Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

wikimedia.org

Pandangan Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Immanuel Kant adalah seorang filsuf Jerman yang lahir di Königsberg pada 1724.[1] Pada waktu itu, Jerman masih berbentuk Kerajaan Prussia. Sedangkan Königsberg secara tepat terletak di Prussia Timur. Ia mendapatkan pendidikan di sekolah lokal, dan dari 1747-1754, ia mulai bekerja sebagai tutor pribadi.[2] Pada masa-masa itu, Kant menulis dua disertasi. Dengan ini, ia bisa mengajar sebagai instruktur yang tidak memiliki gaji tetap di Universitas Königsberg. Di sana, ia mengajar beragam mata kuliah, mulai dari matematika, filsafat, dan ilmu-ilmu alam. Ia hidup dari uang yang diberikan murid-muridnya, dan dari buku-buku yang ditulisnya tentang filsafat dan ilmu-ilmu alam pada masa itu.

Ia bercita-cita untuk menjadi professor filsafat di Königsberg. Sebelumnya, ia sudah mendapatkan beberapa tawaran bekerja. Akan tetapi, ia menolak semua tawaran itu. Akhirnya pada 1770, Kant menjadi professor Logika dan Metafisika di Universitas Königsberg.[3] Inilah masa, di mana Kant menjalani dekade-dekade sunyi (silent decades). Ia  hampir tidak menerbitkan karya apapun. Rupanya, ia fokus untuk menyempurnakan argumennya, yang nanti akan tertuang di dalam tiga buku yang mengubah sejarah filsafat, yakni Critique of Pure Reason, Critique of Practical Reason, dan Critique of Judgment. Di dalam Critique of Pure Reason, Kant menyelidiki batas-batas dari pengetahuan manusia.[4] Pendekatannya disebut dengan filsafat kritis. Dengan metode ini, ia “berhasil” menjelaskan, bahwa akal budi manusia secara aktif ikut serta dalam terciptanya pengetahuan mannusia, dan, dengan itu, memberikan batas yang tegas pada pengetahuan metafisis manusia. Pandangan ini kemudian dijelaskan lebih jauh di dalam bukunya yang berjudul Prolegomena (1783). Kant langsung menjadi terkenal sebagai seorang filsuf besar pada masa itu.[5]   Lanjutkan membaca Jalan Berliku menuju Perdamaian Abadi

Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

guim.co.uk

Filsuf dan Sosiolog asal Prancis

Oleh Reza A.A Wattimena

            Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Prancis yang hendak memahami struktur sosial masyarakat, sekaligus perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Baginya, analisis sosial selalu bertujuan untuk membongkar struktur-struktur dominasi ekonomi maupun dominasi simbolik dari masyarakat, yang selalu menutupi ketidakadilan di dalamnya. Untuk itu, ia mengembangkan beberapa konsep yang diperolehnya dari analisis data sosiologis, sekaligus pemikiran-pemikiran filsafat yang ia pelajari.

            Pierre Bourdieu lahir pada 1 Agustus 1930 di Denguin, Prancis. Ia meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris, Prancis.[1] Ia dikenal sebagai seorang intelektual publik yang lahir dari pengaruh pemikiran Emile Zola dan Jean-Paul Sartre. Konsep-konsep yang ia kembangkan amat berpengaruh di dalam analisis-analisis sosial maupun filsafat di abad 21. Sebelum meninggal, ia mengajar di lycée di Moulins (1955–58), University of Algiers (1958–60), University of Paris (1960–64), École des Hautes Études en Sciences Sociales (dari 1964), dan Collège de France (1982).

            Di Prancis, ia mendirikan Centre for the Sociology of Education and Culture. Dia sudah menulis beberapa buku, antara lain Sociologie de l’Algérie (1958; The Algerians, 1962), La Distinction (1979; Distinction, 1984), Le Sens pratique (1980; The Logic of Practice, 1990), La Noblesse d’état (1989; The State Nobility, 1996), and Sur la télévision (1996; On Television, 1998). Tema-tema bukunya berkisar kritik terhadap konsep sekaligus praktek ekonomi neoliberal, globalisasi, elitisme intelektual, dan televisi. Lanjutkan membaca Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu

Empat Pilar Demokrasi untuk Indonesia

chadvice.files.wordpress.com/

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Perbedaan masih seringkali memicu konflik, bahkan konflik berdarah, di masyarakat kita. Perbedaan suku, ras, agama, dan cara hidup seringkali menajamkan prasangka yang berujung pada kekerasan antar manusia. Feodalisme politik masih tercium di udara. Orang menjadi penguasa bukan karena kemampuan nyatanya, melainkan karena kedekatannya dengan kekuasaan yang ada, dan kemampuannya melakukan manuver-manuver politis yang penuh tipu daya semata.

Di sisi lain, banyak kebijakan lahir dari mekanisme-mekanisme yang rahasia dan tidak masuk akal, seperti kebijakan Ditjen DIKTI yang secara tiba-tiba mengeluarkan aturan tentang penerbitan dan publikasi jurnal ilmiah di Indonesia, sampai dengan perpindahan tiba-tiba Angelina Sondakh, tersangka kasus korupsi, ke salah satu komisi di DPR yang mengurus anggaran. Pada saat yang sama, mayoritas rakyat dibuai dengan konsumsi, dan lupa tanggung jawab mereka sebagai warga negara untuk mengawasi kekuasaan. Barang-barang hasil produksi sistem ekonomi kapitalisme menutup mata mereka dari kebenaran “hitam” politis yang sebenarnya terpampang di depan mata. Lanjutkan membaca Empat Pilar Demokrasi untuk Indonesia

Manusia-manusia Korup

http://www.thailandlaw.org

Pengantar ke dalam Buku:

Manusia-manusia Korup

Membedah Hasrat Kuasa, Pemburuan Kenikmatan, dan Sisi Hewani Manusia di balik Korupsi

(Terbit akhir tahun ini)

Oleh Reza A.A Wattimena

Buku ini ingin mengupas akar-akar korupsi dari sudut pandang filsafat dengan tujuan untuk mencegah dan melenyapkannya. Akar dari korupsi ada bermacam-macam. Wacana tentang korupsi pun bertebaran di berbagai bidang keilmuan, mulai dari filsafat, teologi, hukum, sampai dengan ekonomi.[1] Pada ranah moral korupsi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang merusak moral, atau yang mencerminkan kerusakan moral. Tindakan korup adalah tindakan yang menjauh dari yang baik, dari yang ideal. Di dalam wacana ekonomi dan hukum, korupsi adalah pembayaran atau pengeluaran yang mengangkangi aturan hukum yang berlaku. Ada beragam sebutan untuk tindakan ini, mulai dari menyuap, main belakang, sampai sebutan unik di daerah Timur Tengah, yakni bakseesh. Secara etimologis kata korupsi berasal dari kata Latin, yakni corruptus. Artinya adalah tindakan yang merusak, atau menghancurkan. Ketika digunakan sebagai kata benda, korupsi berarti sesuatu yang sudah hancur, sudah patah.

Bentuk korupsi pertama adalah korupsi politik. Artinya adalah penyalahgunaan kekuasaan publik (politik) untuk memperoleh keuntungan pribadi. Misalnya anda dipercaya mengelola anggaran DPR, namun anda menggunakan sebagian anggaran itu untuk memperkaya diri anda sendiri, atau untuk kepentingan pribadi lainnya. Penggunaan kekuasaan sebagai pejabat negara yang tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku juga dapat disebut sebagai korupsi. Pada level yang paling parah, korupsi sudah menjadi penyakit sistemik, sehingga sudah dianggap biasa, dan orang sudah tak lagi punya harapan untuk memberantasnya. Biasanya korupsi amat luas tersebar dan tertanam amat dalam di sistem politik dan ekonomi negara-negara berkembang. Ini terjadi karena sistem pembagian kekuasaan antara eksekutif (pelaksana kebijakan), legislatif (pembuat kebijakan), dan yudikatif (pemantau kebijakan) tidak berjalan dengan lancar. Akhirnya sistem hukum tak memiliki kekuatan dan kemandirian yang cukup untuk menjamin bersihnya pemerintahan dari korupsi.    Lanjutkan membaca Manusia-manusia Korup

Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

free-pictures-photos.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

            Elias Canetti (1905-1994) [1]adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Crowds and Power yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia. Lanjutkan membaca Hakekat Massa Menurut Elias Canetti

Catatan Seorang Peneliti

http://magonia.haaan.com

Oleh Tri Ratnawati

Di era Reformasi dengan keterbukaan politiknya pascarezim Soeharto, dinamika politik Indonesia sangat tinggi. Harapan masyarakat terhadap kemajuan dan perbaikan di segala bidang kehidupan juga tinggi.

Tidak mengherankan apabila harapan masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian, khususnya bidang ilmu politik, juga tinggi.

Saya juga mengerti apabila ada pihak yang kadang kecewa atas hasil-hasil penelitian kami (lembaga penelitian negeri/pemerintah), yang dinilai ”di bawah” kualitas hasil-hasil penelitian lembaga swadaya masyarakat tertentu yang cukup punya reputasi. Namun, masyarakat perlu juga tahu beberapa kendala yang saya (dan kemungkinan sebagian kawan-kawan peneliti lainnya) hadapi selama ini. Lanjutkan membaca Catatan Seorang Peneliti

Rasa Malu

gibbsmagazine.com
Oleh Abdul Waid

Menjamurnya pelbagai cerita miris di Tanah Air kita akhir-akhir ini, yaitu korupsi anggaran, penggelembungan nilai proyek, kerakusan jabatan, dan beragam praktik lain, menciptakan kesangsian kepada kita tentang apa sebenarnya makna sebuah habitat yang bernama manusia.

Manusia sebagai sebuah habitat dikisahkan oleh Will Richard Bird dalam novelnya, The Shy Yorkshireman (1955). Menurut kisah itu, apa yang secara mencolok membedakan habitat manusia dengan binatang bukanlah logika ataupun kepiawaian. Bukan pula keberanian dan ketakutan. Binatang, sebagaimana manusia, bisa saja berlogika, piawai, berani, dan takut.

Kucing, misalnya. Jika binatang mengeong ini mencuri ikan di dapur, lalu mendengar suara pintu terbuka, ia akan lari kencang ketakutan. Namun, jika ikan yang dimakan sengaja diberi tuannya, kucing pun khusyuk melahapnya tanpa menghiraukan kegaduhan apa pun di sekelilingnya. Kucing, tampaknya, bisa berlogika: mana makanan yang direlakan pemiliknya dan yang tidak. Lanjutkan membaca Rasa Malu

Parasit Demokrasi

Oleh Yasraf Amir Piliang

 

api.ning.com

Proses demokratisasi yang berlangsung lebih dari satu dekade membawa banyak kemajuan dengan terciptanya iklim kebebasan dalam aneka ruang kehidupan berbangsa.

Namun, perkembangan demokrasi akhir-akhir ini diancam tindakan, perilaku, dan gerakan ”kontrademokrasi”, yang menggerogoti bangunan demokrasi dari dalam: korupsi, politik uang, kekerasan, terorisme, dan aneka konflik horizontal.

Ada semacam ”parasit” tumbuh di atas pohon demokrasi, merusak sistem metabolisme, mengacau arus sirkulasi, dan menghancurkan jejaring akarnya. Inilah para ”politikus parasit”, zoon politicon, yang menggerogoti tempat hidup mereka (partai, parlemen, departemen, dan negara) serta saling mengisap sesama di ruang komunitas politik. Dalam sepak terjangnya, parasit politik tak hanya individu, tapi juga membentuk kelompok atau jejaring. Lanjutkan membaca Parasit Demokrasi

Negeri Seribu Misteri

murdermysterymadness.com

Oleh Kurnia JR

Negeri ini tak ubahnya ruang tanpa jendela. Salah satu dindingnya adalah kaca satu arah: dari dalam layaknya cermin, dari luar kaca tembus pandang. Melalui kaca itu, mereka yang ada di luar dapat mengamati kita yang menghuni ruang ini.

Orang yang prihatin meyakini mereka yang ada di balik dinding kaca tersebut adalah penguasa sesungguhnya republik ini. Para pemimpin yang bersama kita di dalam kamar adalah boneka-boneka yang nyaris tanpa otoritas menangani berbagai masalah kebangsaan dan kenegaraan. Lanjutkan membaca Negeri Seribu Misteri

Budi Pekerti Elite Politik

acuvuecolorcontactlenses.net

Oleh Indra Tranggono

Seusai peristiwa pengeroyokan terhadap wartawan (19/9), seorang pelajar sebuah SMA di Jakarta melalui Twitter-nya mengaku puas memukuli wartawan.

Kata ”puas” mengindikasikan sang pelaku menganggap kekerasan sebagai kebenaran dan ”prestasi” yang wajib dirayakan. Ironisnya, pola pikir yang mengagungkan kekerasan fisik dan nonfisik itu kini kian menggejala dalam masyarakat dan negara.

Hukum harus menindak pelaku kekerasan. Siapa pun pelakunya, termasuk para pelajar. Lanjutkan membaca Budi Pekerti Elite Politik

Kita Mau ke Mana?

2.bp.blogspot.com

Oleh Franz Magnis-Suseno

Dua tahun dalam kepresidenan kedua Susilo Bambang Yudhoyono, bangsa Indonesia seperti tenggelam dalam lumpur rawa egoisme, kepicikan, dan keputusasaan. Sebelas tahun sesudah gerakan reformasi menuliskan pemberantasan KKN di atas panji-panjinya, ternyata korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela seperti belum pernah tersentuh.

Kelas politik memberikan tontonan yang memalukan dan mengkhawatirkan kepada masyarakat. Sejauh kita layangkan pandangan, tak kelihatan sebuah visi, cita-cita luhur, bahkan sekadar keberanian dalam kepemimpinan. Lanjutkan membaca Kita Mau ke Mana?

Buku Baru: Etika Komunikasi Politik

Buku ini adalah ajakan untuk membangun komunikasi politik yang berkualitas, sehingga mampu membangun kehidupan bersama yang cerdas, sejahtera, berdasarkan pada kemerdekaan dan perdamaian abadi. Saya menulis satu artikel di dalam buku ini. Editor buku ini adalah mantan kolega saya di Universitas Atma Jaya, Jakarta, yakni Prof. Alois Agus Nugroho. Buku ini bisa didapatkan di Pusat Pengembangan Etika, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

ISBN: 978-602-8904-07-0

Pesona yang Pudar

Oleh YUDI LATIF

Ke manakah gerangan pesona itu, yang dahulu membuat jutaan ibu terbius memilihnya sebagai pemimpin idola? Perkabaran lembaga-lembaga survei seragam menunjukkan tingkat popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengalami terjun bebas. Lebih dari itu, tanda-tanda redupnya pendar wibawa sang Presiden terlihat dalam peringatan hari lahir ke-85 Nahdlatul Ulama pada 17 Juli lalu. Media massa melaporkan, dari sekitar 130.000 hadirin yang memadati Stadion Gelanggang Olahraga Bung Karno, Jakarta, deretan kursi pun hampir kosong saat Presiden berpidato. Lanjutkan membaca Pesona yang Pudar

Politikus di Zaman Edan

Oleh Daoed Joesoef
onscreenchemistry.com

Setelah angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh- tokoh negeri Afrika Timur itu— yang telah membantu kemenangan—diundang Benito Mussolini naik ke pesawat terbang. Mereka menerima undangan itu karena menganggapnya sebagai bukti penghargaan atas jasa mereka bagi kejayaan Italia.

Setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang ke luar pesawat tanpa parasut. Atas pertanyaan para jenderalnya, mengapa Generalisimo berbuat demikian, sang diktator fasis menjawab, ”Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia. Sekali orang berjiwa pengkhianat, dia akan terus menjadi pengkhianat seumur hidupnya.” Lanjutkan membaca Politikus di Zaman Edan

Mendidik Ulang Kewargaan

Oleh B Herry Priyono

http://www.callcentrehelper.com

Selamat datang di negeri yang berlagak demokrasi. Sebagaimana lagak itu ibarat topeng yang mengimpit wajah, begitu pula lagak demokrasi adalah topeng kebebasan yang memangsa isi demokrasi.

Jutaan kata telah dikerahkan untuk menjelaskan kemajuan dan kemacetan proses demokrasi: dari telaah ciri agonistik dan antagonistik sampai prasyarat deliberatif bagi kemungkinannya di Indonesia. Namun, kedegilan peristiwa tetap saja keras kepala. Deretan bom, teror, dan tersingkapnya jaringan ambisi Negara Islam Indonesia belakangan ini mengisyaratkan, perkaranya barangkali lebih sederhana daripada urusan agonistik, antagonistik, ataupun deliberatif demokrasi. Mungkin perkaranya adalah rasa-merasa kewargaan yang digusur dari kehidupan bersama dan bernegara. Bagaimana memahami pokok sederhana ini? Lanjutkan membaca Mendidik Ulang Kewargaan

Negeri Para Celeng

 

blogspot.com

Oleh Sindhunata

Pada awalnya, lembaran itu hanyalah sebuah lukisan. Lukisan yang berjudul ”Berburu Celeng” karya perupa Djoko Pekik. Ternyata lukisan itu kemudian menjadi bagaikan ramalan yang memfaalkan karut-marut dan kecemasan bangsa pada zaman sekarang.

Lukisan itu dibuat setelah kejatuhan Orde Baru. Konteksnya fajar merekahnya era reformasi. Digambarkan di sana tertangkapnya seekor celeng raksasa. Dengan badan yang terbalik, celeng itu diikat pada sebilah bambu yang digotong dua lelaki busung lapar. Kerumunan rakyat menyambut tertangkapnya celeng itu dengan pesta ria dan sukacita. Menyambut lukisan tersebut, penulis mengeluarkan sebuah buku berjudul Tak Enteni Keplokmu, Tanpa Bunga dan Telegram Duka (1999). Seperti halnya rakyat waktu itu, penulis juga diliputi euforia reformasi. Toh, terpengaruh oleh kecemasan si pelukis, penulis bertanya: ”Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?” Lanjutkan membaca Negeri Para Celeng

Bandi Pengembara

http://www.plumflowermantisboxing.com

Oleh SUKARDI RINAKIT

Pagi itu, ditimpali deru mobil yang melintas, saya bertanya kepada Pak Harto tentang perjalanan Indonesia ke depan pada era reformasi. Pak Harto diam sejenak, lalu dengan serius menjawab, ”Nanti kamu akan saksikan, tidak mudah mengurus Republik!”

Ingatan itu hadir kembali setelah membaca hasil survei Indo Barometer minggu lalu (Kompas, 16/5).

Para responden mengamini bahwa era Soeharto lebih baik daripada saat ini, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi. Hasil ini tentu mengejutkan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Klaim bahwa mereka telah bekerja keras dan membawa Indonesia lebih makmur menjadi mentah.

Sebaliknya, para oponen SBY bergairah dan mempunyai pijakan keras untuk mengkritisi pemerintah. Dari ruang seminar sampai warung kopi ”amigos” (agak minggir got sedikit), mereka menolak tafsir bahwa SBY adalah presiden terbaik dibandingkan dengan presiden lain pada era reformasi. Mereka lebih suka mengatakan, mengutip ungkapan Adhie Massardi, ”Jika Soeharto buruk, SBY lebih buruk. Itulah tafsir data Indo Barometer.” Saya tersenyum mendengarnya. Data yang sama memang bisa ditafsirkan berbeda. Lanjutkan membaca Bandi Pengembara

Dewan Perwakilan Rakyat?

visualarts.synthasite.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Notulensi Diskusi COGITO Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya 29 April 2011

            Perlukah gedung DPR yang baru dibangun? Inilah yang menjadi tema diskusi Cogito 29 April 2011 yang diadakan di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala Surabaya. Diskusi dimulai pada pukul 08.50, dan mengambil tempat di ruang kelas Fakultas Filsafat. Beragam argumen diajukan. Lalu semuanya diuji di dalam “pengadilan akal budi” filosofis. Lanjutkan membaca Dewan Perwakilan Rakyat?

Hak Milik

thecriticalarizonan.files.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kita semua bekerja. Katanya untuk hidup. Tetapi tidak hanya hidup. Kita bekerja untuk menciptakan hidup yang berkualitas.

Salah satu tanda kualitas hidup adalah kuantitas harta milik. Semakin banyak harta milik yang ada, semakin tinggilah kualitas hidup seseorang. Inilah asumsi yang menggerakan roda konsumsi di masyarakat kita. Asumsi yang begitu saja diterima sebagai benar, tanpa pernah dipertanyakan terlebih dahulu. Lanjutkan membaca Hak Milik

Modus Eksistensi Beragama

http://www.happiness-after-midlife.com

Oleh Yonky Karman

Fanatisme beragama kini menyeruak di ruang publik. Agama terang-terangan dipakai dalam proyek delegitimasi ideologi dan hukum negara. Negara dianggap sekuler, pejabatnya dajal, hukumnya bertentangan dengan agama, dan polisinya tentara setan.

Ironisnya, pemerintah dan organnya sibuk menghakimi kelompok agama yang secara ideologis tak berbahaya. Namun, radikalisme agama dalam bentuk kekerasan dan subversif tidak ditindak tegas. Lanjutkan membaca Modus Eksistensi Beragama