Pesona yang Pudar

Oleh YUDI LATIF

Ke manakah gerangan pesona itu, yang dahulu membuat jutaan ibu terbius memilihnya sebagai pemimpin idola? Perkabaran lembaga-lembaga survei seragam menunjukkan tingkat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengalami terjun bebas. Lebih dari itu, tanda-tanda redupnya pendar wibawa sang Presiden terlihat dalam peringatan hari lahir ke-85 Nahdlatul Ulama pada 17 Juli lalu. Media massa melaporkan, dari sekitar 130.000 hadirin yang memadati Stadion Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, deretan kursi pun hampir kosong saat Presiden berpidato.

Berbagai dalih diajukan, mulai alasan kepanasan hingga kejenuhan hadirin dalam menanti. Tetap saja tak bisa menampik kenyataan bahwa hadirin tidak lagi bersabar bertukar (trade-off) ”penantian” dengan ”idaman”; tak lagi rela berkorban peluh demi sesuatu yang telah pudar pamornya.

Susutnya aura karisma sang Presiden menandakan terputusnya hubungan kebatinan antara pemimpin dan kesadaran kolektif warganya. Sikap kejiwaan Presiden lebih asyik masyuk dengan urusan mematut-matut diri, tanpa kepekaan meraba getaran, harapan, dan kekecewaan yang bergelora dalam jiwa rakyatnya.

Presiden tak hadir saat harga-harga melambung; Presiden tak hadir saat Ruyati dipancung; Presiden tak hadir saat Prita Mulyasari menjadi mainan penegak hukum; Presiden tak hadir saat minoritas keagamaan terpasung; Presiden tak hadir saat partainya menjadi bungker para koruptor; Presiden tak hadir saat kader partainya diduga menjadi manipulator hasil pemilu; Presiden tak hadir saat jutaan rakyat menanti keberadaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang berpihak kepada keadilan dan kesejahteraan sosial.

”Ketidakhadiran” Presiden dalam kesadaran publik itu tak bisa lagi diselamatkan oleh manajemen kesan. Pengelolaan ”pepesan kosong” pencitraan tanpa pasokan isi ini telah melahirkan arus balik ketidakpercayaan publik yang dapat berujung pada pembangkangan publik. Tanda-tanda ke arah itu mulai terlihat. Sebagian besar instruksi Presiden tak dijalankan, bahkan oleh para pembantunya. Ekspresi sarkastik yang menyatakan penolakan terhadap kehadiran Presiden juga muncul dalam berbagai spanduk di beberapa tempat.

Memulihkan kewibawaan Presiden ke titik bulan madu jelas bak pungguk merindukan bulan. Namun, setidaknya Presiden bisa mengakhiri masa jabatannya secara terhormat.

Tes terakhir dari seorang pemimpin adalah meninggalkan kepercayaan bagi orang lain. Oleh karena itu, aib terbesar seorang pemimpin adalah berbohong dan korup.

Montesquieu mengingatkan, ”Korupsi setiap pemerintahan selalu dimulai dengan korupsi terhadap prinsip dan aturan permainan.” Kebohongan menampakkan diri pertama kali ketika prinsip dan aturan permainan dimanipulasi demi kepentingan politik. Ketika data pemilih dan hasil suara dimainkan oleh Komisi Pemilihan Umum serta ketika sumber pembiayaan pemilihan diambil secara ”haram”, di titik itulah negara mulai ditopang dengan pilar kebohongan dan korup.

”Semakin korup suatu republik,” ujar Tacitus, ”semakin banyak hukum/institusi dibuat.” Berbilang undang-undang dibuat untuk melegalkan kepentingan ”penyusup” atau sekadar untuk dilanggar serta berbilang komisi dan satgas dibentuk sekadar untuk berbagi-bagi komisi (rente) dan menutupi korupsi.

Dengan kebohongan dan korupsi sebagai pilar utama negara, setiap usaha memperjuangkan pemerintahan yang bersih serta transparan dan akuntabilitas publik seperti menegakkan benang basah. Kehidupan publik tidak memiliki landasan untuk bisa saling percaya. Di republik bohong dan korup, persahabatan madani sejati hancur. Setiap warga berlomba mengkhianati negeri dan temannya; rasa saling percaya lenyap karena sumpah dan keimanan disalahgunakan; hukum dan institusi lumpuh tak mampu meredam penyalahgunaan kekuasaan. Ketamakan dan hasrat meraih kehormatan rendah merajalela. Akhirnya timbul kematian dan pengasingan: kebaikan dimusuhi, kejahatan diagungkan. Krisis multidimensi membayangi kehidupan negeri.

Jejak terakhir seorang pemimpin juga ditentukan oleh kesediaan orang lain untuk memikul tanggung jawab. Untuk itu, pemimpin perlu menunjukkan satunya kata dan perbuatan serta keberanian untuk melaksanakan apa yang benar menurut keyakinannya. Meminjam ungkapan Paul Keating, mantan Perdana Menteri Australia, ”Leadership is not about being nice. It’s about being right and being strong.”

Kehormatan itu bukanlah kedudukan, melainkan bagaimana cara orang meraih dan mengisi kedudukan. Menjadi pemimpin terhormat tidak bisa menempuh jalan pintas dengan menghalalkan segala cara; tidak pula menjadikan kedudukan sekadar kelengkapan karier pribadi. Bung Hatta pernah mengingatkan, untuk negeri seluas Indonesia, diperlukan mentalitas pemimpin yang luas, yang lebih mengedepankan keragaman kepentingan umum ketimbang kepentingan citra pribadi.

Setiap pemimpin adalah penanda sejarah dan setiap pemimpin harus memastikan bahwa jejak yang dia torehkan menandai gerak maju, bukan gerak mundur. Oleh karena itu, terus majulah sekiranya membawa kemajuan dan jangan ragu mundur sekiranya membawa kemunduran!

Yudi Latif Pemikir Keagamaan dan Kenegaraan

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

3 tanggapan untuk “Pesona yang Pudar”

  1. harimau mati meningalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nyawa,
    binatang alias hewan punya peninggalan yang beharga dibalik jasad yang hangus, hancur ditelan maut…… nama untuk seorang manusia tidak punya nilai apa – apa…. tapi kenapa jika ia mati harus meninggalkan nama???? ” akal budi ” inilah alasan dimana spesies binatang ini dibedakan dan di istimewakan daripada binatang lain yang diberi nama manusia!!! setiap akal budi punya nama yang di hormati, disegani, dikenang,, disanjung, dijunjung….setinggi – tingginya!!! entah mengapa ada akal budi seperti ini tak berTuan??? mungkin benar Tuanya kurang akrab denganya, atau Tuanya lupa,, bisa saja Tuanya enggan berteman denganya…….

    Suka

  2. Semakin kesini…ada rasa malu juga mengakui kewarga negaraan kita, karena sekarang negara2 lain tak memandang sebelah mata…
    Negara sekecil malaysia pun, telah menginjak2 harga diri bangsa Indonesia, karena apa ? tak ada sesuatu yang bisa dibanggakan di negara ini
    Indonesia ibarat nasi tumpeng yang dibuat ‘ rayahan ‘ , morat marit dalam hal apapun, korup disana-sini, setiap ‘kepala’ korupsi sekian trilyun…
    Yang pasti Indonesia menuju kehancuran…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s