Oleh Johannes Supriyono, Antropolog
Penaklukkan itu membawa luka. Membuat orang merasa hina!
“Bu, mungkin ibu bisa membuatkan rumah bangunan untuk saya berteduh. Ibu punya uang untuk itu. Tapi, ‘rumah’ bagi jiwa saya, biarlah saya menemukannya sendiri.” Kalimat itu diungkapkan dengan suara berat, beradu dengan isak tangis, di antara perdebatan penuh lupaan emosi seorang anak perempuan dengan ibunya.
Itu bukan satu-satunya perdebatan yang melibatkan mereka berdua. Dan, setelahnya pun masih terjadi beberapa perdebatan. “Sebagai orang tua, ibu kan ingin anak-anaknya ‘mapan’. Punya pekerjaan yang baik. Rumah yang layak. Setiap bulan menerima gaji. Saat tua nanti dapat pensiun. Seperti keluarga-keluarga yang lain, setelah beberapa tahun bisa membeli mobil. Tidak usah yang terlalu bagus, tapi cukup layak dipandang. Tidak membuat malu. Apakah itu salah? Normalnya orang hidup di masyarakat kan begitu.” Lanjutkan membaca Hasrat akan Penaklukan: Dukkha

Sebuah Bingkisan Istimewa dari Rumah Filsafat
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Johanes Supriyono, Antropolog
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena
Oleh Reza A.A Wattimena