Kepemimpinan, Keputusan, dan Kejernihan Jiwa

business-strategy-innovation.com

Oleh Reza A.A Wattimena

            Setiap hari kita diminta membuat keputusan. Mulai dari hal kecil, seperti belok kiri atau kanan, sampai hal besar, seperti akan menikah atau tidak, jika ya lalu dengan siapa, kita diminta untuk memutuskan. Kadang banyak hambatan seperti tak cukup waktu, tak cukup data, tak cukup pengetahuan, dan sebagainya. Namun keputusan tetap harus dibuat.

Di dalam membuat keputusan, orang perlu memperhatikan jiwanya. Aspek material seperti sumber daya uang ataupun barang tetap perlu diperhatikan. Namun yang tak kalah penting adalah perhatian pada aspek gerak jiwa, terutama gerak jiwa para pemegang keputusan. Inilah yang sekarang ini kerap terlupakan. Lanjutkan membaca Kepemimpinan, Keputusan, dan Kejernihan Jiwa

Buku Baru: Etika Komunikasi Politik

Buku ini adalah ajakan untuk membangun komunikasi politik yang berkualitas, sehingga mampu membangun kehidupan bersama yang cerdas, sejahtera, berdasarkan pada kemerdekaan dan perdamaian abadi. Saya menulis satu artikel di dalam buku ini. Editor buku ini adalah mantan kolega saya di Universitas Atma Jaya, Jakarta, yakni Prof. Alois Agus Nugroho. Buku ini bisa didapatkan di Pusat Pengembangan Etika, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

ISBN: 978-602-8904-07-0

Merawat Kepemimpinan

wholenewconcepts.com

Oleh Reza Wattimena

Saya membayangkan ada yang disebut sebagai “tanah” kepemimpinan. Di dalam “tanah” imajiner ini, ada semua zat yang diperlukan, supaya muncul para pemimpin yang berkualitas, yang siap membawa bangsa Indonesia keluar dari berbagai persoalan. Zat-zat tersebut adalah nilai-nilai dasar kepemimpinan yang menjadi bagian integral dari kultur masyarakat, sikap fleksibel birokrasi, dan sikap terbuka dari komunitas sekitar. Lanjutkan membaca Merawat Kepemimpinan

Kemerdekaan Ekonomi?

yea.com.jo

Oleh Kwik Kian Gie

Faktor sangat penting yang membakar semangat para pejuang kemerdekaan kita ialah bahwa kemerdekaan politik merupakan jembatan emas menuju kemakmuran yang berkeadilan dan kesejahteraan rakyat.

Dua hari lagi bangsa Indonesia 66 tahun merdeka secara politik. Sebelum Indonesia dijajah, kemerdekaan politik sudah ada dengan kekuasaan di tangan para raja dan sultan. Namun, begitu VOC datang, banyak sekali raja dan sultan yang menjual kekayaan ekonomi beserta rakyatnya—yang diperlakukan bagaikan budak—kepada VOC. Lanjutkan membaca Kemerdekaan Ekonomi?

Kemerdekaan Pikiran

freedomideas.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah 60 tahun lebih, bangsa ini merdeka. Namun secara politik dan ekonomi, bangsa ini sama sekali belum merdeka. Korupsi menggerogoti sistem politik yang ada. Ekonomi dikuasai oleh segelintir orang yang rakus kuasa dan harta. Keadilan sosial masih jauh dari nyata.

Ini semua terjadi karena bangsa kita masih terjajah dalam soal cara berpikir. Banyak orang hidup dengan sikap patuh buta pada ajaran moral tradisional yang tak lagi relevan. Banyak pula orang hidup dijajah oleh sikap rakus dirinya sendiri yang tak mempertimbangkan situasi. Yang sungguh kita butuhkan sekarang ini bukan hanya kemerdekaan politik, namun juga kemerdekaan cara berpikir. Lanjutkan membaca Kemerdekaan Pikiran

Janji Kemerdekaan

blogspot.com

Oleh Anies Baswedan

Kibarannya membanggakan. Merah-Putih berkibar gagah di tiang bambu depan rumah batu. Rumah sepetak kecil, alasnya tanah, dan atapnya genteng berlumut. Berlokasi di tepi rel kereta tak jauh dari Stasiun Jatibarang, rumah batu itu polos tanpa polesan material mewah.

Pemiliknya jelas masih miskin. Namun, dia pasang tinggi bendera kebanggaannya. Seakan dia kirim pesan bagi ribuan penumpang kereta yang tiap hari lewat di depan rumahnya: Kami juga pemilik sah republik ini. Kami percaya di bawah bendera ini kami juga akan sejahtera! Lanjutkan membaca Janji Kemerdekaan

Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia

us.123rf.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Satya (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pimpinan perusahaan. Ia dipercaya menjadi CEO (Chief Executive Officer) di salah satu perusahaan berskala nasional di Jakarta. Ia amat menguasai core business perusahaannya. Namun sayangnya banyak orang, termasuk kolega maupun bawahannya di perusahaan, tidak mempercayainya.

Ketika Satya ada mereka tampak ramah dan bersahabat. Namun ketika ia pergi, mereka berbicara di belakang tentang kejelekan-kejelekannya. Bagi mayoritas anak buah dan kolega di perusahaan yang ia pimpin, Satya adalah pimpinan yang otoriter, tidak ramah, dan arogan. Hmm.. pola semacam ini banyak terjadi di berbagai organisasi di Indonesia. Apakah di tempat anda terjadi hal semacam ini?   Lanjutkan membaca Mengurai “Bahasa” Kepemimpinan untuk Indonesia

Intinya, Memanusiakan Manusia

kompas.com

Nama Jokowi—nama populer Joko Widodo—tidak melulu dikenal sebagai Wali Kota Solo. Namanya dikenal di belahan negeri ini yang gersang akan pemimpin yang dicintai rakyatnya. Bersama wakilnya, FX Hadi Rudyatmo, Jokowi berhasil membangun Solo sebagai sebuah kota yang memanusiakan manusia.

Sementara pedagang kaki lima di kota lain dikejar-kejar petugas ketertiban kota, di Solo mendapat tempat layak untuk berusaha. Jokowi juga menata kota untuk kehidupan warganya yang lebih baik, termasuk menyediakan transportasi massal.

Kepemimpinan yang prorakyat, disertai dengan tindakan bersih, jujur, dan antikorupsi dirindukan negeri ini. Setidaknya hal itu ditandai dengan jumlah penanya di rubrik Kompas Kita yang lebih banyak mengharapkan Jokowi maju menjadi pemimpin lebih tinggi lagi. Lanjutkan membaca Intinya, Memanusiakan Manusia

Berani Menjadi Indonesia

Oleh YUDI LATIF

globalfirepower.com

Keterpurukan bangsa ini bermula dari ketidakberanian para pemimpin politik untuk menjadi Indonesia. Kemajuan kerap didefinisikan sebagai pencarian keluar. Berbeda dengan pernyataan sastrawan Meksiko, Octavio Paz, yang mendefinisikan modernitas sebagai pencarian ke dalam.

Jawaban tidaklah hadir dari pergulatan mendalam atas kenyataan yang hidup di Tanah Air sendiri, tetapi sekadar memungut resep dari luar yang diterapkan paksa tanpa penyesuaian dengan sistem pencernaan sosial-budaya. Akibatnya, kemajuan berarti peminggiran jati diri bangsa sendiri. Suatu proses alienasi yang melahirkan mentalitas pecundang. Lanjutkan membaca Berani Menjadi Indonesia

Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

pixzii.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Tujuan tertinggi hidup manusia adalah mencapai kebijaksanaan. Di dalam kebijaksanaan orang juga bisa mendapatkan kebahagiaan. Namun perlu diingat bahwa satu-satunya jalan mencapai kebijaksanaan dan kebahagiaan adalah dengan belajar seumur hidup, tanpa kenal lelah. Orang perlu menjadi mahluk pembelajar, supaya ia bisa mencecap kebahagiaan dan kebijaksanaan di dalam hidupnya.

Namun belajar pun ada banyak macamnya. Yang seringkali kita temukan adalah pola belajar menghafal, lalu menuangkan semua yang ada ke dalam ujian yang ada. Banyak ahli pendidikan yang sudah mengritik habis pola ini, namun percuma, karena pola itu tetap berjalan. Pola belajar semacam ini tidak hanya sia-sia, tetapi justru memperbodoh, dan membuat peserta didik menjadi robot-robot yang miskin kreativitas. Lanjutkan membaca Pendidikan Reflektif untuk Indonesia

Putra Mahkota

Oleh Komaruddin Hidayat

http://www.funkymonkeybedrooms.co.uk

Alkisah, hidup seorang raja kaya raya dan dicintai rakyat, tetapi sudah mulai uzur sehingga harus menyerahkan takhta kerajaan kepada calon putra mahkotanya. Namun, raja ragu. Benarkah putranya sudah siap menerima tugas berat dan mulia itu?

Untuk menepis keraguan itu, Sang Raja ingin menguji putranya apakah layak dipercaya untuk memikul beban yang begitu berat sebagai calon penggantinya. Maka dipanggillah dia, dinasihati dan diberi tahu bahwa takhta kerajaan ini akan segera dilimpahkan kepadanya. Namun, sebelum itu, Sang Raja menyuruh putranya bersemadi dan tinggal di hutan setahun. Lanjutkan membaca Putra Mahkota

Kebakhilan

flckr.com

Oleh Goenawan Mohamad

Ia tak gila. Atau ia bagian dari patologi yang tak tersendiri. Anders Behring Breivik, memakai seragam polisi, membidik dengan tepat anak-anak muda yang sedang berkemah di Pulau Utoeya. Sebanyak 68 orang terbunuh di pulau di Danau Tyrifjorden, 38 kilometer dari Oslo, itu pekan lalu. Delapan lain mati karena ledakan bom. Breivik ditangkap. Pengacaranya membelanya dengan mengatakan: orang ini sakit jiwa. Lanjutkan membaca Kebakhilan

Seni Memimpin di Era Ketidakpastian

ukhypnosis.com

Oleh Reza A.A Wattimena

             Hidup adalah ketidakpastian. Setiap hari adalah ketidakpastian. Apakah hari ini adalah akhir dari hidup kita, tidak ada yang tahu, karena semuanya adalah ketidakpastian. Upaya untuk mencari kepastian justru akan bermuara pada kekecewaan.

Dunia pun sedang berada dalam situasi tidak pasti. Krisis ekonomi menciptakan ketidakpastian dan kecemasan diri. Banyak orang belum mendapatkan pekerjaan yang menunjang hidup dan harga diri. Di belahan dunia lain, seorang teroris membunuh secara membabi buta, tanpa refleksi. Lanjutkan membaca Seni Memimpin di Era Ketidakpastian

Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

marxist.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Haruskah pendidikan tunduk pada dunia kerja? Haruskah pendidikan mengubah kurikulumnya sesuai dengan tuntutan bisnis dan industri semata? Itulah pertanyaan yang mesti kita jawab sekarang.

Sekolah dan perguruan tinggi berlomba mengubah kurikulum, supaya sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Berbagai hal praktis yang harusnya bisa dipelajari sendiri juga dimasukan ke dalam kurikulum untuk menarik siswa. Dunia bisnis dan industri pun meminta sekolah dan perguruan tinggi untuk melakukan ini. Bahkan mereka bersedia melakukan investasi. Lanjutkan membaca Apakah Institusi Pendidikan adalah “Budak” dari Bisnis dan Industri?

Masa Depan dan Nilai-nilai Hidup Kita

aliefmaksum.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Siapa yang tahu soal masa depan? Bagaimana kita bersikap pada apa yang belum pasti di depan? Inilah pertanyaan yang menghantui dunia kita yang semakin banyak tantangan. Ditekan oleh tantangan jaman, kita seringkali berubah menjadi pengecut yang selalu gelagapan.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Banyak orang khawatir akan masa depan hidupnya. Bisnis asuransi masa depan menjamur dan membuat banyak orang terjerat di dalam jaring-jaringnya. Baik sebagai individual warga negara, ataupun sebagai bangsa, kita takut akan masa depan, dan kehilangan pegangan dasar. Lanjutkan membaca Masa Depan dan Nilai-nilai Hidup Kita

“Tuhan dan Uang?”

wordpress.com

Etos Protestantisme dan Lahirnya Kapitalisme Modern

serta Relevansinya untuk Indonesia Abad ke-21

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

In this paper, I want to understand the internal relation between the urge to expand economic capital in contemporary era and the faith in God as it grow in contemporary religion. To achieve this, I will read and interpret the analysis of Max Weber concerning the Protestant ethic and the phenomenon of modern capitalism, give critical remarks to it, and try to understand its relevance for contemporary Indonesian society. As a conclusion, I will argue that to create an economic prosperity, we not only need government policies and incentives, but also an enlightened way of living and understanding our own religion. I will explain further this argument, and how it can be operational in our society.

Kata Kunci: Kapitalisme Modern, Protestantisme, Agama, Asketisme. Lanjutkan membaca “Tuhan dan Uang?”

Buku Negara Paripurna

Oleh B Herry Priyono

Kondisi kritis biasanya ditandai dengan titik liminal. Itu seperti momen berayun antara pekatnya kegelapan dan cemerlangnya terang, antara kesesakan tak tertanggungkan dan kelegaan yang didambakan. Pada momen itu, kematian dan kelahiran kembali bagaikan saudari kembar yang memanggil-manggil dengan suara bersahutan.

Itulah perasaan saya saat membaca buku ini. Ketika pada banyak tikungan peristiwa selama sekian tahun terakhir bau kematian menyesakkan negeri ini, buku Yudi Latif menuliskan kemungkinan kelahiran kembali (renaissance). Renaissans adalah penciptaan ulang dengan kembali ke asal mula: bagaimana menciptakan kembali Indonesia dengan pulang ke momen kelahiran. Itulah pesan yang dibawa buku setebal 694 halaman ini. Lanjutkan membaca Buku Negara Paripurna

Pesona yang Pudar

Oleh YUDI LATIF

Ke manakah gerangan pesona itu, yang dahulu membuat jutaan ibu terbius memilihnya sebagai pemimpin idola? Perkabaran lembaga-lembaga survei seragam menunjukkan tingkat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengalami terjun bebas. Lebih dari itu, tanda-tanda redupnya pendar wibawa sang Presiden terlihat dalam peringatan hari lahir ke-85 Nahdlatul Ulama pada 17 Juli lalu. Media massa melaporkan, dari sekitar 130.000 hadirin yang memadati Stadion Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, deretan kursi pun hampir kosong saat Presiden berpidato. Lanjutkan membaca Pesona yang Pudar

Universitas Kerakyatan

http://www.bized.co.uk
Oleh Agus Suwignyo
Berbeda dengan universitas di Eropa yang kelahirannya bersifat top-down dan cenderung elitis, universitas yang dikelola pemerintah di Indonesia lahir dari penderitaan dan perjuangan rakyat. Sayangnya, perkembangan universitas negeri di Indonesia hari demi hari kian menjauh dari kalbu kerakyatan dan keberpihakan kepada rakyat sebagai amanah hakiki keberadaannya.

Universitas di Eropa mewarisi tradisi universitas Katolik yang lahir dari jantung Gereja. Universitas didirikan karena inisiatif hierarkis demi kemaslahatan bersama warga dan mencerminkan pandangan teologis ”Allah yang turun ke bumi”. Maka, tak jarang universitas merupakan hadiah raja kepada rakyat dengan misi menghadirkan suar kebenaran (gaudium de veritate) melalui pendidikan dan penelitian. Lanjutkan membaca Universitas Kerakyatan

Paradoks

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Hidup adalah pilihan. Kita diminta untuk memilih kiri atau kanan. Keduanya ekstrem yang seolah tak terdamaikan. Seolah memilih yang satu berarti otomatis menolak yang lain. Itu tetap hanya keseolahan.

Faktanya keduanya saling membutuhkan. Yang satu membutuhkan yang lain untuk bisa bertahan. Walaupun berbeda dan saling membenci, segala ekstrem di dalam hidup saling membutuhkan dan mengandaikan. Inilah paradoks sejati kehidupan.

Apa implikasinya untuk hidup kita? Lanjutkan membaca Paradoks