena ia terlebih dahulu telah mengalami penderitaan. Jawaban tersebut memang menarik untuk ditanggapi. Akan tetapi, kita juga masih dapat mengajukan pertanyaan. Mengapa peringatan tersebut harulah bersifat negatif dan menyakitkan? Bukankah penderitaan seringkali juga dapat meremukkan seseorang? Pertanyaan mengapa tidak semua orang mengalami penderitaan yang sama beratnya pun tidak akan terjawab.

Masih ada argumentasi lain, yakni bahwa Allah sebenarnya tidak menghendaki kejahatan dan penderitaan. Ia hanya mengizinkannya. Dalam beberapa segi, argumen ini mengandung kebenaran tertentu. Tetapi kita juga dapat bertanya, faktor apa yang begitu penting sehingga Allah terpaksa mengizinkan sesuatu yang notabene tidak dikehendakiNya? “…sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan suara hati atau rasa moral manusia mau diperbolehkan agar Tuhan melaksakannya… Bukankah semua ini agak berlebihan? Dan si ateis akan mengatakan, seseorang yang menolak kejahatan karena dia bermoral lebih superior daripada Tuhan yang malah mentolerir kejahatan itu…”[27]

Demikianlah kiranya sejumlah bentuk argumentasi teodisea klasik yang mau memecahkan problem penderitaan dalam relasinya dengan Allah. Dalam beberapa sisi, argumen-argumen tersebut mengandung kebenaran-kebenaran tertentu. Akan tetapi, masalah sesungguhnya tetap tak terpecahkan. Penderitaan dan kejahatan yang begitu melimpah tetaplah fakta realitas manusia yang tak masuk akal, absurd. “…ada terlalu tindakan biadab yang dilakukan manusia dan tidak dapat dijelaskan oleh siapapun dalam sejarah umat manusia. Ada terlalu banyak orang yang tidak bersalah menderita, penderitaan yang tidak bermakna, sehingga kita tidak dapat lagi secara etis, hermeneutis, ataupun ontologis membuat rasionalisasi atas penderitaan itu…sejarah adalah suatu ekumene penderitaan…”[28] Jika fakta melimpahnya penderitaan dipahami sebagai bentuk untuk menyinkronkan kebaikan, keadilan, dan kemahakuasaan Allah, maka teodisea akan berakhir dalam kegagalan. Immanuel Kant pun berpendapat bahwa akal budi kita pun tidaklah mampu memahami relasi-relasi antara dunia yang kita kenal melalui pengalaman dengan kebijaksanaan tertinggi. Setelah ini semua, apakah argumentasi untuk mendamaikan penderitaan manusia dan eksistensi Allah telah terhenti?

Menuju Pendekatan yang Integral atas Penderitaan

Sebenarnya tidak perlu bencana besar untuk menggoncangkan kepercayaan orang pada adanya Tuhan. Kadang kala, kegagalan pekerjaan, penyakit, rasa kehilangan, pengkhianatan, atau kematian orang yang dikasihi dapat menjadi cukup untuk menjadikan orang ateis. Salah contoh yang paling jelas adalah ketika Harold Kushner, seorang rabi Yahudi, menulis buku yang terkenal setelah ia mengalami kematian anaknya. Judul buku itu adalah, When Bad Things Happen to Good People. Dalam buku itu, ia mengusulkan agar paham tentang kemahakkuasaan Tuhan sebaiknya dihilangkan saja. Akan tetapi, kita bisa membayangkan sebaliknya: When Good Things Happen to Bad People, ia barangkali akan mengusulkan agar pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Allah sebaiknya ditolak saja. Di pihak lain, kita dapat menemukan berbagai upaya, baik itu filosofis maupun teologis, untuk merasionalisasikan penderitaan. Akan tetapi, pemaknaan mengenai penderitaan dan eksistensi Allah tidak bisa melulu dipahami secara teoritis, melainkan dengan pendekatan praktis.

Tidak ada penjelasan teoritis yang memuaskan untuk menyingkapi pelbagai penderitaan dan kejahatan yang begitu melimpah di dunia ini. Penderitaan sebagai realitas negatif adalah fenomena manusia yang tidak terselami, betapapun kita mencoba menerangkannya dengan pelbagai teori religius ataupun non-religius yang ada pada kita. Masalah eksistensi Allah dan penderitaan absurd yang dialami manusia tetap tersembunyi, kalau tidak mau diabaikan, baik bagi orang beriman ataupun orang ateis.

Maka, ketika kita berhadapan dengan penderitaan, harus diterima bahwa ia adalah fakta hidup yang kini painada, pernah ada, dan akan selalu ada, terlepas dari apakah orang mau menerima eksistensi Allah atau tidak. Jika berhadapan dengan penderitaan sebagai fakta hidup, kaum beriman ataupun ateis selalu bertanding remis. Artinya, masalah mengapa penderitaan ada, tidak bisa dipecahkan dengan menerimanya adanya Allah (pihak teis, atau kaum beriman), maupun dengan menolak adanya Dia, dimana mereka, kaum ateis, tidak bisa menjelaskan mengapa dunia dengan penderitaan tidak menjadi lebih baik dengan hanya mencoret Tuhan. Penderitaan pun tetap menjadi teka-teki bagi kehidupan manusia, terlepas apakah dia seorang beriman atau tidak.

Dengan memahami penderitaan sebagai fakta hidup yang penuh misteri, ia juga perlu dihadapi dengan realistis, dan dengan sikap respek terhadap hidup. Artinya, penderitaan tidak perlu dicari-cari, melainkan diterima dengan lapang dada ketika ia datang menimpa. Sebagai sebuah fakta hidup, penderitaan pada dirinya sendiri tidaklah bernilai, maka sikap mencari-cari penderitaan adalah perversi hidup. Penderitaan tidak hanya ditanggung atau diterima, melainkan juga diperangi dan diatasi dengan sekuat tenaga yang ada pada kita. Panggilan dalam menanggapi penderitaan adalah panggilan manusia untuk berpraksis. Praksis tersebut dapat terwujud dalam upaya untuk mencari akar dan sumber dari penderitaan tersebut, baik pada level individual maupun level struktural, yang lalu ditangani secara konkret. Dengan kata lain, “…yang tertindas dibebaskan, yang lapar dikenyangkan, yang sakit disembuhkan, yang miskin dijadikan sejahtera, yang bersedih hati dihibur dan didampingi dengan rasa keterlibatan…”[29]

Pada satu titik, perjuangan menentang penderitaan dan ketidakadilan kerap menemui jalan buntu. Di titik inilah penderitaan dan ketidakadilan tidak hanya perlu diatasi atau diperangi, melainkan juga diolah dan diintegrasikan. Artinya, penderitaan tersebut dilihat dan dirangkum sebagai satu kesatuan menyeluruh menyangkut seluruh dimensiku. Dengan kata lain, “…penderitaan kuterima dan kuakui sebagai bagian faktual dari caraku menghayati hidup dengan segala misterinya, caraku melihat dunia, bekerja dan bertindak, entah sebagai syarat, entah sebagai konsekuensi dari, misalnya, perjuanganku demi sesuatu yang bersifat mutlak…”[30]

Manusia memerlukan kesabaran dan ketabahan hati untuk menerima dan menanggung penderitaan. Jika sudah seperti itu, ia akan tumbuh dan berkembang melalui penderitaan itu. Manusia yang selalu beruntung dalam hidupnya tidak akan pernah ditempa menjadi manusia yang kuat dan utuh. Tanpa tempaan, ia akan menjadi dangkal dan tidak bisa berkembang ke arah yang lebih baik. Bersama Karl Jaspers, penderitaan dilihat dan dimaknai sebagai situasi batas, yang membawa manusia kepada transendensi Tuhan. Dengan demikian, orang yang mengalami penderitaan bisa berkata, “…penderitaanku tidak lagi secara kebetulan merupakan nasib buruk belaka, melainkan mulai munculnya eksistensi melalui dasein…”[31]

Kiranya jelas pada tahap terakhir ini, bahwa pengalaman akan Tuhan, akan yang Transenden, memberikan sumbangan besar bagi manusia untuk memahami penderitaan dan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan hidupnya. Suatu kepercayaan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segala-galanya, bahwa masih ada harapan akan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik, juga bahwa “…kerinduan akan yang serba lain…”, seperti ditulis oleh Max Horkheimer, akan menemukan kepenuhannya.

Kesimpulan dan Penutup

Penderitaan manusia dan eksistensi Allah bukanlah sesuatu yang selayaknya dipertentangkan. Dalam penderitaan, manusia membukan dimensi terhadap yang transenden, ia membuka pintu bagi transendensi. Kendati mengalami penderitaan, banyak orang, meskipun tidak selalu, tetap memiliki kepercayaan dan harapan kepada Allah. Dengan demikian, eksistensi Allah tidaklah dapat dipahami sebagai entitas yang mengintervensi kehidupan manusia dan serta-merta mencegahnya mengalami penderitaan, melainkan sebagai sebuah kekuatan dengan kemahakuasaan dan belaskasihNya untuk membantu manusia memahami dan mengintegrasikan penderitaan dalam hidup ke dalam keseluruhan eksistensinya. Argumentasi ini tidak dapat sepenuhnya memuaskan kerinduan intelektual kita untuk memahami eksistensi Allah di tengah melimpahnya penderitaan di dunia. Akan tetapi, sebagai sebuah usaha filosofis, argumen tersebut bisa ditempatkan sebagai sebuah kontribusi dalam debat teodisea yang sampai sekarang masih berlangsung. Seperti semua pertanyaan menuntut jawaban, yang notabene jawaban tersebut akan membuka pertanyaan yang lebih banyak lagi, tulisan ini diharapkan akan membuka pertanyaan lebih jauh tentang teodisea. Terima kasih.

Daftar Pustaka

A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”, Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, hal. 215.

L. Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta, Kanisius, 1994, hal. 272.

F. Magnis Suseno, “Mendakwa Allah? Catatan Tentang Teodisea”, Diskursus

Jack Miles, Christ. A Crisis in the Life of God, New York, Alfred A. Knopf, 2001.

L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini. Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1991.

F. Nietzsche, “Ecce Homo,” dalam Friedrich Nietzsche. Studienausgabe, Band 4, Frankfurt, Fischer Bücherei,

A. Camus, Sampar, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1985

S.P. Lilik Tjahjadi, Atheisme Modern, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, (tidak dipublikasikan),

Gambar dari Google Pictures

Sudah dipublikasikan di www.dapunta.com

Penulis adalah Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya


[1] Max Horkheimer, Die Sehnsucht nach dem ganz Anderen, Hamburg, Furche-Verlag, 1971, S.60, seperti dikutip oleh A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”, Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, hal. 215.

[2] Roger Ikor dalam pekan cendekiawan Katolik 1965, seperti dikutip oleh L. Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta, Kanisius, 1994, hal. 272.

[3] J. –H. Tück, Christologie und Theodizee bei Johann Baptist Metz. Ambivalenz der Neuzeit im Licht der Gottesfrage, München, Schoeningh, 1999, S. 262. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 208.

[4] Ayub 10, 1; 30, 28; 6, 4; 9, 22.

[5] Epikuros, Brief an Menoeikeus (Surat Kepada Menoeikeus), fragmen no. 106, dalam: Griechische Atomisten, diterjemahkan oleh F. Jürss, R Müller, Leipzig, 1977, hal. 334. seperti dikutip oleh S. Lilik Tjahjadi, Diktat Ateisme Modern (tidak dipublikasikan), STF Driyarkara, 2005. hal. 2.

[6] L. Leahy, op.cit, hal. 269.

[7] F. Magnis Suseno, “Mendakwa Allah? Catatan Tentang Teodisea”, Diskursus, op.cit, hal. 233.

[8] Ibid, hal. 234.

[9] Jack Miles, Christ. A Crisis in the Life of God, New York, Alfred A. Knopf, 2001, seperti dikutip oleh F. Magnis Suseno, op.cit, hal. 234.

[10] L.Leahy, op.cit, hal. 276.

[11] M. Striet, “ Versuch über die Auflehnung. Philosophisch-theologische Überlegungen zur Theodizeefrage”, pada H. Wagner, Mit Gott streiten. Neue Zugaenge zum Theodizeeproblem, Freiburg, Herder, 1998, S. 51. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 214.

[12] E. Bloch, Atheismus im Christentum. Zur Religion des Exodus und des Reichs, Hamburg, Rowohlt Verlag, 1970, S. 106-107. seperti dikutip A. Sunarko, ibid.

[13] Ibid, S. 116.

[14] L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini. Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1991, hal. 133-134

[15] Bagi Nietzsche, ini adalah lelucon terbaik para ateis. “…Vielleicht bin ich selbst auf Stendhal neidisch? Er hat mir den besten Atheisten-Witz weggenommen, den grade ich hätte machen können: die einzige Entschuldigung Gottes ist, dass er nich existiert… Ich selbst habe irgendwo gesagt: was war de größte Einwand gegen das Dasein bisher? Gott…” F. Nietzsche, “Ecce Homo,” dalam Friedrich Nietzsche. Studienausgabe, Band 4, Frankfurt, Fischer Bücherei, S. 143-218; 162.

[16] L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini, op.cit, hal. 126,131,133.

[17] Ibid, hal. 136.

[18] Ibid, hal. 138.

[19] F. Nietzsche, Die Fröchliche Wissenschaft, Leipzig, Reclam-Verlag, 1990, S. 130. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 217.

[20] M. Striet, Der Neue Mensch, Unzeitgemäβe Betrachtungen zu Sloterdijk und Nietzche, Frankfurt, Verlag Josef Knecht, 2000, S.103. seperti dikutip A. Sunarko, op.cit, hal. 218.

[21] A. Camus, Sampar, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1985, hal. 111.

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] L.Leahy, Esei Filsafat untuk Masa Kini, op.cit, hal. 116.

[25] Ibid.

[26] J. Schmidt SJ, “Das Philosophieeimmanente Theodizeeproblem und seine theologische Radikalisierung”, Theologie und Philosophie 72 (1997), S. 250.

[27] L. Leahy, op.cit, hal. 18.

[28] E. Schillebeeckx, Christus und die Christen. Die Geschichte einer neuen Lebenpraxis, Freiburg, Herder, 1977, S. 706. seperti dikutip dari A. Sunarko, op.cit, hal. 213.

[29] S.P. Lilik Tjahjadi, Atheisme Modern, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, (tidak dipublikasikan), hal. 52.

[30] Ibid.

[31] Ibid.

About these ads

30 thoughts on “Jika ada Tuhan, Mengapa ada Kejahatan dan Penderitaan?

  1. Kejahatan dan penderitaan tetaplah jadi batu sandungan paling gawat (scandalum) mengakui keberadaan Tuhan. Misalnya tsunami Aceh dan gempa bumi di Padang beberapa waktu lampau, tetap menjadi misteri yang tak bisa dijelaskan secara ajeg. Ilmu geologi hanya bisa mengatakan sepanjang Pulau Jawa bagian selatan dan Sumatera bagian Barat berada dalam jalur busur volkanik yang rawan terhadap gempa dan tsunami. Kapan hari H, jam J, dan di tempat T tidak ada yang tahu persisnya. Tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan, mungkin sampai kapanpun. Franz Magnis – dalam bukunya Menalar Tuhan) berpendapat, “orang beriman tidak perlu lari kepada penjelasan-penjelasan dangkal/murahan, misalnya itu cobaan dari Tuhan karena dosa manusia’.” Sebagai seorang Imam, Romo Franz mengajak untuk berani menghadap masalah/kesulitan, tetapi menunjukkan bahwa orang beriman mempunyai alasan untuk tetap menyerahkan diri dalam kepercayaan penuh kepada Tuhan.

    Kebetulan baru bikin review bukunya aku bang Reza hehe

    Ketemu lagi kita di wordpress selain di Multiply bang. Sehatkan bang. Pax et Bonum.

  2. Yesus menderita karena manusia sudah terlalu jauh dari Allah…jadi Yesus harus masuk ke dalam realitas manusia yang paling dalam….menderita…dan akhirnya Yesus mengangkat manusia dari penderitaan……salam!

  3. Salam kenal Pak Reza, he he saya bertanya pada Mr.Google “Mengapa ada penderitaan” he he maka berjumpa dengan Bapak — “Jika ada Tuhan, Mengapa ada Kejahatan dan Penderitaan?” GOD —- EVIL — ada TUHAN dan ada EVIL (realitas Kejahatan dan Penderitaan) — Saya bingung jika saya jadi Theodise meng kaitkan TUHAN dengan Evil ; rasanya epistemologie Theisme dgn Atheisme itu beda (Secular dan Non Secular); saya coba mengkaitkan PROPOSISI settingannya tampaknya akan selalu akan terjadi inkonsisten ya : ALLAH adalah Mahakuasa
    ALLAH sepenuhnya Baik
    Ada KEJAHATAN dan PENDERITAAN
    Bagaimana Pak apakah betul kaum Theisme PROPOSISInya inkonsisten Pak?
    Apakah orang beragama kontradiksi terhadap dirinya sendiri he he??

    Saya pernah mempertanyaakan terhadap dirinya saya sendiri, semangkin saya berpikir rasanya semangkin saya meragukan adanya TUHAN, he he saya pernah di ICU berteiak minta tolong pada TUHAN dan saya menunggu sampai 3 bulan tidak di dengar he he tapi otak saya juga berkata SAYA dan SEMUA ORANG MENUJU jadi DEBU siapapun dia.

  4. Ulasan yang sangat mencerahkan. Realitas penderitaan manusia, semakin menyadarkan betapa ia butuh kehadiran Allah. Membuang Allah oleh karena banyaknya penderitaan dan beralih menemukan jawabannya pada kemampuan manusia, pada akhirnya akan tiba pada pertanyaan mendasar, “Kemanakah akhir hidup ini?”
    Jawaban atas pertanyaan itu pada akhirnya akan menggiring manusia untuk mencari dan menemukan Allah.

    • Terima kasih. Tapi memang kehadiran Allah tidak niscaya bisa dibuktikan dengan pertanyaan tujuan akhir hidup manusia. Menurut saya, itu tetap merupakan sebuah lompatan eksistensial yang didasarkan oleh akal budi dan intuisi, tidak melulu rasional

  5. Terimakasih atas artikelnya yang menarik.
    Bung Reza baru saja mengulas salah satu pertanyaan paling kritis dan paling sulit dijawab oleh umat manusia.
    Namun … “Paling sulit” bukan berarti tidak mungkin dijawab secara memuaskan.

    Banyak pakar dan bahkan pemimpin agama sepertinya cukup puas dengan memberikan penjelasan bahwa penderitaan dan kejahatan adalah fakta yang harus diterima dengan lapang dada sebagai proses pendewasaan menjalani problem kehidupan. Bisa jadi ini benar, namun ini hanya akan mengarah pada pertanyaan lainnya… “problem kehidupan yang mana? penderitaan dan kejahatan yang lebih hebat lagi?”… itu masih tetap tidak menjawab pertanyaan semula … “Jika ada Tuhan, Mengapa ada kejahatan dan penderitaan?”

    Sayangnya, Tuhan bukanlah pribadi yang bisa kita temui empat mata untuk menggelar sesi wawancara guna dimintai keterangan. Namun kita bisa menggunakan catatan-catatan pendahulu kita yang mengaku pernah berurusan dengan tuhan. Misalnya, sebuah catatan yang ditulis sekitar 3.500 tahun yang lalu oleh seseorang bernama Musa membenarkan bahwa planet bumi memang dirancang untuk memfasilitasi sebuah peradaban utopia. Dan, manusia sendiri … semula dirancang untuk menikmati kehidupan yang relatif sempurna seperti yang kita dambakan : tidak ada penyakit, tidak ada penderitaan, tidak ada kejahatan, tidak ada usia tua dan bahkan tidak ada kematian. Ada berlimpah makanan dan air yang bersih. Kedengaran seperti dongeng utopia mungkin, namun ini sama sekali tidak bertentangan dengan sifat “ke-Maha Pengasih-an” Allah yang sedang diragukan, dan sisa-sisa dari masa keemasan itu pun masih bisa kita lihat dalam sistem yang “bobrok” sekarang ini. “Cetak biru” dari umat manusia itu mulia.Pada mulanya, segala sesuatu indah.

    Sebuah perusahaan phonesel ternama yang peduli dengan kualitas ciptaannya akan memastikan barang yang mereka luncurkan dipasaran berada dalam kualitas terbaik. Jadi kalau kita menemukan ponesel bekas yang dibuat perusahaan tersebut, yang layar LCD-nya retak, kita tidak akan menyimpulkan bahwa memang si perusahaan tersebut merancang sebuah ponsel dengan layar LCD yang retak, bukan?

    Tuhan peduli dengan kualitas ciptaannya. Ia tidak akan membuat ciptaan yang berpotensi merusak ciptaannya yang lainnya…. “Planet Bumi”… seperti yang kita lihat dewasa ini. Ia tidak akan menciptakan kehidupan hanya untuk diratapi dan ditangisi. Kita tahu … ada yang salah yang sedang terjadi. Kita sudah keluar dari “cetak biru” … rancangan Tuhan yang semula.

    Ini terjadi karena beberapa oknum … manusia pertama Adam dan Hawa, dan seorang malaikat yang belakangan disebut Setan…. menyalahgunakan karunia kebebasan memilih yang telah dikaruniakan Allah. Mereka memilih untuk mengikuti anjuran Setan guna menentukan apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka sendiri. Mereka memilih untuk membuat peraturan, hukum, dan norma moral bagi diri mereka sendiri … dan menolak hak Allah untuk memerintah bagi diri mereka. Ini dilakukan Adam dengan cara memakan buah “terlarang” yang melambangkan hak Allah untuk memerintah — untuk menentukan apa yang baik dan buruk — bagi umat manusia. Dengan melakukan hal ini, mereka sebenarnya sedang mengajukan sebuah sengketa dihadapan Allah yang menyiratkan bahwa “kehidupan umat manusia akan lebih baik tanpa campur tangan Allah”.

    Sebagai seorang Hakim yang memiliki rasa keadilan tertinggi … sengketa yang diajukan keluarga manusia pertama dan Setan tersebut perlu dibuktikan dihadapan semua pribadi cerdas yang ada di alam semesta. Maka manusia diijinkan untuk membuat bagi diri mereka sendiri hukum, peraturan dan norma moral. Mencoba segala macam bentuk pemerintahan dan politik. Sedangkan setan diijinkan selama beberapa waktu untuk “menguasai dunia”…. tepat seperti apa yang ditulis oleh seorang bernama Yohanes pada abad pertama : “Kita tahu bahwa kita berasal dari Allah, tetapi seluruh dunia berada dalam kuasa si fasik.” (Yohanes 1:19). Ini memicu serangkaian tragedi terparah dalam sejarah umat manusia. Karena kehidupan adalah karunia dari Allah, maka Allah berhenti menyuplai keluarga pemberontak Adam dan Hawa beserta keturunannya dengan karunia tersebut … maka sejak saat itu umat manusia mengenal konsep “usia tua & kematian” diantara mereka.

    Apa yang kita lihat sekarang ini di sekitar kita … kejahatan, penderitaan, peperangan, perpecahan, korupsi, kematian … sebenarnya adalah hasil sengketa yang terjadi lebih dari 6000 tahun yang lalu … sekaligus menunjukkan siapa penguasanya saat ini… yaitu Setan. Sekarang adalah masa dimana Setan diberikan waktu untuk membuktikan tuduhannya. Namun kita yakin bahwa ada cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa tuduhan yang dilontarkan Adam & Hawa beserta Setan adalah palsu! Kehidupan manusia sekarang ini tidak lebih baik ketimbang kehidupan “sempurna” yang mereka dapatkan ketika Allah masih memerintah atas dunia ini. Dan Allah, bukanlah pribadi yang bisa selamanya duduk diam melipat tangan menyaksikan segala jenis kefasikan dipraktekkan di muka bumi. Dua pelaku kesalahan Adam dan Hawa … memang sudah mati, Namun masih tersisa Setan dan sejumlah besar manusia dan malaikat yang mengikuti ideologinya. Akan tiba saatnya Allah akan bertindak untuk melaksanakan fonis hukuman kepada mereka … dengan mencabut karunia kehidupan yang Allah berikan kepada mereka.

    Sedangkan manusia yang membuktikan bahwa mereka tidak hidup menurut caranya sendiri … melainkan berupaya hidup menurut cara Allah, akan mendapatkan karunia kehidupan dan kebangkitan (bagi yang telah tidur dalam kematian), guna memperoleh kembali apa yang pernah dihilangkan oleh umat manusia. Firdaus … Sebuah sistem dimana tidak ada peperangan, pertikaian, usia tua, penyakit dan kematian.

    Saya pribadi mendapati bahwa jawaban yang diberikan Alkitab sehubungan tentang pertanyaan semula cukup memuaskan.
    Kita tahu bahwa faktanya memang ada banyak kejahatan dan penderitaan … namun sekarang saya menjadi sadar bahwa Penyebabnya bukanlah Allah.
    Bahkan saya juga sadar bahwa Allah sebenarnya menjadi korban dari tuduhan palsu yang sedang gencar dilontarkan musuhnya.
    Saja juga dibantu untuk mengetahui bahwa kematian bukanlah “ciptaan” atau “kehendak” Allah seperti yang gemar diucapkan banyak orang.

    Sumber : http://www.jw.org/id/publikasi/buku/alkitab-ajarkan/mengapa-allah-membiarkan-penderitaan/

    • Nanti, kalau saya meninggal, dan (andaikan) berjumpa dengan Tuhan, saya akan bertanya langsung. Btw, usia bumi jauh lebih tua dari 6000 tahun. Refleksi yang anda berikan mungkin bisa memberi kepuasan pada orang Kristiani, tetapi tidak pada orang yang berasal dari agama lainnya, ataupun orang yang ateis.

      • benar. saya tidak puas. Penjelasan anda bang reza sebagai umat nasrani cukup sejuk dan tdk terkesan menggurui layaknya org2 nasrani pada umumnya……

        tp dg dicoret nya tuhan dalam penderitaan, saya rasa lebih baik. Kalau tuhan dicoret, maka israel tdk akan perang lawan palestina dan jumlah korban akan berhenti. Siapa yg mau dibela mereka setelah tdk ada nya tuhan…..sudah banyak jatuh korban karena perang agama, maka dari itu sudah sebaiknya tuhan dicoret…..tidak disalahkan atas penderitaan, tapi jg jgn minta pujian atas kebaikan ………

      • saya sepakat dengan intensi anda, tetapi memang kurang sepakat dengan caranya. Agama memang telah disempitkan semata menjadi perintah moral dan kepentingan politik (menggiring massa untuk membela “tuhan”?) yang memisahkan hubungan antar manusia. Agama harus dikembalikan pada hakekatnya yang kaya yang mengajarkan perdamaian dan relasi mistik dengan “yang mutlak”. Itu satu-satunya jalan.

  6. hahahaha..thank tulisannya…kalo kita diskusi tentang kebaikan dan kejahatan, biasanya ngacu ke filsafat abad pertengahan, susah skali memahaminya. maklum indonesia timur jarang buku bacaan bermutu.. ujung2nya kita sering bingung, lalu mencari jawaban dari keyakinan (agama)..padahal lagi bahas filsafat..thanks pak..tulisannya sangat mengasyikkan

    • senang bisa membantu. Agama, jika dipahami secara sempit dan dogmatis, memang seringkali menjadi “alat penghenti proses berpikir”, karena membunuh pertanyaan dan refleksi kritis… agama abad 21 harus berubah, dan justru menjadi bagian dari upaya mencari pemahaman yang lebih dalam melalui pertanyaan etis dan refleksi teologis… ini memang yang kurang di berbagai tempat di dunia…

  7. Kalau anda “percaya” bahwa …”Tuhan Maha Kuasa” sebernarnya hal ini tidak perlu di pertanyakan, hanya manusia “bodoh” yg mempertanyakan hal ini, saya yakin anda pasti tahu betul makna “Maha Kuasa”. Namun ketika “sebaliknya” …hal ini sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali antara tuhan, kejahatan dan penderitaan, jadi dalam hal ini sebenarnya tidak ada yang perlu di bahas lebih jauh. ^__^

    • yah pernyataan maha kuasa itu bertentangan dengan kenyataan yang ada… maaf, saya memang orang bodoh yang masih harus terus belajar.. Kalo anda sudah merasa sampai pada kebenaran.. selamat… semoga anda bahagia

  8. Penderitaan akan selalu ada selama manusia itu eksis. Namun di sini sebagai manusia kita harus tetap terus menerus memperjuangkan kedamaian, meskipun kita sadar bahwa selama manusia masih eksis, kedamaian yang sejati tidak akan pernah tercapai. Di posisi itulah seharusnya manusia berada. Saya rasa orang ateis atau beragama akan setuju dengan hal ini karena memang kesadaran akan hal inilah yang membuat dunia terasa lebih baik. Kerendahan hatilah yang diperlukan untuk menerima posisi ini.
    Tentu hal ini sangat sulit diupayakan. Kita seakan-akan mengupayakan sesuatu yang pasti tidak akan benar-benar terwujud 100% sesuai harapan kita (kedamaian sejati tanpa penderitaan).

    Namun saya melihat bahwa kesadaran akan posisi ini dan perjuangan dalam keabsurd an ini akan lebih terasa mudah bagi orang yang beriman kepada Tuhan.
    Bagi mereka yang percaya Tuhan (dalam hal ini saya melihat dari sisi orang Kristiani, karena saya belum benar-benar mendalami agama yang lain :) ) , iman dan harapan akan janji keselamatan Tuhan bagi seluruh umat manusia di Hari Penghakiman terakhirlah (ketika Tuhan kedua kalinya datang ke bumi) yang akan menguatkan. Manusia sadar bahwa memang kedamaian sejati barulah eksis di hari Penghakiman Terakhir. Hal ini akan terasa begitu menenangkan di tengah upaya memperjuangkan kedamaian dalam kesadaran akan ketidakmungkinan kedamaian sejati selama keeksisan manusia di bumi.

    Bila diizinkan mengutip apa yang dikatakan penulis Matius pada awal Masehi, mengenai gandum dan ilalang pada satu ladang: “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

    Dan akhir kata, saya menerima bila ada yang ingin mengkritisi argumen ini.

    • Saya setuju dengan argumen dasar ini. Tapi konsep Tuhan juga dipahami beda-beda. Kita tidak boleh terlalu silau dengan Kristianitas. Artinya, argumenmu tepat dalam konteks diskusi antara orang Kristiani. INi lebih cocok jadi refleksi iman, dan bukan filsafat.

      • Saya setuju, mungkin ini memang lebih tepat sebagai refleksi iman dan bukan filsafat karena belum melihat seluruhan perspektif yang ada, baru dari satu sudut pandang (sudut Kristianitas). Dan memang banyak yang terbutakan akan iman tanpa nalar sehingga ujung-ujungnya menjudge dan sulit diajak berdiskusi. Hehe.

        Tapi di sini saya sampai pada kesimpulan pada bagaimana cara pandang manusia seharusnya agar bisa berjalan dengan enjoy bersama penderitaan dan kejahatan yang ada. Enjoy yang saya maksud di sini ialah tetap memerangi kejahatan terus menerus (berpegang pada moral), namun tidak menjadi kecewa bila perjuangannnya itu terlihat belum benar-benar tuntas. Untuk mencapai perspektif ini menurut saya yang diperlukan ialah harapan dan iman akan kepastian adanya Kedamaian Sejati yang pasti terealisir (yang akan sulit bila manusia menghapus konsep keeksisan Tuhan). Sebagai manusia, sulit untuk tetap berharap dan selalu berjuang bila kita tidak yakin dan melihat dengan jelas akan akhir yang pasti tercapai.

  9. Saya suka dengan tulisan Bapak tentang tema ini, karena lengkap (ada jawaban, dari teodise klasik), tercantum sumber-sumbernya, dan lebih jelas permasalahan teodisenya (dengan adanya pernyataan Epikuros). Mengingat beberapa tulisan yang saya temukan melalui Google dengan tema ini tidak seperti ini. Terus sharing Pak, dengan format tulisan seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s