Seni Memimpin di Era Ketidakpastian

ukhypnosis.com

Oleh Reza A.A Wattimena

             Hidup adalah ketidakpastian. Setiap hari adalah ketidakpastian. Apakah hari ini adalah akhir dari hidup kita, tidak ada yang tahu, karena semuanya adalah ketidakpastian. Upaya untuk mencari kepastian justru akan bermuara pada kekecewaan.

Dunia pun sedang berada dalam situasi tidak pasti. Krisis ekonomi menciptakan ketidakpastian dan kecemasan diri. Banyak orang belum mendapatkan pekerjaan yang menunjang hidup dan harga diri. Di belahan dunia lain, seorang teroris membunuh secara membabi buta, tanpa refleksi. Lanjutkan membaca Seni Memimpin di Era Ketidakpastian

Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

marxist.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Haruskah pendidikan tunduk pada dunia kerja? Haruskah pendidikan mengubah kurikulumnya sesuai dengan tuntutan bisnis dan industri semata? Itulah pertanyaan yang mesti kita jawab sekarang.

Sekolah dan perguruan tinggi berlomba mengubah kurikulum, supaya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Berbagai hal praktis yang harusnya bisa dipelajari sendiri juga dimasukan ke dalam kurikulum untuk menarik siswa. Dunia bisnis dan industri pun meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk melakukan ini. Bahkan mereka bersedia melakukan investasi. Lanjutkan membaca Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

Masa Depan dan Nilai-nilai Hidup Kita

aliefmaksum.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tahu soal masa depan? Bagaimana kita bersikap pada apa yang belum pasti di depan? Inilah pertanyaan yang menghantui dunia kita yang semakin banyak tantangan. Ditekan oleh tantangan jaman, kita seringkali berubah menjadi pengecut yang selalu gelagapan.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Banyak orang khawatir akan masa depan hidupnya. Bisnis asuransi masa depan menjamur dan membuat banyak orang terjerat di dalam jaring-jaringnya. Baik sebagai individual warga negara, ataupun sebagai bangsa, kita takut akan masa depan, dan kehilangan pegangan dasar. Lanjutkan membaca Masa Depan dan Nilai-nilai Hidup Kita

“Tuhan dan Uang?”

wordpress.com

Etos Protestantisme dan Lahirnya Kapitalisme Modern

serta Relevansinya untuk Indonesia Abad ke-21

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

In this paper, I want to understand the internal relation between the urge to expand economic capital in contemporary era and the faith in God as it grow in contemporary religion. To achieve this, I will read and interpret the analysis of Max Weber concerning the Protestant ethic and the phenomenon of modern capitalism, give critical remarks to it, and try to understand its relevance for contemporary Indonesian society. As a conclusion, I will argue that to create an economic prosperity, we not only need government policies and incentives, but also an enlightened way of living and understanding our own religion. I will explain further this argument, and how it can be operational in our society.

Kata Kunci: Kapitalisme Modern, Protestantisme, Agama, Asketisme. Lanjutkan membaca “Tuhan dan Uang?”

Buku Negara Paripurna

Oleh B Herry Priyono

Kondisi kritis biasanya ditandai dengan titik liminal. Itu seperti momen berayun antara pekatnya kegelapan dan cemerlangnya terang, antara kesesakan tak tertanggungkan dan kelegaan yang didambakan. Pada momen itu, kematian dan kelahiran kembali bagaikan saudari kembar yang memanggil-manggil dengan suara bersahutan.

Itulah perasaan saya saat membaca buku ini. Ketika pada banyak tikungan peristiwa selama sekian tahun terakhir bau kematian menyesakkan negeri ini, buku Yudi Latif menuliskan kemungkinan kelahiran kembali (renaissance). Renaissans adalah penciptaan ulang dengan kembali ke asal mula: bagaimana menciptakan kembali Indonesia dengan pulang ke momen kelahiran. Itulah pesan yang dibawa buku setebal 694 halaman ini. Lanjutkan membaca Buku Negara Paripurna

Pesona yang Pudar

Oleh YUDI LATIF

Ke manakah gerangan pesona itu, yang dahulu membuat jutaan ibu terbius memilihnya sebagai pemimpin idola? Perkabaran lembaga-lembaga survei seragam menunjukkan tingkat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengalami terjun bebas. Lebih dari itu, tanda-tanda redupnya pendar wibawa sang Presiden terlihat dalam peringatan hari lahir ke-85 Nahdlatul Ulama pada 17 Juli lalu. Media massa melaporkan, dari sekitar 130.000 hadirin yang memadati Stadion Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, deretan kursi pun hampir kosong saat Presiden berpidato. Lanjutkan membaca Pesona yang Pudar

Universitas Kerakyatan

http://www.bized.co.uk
Oleh Agus Suwignyo
Berbeda dengan universitas di Eropa yang kelahirannya bersifat top-down dan cenderung elitis, universitas yang dikelola pemerintah di Indonesia lahir dari penderitaan dan perjuangan rakyat. Sayangnya, perkembangan universitas negeri di Indonesia hari demi hari kian menjauh dari kalbu kerakyatan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai amanah hakiki keberadaannya.

Universitas di Eropa mewarisi tradisi universitas Katolik yang lahir dari jantung Gereja. Universitas didirikan karena inisiatif hierarkis demi kemaslahatan bersama warga dan mencerminkan pandangan teologis ”Allah yang turun ke bumi”. Maka, tak jarang universitas merupakan hadiah raja kepada rakyat dengan misi menghadirkan suar kebenaran (gaudium de veritate) melalui pendidikan dan penelitian. Lanjutkan membaca Universitas Kerakyatan

Paradoks

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah pilihan. Kita diminta untuk memilih kiri atau kanan. Keduanya ekstrem yang seolah tak terdamaikan. Seolah memilih yang satu berarti otomatis menolak yang lain. Itu tetap hanya keseolahan.

Faktanya keduanya saling membutuhkan. Yang satu membutuhkan yang lain untuk bisa bertahan. Walaupun berbeda dan saling membenci, segala ekstrem di dalam hidup saling membutuhkan dan mengandaikan. Inilah paradoks sejati kehidupan.

Apa implikasinya untuk hidup kita? Lanjutkan membaca Paradoks

Buku Filsafat Baru: Filsafat Kata

evolitera.co.id

Filsafat tak dapat lepas dari kata. Di dalam berpikir dan membangun konsep yang jelas dan kritis, orang senantiasa berpelukan dengan kata. Di dalam menulis dan menyebarkan pemikiran, orang bergandengan tangan dengan kata. Aku berkata-kata maka aku ada.Di dalam buku ini, penulis akan mengajak anda untuk merenungkan tentang makna kata, dan kaitannya dengan konteks yang lebih luas, entah dengan politik, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu judul-judul tulisan ini hanya menggunakan satu kata, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak seperti buku-buku filsafat lainnya, buku ini menggunakan bahasa yang sederhana. Tuturnya sedapat mungkin sederhana, tanpa mengurangi kedalamannya.

evolitera.co.id

Publisher: Evolitera

Writer: Reza A.A Wattimena

Number of Pages: 396

Language: Indonesia

Release Date: 07/15/2011

ISBN: 978-602-9097-13-9

Silahkan dapatkan di

Filsafat-kata, Final

Atau

Evolitera

Dapatkan bukunya!

Tuhan dan Uang Part. 3

marxist.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti sudah sedikit dijelaskan sebelumnya, kapitalisme sendiri bukanlah hal baru di dalam sejarah.[1] Isi dari paham kapitalisme adalah pengembangan modal pada dirinya sendiri, sehingga pemiliknya bisa semakin makmur. Dalam arti ini kapitalisme bisa dipahami sebagai “orientasi regular untuk pengembangan keuntungan melalui pertukaran ekonomis yang damai.”[2] Praktek semacam ini sudah ada selama berabad-abad, mulai dari peradaban Babilonia, Mesir kuno, China, India, dan bahkan Eropa pra-Kristiani. Sementara kapitalisme modern sendiri memiliki ciri khas, yakni penerapan pembagian kerja rasional yang terukur, rutin, dan terorganisir dengan detil di dalam sebuah perusahaan (kelompok) yang berkelanjutan. Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang Part. 3

Agama dan Demokrasi

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia adalah bangsa “pecinta” agama. Hampir semua agama memperoleh pengikutnya disini. Bangsa kita mirip supermarket spiritual, dimana semua bentuk agama dan kepercayaan bertebaran, serta orang bisa memilih sekehendak hatinya. Konsumen utama  agama adalah adalah jiwa-jiwa manusia, dan ketika jiwa seseorang dikuasai, segala yang ada di dalam dirinya pun turut serta.

Orang yang beragama memiliki mental tertentu. Mental ini terwujud di dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Kata-kata dan tindakannya lahir dari penghayatan mentalitas semacam ini. Di dalam proses untuk menjadi negara demokratis, apakah mentalitas agama semacam ini cocok dengan mentalitas demokrasi yang ingin kita hayati? Lanjutkan membaca Agama dan Demokrasi

Calo

lidahibu.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kehadirannya dibenci tetapi juga dirindukan. Orang mencari dan menistanya secara bersamaan. Kutuk dilontarkan. Namun ia tetap ada, karena masyarakat seolah tetap “membutuhkan”. Itulah calo.

Ketika sibuk dengan pekerjaan, orang mencari calo untuk membantu mengurus SIM (Surat Ijin Mengemudi) mereka. Ketika tak mau pusing mengantri di pengadilan, orang mencari calo untuk bersidang mewakili mereka. Bahkan para politisi yang tak mau kotor bermanuver mencari pendukung di akar rumput menggunakan calo untuk memperbesar kuasa. Lanjutkan membaca Calo

Sekolah untuk Apa?

blogspot.com

Oleh Rhenald Kasali

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Lanjutkan membaca Sekolah untuk Apa?

Tuhan dan Uang Part. 2

flickr.com

Etos Protestanisme dan Semangat Kapitalisme

Oleh Reza A.A Wattimena

            Menurut Allen buku Weber yang menjadi kajian utama tulisan ini, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, adalah karya terbaiknya.[1] Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab di dalam buku ini adalah, mengapa kapitalisme lahir di Eropa, dan bukan di Asia, atau belahan dunia lainnya? Jawaban Weber cukup jelas, karena adanya agama yang khas Eropa, tepatnya agama Kristen Protestan. Seperti ditegaskan oleh Allen, dengan bukunya tersebut, Max Weber mengubah fokus analisis teori-teori sosial dari pendekatan evolusionis (melihat tingkat perkembangan masyarakat yang bersifat universal dengan Eropa sebagai acuannya) menuju pendekatan perbandingan (comparative approach).[2] Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang Part. 2

Bastiat

Senin, 04 Juli 2011

Leviathan

Oleh Goenawan Mohamad

Seorang “neo-liberal” adalah orang yang jengkel kepada “Negara”. Tapi ada seorang pendahulunya yang tak jengkel, malah kocak: Frédéric Bastiat, orang Prancis di abad ke-19. Ia mempersamakan Negara dengan tokoh Figaro yang harus mendengarkan tuntutan dari delapan penjuru angin:

“Aturlah buruh dan pekerjaan mereka!”

“Habisi egoisme!”

“Lawan kekurangajaran dan tirani modal!”

“Bikin eksperimen dengan tahi sapi dan telur!”

“Bentangkan jalan kereta api di pedusunan!”

“Tanam pohon di pegunungan!”

“Jadikan Aljazair koloni kita!”

“Setarakan laba usaha industri!”

“Pinjamkan uang tanpa bunga kepada yang perlu!”

“Perbaiki keturunan kuda tunggangan!”

“Hidupkan seni, latih musisi dan penari!”

“Temukan kebenaran dan ketok kepala kami agar berpikir!” Lanjutkan membaca Bastiat

Revitalisasi Negara

Kompas, 4 Juli 2011

ikiwq.com

Oleh Eko Prasojo

Membaca tulisan dan kritik berbagai kalangan akhir-akhir ini seakan merasakan kuatnya dorongan perubahan menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemerintah mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, sedangkan sejumlah kalangan berpendapat bahwa perkembangan sektor riil semakin jauh dari harapan masyarakat. Pada sisi lain, keadaan politik semakin tidak menentu, oportunisme di kalangan politisi semakin tinggi dengan fenomena perpindahan partai, kinerja dewan, baik di pusat maupun di daerah, dikritisi tidak optimal. Sedangkan korupsi hampir dapat dipastikan semakin terinternalisasi menjadi budaya yang kokoh, baik di birokrasi, politik, maupun peradilan. Lanjutkan membaca Revitalisasi Negara

Cara Berpikir Kita

forbes.com

Oleh Reza A.A Wattimena

            Bagaimana mungkin seorang hakim ditangkap (Kompas, 2 Juli 2011)? Bukankah ia sosok tertinggi penjaga hukum (dan keadilan) di suatu masyarakat? Bagaimana mungkin sosok tertinggi penegak hukum justru menjadi pelanggar hukum? Bukankah dampak moral dan sosialnya akan lebih parah untuk masyarakat kita? Pasti ada yang salah dengan cara berpikirnya.

Peristiwa di Desa Gadel masih menjadi perhatian saya. Bagaimana mungkin institusi pendidikan (sekolah) meminta siswanya menyontek? Bukankah tindakan itu jelas bertentangan dengan alasan keberadaan institusi pendidikan itu sendiri? Sekali lagi; ada yang salah dengan cara berpikirnya. Lanjutkan membaca Cara Berpikir Kita

Politikus di Zaman Edan

Oleh Daoed Joesoef
onscreenchemistry.com

Setelah angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh- tokoh negeri Afrika Timur itu— yang telah membantu kemenangan—diundang Benito Mussolini naik ke pesawat terbang. Mereka menerima undangan itu karena menganggapnya sebagai bukti penghargaan atas jasa mereka bagi kejayaan Italia.

Setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang ke luar pesawat tanpa parasut. Atas pertanyaan para jenderalnya, mengapa Generalisimo berbuat demikian, sang diktator fasis menjawab, ”Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia. Sekali orang berjiwa pengkhianat, dia akan terus menjadi pengkhianat seumur hidupnya.” Lanjutkan membaca Politikus di Zaman Edan

Berpikir

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Untuk hidup orang perlu berpikir. Setiap saat setiap waktu, orang berpikir. Perilaku lahir dari proses berpikir. Aku berpikir maka aku ada, begitu diktum Descartes yang tetap relevan sampai sekarang.

Bahkan untuk merasa orang perlu berpikir. Tidak ada pemisahan tegas antara perasaan dan pikiran. Proses emosional terbentuk dari campuran antara pikiran dan perasaan.

Tindakan juga lahir dari pikiran. Proses pertimbangan pikiran melahirkan keputusan. Dan dengan keputusan hidupnya, manusia mengubah dunia. Tak ada yang lebih penting daripada membentuk cara berpikir. Disitulah filsafat berperan. Lanjutkan membaca Berpikir

Extension Course Filsafat: Tuhan dan Uang