Demokrasi dan Tirani Massa

Gladiator-fights-in-the-arena-of-the-Roman-Colosseum
tripsgeek.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala, Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

Massa memang mengerikan. Ribuan bahkan jutaan orang bergerak tanpa arah, siap merusak apapun yang ada di depan mata. Jutaan orang menghendaki hal-hal yang irasional, yang dalam jangka panjang justru akan menghancurkan dirinya sendiri. Dinamika “massa” ini menciptakan sejarah manusia, yang memang tak selalu cemerlang.

Massa dalam Sejarah

Di masa kekaisaran Romawi di Eropa, kekuasaan tertingi bukanlah di tangan kepala negara, melainkan di tangan massa yang berteriak keras menyaksikan tumpahnya darah dari pertarungan pada Gladiator di lapangan koloseum Roma. Selama masssa, dan dahaganya akan darah dan pertempuran, terpuaskan, situasi politik akan terus stabil, dan pemerintah, walaupun menindas, tetap akan memerintah.

Massa adalah kumpulan orang yang mendadak brutal, bukan karena orang-orang di dalamnya kejam dan jahat, melainkan karena mekanisme massa itu mengaburkan jati diri pribadi, serta meleburkannya ke dalam kesatuan ganjil yang bersifat destruktif, namun rapuh. Dalam sekejap mata, massa tercipta, lalu lenyap sedetik kemudian, meninggalkan segalanya dalam keadaan terserak.

Ratusan ribu bahkan jutaan orang antusias bergerak dari Eropa menuju Jerusalem untuk membebaskan kota itu dari pasukan negara-negara Arab di Abad Pertengahan. Massa tersebut digerakkan oleh motif agama dan ekonomi, sehingga siap untuk menghancurkan apapun yang ada di depan matanya. Massa ini brutal, dan tak punya pertimbangan kritis. Yang hancur kemudian akhirnya tidak hanya kelompok lain ataupun situasi sekitarnya, tetapi juga massa itu sendiri.

Sewaktu Revolusi Prancis bergulir di akhir abad 18, massa juga yang merangsek masuk ke istana Versailles, dan merusak semua yang ada. Setelah itu, massa pula yang berteriak-teriak, ketika menyaksikan jutaan orang dipancung kepalanya oleh pisau Guillotine. Level irasionalitas dan absurditas yang muncul pada masa itu nyaris tak terbayangkan oleh kita yang hidup sekarang ini. Di belakang rasionalitas dan absurditas ini, kita bisa melihat massa merangsek dan berteriak, menyuarakan naluri mereka untuk melihat darah dan kehancuran.

Indonesia, masa 1965 sampai sekitar 1970, dipenuhi dengan konflik antar warga yang berakhir pada pembantaian serta penangkapan massal orang-orang yang dituduh terlibat dengan G30S dan PKI. Militer dan massa warga saling bentrok. Ratusan ribu orang kehilangan hidupnya. Ada yang mayatnya dibiarkan terbengkalai di hutan belantara. Ada yang harus menjalani hukuman penjara, tanpa dakwaan ataupun bukti-bukti yang jelas. Ratusan ribu keluarga pecah dan menjalani penderitaan selama bertahun-tahun.

Massa dan Demokrasi

Di era demokrasi di Indonesia ini, kekuatan massa juga merasuk ke dalam politik. Berbagai keputusan dan kebijakan publik dibuat atas nama keputusan mayoritas, yang seringkali adalah keputusan massa. Jika demokrasi didikte oleh keputusan mayoritas, yang seringkali juga adalah keputusan massa yang irasional dan destruktif, maka yang tercipta kemudian adalah diktator mayoritas, yang juga berarti penindasan politis atas kelompok minoritas, entah itu minoritas agama, ras, ideologi, dan beragam identitas sosial lainnya. Demokrasi tidak pernah boleh dipelintir menjadi diktator massa, atau tirani mayoritas.

Bagaimana menangkal massa? Dorongan untuk melebur ke dalam massa adalah bagian dari diri alamiah manusia, maka tak bisa disingkirkan. Yang bisa dilakukan adalah mengontrol dorongan tersebut. Dalam konteks filsafat politik, solusinya adalah dengan memperkuat institusi-institusi publik yang menopang dan mengatur kehidupan bersama di masyarakat. Yang harus diperkuat adalah dimensi integritas sekaligus kepemimpinan institusi-institusi publik tersebut.

Institusi publik yang punya integritas dan kepemimpinan kokoh tak akan goyang, ketika massa menekannya untuk melakukan hal-hal yang irasional dan destruktif. Institusi publik yang kokoh mampu membedakan antara suara rakyat, yang mencerminkan kebutuhan serta keinginan sejati rakyat, dan suara mayoritas, yang seringkali merupakan suara massa yang irasional dan merusak. Institusi publik yang kokoh, termasuk Perwakilan Rakyat, Kabinet Pemerintahan, sampai dengan kantor kelurahan, tidak melulu hanyut pada tekanan massa, tetapi sebaliknya: mampu mendidik massa.

Massa yang terdidik akan berubah wajah menjadi organisasi. Organisasi memiliki visi dan program yang jelas. Ia tidak hadir untuk merusak, tetapi untuk mencipta, yakni mencipta apa yang baik, tidak hanya untuk organisasi itu, tetapi untuk masyarakat pada umumnya. Kemajuan suatu masyarakat bisa diukur dari seberapa banyak organisasi yang bergerak di dalam masyarakat itu, dan bekerja sama dengan institusi-institusi publik untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan untuk semua. Di masyarakat semacam itu, massa tetap ada, tetapi minimal hanya untuk memberi dukungan pada tim sepak bola kesayangannya.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

9 tanggapan untuk “Demokrasi dan Tirani Massa”

  1. Jika qta melihat mekanisme demokrasi, dgn pemilu sbg tools-nya, suara mayoritas lah yg menentukan siapa yg menang dan siapa yg kalah. Dari segi mekanisme saja sudah menggunakan sistem mayoritas dan minoritas. Nah, apa mekanisme pemilu seperti ini juga berefek pd terciptanya diktator mayoritas Bung?

    Suka

    1. ya benar sekali. Komentar anda langsung ke titik masalahnya. Saya juga belum bisa menemukan solusi soal mekanisme alternatif dari pemilu, kecuali kita bisa mulai mendidik mayoritas, supaya pilihan yang mereka buat tetap merupakan pilihan-pilihan yang tercerahkan…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s