Tuhan dan Uang Part. 3

marxist.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti sudah sedikit dijelaskan sebelumnya, kapitalisme sendiri bukanlah hal baru di dalam sejarah.[1] Isi dari paham kapitalisme adalah pengembangan modal pada dirinya sendiri, sehingga pemiliknya bisa semakin makmur. Dalam arti ini kapitalisme bisa dipahami sebagai “orientasi regular untuk pengembangan keuntungan melalui pertukaran ekonomis yang damai.”[2] Praktek semacam ini sudah ada selama berabad-abad, mulai dari peradaban Babilonia, Mesir kuno, China, India, dan bahkan Eropa pra-Kristiani. Sementara kapitalisme modern sendiri memiliki ciri khas, yakni penerapan pembagian kerja rasional yang terukur, rutin, dan terorganisir dengan detil di dalam sebuah perusahaan (kelompok) yang berkelanjutan.

Setiap perusahan di dalam kapitalisme modern menerapkan model-model manajerial semacam ini; tenaga kerja yang profesional dan disiplin, serta pengembangan modal melalui investasi yang berkelanjutan. Inilah  menurut Weber –sebagaimana dibaca oleh Giddens- yang tidak ada di dalam aktivitas ekonomi tradisional. Di dalam praktek ekonomi tradisional, keuntungan yang diperoleh dari usaha digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sementara di dalam praktek kapitalisme modern, keuntungan ditanamkan ke bidang-bidang lainnya yang bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Yang terjadi adalah pengumpulan kekayaan demi kekayaan itu sendiri. “Manusia didominasi oleh nafsu untuk mencari uang, sebagai tujuan tertinggi dalam hidupnya.”[3] Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa tujuan hidup manusia bukan lagi kepuasan material melalui barang-barang, tetapi justru di dalam pengembangan modal tanpa batas yang ia punya; modal dikejar dan dikembangkan demi dirinya sendiri. Inilah yang menjadi esensi dari semangat kapitalisme modern.

Proses pengembangan modal demi dirinya sendiri tanpa batas membutuhkan disiplin diri tertentu. Disiplin hidup semacam ini nantinya berkembang menjadi gaya hidup baru yang tidak pernah ada sebelumnya di dalam sejarah. Gaya hidup baru itu disebutnya sebagai asketisme duniawi puritanistik. Inti dasarnya begini. Setiap orang di dunia ini memiliki kewajiban tertinggi yang harus dipenuhi, yakni mengerjakan sebaik-baiknya urusan-urusan sehari-harinya di dalam dunia. Bagi Weber ini tentu saja bertentangan dengan ajaran Katolik yang melihat tugas manusia untuk mencapai kesucian di dalam biara. Tujuan hidup manusia di dalam ajaran Katolik adalah melampaui diri duniawinya sendiri, dan mendekatkan diri pada Tuhan. Oleh karena itu kapitalisme modern lahir di dalam etos Protestanisme, dan bukan di dalam etos Katolik.[4]

Seperti dijelaskan sebelumnya Weber juga menganalisis kaitan antara Kalvinisme dengan lahirnya semangat kapitalisme. Konsep utama yang menjadi bahan analisisnya adalah konsep predestinasi. Isinya adalah bahwa ada beberapa manusia yang telah dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Ajaran ini nantinya ditafsirkan sebagai pernyataan, bahwa setiap orang perlu untuk membuat dirinya layaknya dipilih oleh Tuhan. Jika ia tidak berusaha, maka itu merupakan tanda, bahwa imannya lemah. Caranya berusaha adalah dengan menjadi orang yang berhasil di dalam kehidupan dunia sehari-hari. Maka sukses dalam pekerjaan dapat menjadi tanda, bahwa orang terpilih oleh Tuhan untuk diselamatkan. Orang boleh mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyak nya, sejauh ia tetap hidup sederhana, tidak bermewah-mewah, serta tidak mengumbar hasrat kenikmatannya.[5]

Inilah yang menjadi daya dorong dibalik kapitalisme modern. Pengaruhnya amat luas mulai dari kelompok menengah atas, sampai kelompok ekonomi rendah. Pengaruhnya juga memasuki berbagai profesi di masyarakat, seperti pegawai negeri, penjaga kasir, pekerja administratif, tukang bangunan, guru, dan beragam profesi lainnya. Dapatlah disimpulkan bahwa dasar dari kapitalisme modern adalah spiritualitas Protestanisme yang amat menekankan pengendalian diri, kesederhanaan, keberhasilan dalam kerja, serta keinginan untuk menjadi suci di dalam kehidupan sehari-hari. Spiritualitas semacam ini menyebar ke berbagai kelas sosial masyarakat di Eropa, dan menjadi bahan bakar yang amat efektif bagi lahir dan berkembangnya kapitalisme modern, bahkan sampai sekarang ini.

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya


[1] Untuk bagian ini saya mengacu pada uraian Giddens, Anthony, The Protestant Ethic…., hal. xi-xiii.

[2] Ibid. hal. xi

[3] Weber, Max, Protestan Ethic…., hal. 18, sebagaimana dikutip Giddens dalam bagian pendahuluan hal. xi.

[4] Giddens, Anthony, The Protestant Ethic…., hal. xi.

[5] Ibid, hal. xii

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Tuhan dan Uang Part. 3”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.