Tukang Suap

bribe Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Praktek suap selalu melibatkan dua pihak, yakni yang disuap dan penyuap. Keduanya perlu ada supaya praktek suap terjadi. Tak adil jika kita hanya menyalahkan pihak yang disuap. Dalam hal ini keduanya sama bersalahnya.

Apa yang ada di balik mental para penyuap? Inilah pertanyaan yang kiranya terlupakan di balik segala analisis tentang korupsi, terutama yang terkait dengan lembaga publik. Tanpa analisis semacam ini, pengetahuan kita soal fenomena korupsi, terutama praktek suap, terjebak pada satu sisi semata. Pengetahuan yang hanya berfokus pada satu sisi sebenarnya tidak layak disebut sebagai pengetahuan, melainkan semata prasangka.

Mentalitas Jalan Pintas

Salah satu keutamaan mendasar manusia adalah keteguhan bertekun di dalam proses. Segala keberhasilan muncul melalui tempaan waktu dan peristiwa. Orang tidak bisa sukses dalam sekejap mata. Ia perlu menempuh tantangan hidup yang mungkin saja menggetarkan jiwa.

Di Indonesia sekarang ini, keutamaan semacam itu semakin langka. Orang tidak tahan bertekun di dalam proses. Orang tidak tahan hidup dalam tantangan. Akibatnya mereka mencari jalan pintas untuk mencapai sukses yang jauh dari kematangan.

Orang mau cepat kaya. Namun ia tidak mau berusaha sepenuh tenaga. Orang mau memperoleh kemudahan, tanpa memberikan kontribusi nyata. Mentalitas sukses melalui jalan pintas inilah yang kini menjadi trend di masyarakat kita.

Inilah yang menjadi pola pikir para penyuap. Mereka tidak sabar dengan birokrasi dan prosedur. Padahal birokrasi dan prosedur tidak selalu buruk, namun justru dibuat untuk menjamin hasil yang berkualitas. Para penyuap tidak sabar dengan semua itu, lalu menyuap untuk melancarkan jalan menuju sukses yang semu.

Mentalitas jalan pintas ini haruslah disadari, lalu dilenyapkan. Mentalitas jalan pintas merombak sistem dan aturan yang ada, demi kepentingan sesaat mereka. Alhasil sistem dan aturan lalu kehilangan wibawa. Jalan pintas yang diambil para penyuap menjadi preseden untuk para penyuap lainnya, guna melakukan praktek yang sama.

Lanjutkan membaca Tukang Suap

Inspirasi dari STF Driyarkara: Memahami Akar-akar Kekerasan Massa

violence20cartoon2 Oleh: F Budi Hardiman

“Segala yang jahat berasal dari kelemahan”

Jean-Jacques Rousseau

Mengapa manusia melakukan kekerasan kepada sesamanya? Pertanyaan sederhana ini menyimpan keheranan. Keheranan adalah sebuah perasaan yang timbul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi di dalam sebuah masyarakat yang menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang lazim. Tak ada keheranan yang muncul atasnya, akal pun tertidur, dan bersamaan dengan itu kekerasan tidak pernah dipersoalkan. Sebuah masyarakat yang tidak mempersoalkan kekerasan sudah kehilangan keberadabannya. Karena itu, pertanyaan di atas sangat penting untuk dilontarkan dan dijawab.

Jawaban atasnya sangat mendesak justru di saat merebaknya peristiwa-peristiwa kekerasan massa setelah tumbangnya rezim Soeharto. Kita ingat kembali katalog kekerasan massa di negeri kita: kerusuhan Mei 1998 dengan target etnis China, perang saudara di Maluku antara orang Kristen dan Muslim, perselisihan etnis di Kalimantan antara Dayak dan Madura, pengejaran dukun-dukun santet di Blambangan, tawuran antar pelajar, dan seterusnya. Dan dalam pertarungan politis dalam rangka Pemilu 2004 kecemasan akan kekerasan massa tak juga dijauhkan dari kita. Ia justru meningkat. Orang bisa berkilah bahwa saat itu kita berada dalam keadaan tidak normal. Namun, dalam keadaan yang dianggap “normal” pun pencuri sandal di masjid di wilayah Tangerang sudah bisa mengalami nasib mengenaskan seperti bidaah di Eropa abad pertengahan: dibakar massa.

Keheranan kita bertambah saat membaca bagaimana sikap para pelaku kekerasan itu terhadap korban-korban mereka. Dalam konflik etnis di Kalimantan kepala manusia dipenggal dan diarak beramai-ramai dengan penuh kebanggaan. Ekstasis massa semacam itu juga terjadi di dalam peristiwa Blambangan dan banyak peristiwa lain, seperti dalam perang, pogrom, masaker, dan seterusnya. Yang ganjil dalam perilaku massa itu adalah berciri psikologis: para pelaku mengalami penumpulan rasa salah atas tindakan kekerasan mereka. Akal sehat sirna dan moralitas kehilangan daya gigitnya. Setelah berjarak dari peristiwa itu, orang lalu mengatakan bahwa individu terseret oleh desakan kebersamaan mereka sehingga tak bisa lain kecuali melakukan seperti yang dilakukan orang yang lain. Individu yang terlibat dalam kekerasan massa sekonyong-konyong dipindahkan dari ruang kontak sehari-hari ke dalam suatu ruang peleburan kolektif yang mengisap ciri-ciri personalnya sebagai seorang individu. Saya menyebutnya “ruang kolektif’ karena ruang ini diproduksi oleh kebersamaan dan menjadi tempat bergeraknya tindakan-tindakan kolektif. Di dalam ruang kolektif itu tindakan-tindakan yang tak lazim dalam ruang keseharian dirasa lazim. Memenggal kepala dirasa lazim di tengah-tengah situasi tak lazim dinamika kekerasan massa. Dengan kata lain, rasa salah raib ditelan oleh suatu “kelaziman dari ketaklaziman” dinamika kekerasan massa.

Yang kita bicarakan di sini bukan kekerasan individual-yaitu kekerasan yang dilakukan oleh individu, seperti membunuh karena dendam pribadi, memerkosa atau merampok-melainkan kekerasan massa, yakni kekerasan yang dilakukan oleh massa. Kekerasan jenis ini berbeda dari kekerasan yang dilakukan individu karena para pelaku melakukan kekerasan itu tidak semata-mata atas dasar dendam atau kebencian personal, melainkan banyak dipengaruhi dinamika sebuah kelompok. Kekerasan individual terliput oleh hukum pidana dan situasi sehari-hari, tetapi kekerasan massa sering melampaui hukum positif itu. Bentuk gigantis dari kekerasan massa itu adalah revolusi dan perang. Sulitlah menghukum demikian banyak pelaku. Karena itu, semakin banyak pelakunya semakin gigantis massa yang bertindak destruktif, semakin kurang personallah motif kekerasan dan semakin merasa benarlah para pelaku kekerasan itu. Kekerasan massa tidak beroperasi di dalam hukum, tetapi melawan dan melampaui tatanan hukum itu sendiri. Karena kompleksnya peristiwa ini, akar-akar penyebabnya juga kompleks. Namun, dalam ulasan ini saya akan menarik perhatian Anda pada tiga akar kekerasan yang terkait dengan conditio humana, yaitu: yang bersifat epistemologis, antropologis, dan sosiologis.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari STF Driyarkara: Memahami Akar-akar Kekerasan Massa

Mafia Ideologi dan Budaya Rasionalisme

ideology_487805 Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Di dalam salah satu tulisannya di harian Kompas, Komaruddin Hidayat (Sabtu, 24 April 2010) mengungkap perlunya Indonesia untuk memiliki satu ideologi yang jelas, yang bisa memberikan arah sekaligus panduan di dalam proses pembangunan. Baginya Reformasi yang berlangsung selama ini tidak memiliki arah maupun ideologi yang jelas, sehingga bangsa Indonesia kini terjebak dalam kebingungan.

Pada hari yang sama di harian Kompas, Budiarto Shambazzy menuliskan tentang merebaknya mafia di berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari mafia pajak, mafia sepak bola, mafia hukum, dan berbagai mafia lainnya. Jejaring mafia ini menurutnya bagaikan kanker yang menggerogoti tubuh bangsa Indonesia, dan menjadikannya tidak berdaya.

Dari dua tulisan tersebut, saya melihat adanya satu pertanyaan penting, jika Indonesia hendak menetapkan satu ideologi bangsa yang jelas, mungkinkah ideologi tersebut juga menjadi korban dari mafia? Mungkinkah Indonesia juga jatuh ke tangan para mafia ideologi?

Lanjutkan membaca Mafia Ideologi dan Budaya Rasionalisme

Inspirasi dari Gresik: Hedonisme, Sikap Cuek, dan Kesadaran normatif di dalam hidup bermasyarakat

hedonism-bot-futurama-2942551-800-600 Suatu Tinjauan Etis-Sosial

Oleh: Emanuel Prasetyono

Pengajar Etika Sosial dan Filsafat Manusia pada Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Seorang remaja putri menulis statusnya di facebook demikian: “Hanya mau bersenang-senang; tidak mau peduli lagi pada orang lain, yang penting senang. Wkwkwkwk…”.

Itu hanyalah satu dari sekian banyak status yang pernah terbaca oleh penulis yang intinya mau menunjukkan kesenangan pribadi sebagai ukuran dari segala sesuatu. “Yang penting senang; yang menyenangkan, itulah patokan dari segala keputusan sikap”.

DARI HEDONISME DALAM HIDUP BERSAMA KE BENCANA APATISME DAN SIKAP CUEK

Sikap etis semacam itu sebetulnya bukan hal yang sulit untuk dimengerti oleh kebanyakan orang. Bagi sementara orang, yang mendatangkan nikmat dan kesenangan dianggap sebagai yang baik sehingga layak dikejar dalam hidup. Sementara yang mendatangkan rasa sakit dianggap sebagai yang tidak baik, sehingga pantas ditolak. Sikap etis semacam ini juga bukan barang baru dalam filsafat hidup manusia. Adalah para hedonis yang selalu menekankan kenikmatan dan kesenangan sebagai ukuran yang baik. Hedonisme adalah pandangan yang menempatkan kenikmatan dan kesenangan sebagai tujuan tertinggi dari hidup manusia.

Ketika John Locke (1632-1704) menegaskan sikap etis yang dimotivasi oleh melulu pengalaman inderawi akan rasa senang/nikmat dan rasa sakit, para moralis mengutuknya sebagai hedonis sejati. Mereka menganggapnya sebagai yang tidak bermoral, karena mengesampingkan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan manusia yang kompleks ini. Tetapi sesungguhnya manusia modern mempraktekkan apa yang dikatakan oleh Locke tersebut. Lihat saja fenomena korupsi di negeri ini! Orang yang baru menempati kekuasaan sedikit saja akan digoda untuk menggunakan kekuasaan itu untuk memperkaya dan mencari keuntungan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya. Kepentingan publik dianggap sepi. Yang penting “aku happy, banyak duit, banyak rejeki, yang kuinginkan semua terpenuhi”. Apabila ada soal-soal yang berkaitan dengan orang lain, “emang gue pikirin!” Lihat pula bagaimana fenomena lalu lintas di kota-kota kita! Dengan mudah seorang pengendara memotong atau menyalip orang lain tanpa peduli apakah tindakannya itu akan membahayakan nyawa orang lain atau tidak. Lihat pula, betapa sulitnya penyeberang jalan menyeberang, bagaimana truk-truk besar atau bis-bis antarkota tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi penyeberang jalan, bahkan termasuk bila yang menyeberang itu orang yang sudah renta. Di negeri ini, ketika manusia memburu kenikmatan dan kesenangan bagi diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain, di sanalah sebetulnya terjadi pembenaran terhadap pandangan etis-hedonistis John Locke di atas. Inilah ironi yang seringkali terjadi di negeri yang selalu mengagungkan keagamaan tetapi kehilangan nilai-nilai lain selain nilai kesenangan dan kenikmatan dirinya sendiri.

Lantas orang seringkali berusaha “mengurangi rasa berdosa” dengan cara “membagi dosa” atau “berdosa bareng-bareng”. Contoh konkretnya apa? Contohnya, membagi-bagi hasil korupsi dengan rekan sejawat, sanak-saudara, atau kolega. Atau, berdalih di balik pernyataan: “Toh orang lain berbuat hal yang sama.” Mentalitas inilah yang berada dibalik huru-hara, kerusuhan, atau penjarahan massal. Ketika suatu keburukan atau kesalahan dilakukan oleh banyak orang, ada pola berpikir salah yang menganggap bahwa nilai kesalahan atau nilai keburukan telah dikurangi sehingga menjadi kurang buruk, atau kurang salah; sehingga dianggap boleh dilakukan sedikit saja. Dari sikap hedonistis dalam hidup bersama bisa terjadi bencana apatisme dan sikap cuek yang menghancurkan nilai-nilai sosialitas hidup manusia itu sendiri.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Gresik: Hedonisme, Sikap Cuek, dan Kesadaran normatif di dalam hidup bermasyarakat

Inspirasi dari Jakarta: Revolusi

liberty Oleh: Goenawan Mohamad

Revolusi tak bisa difotokopi. Revolusi tak bisa dipesan. Mungkin ini kesimpulan sejak revolusi pertama dalam sejarah modern.

Pada usia 20, Lafayette, aristokrat dari Auvergne, Prancis Selatan, itu berangkat ke Amerika. Ini tahun 1777, ketika belum ada harapan bagi perjuangan orang Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris. Saat itu Raja Prancis tak mengizinkan siapa pun bergabung dengan revolusi di ”benua baru” itu. Tapi Lafayette punya kenekatan, ambisi, dan cita-cita luhur. Hatinya berkobar dengan keyakinan yang disuratkan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Ia pun berangkat dari pantai Spanyol dengan menyamar sebagai seorang perempuan.

Akhirnya—setelah menyatakan diri tak hendak menerima bayaran sepeser pun—ia diterima bergabung dengan tentara pembebasan yang dipimpin George Washington. Di antara pasukannya yang berpakaian berantakan, Jenderal Amerika itu menyambut pemuda Prancis yang kurus itu dengan hormat: ”Kami harus merasa malu, mempertontonkan diri di depan seorang perwira yang baru saja meninggalkan pasukan Prancis.” Lafayette menjawab: ”Untuk belajar, dan bukan mengajar, saya datang kemari.”

Dan Lafayette memang belajar banyak, melalui perang, luka, intrik politik—dengan gairah yang tak kunjung menciut. Ia kembali ke Prancis setelah empat tahun bertempur. Beberapa tahun kemudian ia terlibat langsung dengan Revolusi Prancis.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Jakarta: Revolusi

Esensi Pendidikan

Technorati Tags: pendidikan,filsafat,pendidikan karakter,pendidikan moral,otonomi moral,kebijaksanaan

education-cartoonAnalisis terhadap Gangguan-gangguan serta Taktik Strategis dalam UpayaMenciptakan Pendidikan yang Sejati di Indonesia[1]

Reza A.AWattimena,[2]

Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Abstrak

Wacana tentang pendidikan karakter sebenarnya bukanlah wacana baru, karena pada esensinya, pendidikan adalah suatu proses pembentukan karakter di satu sisi, dan pembentukan kerangka berpikir di dalam melihat dunia di sisi lain. Inilah esensi pendidikan yang sejati, atau apa yang saya sebut sebagai, meminjam konsep Paulo Freire, pendidikan yang membebaskan. Yang kita perlukan sekarang ini adalah pengetahuan mendalam soal apa esensi pendidikan sejati itu sebenarnya, sambil secara bertahap memahami dan mengurangi faktor-faktor yang menghambat terciptanya pendidikan yang sejati tersebut. Berpijak pada itu maka tulisan ini ingin menjawab tiga pertanyaan berikut, (1) apakah esensi pendidikan itu sebenarnya, terutama dalam konteks wacana pendidikan karakter?(2) Faktor-faktor apa yang menghambat terciptanya pendidikan semacam itu? Dan (3) apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi faktor-faktor penghambat tersebut, sambil menyadari kembali arti pendidikan yang sesungguhnya, serta menerapkannya di dalam praksis? Di dalam tulisan ini, saya akan mengajukan argumen, bahwa pendidikan pada esensinya adalah soal pembentukan karakter dan kerangka berpikir di dalam melihat dunia. Kesadaran semacam ini menghilang, karena pendidikan telah bercampur dengan kepentingan-kepentingan eksternal di luar pendidikan tersebut, seperti kepentingan politik dan ekonomi-bisnis, yang tidak selalu sejalan dengan visi pendidikan yang sejati. Oleh karena itu kita memerlukan pemahaman filosofis serta taktik strategis, guna mengembalikan pendidikan ke esensinya yang sejati tersebut. Dalam konteks inilah tulisan ini diajukan.

Kata Kunci: Pendidikan yang sejati, Filsafat, reifikasi, hegemoni, kepentingan politik, kepentingan ekonomi.

Pendahuluan

Indonesia secara khusus dan dunia secara umum sedang mengalami kelupaan tentang arti pendidikan yang sejati. Berbagai kepentingan ideologis politik, ekonomi, bisnis, dan militer kini campur tangan menentukan arah dan isi pendidikan, dan sambil itu, dunia pendidikan pun seolah terkapar tanpa daya. Para praktisi pendidikan dan masyarakat umum lupa, bahwa pendidikan tidak hanya ada untuk mengabdi pada kepentingan ideologis politik, ekonomi, bisnis, ataupun militer semata, tetapi juga untuk membuat manusia semakin utuh dan bermartabat. Keutuhan dan martabat tersebut tampak dalam kemampuannya untuk memahami dunia dengan kerangka berpikir yang rasional, bermoral, terbuka, kritis, dan sistematis. Namun ini semua tinggal kenangan, digantikan oleh pendidikan yang melulu menjadi pelayan kepentingan-kepentingan eksternal yang seringkali justru bisa merendahkan martabat manusia itu sendiri.

Tulisan ini lahir dari kegelisahan pribadi saya, ketika melihat begitu banyaknya praktisi pendidikan yang tidak memahami esensi pendidikan yang sebenarnya, dan membiarkan anak didik kita tercinta ditawan oleh kepentingan politik, bisnis, atau militer yang tidak jarang justru menindas martabat mereka. Kreativitas dibungkam atas nama koherensi ideologi politik ataupun agama. Eksplorasi ide dibungkam atas nama aturan baku dan standar ilmiah yang mencekik. Inovasi dibungkam atas nama kepatuhan pada atasan manajerial di dalam bisnis. Tidak bisa dipungkiri lagi, dunia pendidikan kita kehilangan arah, dan semakin jauh dari visi misinya untuk mengembangkan martabat manusia.

Apa akibat dari kelupaan akan esensi pendidikan ini? Pertama, manusia yang keluar dari sistem pendidikan yang lupa akan dirinya sendiri ini jelaslah bukan manusia yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik di masyarakat. Bahkan dapat dikatakan dengan lugas, lemahnya moral bangsa ini jelas merupakan kegagalan sistem pendidikan yang selama ini ada, yakni pendidikan yang kehilangan esensinya sendiri. Dua, pendidikan yang kehilangan esensinya, dan semata memfokuskan dirinya untuk mengabdi pada kepentingan-kepentingan eksternal, yang seringkali tidak sesuai dengan visi pendidikan itu sendiri, akan membuat pendidikan menjadi penyiksaan. Pendidikan menjadi keterpaksaan yang dijalani oleh para siswa dengan murung dan gelisah.

Di dalam tulisan ini, seperti yang sudah saya ajukan pada abstrak, pendidikan perlu untuk kembali menyadari esensinya sendiri, lalu melenyapkan ganguan-gangguan yang membuat pendidikan tersebut kehilangan esensinya sejak awal. Hanya dengan begitu bangsa Indonesia bisa mulai mengarah ke arah peningkatan sumber daya manusia secara seimbang. Untuk menjelaskan argumen itu, saya akan membagi tulisan ini ke dalam empat bagian. Awalnya saya akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan esensi pendidikan dengan berpijak pada argumentasi para pemikir besar di dalam sejarah (1). Lalu saya akan menjabarkan dua musuh utama bagi terciptanya pendidikan yang sesuai dengan esensinya tersebut, yakni fundamentalisme ekonomi-bisnis dan fundamentalisme religius (2). Pada bagian berikutnya saya akan mencoba mengajukan beberapa prinsip dan taktik strategis, guna menanggulangi musuh-musuh pendidikan tersebut (3). Tulisan ini akan diakhiri dengan kesimpulan dan problematik lebih jauh (4).

1.Esensi Pendidikan[3]

Pada hemat saya kita tidak lagi memerlukan teori baru tentang pendidikan. Yang kita perlukan adalah mengingat apa arti sesungguhnya dari pendidikan. Inilah yang kita lupa, sehingga pendidikan menjadi semata alat untuk kepentingan bisnis, politik, ataupun religius sektarian tertentu. Sudah lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Buddha mengajukan sebuah konsepsi sederhana tentang apa itu pendidikan. Pendidikan demikian katanya adalah perkembangan manusia, sehingga ia bisa mengaktualisasikan dirinya dalam hidup. Untuk itu setiap orang perlu mengikuti dan menghayati delapan jalan agung dalam hidup. [Wren, 2008]

Delapan Jalan Agung [Diolah dari Wren, 2008]:

  1. Cara pandang yang tepat (Semua penderitaan lahir dari keinginan, maka keinginan haruslah dilampaui, dan bukan dipuaskan.)
  2. Nilai-nilai yang tepat (Orang harus hidup dan bertumbuh secara sabar dan perlahan – moderation).
  3. Berbicara secara tepat (Orang perlu berkata –dan juga isi perkataannya- dengan cara yang lembut dan tidak menyakitkan)
  4. Tindakan yang tepat (Orang tidak pernah boleh menyakiti orang lain)
  5. Hidup yang tepat (Bekerja dengan tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain, baik secara langsung ataupun tidak)
  6. Usaha yang tepat (Selalu berusaha untuk mengembangkan diri)
  7. Berpikir secara tepat (Melihat segala sesuatu secara tepat dengan kesadaran yang jernih)
  8. Meditasi yang tepat (Mencapai pencerahan dengan melenyapkan ego)

Buddhisme menolak segala ide tentang diri manusia. Manusia itu tidak memiliki diri. Hanya dengan menyadari ini, ia bisa membebaskan diri dari keinginan yang membelenggu. Manusia bisa mencapai pencerahan dengan melepaskan ide, bahwa ia memiliki diri yang utuh dan berkehendak. [Wattimena, 2010] Inilah pola pendidikan yang diterapkan oleh Buddhisme selama berabad-abad. Delapan jalan inilah yang merupakan esensi dari pendidikan yang sejati.

Ajaran Buddhisme tersebut kiranya dapat dilengkapi oleh pemikiran Aristoteles soal karakter dan pendidikan. Ia adalah filsuf Yunani Kuno yang hidup lebih dari 2000 tahun yang lalu. Baginya setiap orang hidup selalu mengarah pada satu tujuan tertentu. Di dalam proses mencapai tujuan itu, orang perlu menggunakan dan mengembangkan akal budinya. Akal budi diperlukan supaya orang tidak hanya hidup menyesuaikan diri secara buta dengan norma-norma sosial yang ada, tetapi memikirkan sendiri apa yang sungguh baik dan patut untuk dilakukannya. Maka ada perbedaan yang cukup fundamental antara konformisme moral dengan masyarakat luas di satu sisi, dan penggunaan akal budi untuk menemukan apa yang baik, dan kemudian bertindak berdasarkan pengetahuan tersebut di sisi lain. [Wren, 2008]

Aristoteles juga berpendapat bahwa esensi dari setiap bentuk pendidikan adalah pendidikan karakter. Dalam arti ini karakter dapat dibentuk melalui proses habituasi, atau pembiasaan. Orang bisa bertindak jujur, karena ia terbiasa bertindak jujur, dan bukan karena ia tahu, apa yang dimaksud dengan jujur. Dua konsep ini yakni akal budi sebagai pengarah tindakan moral dan proses habituasi sebagai pola pendidikan karakter yang tepat adalah inti dari teori Aristoteles soal pendidikan. [Aristotle, 2004]

Pada hemat saya ajaran Buddhisme dan Aristoteles soal hidup dan pendidikan menggambarkan esensi sejati dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan tidak hanya soal ketrampilan teknis untuk bekerja mencari makan (“pragmatisme” pendidikan), tetapi juga membawa manusia menuju kebahagiaan sejati dengan menempuh langkah-langkah hidup yang tepat (jalan Buddhisme), dan membantu manusia mengasah akal budi, sehingga orang bisa bersikap rasional dan bebas di hadapan nilai-nilai masyarakatnya, serta tidak jatuh pada sikap konformisme buta (Aristoteles). Aristoteles juga menegaskan bahwa keutamaan moral yang sejati hanya bisa diperoleh, jika keutamaan moral itu dikondisikan serta dibiasakan di dalam hidup sehari-hari, dan bukan hanya diajarkan secara intelektual semata melalui sekolah atau kuliah.

2. Tantangan Pendidikan

Pada bagian sebelumnya kita sudah melihat, bagaimana dua filsuf besar, Buddha (Timur) dan Aristoteles (Barat-Yunani Kuno) merumuskan apa itu esensi pendidikan. Dua model pendidikan yang mereka tawarkan kini ditantang oleh berbagai kepentingan yang ada di masyarakat. Dua kepentingan yang saya lihat sangat berpengaruh besar adalah fundamentalisme pasar, yang menjadikan kepentingan bisnis sebagai dimensi utamanya, dan fundamentalisme religius, yang menjadikan kepentingan agama tertentu sebagai acuan utamanya.

Perkembangan bisnis, sains, dan teknologi membuat pendidikan pun tidak bisa lepas dari ketiganya. Mata kuliah dan mata pelajaran sains dan bisnis menjadi dominan di berbagai institusi pendidikan. Tujuannya satu yakni memenuhi permintaan tenaga kerja yang melek sains dan teknologi. Pada titik ini ada dua persoalan yang timbul. Yang pertama adalah lenyapnya dimensi humaniora dari pendidikan.[4]

Jean-Francis Lyotard telah melihat perubahan tolok ukur status ilmu ini. Menurut Lyotard efisiensi dan efektivitas telah menjadiroh bagi masyarakat yang berteknologi maju. Dalam masyarakat post industri, kriteria untuk menilai keberhasilan sebuah lembaga adalah kinerjanya. Kinerja berarti maksimilisasi masukan dari pengeluaran. Pendidikan pun mau tak mau terpengaruh dengan perubahan cara pandang ini. Pendidikan dengan demikian didesak untuk memenuhi kebutuhan akan individu-individu yangmenomorsatukan efektivitas dan efisiensidiatas segalanya. Jika kinerja pendidikan dinilai dengan tolok ukur seperti itu, yakni sekedar mempersiapkan tenaga kerja untuk memuaskan dahaga kepentingan pasar, makadegradasi kemanusiaanlah yang akan kita tuai.

Ada ketegangan antara pendidikan yang memusatkan diri pada humaniora, dan pelatihan untuk memuaskan ekonomi pasar. Ada ketimpangan antara hasil lulusan dari sekolah atau perguruan tinggi dengan tuntutan ekonomi pasar. Dunia kerja membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan teknis, supaya roda industri mereka tetap berjalan. Dunia industri, perusahaan jasa, dan lain-lain akan macet, jika tidak ada tenaga-tenaga profesional ditengah mereka. Lalu dari mana mereka memperoleh tenaga kerja profesional ini? Tidak lain tidak bukan adalah dari lembaga pendidikan yang ada. Karena itu dunia kerja, dalam arti ini, baik industri maupun jasa, harus memiliki kaitan erat dengan lembaga pendidikan, jika mau tetap eksis. Dunia industri memperoleh teknisi-teknisi handal dari lembaga pendidikan. Karena itu sekali lagi, hubungan antara dunia industri dengan dunia pendidikan adalah mutlak.

Sebaliknya kita perlu bertanya, apakah tujuan pendidikan hanyalah demi memuaskan keinginan pasar? Dalam kerangka tertentu dunia pendidikan memiliki tujuan yang lebih luas dari sekedar memuaskan keinginan pasar. Seperti yang ditegaskan Sidharta Gautama (Buddha) dan Aristoteles, pendidikan hendak membentuk keutamaan melalui pembiasaan, menciptakan kemandirian individu, dan membentuk hidup sempurna yang bahagia. Di sisi lain keinginan mencari ilmu adalah tanda kesempurnaan dan keluhuran manusia. Kesempurnaan dan keluhuran itu adalah realisasi dari akal budi manusia. Rupanya pemahaman inilah yang hilang dari mata kita dewasa ini, karena tuntutan bisnis dan industri yang tidak selalu sejalan dengan visi pendidikan yang sejati. [Koesoma, 2004]

Kepentingan yang cukup kuat mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia adalah kepentingan religius. Pendidikan diubah semata-mata menjadi pendidikan agama tertentu. Moralitas yang seharusnya memberi peluang untuk diskusi kritis nilai-nilai moral diubah menjadi indoktrinasi moral agama tertentu yang tidak boleh pertanyakan, apalagi diperdebatkan. Alih-alih memberikan kerangka berpikir yang tepat untuk menyingkapi kehidupan yang semakin majemuk dan rumit ini, anak didik diberikan kerangka kaca mata kuda yang melihat realitas melulu dengan satu sudut pandang, yakni sudut pandang agamanya.

Dalam arti ini pendidikan menjadi selubung bagi propaganda dan indoktrinasi agama. Pendidikan tidak hadir untuk melahirkan kebahagiaan yang sejati, tetapi kepatuhan buta pada seperangkat aturan yang diklaim sebagai kebenaran universal. Akibatnya peserta didik menjadi tertekan, karena mereka tidak lagi bisa mengekspresikan diri mereka secara otentik. Pendidikan juga tidak hadir untuk membangun moralitas yang otonom, melainkan moralitas yang heteronom, yang tertanam di dalam agama tertentu, di mana orang melulu menyandarkan dirinya pada moralitas kelompok. Akibatnya banyak peserta didik menjadi manusia yang konformistik, yakni suka ikut-ikutan dalam melakukan sesuatu, tanpa memiliki pertimbangan yang mandiri. Peserta didik menjadi manusia-manusia yang tidak toleran terhadap perbedaan pandangan hidup, karena mereka hanya dididik dengan satu sistem nilai yang mengklaim kebenaran mutlak.

Apakah pendidikan bertujuan semata untuk mengajarkan nilai-nilai moral agama tertentu? Apakah tepat jika pendidikan menjadi hanya menjadi sarana propaganda dan indoktrinasi ajaran agama tertentu? Jawabannya jelas tidak. Pendidikan membuat manusia bahagia dengan menempuh jalan-jalan yang didasarkan pada pola berpikir tertentu. Pendidikan juga bertujuan untuk membangun kemandirian moral, sehingga orang bisa secara rasional berpikir dan mempertimbangkan, apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan. Inilah esensi pendidikan yang sudah selalu sejalan dengan pendidikan karakter. Artinya seperti sudah ditegaskan di atas, pada hakekatnya, pendidikan sudah selalu merupakan pendidikan karakter. Dan itu hanya dapat dijalankan melalui proses habituasi, atau pembiasaaan di dalam hidup sehari-hari.[5]

3. Taktik Strategis

Jelaslah dunia pendidikan di Indonesia setidaknya memiliki dua tantangan dasar, yakni fundamentalisme pasar dalam bentuk dominasi pendidikan bisnis dan sains di dalam pendidikan, dan fundamentalisme religius dalam bentuk dominasi ajaran-ajaran agama tertentu di dalam proses pendidikan, sehingga mengabaikan sistem nilai lainnya yang juga ada di masyarakat. Dua situasi ini mengancam dunia pendidikan Indonesia, dan menjauhkannya dari esensi pendidikan sejati yang sebenarnya. Bagaimana cara menyingkapi fenomena krisis pendidikan ini?

Saya melihat setidaknya ada empat langkah strategis yang bisa diambil. Pertama, para praktisi pendidikan, sekaligus para pejabat pendidikan nasional, perlu untuk memahami dan menyadari esensi pendidikan yang sejati, sebagaimana telah saya ajukan dengan berbekal pemikiran Buddhisme dan Aristoteles. Esensi pendidikan itu adalah kemampuan untuk mencapai kebahagiaan dengan jalan-jalan yang tepat, dan hidup berpijak pada otonomi moral, yakni kemampuan untuk secara mandiri menentukan apa yang baik untuk dilakukan, serta membentuk keutamaan moral tersebut melalui pembiasaan yang intensif. Pemahaman inilah yang harus dipegang erat-erat, dan disebarluaskan ke masyarakat Indonesia.

Dua, pemahaman akan esensi pendidikan yang sejati itu haruslah disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Iklan layanan masyarakat dibuat. Buku-buku dengan pesan yang sama diterbitkan lalu diluncurkan di dalam ruang publik. Acara TV, diskusi publik, sampai dengan propaganda partai politik haruslah mengambil bentuk sosialisasi agresif ide-ide tentang esensi pendidikan yang sejati tersebut. Diperlukan kekuatan lobi yang sangat besar dari pihak-pihak yang merasa perlu untuk keluar dari situasi krisis pendidikan Indonesia dewasa ini.

Tiga, para praktisi dan pejabat pendidikan di level nasional perlu merombak kurikulum pendidikan nasional secara radikal. Kurikulum pendidikan tersebut perlu untuk menyesuaikan dengan paradigma esensi pendidikan yang telah dijabarkan sebelumnya. Pendidikan ketrampilan industri dan agama tertentu perlu tetap ada, namun dalam jumlah proporsional di samping pendidikan sejati yang berbasis pada pengembangan karakter yang otonom dan berfokus pada kebijaksanaan. Jika diprosentase pada hemat saya, yang muncul adalah 60 % pendidikan yang berpijak pada paradigma yang saya tawarkan di atas, 20 % pendidikan yang bertujuan untuk mengabdi pada dunia bisnis maupun industri, dan 20 % pendidikan yang terkait dengan ajaran agama tertentu.[6]

Empat, sebelum semua itu terwujud, maka para pejabat pendidikan di level nasional dan regional haruslah ditempati oleh orang-orang yang memiliki perspektif pendidikan yang sejati, dan bukan sembarangan birokrat yang hanya bisa berpikir teknis, seperti layaknya tukang. Para pejabat institusi pendidikan adalah orang-orang yang sungguh memahami filsafat pendidikan, walaupun displin ilmu mereka beragam. Maka dari itu perlu dilakukan sosialisasi makna pendidikan sejati yang berpijak pada dimensi filosofis yang mendalam ke seluruh pejabat pendidikan di Indonesia. Pemerintah perlu mendorong gerak perubahan ini, jika ingin membenahi dunia pendidikan karakter Indonesia yang kini kian terpuruk.

4. Kesimpulan

Pada esensinya setiap pendidikan adalah pendidikan karakter. Berbekal pemahaman Buddhisme klasik, pendidikan adalah upaya untuk membentuk manusia yang bahagia dan bijaksana seturut dengan prinsip-prinsip yang tepat. Dan berbekal pada ajaran Aristoteles, dasar dari karakter adalah kemampuan diri orang untuk secara mandiri dan rasional menentukan apa yang baik dan benar untuk dilakukan, dan bukan sekedar menyesuaikan diri dengan apa kata kelompok secara buta. Pemahaman pendidikan semacam ini kini lenyap digantikan oleh pendidikan yang mengabdi pada kepentingan bisnis dan industri, dan kepentingan agama tertentu yang diselubungkan dengan pendidikan moral. Melalui tulisan ini saya mengajak kita semua untuk melakukan gerak balik ke esensi pendidikan yang sejati, yakni pendidikan karakter itu sendiri, dan mencoba menjaga jarak dari pendidikan berparadigma bisnis-industri serta moralitas agama tertentu. Diperlukan kehendak politik yang kuat sekaligus taktik infiltrasi yang jitu ke lembaga-lembaga pendidikan tingkat nasional maupun regional untuk mewujudkan cita-cita tersebut menjadi kenyataan.

Daftar Pustaka

Aristotle, Nicomachean Ethics, Cambridge University Press, Cambridge, 2004.

Lyotard, Jean-Francis, The Post-Modern Condition: A Report on Knowledge, University of

Minnesota Press, Minneapolis, 1979.

Koesoma, Doni, “Pendidikan Manusia versus Kebutuhan Pasar”,dalamPendidikan

Manusia Indonesia, Kompas, Jakarta, 2004.

Wattimena, Reza A.A., Meratapi Matinya Pendidikan,http://www.dapunta.com/meratapi-matinya-pendidikan.html diunduh pada Kamis 11 November 2011, Pk. 13.50.

——————————, Membongkar Rahasia Manusia, Telaah Lintas Peradaban

Filsafat Timur dan Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta, 2010.

Wren, Thomas, “Philosophical Moorings”, dalam Handbook of Moral and Character

Education, Larry P. Nucci dan Darcia Narvaez (eds), Routledge, New York, 2008

hal. 11-29


[1] Diajukan sebagai makalah National Seminar on Soft Skil and Character Building di Universitas Muhammadiyah Surabaya, 19 Januari 2011.

[2] Reza Alexander Antonius Wattimena lahir 22 Juli 1983 adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Kini bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya.

[3] Pada bagian ini saya mengacu pada Wren, Thomas, “Philosophical Moorings”, dalam Handbook of Moral and Character Education, Larry P. Nucci dan Darcia Narvaez (eds), hal. 11-29.

[4] Pada bagian ini saya mengacu pada Koesoma, Doni, “Pendidikan Manusia versus Kebutuhan Pasar”,dalamPendidikan Manusia Indonesia, Kompas, 2004

[5] Lihat Wattimena, Reza A.A., Meratapi Matinya Pendidikan,http://www.dapunta.com/meratapi-matinya-pendidikan.html diunduh pada Kamis 11 November 2011, Pk. 13.50.

[6] Prosentase ini didasarkan pada argumen berikut, bahwa karakter menentukan segalanya di dalam pekerjaan. Ketrampilan teknis yang dibutuhkan industri dapat diperoleh dengan mudah dengan memberikan pelatihan, jika karakter yang positif telah terlebih dahulu terbentuk.

Gambar diambil darihttp://educationfourall.files.wordpress.com/2011/01/education-cartoon.jpg

Teknologi yang Membebaskan Manusia?

CB058871 Menyoroti Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada Kualitas Pembelajaran Perguruan Tinggi di Indonesia (Edisi Revisi)

Reza A.A Wattimena

Makalah ini dipresentasikan dalam Seminar Nasional Peran Pendidikan Sains dan Teknologi sebagai Wahana Penguatan Modal Sosial di Era Global 14 Juli 2010 Institut Teknologi Surabaya, Surabaya

Abstrak

Seperti semua hal di muka bumi ini, kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dalam dunia pendidikan mengundang pro dan kontra dari berbagai perspektif. Beberapa dampak positifnya adalah TIK dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang efektif dan efisien, TIK sebagai pemberdaya dosen dan siswa, dan TIK sebagai pengembang metode serta diseminasi hasil penelitian. Dampak positif tersebut rupanya tidak tanpa kritik. Beberapa kritik yang diajukan adalah semakin dangkalnya pemikiran dosen dan mahasiswa, akibat kemudahan akses yang mematahkan kerja keras dan ketekunan, beredarnya informasi berkualitas rendah yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas penelitian maupun produksi pengetahuan yang ada, dan kecenderungan guru dan siswa untuk menjadi konsumen informasi semata, tanpa ada keinginan ataupun kemampuan untuk mulai menjadi produsen informasi yang bermutu. Bagaimana pro dan kontra tersebut dapat disingkapi secara bijaksana? Di dalam tulisan ini, saya ingin menyoroti secara mendalam berbagai perdebatan yang ada, serta mencoba mengajukan pandangan saya sendiri, bahwa teknologi informasi dan komunikasi, maupun semua bentuk teknologi lainnya, harus menempatkan manusia sebagai subyek. Hanya dengan begitu teknologi bisa membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan, dan tidak menjadikan manusia sebagai obyek eksploitasi, seperti yang banyak terjadi sekarang ini. Untuk memberi pendasaran pada argumen itu, saya mengacu pada penelitian R. Eko Indrajit, Andrew Feenberg, dan Herbert Marcuse.

Kata Kunci: Teknologi Informasi dan Komunikasi, Pendidikan, Subyektivitas, Emansipasi.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (selanjutnya TIK) adalah sesuatu yang menggembirakan. Namun perkembangan ini rupanya tidak lepas dari cacat yang melekat pada manusia, dan pada segala sesuatu yang keluar dari buah tangannya, terutama dalam soal pendidikan di perguruan tinggi. Cacat tersebut membuat saya tertarik untuk merefleksikan dampak multidimensional dari penggunaan TIK yang canggih di dalam proses pembelajaran maupun penelitian di perguruan tinggi. Pertanyaan yang akan coba dijawab di dalam makalah singkat ini adalah, bagaimana bentuk teknologi, dalam hal ini TIK, yang baik, yang mampu membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan kemiskinan, serta sungguh efektif memberdayakan bangsa di dalam proses pendidikan, terutama pendidikan di perguruan tinggi?

Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan membagi tulisan ini ke dalam tiga bagian. Awalnya saya akan menyoroti berbagai dampak yang muncul di dalam penerapan TIK di dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Uraian pada bagian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh R. Eko Indrajit (1). Berikutnya saya akan coba mengajukan cara pandang yang berbeda terhadap esensi dari TIK, dan teknologi pada umumnya, yakni teknologi yang membebaskan manusia, atau teknologi yang menempatkan manusia sebagai subyek. Uraian di dalam bagian ini diinspirasikan dari pembacaan saya terhadap pemikiran Andrew Feenberg dan Herbert Marcuse (2). Tulisan ini akan ditutup dengan kesimpulan, refleksi kritis, dan upaya untuk membuka beberapa tema persoalan yang masih harus dipikirkan lebih jauh (3).

Makna Kerja dalam Hidup Manusia

Technorati Tags: ,,

3.bp.blogspot.com
3.bp.blogspot.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Tulisan ini merupakan salah satu bab dalam diktat Filsafat Manusia: Menjadi Manusia Otentik (Reza A.A Wattimena, 2011)

Pada tulisan ini dengan mengacu pada pemikiran Peter Drucker, saya ingin mengajak anda memikirkan tentang makna kerja di dalam kehidupan manusia. Sebagai acuan saya terinspirasi dari buku Management, Tasks, Responsibilities, and Practices. Peter Drucker adalah seorang ahli manajemen yang pemikirannya, menurut saya, memiliki dimensi filosofis yang sangat dalam.[1]

Kerja adalah bagian sentral di dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran dan tubuhnya, manusia mengorganisir pekerjaan, membuat benda-benda yang dapat membantu pekerjaannya tersebut, dan menentukan tujuan akhir dari kerjanya. Dapat juga dikatakan bahwa kerja merupakan aktivitas yang hanya unik (dalam artian di atas) manusia. Di dalam Kitab Suci Yahudi yang sudah berusia sangat tua diceritakan bagaimana kerja merupakan hukuman Tuhan kepada manusia, karena ia tidak patuh pada perintah-nya. Sekitar 2600 tahun yang di Yunani, Hesiodotus menulis sebuah puisi tentang kerja yang berjudul Work and Days.[2] Di dalamnya ia berpendapat, bahwa kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia.

Filsafat dan Kerja

Di dalam salah satu tulisannya, Franz Magnis-Suseno pernah berpendapat, bahwa refleksi filsafat tentang kerja dapat ditemukan sejak 2400 tahun yang lalu. Walaupun pada masa itu, kerja dipandang sebagai sesuatu yang rendah.[3] Warga bangsawan tidak perlu bekerja. Mereka mendapatkan harta dari status mereka. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada masa itu, manusia yang sesungguhnya tidak perlu bekerja. Ia hanya perlu berpikir dan menulis di level teoritis. Semua pekerjaan fisik diserahkan pada budak. Budak tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.

Pada abad ke 17 dan 18, refleksi filsafat tentang kerja mulai berubah arah. Salah seorang filsuf Inggris yang bernama John Locke pernah berpendapat, bahwa pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak miliki pribadi. Hegel, filsuf Jerman, juga berpendapat bahwa pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya. Karl Marx, murid Hegel, berpendapat bahwa pekerjaan merupakan sarana manusia untuk menciptakan diri. Dengan bekerja orang mendapatkan pengakuan.[4]

Secara singkat Magnis-Suseno menegaskan, bahwa ada tiga fungsi kerja, yakni fungsi reproduksi material, integrasi sosial, dan pengembangan diri. Yang pertama dengan bekerja, manusia bisa memenuhi kebutuhannya. Yang kedua dengan bekerja, manusia mendapatkan status di masyarakat. Ia dipandang sebagai warga yang bermanfaat. Dan yang ketiga dengan bekerja, manusia mampu secara kreatif menciptakan dan mengembangkan dirinya.

Lanjutkan membaca Makna Kerja dalam Hidup Manusia

Inspirasi dari Bandung: Seni, Lingkungan, dan Skizofrenia

medicinet.com

Technorati Tags:

seni,filsafat,estetika,lingkungan,skizofrenia

Oleh : Bambang Sugiharto

Hal yang demikian dekat dengan kita seringkali justru jauh dari kesadaran. Layaknya ikan sulit menyadari dan memahami air, manusia modern pun harus melalui perjalanan panjang berputar untuk menyadari pentingnya lingkungan. Manusia modern dan lingkungan alam memang senantiasa berada dalam tegangan: antara melepaskan diri darinya atau justru meleburkan diri ke dalamnya, antara titik berat pada kultur atau menjadi bagian dinamis dalam natur. Dunia seni adalah manifestasi menarik dari tegangan macam itu.

Di satu pihak manusia modern menyadari misteri, keunikan dan pesona alam semesta umumnya melalui representasi artistiknya berupa lukisan, foto, musik, video atau pun film; di pihak lain kerangka artistik modern sendiri justru bertendensi kuat kian menghilangkan lingkungan alam sebagai bahan refleksinya (sebagai subject matter-nya). Ketika terlepas dari agama dan menjadi suatu wilayah otonom tersendiri dalam kiprah peradaban manusia, seni modern berangsur-angsur kian terlepas dari eksterioritas dan menyuruk kian mendalam ke wilayah interioritas, terperangkap dalam inflasi individu, dan memasuki wilayah skizofrenia yang ambigu dan kadang berbahaya.

Modernitas, estetika dan alam
Sekurang-kurangnya sejak abad 17 hingga 18, dualisme Cartesian demikian kuat menguasai sikap manusia terhadap lingkungan alam. Alam adalah realitas wadag material, res extensa; sedangkan manusia, terutama akalnya, adalah realitas batin, pikiran-non-material, res-cogitans . Dualisme yang telah mengompori kinerja ilmiah awal ini lantas berselingkuh dengan kepentingan teknologi dan kapitalisme, sehingga kian terlembagalah pola sikap Subyek-Obyek : manusia adalah subyek, alam adalah obyek belaka, medan untuk ditaklukan, dieksplorasi dan dieksploitasi. Maka alam kehilangan pesona magisnya, kehidupan kehilangan misterinya. Pusat gravitasi adalah manusia, dengan segala kepentingannya.

Di sisi lain, sikap epistemologis-teknis macam itu diimbangi oleh sikap estetis, yang justru menghargai lingkungan alam. Memang tampak paradoks. Perspektif klasik estetika abad 18, yang menggumpal pada Immanuel Kant, meyakini bahwa yang pokok dalam apresiasi estetis adalah sikap “tanpa kepentingan” ( disinterestedness), yaitu sikap yang melepaskan diri dari kepentingan sehari-hari yang teknis dan praktis atau pun kepentingan pribadi. Lingkungan , baik urban, rural, atau pun belantara hutan, dilihat sebagai sesuatu yang sublim dan indah. Namun disini lingkungan alam sebenarnya tetaplah juga diapresiasi secara formalistik sebagai medan obyek, dan terutama sebagai lanskap, yang berkarakter picturesque. Pada abad ini memang ada juga orang seperti J.J.Rousseau, yang melihat lebih jauh, yakni melihat alam sebagai setting kodrat manusia yang lebih otentik ketimbang setting kultural iptek modern, yang dianggapnya meracuni potensi-potensi natural manusia. Namun pandangan macam ini baru menemukan gaungnya yang tepat kelak di abad 19 pada masa Romantik.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari Bandung: Seni, Lingkungan, dan Skizofrenia

Inspirasi dari Semarang: Gegar Komunikasi Politik

12352268
4.bp.blogspot.com

Oleh: Saifur Rohman

Pernyataan Ketua DPR digugat sejumlah lembaga swadaya masyarakat karena dinilai melecehkan status tenaga kerja Indonesia.

Pernyataan itu dia keluarkan dalam konteks menanggapi persoalan TKI yang mencuat akhir- akhir ini (Kompas, 1/3).

Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Dipo Alam disomasi dan akhirnya dilaporkan kepada polisi gara-gara mengancam boikot sejumlah media massa.

Pada saat bersamaan, sejumlah elite politik tantang-menantang untuk keluar dari Sekretariat Gabungan Koalisi Partai Politik Pendukung Pemerintah.

Kasus-kasus yang berdekatan waktu itu membuktikan betapa elite politik dan pemerintahan selama ini mengalami krisis komunikasi. Apabila direfleksikan dalam pembangunan demokrasi kita, dapat dikatakan mereka belum mampu membangun komunikasi politik yang efektif.

Mengapa? Pertanyaan itu penting untuk menjawab pertanyaan selanjutnya: apa implikasinya bagi perkembangan demokrasi apabila hal ini terus terjadi?

Strategi komunikasi lemah

Kasus tersebut sebetulnya bukan peristiwa yang pertama kali terjadi. Dengan demikian, berdasarkan rentetan kasus yang terjadi dulu dan sekarang, bisa ditarik suatu hipotesis sederhana: bahwa para elite kita tak memiliki kemampuan membangun strategi berkomunikasi yang kondusif untuk merealisasikan idealisme demokrasi di negeri ini.

Mereka gagal menerjemahkan peristiwa-peristiwa aktual di masyarakat menjadi rumusan pernyataan yang jelas dan bisa dipahami secara normatif. Kegagalan itu bahkan memberikan bukti tidak adanya kejelasan visi membangun bangsa ini.

Dalam kancah filsafat politik, kita tahu dari Jurgen Habermas dalam buku klasiknya, Theory of Communicative Action (1988), bahwa membangun demokrasi partisipatoris memerlukan kemampuan komunikasi politik yang kuat. Konteks ideal yang dibayangkan Habermas adalah terjadinya dialog antara pembicara dan penutur secara intensif, terbuka, dan setara. Apabila konteks ideal itu tidak terwujud, Habermas menawarkan tiga uji keabsahan terhadap pernyataan dialogis tersebut, yakni uji kejelasan arti, kesungguhan maksud, dan kebenaran faktual.

Uji kejelasan diperlukan karena ada dugaan bahwa kalimat yang diutarakan tidak sesuai dengan arti yang berlaku umum (1988: 232).

Jika kalimat sudah memiliki kejelasan leksikal, perlu ditelusuri pada tingkat uji kedua karena bisa jadi kalimat yang diungkapkan tak sesuai dengan yang dimaksud penutur.

Jika pernyataan sesuai dengan maksudnya, diperlukan uji ketiga untuk mengonfirmasi makna dengan fakta-fakta empiris.

Dalam teori pragmatika yang dikembangkan ilmu bahasa, hal ini selaras dengan teori sederhana tindak tutur (speech act) yang pernah dikembangkan oleh Austin dalam How to Do Things with Words (1980). Dikatakan, ada tiga unsur yang perlu ditelusuri dalam berbahasa, yakni maksud penutur, tuturan itu sendiri, dan pemaknaan pendengar. Karena itu, menurut Austin, ”Keterampilan bertindak tutur secara signifikan meminimalisasi konflik dalam pembangunan demokrasi (1980: 43).”

Relevansinya dalam komunikasi politik akhir-akhir ini, tampak para elite kita tidak memiliki kompetensi berkomunikasi yang memadai. Buktinya, seorang pejabat pemerintah lebih memilih jalur hukum daripada membangun ruang dialog untuk mengklarifikasi pernyataannya. Hal itu karena penutur beranggapan tak ada ambiguitas arti dalam pernyataan.

Bukti lain, wakil rakyat yang tetap mempertahankan pernyataannya daripada mengakui bahwa pernyataan itu tak sesuai dengan arti yang berlaku umum.

Bukti-bukti tersebut mengindikasikan lemahnya pemahaman atas strategi komunikasi politik yang sehat. Wajar bilamana yang terjadi kemudian adalah kontradiksi pernyataan dalam organisasi pemerintahan itu sendiri.

Kontraproduktif

Kurangnya kemampuan berkomunikasi memberikan dampak kontraproduktif. Demokrasi yang didasari oleh dialog partisipatif antara pemerintahan dan rakyat tak mendapatkan dukungan yang signifikan dari para pengelola. Kenyataannya, pengelola negara minim kemampuan berkomunikasi dengan warga. Maka, ajang demokrasi hanya menjadi legitimasi ”kebebasan berpendapat” tanpa kemampuan memahami cara berpendapat yang elegan.

Jika kemampuan para elite cukup memadai, tidak akan terjadi akrobat kata-kata yang berujung pada konflik berkepanjangan. Semestinya, karena pengelola negara mampu memahami maksud-maksud warga, mereka akan menjalankan keinginan rakyat sebagai pedoman.

Persoalannya, maksud rakyat yang diungkapkan melalui bahasa selama ini hanya dipahami sebagai kumpulan aksara yang bisa dipermainkan sesuai dengan maksud penutur.

Mengikuti wawasan dekonstruksi Jacques Derrida, politik dipahami sebagai permainan tanda. Bahasa telah menjadi arena permainan baru dalam skema politik tawar-menawar.

Inilah jawaban kenapa kasus-kasus besar bangsa ini hanya berhenti dalam perdebatan rapat dan istilah-istilah mentereng dalam keputusan. Maksud warga negara hanya diterjemahkan dalam permainan bahasa tanpa kejelasan, kesungguhan, bahkan tanpa kebenaran.

Saifur Rohman Pengajar Filsafat; Menetap di Semarang

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/2011/03/07/03335445/gegar.komunikasi.politik


Rosa Luxemburg dan Spontanitas Organisasi

936full-rosa-luxemburg Profil Singkat seorang Filsuf Perempuan Revolusioner

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apakah anda pernah mendengar nama Rosa Luxemburg? Jika anda seorang aktivis sosial, pemikir kritis, pencinta ide-ide Karl Marx, pejuang keadilan sosial, dan tidak mengenal nama itu, anda perlu lebih banyak membaca.

Ia adalah seorang penulis, filsuf, dan aktivis sosial ternama. Ia dipenjara bertahun-tahun, karena menentang terjadi perang dunia pertama.[1] Di sisi lain ia juga banyak melakukan kritik terhadap ajaran-ajaran Marx yang tradisional. Saya ingin mengajak anda mengenalnya lebih dalam.

Salah satu cara untuk mengenalnya lebih dalam adalah dengan membaca surat-surat pribadinya. Itu semua ada di dalam buku The Letters of Rosa Luxemburg yang dikumpulkan dan diterjemahkan oleh George Shriver. Membaca buku itu anda akan diajak untuk menyelami pribadi seorang perempuan yang memiliki integritas tinggi, seorang pemikir sejati, sekaligus seorang aktivis keadilan sosial yang tak kenal lelah.

Semua itu bukanlah tanpa tantangan. Ia dipenjara dari 1904-1906, dan tiga setengah tahun berikutnya, karena ia menentang dengan keras terjadinya perang dunia pertama. Bahkan ia dibunuh secara brutal oleh kelompok militer pada 1919, ketika terjadi pemberontakan kaum pekerja di Berlin. Jelaslah ia adalah orang yang tidak pernah gentar, ketika nilai-nilai hidupnya ditantang.

Di balik semua itu, seperti dijelaskan oleh Rowbotham, ia adalah seorang perempuan yang amat penuh cinta dan humoris.

Inspirasi dari STF Driyarkara: Sinyal dari Dunia Bawah

Technorati Tags: ,,

Sinyal dari Dunia Bawah
Politik Arcanum di Era Keterbukaan

Oleh: F Budi Hardiman

Pengajar di STF Driyarkara, Jakarta

APA yang hilang dengan rontoknya imperium komunisme Eropa? Kapitalisme dan liberalisme bukan hanya kehilangan pembanding. Rancangan-rancangan agung tentang masyarakat dan sejarah juga perlahan kehilangan plausibilitasnya. Tapivacuum utopianisme dalam "masyarakat tanpa musuh" (U Beck) ini hanyalah efek di permukaan. Efek mendasar yang mungkin masih kurang disadari adalah kaburnya skema waktu yang selama ini diandaikan begitu saja. Dengan suatu rancangan, kita dipukau oleh fiksi tentang sekuensi momen-momen yang datang dan lewat. Ada awal, tahap-tahap, dan tujuan yang terkalkulasi. Fiksi itu perlahan sirna dengan berakhirnya rancangan. Dan, manakala kesahihannya ditarik dari keseharian politik global, proses-proses sosial menjadi lebih tak terduga, penuh kejutan dan improvisasi. Tampaknya pengalaman dunia sedang bergeser dari great designs ke events, dari keajekan sekuensi waktu ke denyut moods.

Dunia sedang terbenam dalam keseharian saat menara kembar WTC dirontokkan lewat aksi terorisme pada 11 September 2001. Indonesia sedang tertidur ketika bom menggelegar di Bali setahun satu hari setelahnya. Tak ada prabayang untuk peristiwa semi-apokaliptis itu. Dunia juga kehilangan pola dalam reaksinya. Tragedi itu merupakan "patahan" dari sekuensi momen-momen dalam keseharian kita. Namun, ada sesuatu yang instruktif dari prahara global ini. Melaluinya orang dapat "mengintip" situasi politik global dengan lebih transparan.

Politik arcanum (kata Latin yang berarti "rahasia") kaum teroris dan perang melawan terorisme meningkatkan intensitas panik massa. Jam dan kalender tetap ada, tetapi manakala ancaman kekerasan merata secara global, kecemasanlah (Angst) yang mengembalikan waktu pada makna aslinya sebagai "yang datang tak terduga". Waktu adalah kemungkinan untuk mati (Heidegger). Waktuku habis dengan kematianku. Dalam arti ini, teror tidak bergerak "dalam waktu", melainkan melekat pada waktu. Dia datang dalam kebungkaman dan ketakterdugaan seperti maut dan menghalau fiksi keseharian.

Slavoj Žižek tentang Manusia sebagai Subyek Dialektis, Bagian 2

zizek Reza A.A Wattimena[i]

“Filsafat dimulai pada saat kita tidak lagi menerima

apa yang ada sebagai yang begitu saja diberikan.”

Slavoj Žižek

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopher and scientist from various disciplines try to answer it based on their research and theories. What is unique in Žižek approach is his effort to combine two different schools of thought as an intellectual instrument to answer this question, namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by the philosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is not inside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine their self. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in the symbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can say that human is a dialectical subject.

Kata Kunci: subyek, manusia, subyek dialektis, fantasi, the Real, tata simbolik.

Aku bermimpi. Mimpiku indah. Aku terbang di angkasa, bertemu putri cantik, lalu kita berdua terbang mengelilingi langit malam penuh bintang. Tiba-tiba aku merasa ingin jatuh. Aku pun terbangun. Ah, ternyata aku jatuh dari tempat tidur. Aku pun bergegas kembali naik ke kasur, guna melanjutkan mimpi indahku tadi. Tetapi apa daya mimpi itu tidak berlanjut. Aku justru terjebak dalam mimpi lain yang nyaris tak kuingat lagi.

Mungkin anda pernah mengalami hal yang sama dengan saya. Pandangan umum akan mengatakan, bahwa mimpi itu ilusi (terbang bersama putri cantik), dan terbangun itu nyata (jatuh dari tempat tidur). Melihat fenomena ini Žižek berpendapat lain. Baginya peristiwa jatuh dari tempat tidur adalah the Real yang mengganggu stabilitas tata simbolik manusia, ketika ia terhanyut di dalam mimpinya. The Real itu menyakitkan, traumatis, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Namun orang niscaya mengalaminya, tanpa ada tawar menawar. Sementara mimpi indah adalah tata simbolik (symbolic order) yang membuat nyaman dan terlena. Orang tidak ingin lepas darinya. Tetapi kehidupan memaksa orang melepas diri dari keterlenaan tata simbolik tersebut. Orang ingin bermimpi karena mereka tidak tahan dengan realitas. Jika sudah begitu mana sebenarnya yang bisa disebut realitas? Terbang bersama putri atau jatuh dari tempat tidur?

Inilah khas gaya analisis Žižek. Ia menantang dan membalik pandangan umum. Ia pun melakukannya dengan penjelasan rasional, dan bukan sekedar argumen tanpa dasar. Begitu pula ketika ia mencoba mengajukan pandangannya soal manusia. Pada hemat saya argumen Žižek tentang manusia dapat ditempatkan untuk menanggapi perdebatan filosofis tentang manusia, yakni antara konsep subyek Cartesian di satu sisi, dan konsep subyek posmodernisme di sisi lain.

Yang pertama berpendapat bahwa subyek, manusia, adalah mahluk yang rasional, otonom, atomistik, dan bebas dalam berhadapan dengan dunia. Para filsuf modernis dan pencerahan berada di barisan ini. Kelompok kedua melihat bahwa subyek adalah semata bentukan dari kekuatan-kekuatan eksternal di luar kesadaran dirinya, seperti pengaruh ekonomi, struktur, politik, teks, ketidaksadaran, dan sebagainya. Konsep manusia sebagai subyek dialektis yang dirumuskan Žižek tepat ingin mengajukan kontribusi di dalam perdebatan tersebut.[ii]

Untuk menjelaskan argumen Žižek tersebut, saya akan membagi tulisan ini ke dalam tiga bagian. Awalnya saya akan menjelaskan dulu sosok pribadi maupun pemikiran Žižek (1). Pada bagian ini saya banyak terbantu oleh uraian Tony Myers di dalam bukunya tentang Žižek. Lalu saya akan menjelaskan pandangan Žižek tentang manusia, terutama yang termuat di dalam buku utamanya The Sublime Object of Ideology (2). Bagian ini merupakan penelusuran saya terhadap teks-teks asli tulisan Žižek tentang manusia, terutama melihat pengaruh filsafat Hegel dan Lacan pada perkembangan pemikiran Žižek tentang manusia. Pada akhirnya saya akan mengajukan kesimpulan dari seluruh tulisan ini (3).

Untuk membaca lebih jauh, anda bisa menghubungi Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.


[i] Reza Alexander Antonius Wattimena lahir 22 Juli 1983. Kini bekerja menjadi dosen dan Sekretaris Fakultas di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya, redaktur Media Budaya On Line untuk Kolom Filsafat www.dapunta.com, anggota Komunitas Diskusi Lintas Ilmu COGITO (dalam kerja sama dengan Universitas Airlangga) di UNIKA Widya Mandala, Surabaya, dan anggota komunitas System Thinking di universitas yang sama. Ia adalah alumnus program Sarjana dan Magister Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Telah menulis beberapa buku yakni Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Filsafat dan Sains (2008), Filsafat Kritis Immanuel Kant (2010), Bangsa Pengumbar Hasrat (2010), Menebar Garam di Atas Pelangi (artikel dalam buku, 2010), Ruang Publik (artikel dalam buku, 2010), menjadi editor untuk satu buku tentang Filsafat Manusia (Membongkar Rahasia Manusia: Telaah Lintas Peradaban Filsafat Timur dan Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta, 2010), serta beberapa artikel ilmiah di jurnal ilmiah, maupun artikel filsafat populer di media massa. Kini sedang menyunting naskah Metodologi Penelitian Filsafat dalam kerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dan menulis buku tentang pemikiran Slavoj Žižek terkait dengan konsep manusia dan ideologi. Bidang peminatan adalah Filsafat Politik, Multikulturalisme, dan Filsafat Ilmu Pengetahuan. Dapat dihubungi di reza.antonius@gmail.com atau dilihat di

Rumah Filsafat https://rezaantonius.wordpress.com/

[ii] Tere Vadén, “Žižek’s phenomenology of the subject: transcendental or materialist?,” International Journal of Žižek Studies, vol. 2, no. 2, 2010, hal. 2.

Slavoj Žižek dan Fenomena “Kesurupan Otak”, Bagian 1

slavoj_zizek Oleh: REZA A.A WATTIMENA

“Lihat teman saya Peter Sloterdijk. Saya sangat menyukai dia. Tapi jelas ia harus dikirim ke kamp kerja paksa. Ia akan memperoleh posisi lebih bagus disana. Mungkin ia bisa bekerja sebagai koki,” demikian kata Žižek.

Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi. Žižek sudah siap menuju ke Konferensi Komunis di Berlin. Ia tinggal di Ljubljana, Slovenia, dan bekerja sebagai professor filsafat disana. Ia sebal karena harus mendengarkan pidato Alan Badiou di acara pembukaan.

Yang juga menarik adalah, bahwa Antonio Negri, yang merupakan musuh besar teoritis Alan Badiou, juga akan datang. Apa yang kiranya akan menjadi tema pembicaraan Negri? Hmm..

Tentu saja Žižek tidak bisa menghabiskan waktunya berpikir seperti ini. Ini menggelisahkan. Ia pun mengambil catatan kecilnya, dan mulai berpikir untuk berbicara apa di dalam presentasi yang akan ia lakukan selama lebih dari satu jam nanti. Mungkin.. ia akan berbicara soal Marx. Juga soal Hegel, dan tentu saja ia akan mengajukan kritik tajam pada pemikiran Badiou maupun Negri.

Ternyata catatan kecilnya hilang. Ia sulit menemukannya kembali. Tapi tenang saja, Žižek penuh dengan ide yang siap untuk dilontarkan. Di dalam tasnya ia hanya membawa satu kaos. Cuaca panas. Žižek sudah berkeringat. Sebentar lagi konferensi komunis internasional akan segera dimulai.

Lanjutkan membaca Slavoj Žižek dan Fenomena “Kesurupan Otak”, Bagian 1

Inspirasi dari STF Driyarkara: Menggugat Arti Ekonomi

economic-recovery

Menggugat Arti Ekonomi

B Herry Priyono

Ketika dongeng pengurangan angka kemiskinan dan rancangan agresif pertumbuhan ekonomi coba mengembuskan optimisme pada awal tahun 2011, seorang teman mengirim pesan singkat: ”Apakah penjualan mobil yang melonjak 54 persen tanda pertumbuhan ekonomi yang baik?”

Daripada menjawab dengan mengandaikan banyak penjelasan, saya kirim pertanyaan itu kepada keponakan yang duduk pada tahun pertama SMA. Beberapa menit kemudian, ia kirim balasan: ”Kalau penjualan mobil naik 54 persen, so what gitu lho, Om!” Tentu ia belum paham kerumitan soalnya, tetapi ungkapan ”so what gitu lho” terasa kena ke jantung masalah. Soalnya, tak menyangkut pertumbuhan, tetapi kualitas pertumbuhan. Di Indonesia, kualitas pertumbuhan merupakan masalah yang sudah lama membara.

Dilucuti dari slogan akademis, masalahnya adalah tidak terkaitnya pertambahan kekayaan secara keseluruhan dengan perbaikan kualitas hidup warga Indonesia yang miskin dan hampir miskin. Itulah 108,8 juta warga yang bertahan hidup dengan kurang dari Rp 18.000 per hari pada tahun 2006 dan telah mencapai sekitar 121,7 juta warga pada 2010. Ini bukan cerita baru, kita telah lama menghabiskan waktu bersitegang tentang itu. Namun, ada perkara jauh lebih sederhana yang tersembunyi dari sengketa luasnya kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi. Andai yang tersembunyi itu dimunculkan dengan bahasa biasa, siapa tahu kita boleh menemukan ilham bagi harapan.

Lanjutkan membaca Inspirasi dari STF Driyarkara: Menggugat Arti Ekonomi

Buletin Cogito Maret 2011: Apakah Segalanya Perlu Dinilai?

Image0727

Diskusi tentang Positivisme dalam Pendidikan

Ruangannya redup. Banyak lukisan bergambar wajah para filsuf besar di dalamnya. Cahayanya mirip seperti di galeri lukisan. Itulah ruangan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Jika masuk ke dalamnya, anda akan merasakan aura yang berbeda. Aura tersebut melambangkan pergulatan pemikiran, refleksi, diskusi, dan karya yang memperkaya semua orang di dalamnya. Di depan pintu masuk fakultas, anda akan diajak untuk melihat hasil karya para dosen maupun mahasiswa Fakultas Filsafat yang pernah dipublikasikan. Semboyannya satu: publish or perish, publikasi atau mati.

Kali ini Fakultas Filsafat kembali menerbitkan buletin Cogito edisi Maret 2011 dengan tema Sistem Poin di UNIKA Widya Mandala Surabaya. Buletin tersebut terdiri dari tiga tulisan. Tulisan pertama dirumuskan oleh Agustinus Hermawan, mahasiswa tingkat pertama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu harus dapat dinilai dengan model penilaian yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Sistem poin di UKWMS adalah bentuk dari penilaian semacam itu.

Tulisan kedua dari David Jones Simanungkalit, mahasiswa tingkat dua Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia tidak setuju dengan pendapat Agustinus. Baginya manusia tidak dapat dinilai secara obyektif. Manusia bukanlah benda yang bisa dipahami dengan statistik. Ia mengajukan beberapa argumen untuk menolak sistem penilaian obyektif semacam itu di dalam pendidikan.

Mereka berdua berdebat di dalam tulisan tentang sisi positif maupun negatif dari positivisme, yakni paham yang berpendapat, bahwa pengetahuan manusia haruslah didasarkan pada pengalaman inderawi. Segala sesuatu yang tidak memiliki dimensi inderawi tidaklah layak untuk dijadikan dasar bagi pengetahuan. Bagi Agustinus positivisme cukup sah untuk diterapkan, guna membuat penilaian di dalam bidang pendidikan. Sementara bagi David positivisme bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga tidak pernah bisa diterapkan untuk memahami manusia, apalagi untuk pendidikan.

Tulisan ketiga dirumuskan oleh Benny Suwito, dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia memaparkan riwayat hidup sekaligus beberapa butir pemikiran Konfusius. Baginya ajaran Konfusius bisa membantu kita untuk hidup lebih beradab di dunia sekarang ini. Buletin Cogito terbit setiap bulannya. Anda bisa mendapatkannya di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. (Reza A.A Wattimena)

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Tujuh Penyakit Bangsa

heart_disease

Tujuh Penyakit Bangsa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Bangsa Indonesia sedang sakit. Itu tidak dapat diragukan. Beragam krisis menghantam tanpa ada upaya untuk melawan. Kita terjebak di dalam lingkaran setan.

Saya melihat setidaknya ada tujuh penyakit bangsa. Semua dimulai dari tiadanya kepastian hukum. Penyakit ini begitu sistemik dan mengakar. Langkah pertama adalah menyadari dan mengakui keberadaan penyakit-penyakit ini.

Hukum yang Korup

Penyakit pertama adalah sistem hukum yang korup. Menurut Habermas seorang filsuf Jerman kontemporer, hukum adalah penyangga masyarakat majemuk. Di dalam masyarakat yang memiliki beragam kriteria nilai hidup, hukum menjadi sabuk yang menyatukan semuanya, sehingga tidak terjadi perpecahan. Syaratnya adalah hukum itu merupakan hasil dari kesepakatan bebas dari pihak-pihak yang nantinya terkena dampak dari hukum itu, baik langsung ataupun tidak.

Di Indonesia sistem hukum jelas kacau. Perangkat hukumnya bias dan diskriminatif dalam beberapa aspek. Aparat penegak hukumnya pun amatlah bermasalah. Begitu mudah suap dilakukan untuk mempermulus proses hukum pihak-pihak yang berkuasa. Rakyat yang tidak berpunya pun sulit untuk mendapatkan keadilan.

Inilah penyakit utama bangsa kita. Sistem hukum yang seharusnya menjadi pengikat di dalam masyarakat majemuk justru korup dan merusak semuanya. Orang hidup dalam ketidakpastian. Keadilan hanya cita-cita yang tak kunjung datang.

Maka reformasi hukum adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda. Pranata hukum harus dibuat sebebas mungkin dari bias dan kepentingan-kepentingan partikular yang tidak adil. Aparat penegak hukum juga perlu dilakukan seleksi ulang. Kriteria utama bukanlah kedekatan pribadi, melainkan kompetensi untuk menjamin penerapan hukum yang sedekat mungkin dengan ide keadilan.

Lanjutkan membaca Tujuh Penyakit Bangsa

Parapsikologi dan Paranormal

maramis

Parapsikologi dan Paranormal

Oleh: Muliady Tanu Djaja

Prof. W.F. Maramis, Sp KJ pada Sabtu, 26 Februari 2011, mulai pukul 10 pagi kembali tampil sebagai nara sumber dalam diskusi terbuka bioetika bulanan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Kali ini diskusi yang berlangsung di ruang kelas D-101, kampus Dinoyo ini mengusung tema “Parapsikologi dan Paranormal”.

Pada bagian awal Prof. Maramis, yang berprofesi sebagai dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dan berpengalaman sebagai dekan Fakultas Psikologi di Universitas Airlangga dan di UKWMS, menjelaskan perbedaan arti paranormal dan parapsikologi. Kemudian dikemukakan beberapa teori yang disertai dengan contoh-contoh mengenai kenyataan paranormal dan parapsikologi di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini menjadikan para peserta diskusi yang terdiri dari para dosen, karyawan dan mahasiswa menjadi semakin jelas dan bertambah pengetahuannya.

Fenomena paranormal secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yakni gejala parapsikik dan gejala parafisik. Yang tergolong gejala parapsikik adalah “guna-guna”, telepati, dan komunikasi dengan para arwah. Sedangkan yang termasuk fenomena paranormal bergejala parafisik, yakni levitasi, kebal luka, santet, dan kesurupan. Dari hasil penelitian parapsikologi seperti yang dilakukan oleh Dr. J.B. Rhine di Amerika Serikat, diantaranya dengan memakai kartu Zener, diketahui bahwa kesadaran atau masa kini tiap manusia tidak sama. Rata-rata manusia yang tergolong normal kesadaran masa kininya antara 0,8 detik sampai dengan dua detik. Namun demikian ada perkecualian untuk orang-orang tertentu yang tergolong ESP. Bagi mereka kesadaran atas masa kininya bisa berpuluh menit, bahkan mungkin lebih dari itu.

Diskusi terbuka menjadi semakin menarik, sehingga perlu dilakukan tambahan waktu setengah jam, hingga berakhir pukul setengah satu siang, ketika ditampilkan beberapa gambar, antara lain: foto X-ray korban santet, pertunjukan ilmu kebal luka di pelbagai daerah, pertandingan levitasi di Amerika Serikat, dan patung bunda Maria yang mengeluarkan air mata darah manusia bergolongan darah AB yang pernah menghebohkan warga kota Surabaya sekitar dua puluh tahun yang lalu. (Mul)

Facebook: Pencetus Gerakan Massa atau Pencipta Anarki?

Image0720

Facebook: Pencetus Gerakan Massa

atau Pencipta Anarki?

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

 

Fakultas Filsafat kembali membuka ruang diskusi pada 25 Februari 2011 pk. 08.50-10.30 di kampus UNIKA Widya Mandala Dinoyo. Kali ini temanya adalah tentang pro kontra keberadaan facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Pertanyaannya sederhana apakah facebook dapat membawa dampak positif dengan menggalang gerakan massa menuju perubahan yang lebih baik, atau facebook justru mendorong terciptanya anarki yang mengacaukan keadaan?

Peserta diskusi adalah mahasiswa Fakultas Filsafat, beberapa dosen, baik dari Fakultas Filsafat UKWMS ataupun Universitas Airlangga, dan mahasiswa dari Fakultas Bisnis UNIKA Widya Mandala Surabaya. Diskusi berjalan hangat. Ada tiga butir kesimpulan yang kiranya bisa ditarik dari diskusi ini. Yang pertama facebook pada hakekatnya adalah alat. Tujuan dan arahnya ditentukan sepenuhnya oleh penggunanya, yakni manusia. Manusia hidup dengan facebook, namun selalu memiliki dorongan ataupun kemampuan untuk melampaui, termasuk melampaui facebook itu sendiri.

Yang kedua namun facebook tidak pernah sungguh netral. Sejak awalnya berdirinya facebook telah membawa kepentingan dari ideologi tertentu. Ideologi itu adalah kapitalisme yang selalu membawa kepentingan untuk memperbesar modal. Dengan cara itu facebook menciptakan kebutuhan palsu untuk manusia, yakni kebutuhan yang tampaknya ada, tetapi tidak sungguh-sungguh benar dibutuhkan.

Yang ketiga perilaku orang Indonesia yang gemar facebook-an ternyata juga dipengaruhi fakta historis bangsa ini yang hidup dalam penjajahan dan tekanan rezim Orde Baru. Mental bangsa inferior membuat bangsa ini latah, dan mudah sekali terpikat segala sesuatu buatan Eropa ataupun Amerika. Argumen ini kontroversial dan tentu saja masih perlu penelitian lebih jauh untuk membuktikannya.

Diskusi Cogito fakultas Filsafat bertujuan untuk membantu para penulis buletin Cogito setiap bulannya untuk merumuskan pemikiran mereka. Pada bulan April 2011, penulisnya adalah Kristo yang akan menanggapi secara kritis fenomena facebook dan gerakan massa, serta Aris yang lebih melihat sisi positif facebook dalam kaitannya dengan gerakan massa. Nantikan terbitnya buletin Cogito tersebut, dan sampai jumpa di diskusi berikutnya yang akan dilaksanakan bulan depan.***

Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern

 

1099 

Menyingkap Fenomena

Perbudakan Modern

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apakah demokrasi hanya bisa berdiri dengan adanya perbudakan? Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles, salah seorang filsuf Yunani Kuno terbesar, mungkin akan menjawab ya. Prinsip kesetaraan hanya berlaku bagi warga negara. Selain mereka yang ada hanya budak yang tidak bermakna, dan tidak bisa disebut manusia.

Kita hidup di era demokrasi. Banyak negara di dunia beranggapan, inilah sistem politik yang paling ideal. Revolusi politik dilancarkan untuk mewujudkan cita-cita masyarakat demokratis yang sejahtera. Namun tanpa perbudakan bisakah demokrasi sungguh tercipta?

Hirarki Alami

Alam semesta tersusun atas elemen-elemen yang tidak setara. Yang satu lebih tinggi daripada yang lainnya. Begitu pula dunia manusia. Beberapa manusia lebih luhur daripada yang lainnya.

Konsep perbudakan berdiri di atas pengandaian, bahwa ada tingkatan manusia. Kelompok manusia tertentu dianggap lebih unggul daripada kelompok manusia lainnya. Maka kelompok yang lebih kuat punya hak untuk menindas kelompok yang lebih tak berdaya. Perbudakan tidak hanya menjadi biasa, tetapi menjadi keharusan alamiah.

Lanjutkan membaca Menyingkap Fenomena Perbudakan Modern