Slavoj Žižek dan Fenomena “Kesurupan Otak”, Bagian 1

slavoj_zizek Oleh: REZA A.A WATTIMENA

“Lihat teman saya Peter Sloterdijk. Saya sangat menyukai dia. Tapi jelas ia harus dikirim ke kamp kerja paksa. Ia akan memperoleh posisi lebih bagus disana. Mungkin ia bisa bekerja sebagai koki,” demikian kata Žižek.

Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi. Žižek sudah siap menuju ke Konferensi Komunis di Berlin. Ia tinggal di Ljubljana, Slovenia, dan bekerja sebagai professor filsafat disana. Ia sebal karena harus mendengarkan pidato Alan Badiou di acara pembukaan.

Yang juga menarik adalah, bahwa Antonio Negri, yang merupakan musuh besar teoritis Alan Badiou, juga akan datang. Apa yang kiranya akan menjadi tema pembicaraan Negri? Hmm..

Tentu saja Žižek tidak bisa menghabiskan waktunya berpikir seperti ini. Ini menggelisahkan. Ia pun mengambil catatan kecilnya, dan mulai berpikir untuk berbicara apa di dalam presentasi yang akan ia lakukan selama lebih dari satu jam nanti. Mungkin.. ia akan berbicara soal Marx. Juga soal Hegel, dan tentu saja ia akan mengajukan kritik tajam pada pemikiran Badiou maupun Negri.

Ternyata catatan kecilnya hilang. Ia sulit menemukannya kembali. Tapi tenang saja, Žižek penuh dengan ide yang siap untuk dilontarkan. Di dalam tasnya ia hanya membawa satu kaos. Cuaca panas. Žižek sudah berkeringat. Sebentar lagi konferensi komunis internasional akan segera dimulai.

Tiga Raja

Tiga filsuf besar dari aliran kiri baru akan menjadi pembicara di acara tersebut. Konferensi akan diselenggarakan di Teater Berlin Volkbühne pada akhir Juni 2010. Yang pertama adalah Antonio Negri. Ia adalah orang Italia. Usianya sudah lebih dari 70 tahun. Ia pernah menjadi tahanan politik. Ia menulis buku yang berjudul Empire. Buku itu menjadi buku Neo Marxis paling laku terjual sepuluh tahun terakhir ini.

Yang kedua adalah Alan Badiou, seorang filsuf Perancis. Umurnya sekitar 70 tahun. Pemikirannya sangat abstrak. Ia sangat dipengaruhi pemikiran Mao Tse Tung, dan seorang filsuf universalis, yakni filsuf yang mencari prinsip-prinsip universal di dalam sejarah. Ia memiliki hipotesis tentang komunisme, dan terobsesi untuk mengembangkannya terus menerus.

Yang terakhir adalah Slavoj Žižek. Ia banyak dikenal sebagai seorang psikoanalis, dan berasal dari Slovania. Usianya sekitar 60 tahun, dan mengajar filsafat di Ljubljana. Selain itu ia juga mengajar di London dan Swiss. Žižek mendapatkan julukan dari salah seorang musuh teoritisnya, yakni sebagai filsuf yang paling berbahaya di Barat sekarang ini. Lucunya Žižek sangat menyukai julukan itu.

Mereka adalah dosen dan intelektual publik. Namun lebih dari itu, mereka adalah selebritis, seperti layaknya Albert Camus, Jean-Paul Sartre, dan Michel Foucault pada era 1960-an. Posisi selebritis-filsuf ini sudah kosong cukup lama. Sebenarnya ada satu filsuf yang sempat menempatinya, yakni Bernard Henri-Levy. Žižek tidak suka pada orang ini. Baginya Henri-Levy terlalu banyak menunjukkan bulu dadanya di muka umum.

Sosialisme sempat sekarat. Negri yang membangkitkannya kembali, sekitar 10 tahun yang lalu. Sosialisme di negara-negara Eropa Timur telah gagal. Francis Fukuyama bahkan menyatakan berakhirnya sejarah dengan kemenangan kapitalisme. Negri menantangnya. Negri tidak hanya seorang intelektual, tetapi juga seorang pejuang kelas sosial yang revolusioner. Ia pernah dipenjara karena dituduh menjadi bagian dari kelompok teroris brigade merah.

slavoj_zizek1 Di dalam merumuskan pemikirannya yang revolusioner, Negri banyak dibantu oleh Michael Hardt, seorang professor literatur asal Amerika Serikat. Tiga buku pun lahir. Semuanya menjadi best-seller global. Yang paling sukses adalah buku yang berjudul Empire. Buku itu menjadi kitab suci bagi kaum simpatisan Mao, dan orang-orang yang menantang dominasi negara-negara G8 (sekarang G-20).

Mereka bertiga yakni Badio, Negri, dan Žižek adalah teman lama. Untuk beberapa waktu mereka bekerja sama. Ketiganya saling memperhatikan sepak terjang satu sama lain. Negri terlalu revolusioner dan praktis untuk Badiou. Dan sebaliknya Badio terlalu abstrak untuk Negri. Žižek menulis begitu banyak buku, bahkan ia sendiri pun tidak punya kesempatan untuk membaca semuanya.

Perdebatan

Hari sudah siang. Žižek duduk di baris depan di teater di Berlin. Ini membuat dia tidak bisa banyak berkutik selama kurang lebih satu jam. Žižek memiliki banyak bakat terpendam. Namun sayangnya diam dan menunggu bukan salah satunya. Di kursi sebelahnya terdapat tas plastik. Isinya adalah segala sesuatu yang menjadi keperluannya selama seminar yang akan berlangsung tiga hari.

Ruangan sudah penuh. Ada sekitar 1000 peserta datang untuk mengikuti seminar. Mayoritas peserta adalah anak muda berumur di bawah 30 tahun. Mereka menamakan diri mereka sebagai kaum kiri. Mereka adalah kelompok sub kultur yang spesial. Beberapa di antaranya berdandan seperti Sartre. Lainnya seperti Brecht. Dan beberapa lainnya berdandan begitu unik, seolah mereka hendak pergi ke Asia dan mulai bermain sirkus. Ketika duduk mereka semua mengenakan headphone, supaya bisa mendengar terjemahan dari presentasi Badiou, Negri, dan Žižek. Hanya Žižek yang tidak mengenakan headphone. Ia fasih dalam enam bahasa, termasuk Jerman.

Mayoritas presentasi sangatlah sulit untuk dimengerti. Namun konferensi ini memang tidak untuk memberikan jawaban pasti tentang semua persoalan. Jika ingin jawaban pasti, orang bisa langsung bertanya ke partai buruh, atau partai kiri lainnya. Konferensi itu tidak ingin melihat kembali ke masa lalu, yakni ke masa di mana komunisme di tangan Stalin dan Pol Pot membunuh lebih dari 30 juta orang. Konferensi ini soal teori, tepatnya soal membuat terobosan teoritis. Konferensi ini soal merumuskan ulang hipotesis komunisme (Badiou), tentang mencari prinsip-prinsip universal, tentang merumuskan manusia sebagai subyek sejarah, tentang momen-momen kebenaran, tentang Hegel, Lacan, dan juga tentang psikoanalisis.

Pada waktu yang sama, Piala Dunia di Afrika Selatan dimulai. Mengapa mereka tidak duduk santai dan menikmati pertandingan bola saja? Apa sebenarnya yang mereka cari?

Filsafat yang Mendunia

Setelah resesi dunia 2008 lalu, banyak orang mulai berpikir ulang soal status kapitalisme. Muncul kerinduan untuk merumuskan ulang teori-teori kiri sebagai alternatif. Masalah ekonomi semakin rumit. Demokrasi kehilangan pesonanya. Pemerintahan berbagai negara kehilangan legitimasinya. Bank-bank bermanuver tanpa kontrol. Filsafat di sisi lain justru semakin abstrak, dan tercabut dari persoalan dunia.

Slavoj_Zizek_in_Liverpool_2 Filsafat tidak lagi menggerakkan dunia, sebagaimana pernah terjadi pada dekade 1960-an. Filsafat telah berubah. Sekarang filsafat lebih dekat ke studi-studi budaya. Filsafat menjadi cenderung mirip dengan sastra, terutama di tangan Deleuze, Roland Barthes, dan Peter Sloterdijk.

Filsafat telah menjadi sesuatu yang seksi. Filsafat bisa menghibur seperti layaknya musik dan film-film komedi. Žižek melakukan semua ini. Bahkan banyak orang berkata, Žižek merumuskan ulang tentang peran filsuf bagi dunia. Namun bagi beberapa orang, Žižek justru merusak peran luhur para filsuf.

Badiou sudah memulai pidatonya. Žižek duduk dengan gelisah di barisan paling depan. Bibirnya bergerak-gerak. Badiou tampak rapi dan berwibawa. Ia tidak tampak seperti seorang revolusioner. Ia justru lebih mirip pegawai negeri yang rapi dan patriotik. Di sisi lain Negri tampak sangat berkebalikan dengan Badiou. Ia seperti baru saja dilepaskan dari penjara.

Di awal pidato Badiou mengutip perkataan Mao, “Bersikaplah tegas, jangan takut berkorban dan melampaui semua kesulitan untuk mencapai kemenangan.” Žižek mengajukan interupsi. Ia kemudian mengutip pernyataan Samuel Beckett, “Coba lagi. Gagal lagi. Gagal dengan lebih baik.” Ia kemudian tertawa. Ia menoleh ke belakangan untuk melihat, apakah ada orang yang tertawa bersamanya.

Žižek adalah orang yang sangat unik. Ia bisa berbicara jauh lebih cepat dari pikirannya. Ia seperti palu beton. Ia telah menulis lebih dari 50 buku. Semuanya telah diterjemahkan lebih dari 20 bahasa. Buku terakhirnya berjudul Living in the End Times. Tebalnya 400 halaman. Isinya tentang hancurnya demokrasi liberal.

Ia memberi kuliah lebih dari 200 kali dalam setahun. Ia juga bekerja sebagai professor terbang di berbagai universitas bergengsi di Amerika Serikat. Baru-baru ini ia berbicara di depan 2000 orang di Buenos Aires. Sudah ada dua film dokumenter tentangnya. Ada pula jurnal ilmiah yang secara khusus membahas pemikiran-pemikirannya. Ada kaos Žižek. Ada studio rekaman Žižek. Ada klub Žižek.

Argumennya dibangun dari persilangan antara idealisme Hegel dan psikoanalisis Jacques Lacan. Hasilnya adalah kritik film, kritik atas demokzizek1rasi, kritik atas kapitalisme, kritik atas ideologi, dan beberapa kali kritik terhadap rutinitas kehidupan sehari-hari. Ia bahkan bisa menjelaskan esensi orang Amerika, Jerman, dan Perancis dengan berpijak pada perilaku mereka di kamar mandi. Ia tak ragu mengeluarkan kata-kata kasar di depan publik. Bahkan jika ia berkuasa, ia akan mengirim para musuh teoritisnya ke kamp kerja paksa.

“Lihat teman saya Peter Sloterdijk. Saya sangat menyukai dia. Tapi jelas ia harus dikirim ke kamp kerja paksa. Ia akan memperoleh posisi lebih bagus disana. Mungkin ia bisa bekerja sebagai koki,” demikian kata Žižek.

Ia berbicara dengan kesan berlebihan yang sangat tampak. Itu yang membuat pendengarnya tertawa. “Tahukah anda?,” demikian katanya sekali waktu, “film terbaik tentang holocaust adalah komedi.”

Kamar Žižek

Žižek gemar mengajukan argumen yang bertentangan secara diametral dengan lawan bicaranya. Ia pun bisa membuktikan kebenaran argumennya. Ia menyebut kemampuan ini sebagai kontra intuisi observasi. Bentuk argumen favoritnya adalah paradoks. Dengan keahliannya di bidang psikoanalisis, ia menunjukkan bagaimana demokrasi liberal telah menipu begitu banyak orang.

Demokrasi liberal itu seperti orang yang memencet tombol tutup pintu pada lift. Tidak ada gunanya. Pintu lift tidak akan menutup lebih cepat. Inilah yang disebutnya sebagai ilusi tentang kontrol. Tampaknya kita mengontrol sesuatu (pintu tertutup lebih cepat), padahal tidak. Dengan memilih di dalam pemilu, orang mendapat kesan, bahwa mereka mengontrol sesuatu, padahal tidak. Kontrol pada pemerintah adalah ilusi, kata Žižek.

Žižek dituduh untuk mengembalikan pemerintahan otoriter khas Stalin. Ia juga dianggap sangat berbahaya, karena berupaya menyembunyikan sikap otoriternya itu dengan selubung akademis dan budaya populer. Penerbit Suhrkamp bahkan menyingkirkan beberapa paragraf di dalam buku Žižek yang berbau totalitarianisme.

Di kamarnya terdapat dua poster Joseph Stalin. “Gambar itu tidak berarti apa-apa. Itu semua hanya lelucon,” kata Žižek. Jika ada orang yang terganggu, ia tidak akan ragu-ragu untuk melepas poster tersebut. Terus terang ia lelah dituduh sebagai pendukung Stalin. Di berbagai majalah, Žižek dituduh melupakan sejarah gelap komunisme. Pikiran-pikirannya dianggap fasis. Di tempat lain ia dituduh sebagai seorang anti Yahudi. Bagi Žižek orang-orang yang mengkritiknya dengan cara ini sesungguhnya tidak sungguh mengerti pemikirannya.

Baginya filsafat adalah upaya berpikir melampaui batas-batas. Filsafat adalah cara berpikir yang melampaui hal-hal praktis.

zizekshitting Žižek tinggal di apartemen di Ljubljana. Ia sudah tinggal di situ sejak lama, bahkan sejak Tito masih berkuasa secara politis. Ada tiga kamar di apartemennya. Semuanya kurang tertata dengan rapih. Ada rak buku, tempat DVD, dan baju-baju kotor yang belum dicuci.

Ia tinggal disana sendirian. Beberapa kali anak laki-laki dari pernikahan keduanya akan datang untuk menginap. Dia baru saja kembali dari perjalanan ke Cina dan Los Angeles. Dia berbicara soal Mao di Cina. Pemerintah Cina mengundangnya karena ia dikenal sebagai pionir pemikiran komunisme dewasa ini. Namun Žižek yakin bahwa mereka tidak sungguh mengerti pemikirannya.

Ketika berbicara di muka umum, Žižek seperti kombinasi ganjil antara pelawak dan filsuf. Tapi ketika berbicara tentang Hegel, aura pelawak itu lenyap. Ia sedang menulis buku tentang Hegel. Tebalnya sudah 700 halaman. Itupun belum selesai. Bagi orang-orang normal, menulis buku adalah pekerjaan yang melelahkan. Dibutuhkan kurang lebih 10 tahun untuk menulis setebal 700 halaman tentang salah satu filsuf yang pemikirannya paling sulit sepanjang sejarah ini. Ajaibnya Žižek menulis 700 halaman ini hanya dalam beberapa bulan. Itu pun dilakukannya dalam perjalanan di pesawat.

Žižek juga terobsesi dengan pemikiran Lacan. Salah satu konsep yang sering dikutipnya adalah konsep the real. The real adalah ketidakmungkinan, yakni negasi dari semua simbol maupun imaji yang mengepung rutinitas kehidupan manusia. Negasi ini adalah penolakan, anti tesis, dari peristiwa. Sifatnya menyentuh ketidakmungkinan sehingga pasti mengguncang orang yang mengalaminya.

Aspek ketidakmungkinan ini juga tidak dapat sepenuhnya dirasakan, walaupun ada dan terjadi pada setiap orang. Ini seperti konsep benda pada dirinya sendiri di filsafat Kant. Kita tahu tapi kita tidak pernah sungguh memahaminya. The real itu seperti keajaiban, atau yang disebut Žižek sebagai keajaiban Lacanian. The real adalah ketidakmungkinan yang tidak dapat digambarkan atau disimbolisasikan, karena ia begitu unik dan mengguncang, seperti orgasme ketika berhubungan seks.

Cobalah anda melakukan hal gila yang bertentangan dengan semua kebiasaan anda. Itulah the real. Anda tidak bisa membenarkan atau menjelaskannya. The real bisa adalah perjumpaan yang tak terjelaskan yang membangunkan kita dari rutinitas kehidupan.

Kant pernah berkata bahwa kita tidak bisa sungguh tahu, apakah perbuatan kita itu sungguh dilandasi kehendak baik, atau sudah tercampur dengan kehendak lainnya. Žižek ingin membalik pandangan itu. Baginya kita bisa bertindak baik dan bebas. Namun kita terlalu takut untuk menerimanya. Maka tindakan itu masuk ke area simbol dan gambar, dan tidak pernah menjadi the real itu sendiri. The real itu traumatis, kata Žižek.

Manusia itu muak dengan dirinya sampai dia mati, kata Žižek sembari mengutip Kierkegaard. Fakta ini begitu traumatis, sehingga manusia menolaknya. Fakta ini adalah the real. Ia bisa dijumpai tetapi terlalu takut untuk diakui. Sama halnya dengan kebebasan. Kebebasan itu mencemaskan dan membuat trauma. Kebebasan adalah kodrat manusia yang paling sulit untuk diterima. Kebebasan adalah the real itu sendiri. Ketakutan terbesar manusia adalah, bahwa keajaiban itu ada. Keajaiban itu bernama kebebasan.

Akhir Juni 2010

black.14190637_std Konferensi sudah memasuki hari kedua. Žižek berkeringat. Ia menginterupsi presentasi Negri yang telah menuduhnya melupakan konsep perjuangan kelas. Bagi Negri yang terpenting adalah merumuskan kesamaan di antara berbagai individu yang berbeda, dan ini kemudian menjadi sumber perubahan yang luar biasa besar. Tentu saja argumen ini terlalu sederhana untuk Žižek. Baginya untuk membuat perubahan radikal, orang harus berada di luar sistem. Selama orang masih hidup dalam sistem yang sama, tidak mungkin ia bisa membuat perubahan yang radikal di sistem tersebut.

Bagi Negri filsafat Žižek telah mengosong subyek dari karakter terpentingnya, yakni karakter revolusioner. Tanpa konsep subyek revolusioner, tidak akan pernah ada perubahan. Badiou diam saja mendengar perdebatan tersebut. Moderator memberikan kesempatan bagi Badiou untuk menanggapi. Tapi ia diam saja. Mungkin besok, katanya.

“Revolusi itu mirip wanita,” kata Žižek. “Kita tidak mungkin hidup bersamanya, tetapi lebih tidak mungkin lagi hidup tanpanya. Oh… lupakan saja.” Mungkin Žižek sedang kesurupan otak.

Acuan:

Disadur secara bebas dari Phillip Oehmke, The Most Dangerous Philosopher in the West. Welcome to the Slavoj Žižek Show, dalam Der Spiegel On Line 8 Juli 2010. Konsep “kesurupan otak” saya peroleh dari diskusi bersama F. Budi Hardiman di Yahoo Messenger. Saya juga mengacu pada Slavoj Žižek dan Glyn Daly, Conversations with Žižek, Cambridge: Blackburn, 2004. Gambar diolah dari berbagai sumber di google pictures.

Penulis adalah Pengajar di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s