Apakah Kita Sungguh Berbeda? Diskursus tentang Rasisme

futurity.org
futurity.org

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang belajar di Bonn, Jerman

9 Januari 2013, Farhat Abbas, pengacara, menulis kalimat yang mencengangkan di akun Twitternya. Ia menyatakan ketidaksetujuannya atas satu peristiwa yang belum tentu benar (perihal plat nomor), dan mengungkapkan kekecewaannya dengan menghina ras Wakil Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. Ini memang kejadian kecil. Namun, kejadian kecil ini menandakan satu hal yang cukup menyeramkan, bahwa rasisme masih begitu kuat tertanam di dalam kesadaran masyarakat kita.

Lebih dari 50 tahun yang lalu, Adolf Hitler di Jerman melakukan pembunuhan sistematis terhadap ras-ras non Aria (Jerman), terutama kaum Yahudi, dan kelompok orang-orang cacat maupun terbelakang di Jerman. Peristiwa menyeramkan ini terus terngiang di dalam batin masyarakat Jerman, sampai sekarang ini, dan seolah menjadi duri bagi nurani mereka, ketika hendak bersikap terhadap persoalan Israel dan Palestina dewasa ini. Rasisme bagaikan iblis dari masa lalu yang terus menghantui bangsa Jerman.

1998, Jakarta, Indonesia, saya menyaksikan sendiri, bagaimana toko-toko salah satu etnis di Indonesia dibakar dan dimusnahkan. Begitu banyak orang dibunuh. Mei 1998 bagaikan hari gelap bagi seluruh bangsa Indonesia, dimana rasisme dan kebencian menjadi raja, menggantikan toleransi antar kelompok yang telah lama diperjuangkan. Tak hanya bangsa Jerman, masa lalu bangsa Indonesia juga memiliki hantu rasisme yang tak juga lenyap di era reformasi ini.

Februari 2001, Sampit, Indonesia, pecah konflik antara etnis antara Suku Dayak asli dan penduduk pendatang dari Madura. Lebih dari 500 orang meninggal dengan cara mengenaskan, dan 100.000 warga Madura kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka. Konflik berdarah pecah, akibat kebencian rasistik yang terpendam, dan meledak keluar, sehingga menghancurkan semuanya. Sekali lagi, sejarah Indonesia, sama seperti Jerman, dihantui terus menerus oleh rasisme.

Rasisme

Apa itu rasisme? Dan apakah rasisme itu bisa dipertanggungjawabkan?Secara singkat, rasisme adalah paham yang menyatakan, bahwa satu ras lebih tinggi dari ras lainnya. Rasisme bergerak dari pengandaian dasar, bahwa karakter seseorang amat ditentukan dari unsur-unsur biologis yang lahir bersamanya. Dari pandangan ini, maka masyarakat perlu dipisahkan antara satu ras yang lebih unggul, dan ras lainnya yang dianggap lebih rendah.

Rasisme bagaikan kanker yang terus menjalari sejarah peradaban manusia. Rasisme tampil dalam bentuk kebencian terhadap orang lain, karena orang itu memiliki warna kulit, bahasa, serta kebudayaan yang berbeda. Akibatnya, rasisme seolah menjadi bahan bakar terciptanya perang, konflik berdarah, pembantaian massal, dan perbudakan. (Anti Defamation League –ADL-, 2013)

Kolonialisme Eropa Barat terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia,  Australia, dan Amerika adalah contoh kejam, bagaimana rasisme bisa menimbulkan penderitaan dan kematian selama ratusan tahun. Selama masa itu, bangsa-bangsa lain dari Asia, Afrika, Australia, dan Amerika dianggap lebih rendah, bahkan tidak dianggap sebagai manusia. Perbudakan modern pun lahir sebagai bentuk konkret dari pandangan picik, bahwa orang-orang kulit hitam yang berasal dari Afrika bukanlah manusia, maka mereka bisa “diperjualbelikan”. (ADL, 2013)

Ketakutan dan Degradasi

Pada hemat saya, rasisme berakar pada dua hal, yakni ketakutan dan degradasi. Pengalaman bangsa Yahudi di Eropa menggambarkan, bagaimana kelompok lain melihat mereka sebagai kelompok yang sangat cerdas, terampil, dan kuat, maka perlu diwaspadai. Ketakutan sekaligus iri hati melahirkan tindakan-tindakan rasis yang bermuara pada pembantaian massal dan penumpasan etnis.

Degradasi, yakni sikap merendahkan orang berdasarkan ras ataupun etnisnya, juga mendorong tindakan-tindakan rasistik. Rwanda, 2004, etnis Hutu membunuh begitu banyak etnis Tutsi, karena bagi mereka, etnis Tutsi tercela dan tidak bermoral. Pada konteks ini, kelompok lain dilihat sebagai kelompok yang tidak bermoral dan jahat, maka harus dihancurkan untuk keselamatan masyarakat. Pengalaman perbudakan orang-orang berkulit hitam di Afrika juga lahir dari degradasi semacam ini, yakni melihat mereka semata sebagai sejenis hewan yang bukan manusia. (Frederickson, 2006)

Penelitian yang dilakukan oleh Ali Rattansi menyatakan, bahwa unsur dasar pemecah masyarakat di dalam rasisme adalah ras. (Rattansi, 2007) Bisa juga disimpulkan, bahwa kualitas dan karakter pribadi manusia semata dilihat dari unsur biologisnya, yakni dari etnis ataupun rasnya. Beberapa etnis dan ras dianggap lebih rendah atau tidak bermoral, maka harus dipisahkan, atau dimusnahkan, dari anggota masyarakat lainnya.

Melampaui Rasisme

Rasisme berpijak pada pengandaian, bahwa manusia itu berbeda secara biologis dan ontologis, dan perbedaan itu lalu melahirkan tingkat-tingkat sosial di dalam masyarakat, antara satu ras dan ras lainnya. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah perbedaan biologis dan ontologis itu ada? Jika kita bisa membuktikan, bahwa manusia, pada dasarnya, tidak sungguh berbeda, seperti dibayangkan oleh kaum rasis, maka rasisme seluruhnya menjadi tidak masuk akal, maka tak punya dasar apapun. Pertanyaannya kembali, apakah kita sungguh berbeda?

Secara metafisis, setiap manusia adalah person. Ia adalah kumpulan dari beragam jaringan sosial, kultural, dan biologis, yang kemudian membentuk satu entitas metafisis yang unik, yang bernama manusia. Keunikan ini membuat setiap orang itu berharga, karena ia menyumbangkan keberagaman dalam tata semesta yang ada melalui keunikan eksistensinya. Pada titik ini, setiap manusia, apapun ras ataupun latar belakangnya, adalah sama, walaupun diwarnai perbedaan-perbedaan karakteristik sosialnya.

Secara epistemologis, setiap manusia adalah mahluk yang berusaha mengetahui apa yang benar di dalam dunia. Dengan seluruh keberadaannya, termasuk rasa dan akal budinya, manusia mencerap dunia, dan berusaha memperoleh pengetahuan yang benar. Keberagaman kultur membuat orang mencerap dunia dengan cara berbeda, dan itu wajar. Kerinduan untuk tahu apa yang benar dengan segenap kemampuan manusiawinya membuat setiap orang, apapun latar belakangnya, pada dasarnya, adalah sama.

Secara etis, manusia juga selalu mencari apa yang baik. Dengan kata lain, kita merindukan untuk hidup dengan baik, dengan segala kekurangan dan ketidaktahuan kita. Sekali lagi, faktor keberagaman kultur tentu memberikan warna perbedaan. Namun, kerinduan ini tertanam di hakekat setiap manusia, apapun latar belakangnya. Maka, secara etis, setiap orang, pada dasarnya, adalah sama.

Secara politis, setiap manusia terdorong untuk hidup bersama dengan manusia lainnya. Ada beragam alasan yang mendorong tindakan itu. Akan tetapi, penelitian sejarah membuktikan dengan jelas, bahwa komunitas politik adalah fenomena universal sejarah manusia. Artinya, setiap orang, apapun latar belakang ras ataupun kulturnya, adalah sama, yakni mahluk politis.

Secara biologis, kita juga sudah membuktikan, bagaimana anatomi manusia itu tidak sungguh berbeda antar ras yang satu dan ras lainnya, dan bagaimana unsur biologis tidak menjadi penentu utama karakter dan kualitas pribadi seseorang. Secara biologis, kita adalah satu spesies yang sama, dan memiliki kebutuhan badaniah yang sama, mulai dari makan, minum, sampai dengan kebersihan. Perbedaan sosial dan kultural tidak bisa menyangkal fakta keras biologis ini.

Jika kita menelusuri pandangan ini, kita bisa membuat kesimpulan, bahwa rasisme itu, pada dasarnya, tidak mungkin. Tidak ada alasan yang cukup kuat, yang mendorong orang untuk bertindak rasis terhadap orang lainnya, karena setiap manusia, apapun latar belakang kultural maupun biologisnya, pada dasarnya, adalah sama, karena merindukan hal yang sama, dan berasal dari titik yang juga sama. Bahan bakar rasisme adalah kesalahan berpikir dan kehendak jahat. Sayangnya, seringkali, kesalahan berpikir dan kehendak jahat membuat kita mampu melakukan hal-hal yang “tak mungkin dan keji”… itu yang seringkali terjadi di dalam sejarah…

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

19 tanggapan untuk “Apakah Kita Sungguh Berbeda? Diskursus tentang Rasisme”

  1. Pada dasarnya seluruh manusia memiliki persamaan dalam segi esensi dan substansi, namun karena adanya penilaian yang berlebihan menjadikan yang lain tak dapat diterimanya. Ketika seseorang didoktrin dengan menggunakan metode objektivisme, maka subjektivisme mengikutinya. Contoh : Apakah warna langit? Mustahil bila kita mengatakan bahwa langit tidak memiliki warna, pasti kita mengatakan warna langit itu biru.

    Begitupula dengan kecantikan yang seharusnya berdasarkan penilaian subjektif, kini harus menjadi objektif, karena didukungnya oleh kepentingan para kapitalis. Seperti pemilihan Miss Universe, Ratu iklan, dan yang lebih parah bila kecantikan seperti Artis 18+. Bila ini ditanggapi secara berlebih, maka rasisme akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi yang berada diantara lingkaran kepopuleran. Sungguh sangat disayangkan, bahwa yang mereka pertahankan hanya kekosongan belaka. Serta orang yang sombong dan berbangga diri, tak lebih dari yang paling dihinakan. Karena, orang yang menyombongkan diri dan terlalu berbangga memiliki lebih banyak kekurangan daripada kelebihan.

    Suka

  2. Sepakat Za, ini isu klise tapi akan terus dieksploitasi. Jadi refleksi tentang ini harus di bangun terus.
    Sayangnya memang selalu ada orang yang tidak cukup paham, karena selama ada perbedaan maka penyesatan serupa akan selalu mungkin terjadi, terutama di masyarakat yang selalu mencari kambing hitam atas ketidakmampuan menjadi matang dalam hidup bermasyarakat. Tentu perbedaan kulit ini memang yang paling mudah digunakan untuk oversimplifikasi atas isu-isu sosial yang lebih abstrak.

    Suka

  3. jos…sepakat pak..namun bagaimana jika ada teks agama yang menjamin ras tertentu melebihi ras yang lain sehingga menimbulkan kebanggan rasnya……apakah teks agama itu bentuk kesalahan berpikir dan penuh dengan kehendak jahat….makasih pa tulisan ini “deep” but easy to undestand”…two thumbs up..

    Suka

  4. Seorang manusia rasis menjadi ‘berani’ karena dukungan ‘mayoritas’ ‘backing’ dan ‘power’
    Alih alih rasis..pokoknya segala yang ‘berbeda’haluan’ mesti di’singkir’kan..padahal masih dalam ‘satu kapal’

    Suka

  5. saya malah lebih suka meskipun perbedaan ras,suku dan agama… perbedaan itu malah indah sekali & bisa saling menghargai dan saling belajar dari pada kalau tidak ada perbedaan sama saja hampa di negri ini…

    Suka

  6. untuk yang contoh kasus dayak-madura, menurut saya bukan di picu karna rasis, yang saya lihat hanya perang suku saja, yang di sebabkan oleh terancamnya suku dayak ditanahnya sendiri. seperti devinisi rasisme diatas :rasisme adalah paham yang menyatakan, bahwa satu ras lebih tinggi dari ras lainnya. orang2 dayak tidak pernah merasa suku madura lebih rendah dari suku dayak, ini terbukti dari puluhan tahun orang madura bisa hidup di tanah orang dayak bahkan ada yang kawin campur. pecahnya pembantaian suku madura di tanah dayak itu akumulasi kemarahan orang-orang dayak terhadap orang madura yang tidak bisa menjunjung adat istiadat orang-orang dayak.

    Suka

  7. rasisme tidak pernah bisa dihilangkan dari manusia. rasa lebih tinggi ( seperti difinisi rasisme) merupakan sifat dasar manusia yang berpusat pada Ego. selama manusia tidak dapat mengendalikan egonya,rasisme dalam diri manusia selalu bercokol. hanya manusia yang bisa menaklukkan egonya dan mengendalikannya, maka manusia dapat memanusiakan manusia.

    Suka

  8. Saya berpraduga rasisme hanya untuk mereka yang tidak mengenal Tuhan dengan baik karena keadilanNya pasti tidak menjadikan seorang manusia (secara keseluruhan) lebih baik dari manusia lainnya.
    Jikalau manusia sadar bahwa rasisme adalah kebodohan, maka ia akan malu menunjukkan pemikiran rasisme yang masih tersisa. Kampanye dan rasionalisasi bahwa rasisme adalah kebodohan merupakan satu-satunya jalan untuk menghapusnya dari muka bumi.

    @Awad Ahmad. Suatu kaum yang dinyatakan dalam teks agama sebagai “Pilihan Tuhan” mestinya dipikirkan kembali “untuk apanya”.dan “kapan masanya”.

    Suka

    1. Banyak juga orang ateis yang tidak rasis. Konsep “mengenal Tuhan” memang sering problematis, karena orang rajin beragama belum tentu mengenal tuhan dengan baik… tapi saya setuju, kita harus melakukan kampanye terus menerus untuk memerangi rasisme…

      Suka

  9. Maaf kalau saya interupsi sedikit. Saya ingin tahu apakah yang dimaksud dengan studi diskursus. Mohon penjelasannya. Terimakasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s