Buku Filsafat Baru: Filsafat Kata

evolitera.co.id

Filsafat tak dapat lepas dari kata. Di dalam berpikir dan membangun konsep yang jelas dan kritis, orang senantiasa berpelukan dengan kata. Di dalam menulis dan menyebarkan pemikiran, orang bergandengan tangan dengan kata. Aku berkata-kata maka aku ada.Di dalam buku ini, penulis akan mengajak anda untuk merenungkan tentang makna kata, dan kaitannya dengan konteks yang lebih luas, entah dengan politik, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu judul-judul tulisan ini hanya menggunakan satu kata, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak seperti buku-buku filsafat lainnya, buku ini menggunakan bahasa yang sederhana. Tuturnya sedapat mungkin sederhana, tanpa mengurangi kedalamannya.

evolitera.co.id

Publisher: Evolitera

Writer: Reza A.A Wattimena

Number of Pages: 396

Language: Indonesia

Release Date: 07/15/2011

ISBN: 978-602-9097-13-9

Silahkan dapatkan di

Filsafat-kata, Final

Atau

Evolitera

Dapatkan bukunya!

Tuhan dan Uang Part. 3

marxist.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Seperti sudah sedikit dijelaskan sebelumnya, kapitalisme sendiri bukanlah hal baru di dalam sejarah.[1] Isi dari paham kapitalisme adalah pengembangan modal pada dirinya sendiri, sehingga pemiliknya bisa semakin makmur. Dalam arti ini kapitalisme bisa dipahami sebagai “orientasi regular untuk pengembangan keuntungan melalui pertukaran ekonomis yang damai.”[2] Praktek semacam ini sudah ada selama berabad-abad, mulai dari peradaban Babilonia, Mesir kuno, China, India, dan bahkan Eropa pra-Kristiani. Sementara kapitalisme modern sendiri memiliki ciri khas, yakni penerapan pembagian kerja rasional yang terukur, rutin, dan terorganisir dengan detil di dalam sebuah perusahaan (kelompok) yang berkelanjutan. Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang Part. 3

Agama dan Demokrasi

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia adalah bangsa “pecinta” agama. Hampir semua agama memperoleh pengikutnya disini. Bangsa kita mirip supermarket spiritual, dimana semua bentuk agama dan kepercayaan bertebaran, serta orang bisa memilih sekehendak hatinya. Konsumen utama  agama adalah adalah jiwa-jiwa manusia, dan ketika jiwa seseorang dikuasai, segala yang ada di dalam dirinya pun turut serta.

Orang yang beragama memiliki mental tertentu. Mental ini terwujud di dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Kata-kata dan tindakannya lahir dari penghayatan mentalitas semacam ini. Di dalam proses untuk menjadi negara demokratis, apakah mentalitas agama semacam ini cocok dengan mentalitas demokrasi yang ingin kita hayati? Lanjutkan membaca Agama dan Demokrasi

Calo

lidahibu.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Kehadirannya dibenci tetapi juga dirindukan. Orang mencari dan menistanya secara bersamaan. Kutuk dilontarkan. Namun ia tetap ada, karena masyarakat seolah tetap “membutuhkan”. Itulah calo.

Ketika sibuk dengan pekerjaan, orang mencari calo untuk membantu mengurus SIM (Surat Ijin Mengemudi) mereka. Ketika tak mau pusing mengantri di pengadilan, orang mencari calo untuk bersidang mewakili mereka. Bahkan para politisi yang tak mau kotor bermanuver mencari pendukung di akar rumput menggunakan calo untuk memperbesar kuasa. Lanjutkan membaca Calo

Sekolah untuk Apa?

blogspot.com

Oleh Rhenald Kasali

Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak mencari sekolah.Masuk universitas pilihan susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk ternyata banyak yang ”salah kamar”.

Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan, yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah. Demikianlah, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Lanjutkan membaca Sekolah untuk Apa?

Tuhan dan Uang Part. 2

flickr.com

Etos Protestanisme dan Semangat Kapitalisme

Oleh Reza A.A Wattimena

            Menurut Allen buku Weber yang menjadi kajian utama tulisan ini, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, adalah karya terbaiknya.[1] Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab di dalam buku ini adalah, mengapa kapitalisme lahir di Eropa, dan bukan di Asia, atau belahan dunia lainnya? Jawaban Weber cukup jelas, karena adanya agama yang khas Eropa, tepatnya agama Kristen Protestan. Seperti ditegaskan oleh Allen, dengan bukunya tersebut, Max Weber mengubah fokus analisis teori-teori sosial dari pendekatan evolusionis (melihat tingkat perkembangan masyarakat yang bersifat universal dengan Eropa sebagai acuannya) menuju pendekatan perbandingan (comparative approach).[2] Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang Part. 2

Bastiat

Senin, 04 Juli 2011

Leviathan

Oleh Goenawan Mohamad

Seorang “neo-liberal” adalah orang yang jengkel kepada “Negara”. Tapi ada seorang pendahulunya yang tak jengkel, malah kocak: Frédéric Bastiat, orang Prancis di abad ke-19. Ia mempersamakan Negara dengan tokoh Figaro yang harus mendengarkan tuntutan dari delapan penjuru angin:

“Aturlah buruh dan pekerjaan mereka!”

“Habisi egoisme!”

“Lawan kekurangajaran dan tirani modal!”

“Bikin eksperimen dengan tahi sapi dan telur!”

“Bentangkan jalan kereta api di pedusunan!”

“Tanam pohon di pegunungan!”

“Jadikan Aljazair koloni kita!”

“Setarakan laba usaha industri!”

“Pinjamkan uang tanpa bunga kepada yang perlu!”

“Perbaiki keturunan kuda tunggangan!”

“Hidupkan seni, latih musisi dan penari!”

“Temukan kebenaran dan ketok kepala kami agar berpikir!” Lanjutkan membaca Bastiat

Revitalisasi Negara

Kompas, 4 Juli 2011

ikiwq.com

Oleh Eko Prasojo

Membaca tulisan dan kritik berbagai kalangan akhir-akhir ini seakan merasakan kuatnya dorongan perubahan menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pemerintah mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, sedangkan sejumlah kalangan berpendapat bahwa perkembangan sektor riil semakin jauh dari harapan masyarakat. Pada sisi lain, keadaan politik semakin tidak menentu, oportunisme di kalangan politisi semakin tinggi dengan fenomena perpindahan partai, kinerja dewan, baik di pusat maupun di daerah, dikritisi tidak optimal. Sedangkan korupsi hampir dapat dipastikan semakin terinternalisasi menjadi budaya yang kokoh, baik di birokrasi, politik, maupun peradilan. Lanjutkan membaca Revitalisasi Negara

Cara Berpikir Kita

forbes.com

Oleh Reza A.A Wattimena

            Bagaimana mungkin seorang hakim ditangkap (Kompas, 2 Juli 2011)? Bukankah ia sosok tertinggi penjaga hukum (dan keadilan) di suatu masyarakat? Bagaimana mungkin sosok tertinggi penegak hukum justru menjadi pelanggar hukum? Bukankah dampak moral dan sosialnya akan lebih parah untuk masyarakat kita? Pasti ada yang salah dengan cara berpikirnya.

Peristiwa di Desa Gadel masih menjadi perhatian saya. Bagaimana mungkin institusi pendidikan (sekolah) meminta siswanya menyontek? Bukankah tindakan itu jelas bertentangan dengan alasan keberadaan institusi pendidikan itu sendiri? Sekali lagi; ada yang salah dengan cara berpikirnya. Lanjutkan membaca Cara Berpikir Kita

Politikus di Zaman Edan

Oleh Daoed Joesoef
onscreenchemistry.com

Setelah angkatan perang Italia berhasil menduduki Etiopia pada 1935, tokoh- tokoh negeri Afrika Timur itu— yang telah membantu kemenangan—diundang Benito Mussolini naik ke pesawat terbang. Mereka menerima undangan itu karena menganggapnya sebagai bukti penghargaan atas jasa mereka bagi kejayaan Italia.

Setelah terbang di atas Laut Merah, Mussolini memerintahkan supaya semua tokoh Etiopia itu dibuang ke luar pesawat tanpa parasut. Atas pertanyaan para jenderalnya, mengapa Generalisimo berbuat demikian, sang diktator fasis menjawab, ”Kepada negerinya sendiri mereka berkhianat, apalagi kelak kepada Italia. Sekali orang berjiwa pengkhianat, dia akan terus menjadi pengkhianat seumur hidupnya.” Lanjutkan membaca Politikus di Zaman Edan

Berpikir

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Untuk hidup orang perlu berpikir. Setiap saat setiap waktu, orang berpikir. Perilaku lahir dari proses berpikir. Aku berpikir maka aku ada, begitu diktum Descartes yang tetap relevan sampai sekarang.

Bahkan untuk merasa orang perlu berpikir. Tidak ada pemisahan tegas antara perasaan dan pikiran. Proses emosional terbentuk dari campuran antara pikiran dan perasaan.

Tindakan juga lahir dari pikiran. Proses pertimbangan pikiran melahirkan keputusan. Dan dengan keputusan hidupnya, manusia mengubah dunia. Tak ada yang lebih penting daripada membentuk cara berpikir. Disitulah filsafat berperan. Lanjutkan membaca Berpikir

Extension Course Filsafat: Tuhan dan Uang

Tuhan dan Uang (Part 1)

wordpress.com

Membaca Ulang Pemikiran Max Weber tentang

Etos Protestantisme dan Semangat Kapitalisme

serta Relevansinya untuk Indonesia Abad ke-21

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

(Diajukan sebagai Materi Extension Course Filsafat Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya dengan tema “TUHAN DAN UANG: MEMIKIRKAN ULANG HUBUNGAN ANTARA TUHAN DAN UANG” Agustus-Desember 2011.)

            Di dalam tulisan ini, saya akan mengajak anda memikirkan ulang hubungan antara semangat kapitalisme, yang berupa penumpukan modal tanpa batas, dan etos kerja agama Kristen Protestan, sebagaimana dianalisis oleh Max Weber, serta menarik relevansinya untuk memahami situasi Indonesia di abad ke 21. Untuk itu saya akan membagi tulisan ini ke dalam lima bagian. Lanjutkan membaca Tuhan dan Uang (Part 1)

Pembusukan Kolosal

bhagwad.com

Kompas, Selasa,
28 Juni 2011

Oleh B Herry Priyono

Korupsi bukan hanya pencurian dan penggelapan uang negara, melainkan juga pembusukan kehidupan bersama. Rupanya itulah yang menggerakkan Kompas belakangan ini menurunkan banyak laporan utama mengenai ”kerusakan moral” hidup berbangsa.

Istilah bisa berubah, tetapi intinya sama: pembusukan pada skala kolosal. Korupsi sebagai pencurian uang negara hanya salah satu bagian. Pengertian korupsi sebatas ciri finansial-ekonomistik ini biasanya tanda masyarakat yang begitu rusak oleh pembusukan pada tingkat yang sangat ganas. Justru karena sangat ganas, langkah kalap koreksi terpaksa hanya berkutat pada aspek material, finansial, dan tolok ukur uang. Lanjutkan membaca Pembusukan Kolosal

Anggur Tua di Botol Baru

wordpress.com

Oleh Mochtar Naim, Kompas, 27 Juni 2011

Ketika otonomi diberikan kepada daerah-daerah, kita semua mengharapkan agar penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme yang selama ini berjangkit di pusat tak menjalar ke daerah-daerah.

Ternyata dengan otonomi, bagaimana di pusat begitu juga di daerah. Dengan berjalannya waktu, Indonesia sekarang ini telah termasuk ke dalam kelompok negara terkorup di dunia. Jika tidak ada tindakan drastis yang dilakukan, masa depan Indonesia akan makin suram, dan bisa saja berakibat fatal. Lanjutkan membaca Anggur Tua di Botol Baru

“Lubang-Ingatan”

Oleh Reza A.A Wattimena

Bangsa kita kembali jatuh ke lubang yang sama. Seolah kita tak pernah belajar dari apa yang pernah ada. Beragam masalah mulai dari korupsi (Nazaruddin yang tetap tak jelas), kemiskinan (yang bisa kita lihat sehari-hari), hancurnya moral publik (kasus Desa Gadel, Surabaya), dan tiadanya penghargaan terhadap martabat manusia (kasus TKI) adalah cerita lama yang berpola sama dari yang sebelumnya. Lanjutkan membaca “Lubang-Ingatan”

Yang Lalu

blogspot.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Apa “yang lalu” terekam dalam ingatan. Ia menyelinap ke dalam benak, membentuk pola, dan mempengaruhi tindakan. Semua orang mengalami ini, tanpa kecuali.

Ini berlaku untuk level individual, maupun kolektif. Di dalam masyarakat ingatan akan peristiwa lampau tetap ada, namun tersembunyi di balik keseharian. “Yang buruk” maupun “yang baik”, keduanya ada berdampingan. Keduanya tak terpisahkan. Lanjutkan membaca Yang Lalu

Korupsi dan Keluhuran

blogspot.com

Oleh Jansen Sinamo

Seorang profesor fisika, Pantur Silaban namanya, dosen kami dulu di Bandung, berkata bahwa alam tidak pernah korupsi. Elektron, misalnya, hanya bersedia menerima jatah energi yang sudah ditetapkan alam baginya sebesar kelipatan bulat konstanta Planck.

Alam bekerja dengan prinsip ”secukupnya”, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Ini sesuai pula dengan selarik doa klasik, ”Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Bukan makanan lima tahun untuk pemilu berikutnya! Lanjutkan membaca Korupsi dan Keluhuran

Tak Lupa

wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

             Saat ini Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan. Di berbagai sektor kehidupan sangat sulit dijumpai seorang pimpinan yang bisa sungguh mengarahkan organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai kegemilangan secara manusiawi. Yang banyak ditemukan adalah pemimpin yang permisif. Mereka mencari popularitas dengan bersikap ramah dan baik, namun tidak memiliki ketegasan untuk membuat keputusan. Akibatnya organisasi menjadi tidak memiliki arah yang jelas, dan ketidakpastian menghantui aktivitas organisasi tersebut. Dalam hal ini negara dan masyarakat bisa dipandang sebagai sebuah organisasi yang, juga, mengalami krisis kepemimpinan. Lanjutkan membaca Tak Lupa

Perindu

                                                                        Oleh Goenawan Mohamad

blogspot.com

Tempo, Senin, 13 Juni 2011

Dua nama, satu kehilangan. Saya makin sering ketemu orang-orang yang menyebut nama ”Sukarno” atau ”Soeharto” seraya meletakkan kedua presiden itu dalam satu masa yang dirasakan hilang. Para perindu ini orang-orang yang berbeda, tentu. Tapi sebenarnya mereka sejajar: dalam kemurungan mereka, sejarah adalah nostalgia.

Sejarah sebagai nostalgia adalah gejala kesadaran modern. Para perindu tak hidup seperti orang-orang di sebuah masyarakat di mana tradisi punya peran yang sentral. Di alam pikiran masyarakat tradisional, masa lalu tak pernah absen. Ia hadir di mana-mana. Ia tak perlu dirindukan kembali. Lanjutkan membaca Perindu