Buletin Cogito Maret 2011: Apakah Segalanya Perlu Dinilai?

Image0727

Diskusi tentang Positivisme dalam Pendidikan

Ruangannya redup. Banyak lukisan bergambar wajah para filsuf besar di dalamnya. Cahayanya mirip seperti di galeri lukisan. Itulah ruangan Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Jika masuk ke dalamnya, anda akan merasakan aura yang berbeda. Aura tersebut melambangkan pergulatan pemikiran, refleksi, diskusi, dan karya yang memperkaya semua orang di dalamnya. Di depan pintu masuk fakultas, anda akan diajak untuk melihat hasil karya para dosen maupun mahasiswa Fakultas Filsafat yang pernah dipublikasikan. Semboyannya satu: publish or perish, publikasi atau mati.

Kali ini Fakultas Filsafat kembali menerbitkan buletin Cogito edisi Maret 2011 dengan tema Sistem Poin di UNIKA Widya Mandala Surabaya. Buletin tersebut terdiri dari tiga tulisan. Tulisan pertama dirumuskan oleh Agustinus Hermawan, mahasiswa tingkat pertama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia berpendapat bahwa segala sesuatu harus dapat dinilai dengan model penilaian yang obyektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Sistem poin di UKWMS adalah bentuk dari penilaian semacam itu.

Tulisan kedua dari David Jones Simanungkalit, mahasiswa tingkat dua Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia tidak setuju dengan pendapat Agustinus. Baginya manusia tidak dapat dinilai secara obyektif. Manusia bukanlah benda yang bisa dipahami dengan statistik. Ia mengajukan beberapa argumen untuk menolak sistem penilaian obyektif semacam itu di dalam pendidikan.

Mereka berdua berdebat di dalam tulisan tentang sisi positif maupun negatif dari positivisme, yakni paham yang berpendapat, bahwa pengetahuan manusia haruslah didasarkan pada pengalaman inderawi. Segala sesuatu yang tidak memiliki dimensi inderawi tidaklah layak untuk dijadikan dasar bagi pengetahuan. Bagi Agustinus positivisme cukup sah untuk diterapkan, guna membuat penilaian di dalam bidang pendidikan. Sementara bagi David positivisme bertentangan dengan kodrat manusia, sehingga tidak pernah bisa diterapkan untuk memahami manusia, apalagi untuk pendidikan.

Tulisan ketiga dirumuskan oleh Benny Suwito, dosen di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Ia memaparkan riwayat hidup sekaligus beberapa butir pemikiran Konfusius. Baginya ajaran Konfusius bisa membantu kita untuk hidup lebih beradab di dunia sekarang ini. Buletin Cogito terbit setiap bulannya. Anda bisa mendapatkannya di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. (Reza A.A Wattimena)

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s