Filsafat Manajemen Bisnis

Ideas
learnalearning.com

Sebuah Refleksi Awal

Oleh Reza A.A Wattimena

1.Filsafat dan Ilmu Manajemen

Konsep filsafat manajemen bisnis terkait dengan perkembangan ilmu manajemen.[1] Perkembangan dunia sekarang ini mendorong beragam refleksi ilmiah, termasuk filsafat dan manajemen, untuk terlibat dengan beragam persoalan dunia. Kita hidup di dunia yang saling terkait satu sama lain. Ekonomi tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan, politik, seni dan budaya sebuah masyarakat. Perubahan pada satu bagian masyarakat akan mempengaruhi bagian-bagian lainnya. Inilah yang disebut sebagai interdependensi, yakni kesalingterkaitan dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Fakta ini juga mempengaruhi tingkat persaingan global antara berbagai negara dan berbagai perusahaan di bidang ekonomi. Untuk bisa bertahan dan berkembang di era persaingan global semacam ini, kita membutuhkan cara berpikir dan penerapan tindakan yang tepat.[2] Di titik inilah filsafat manajemen bisnis memainkan peranan penting. 

Persaingan global juga mengubah fokus dari ilmu manajemen menjadi peningkatan efisiensi dan efektivitas kinerja perusahaan. Ini dianggap sebagai cara terbaik untuk bertahan dan mengembangkan perusahaan di era persaingan global sekarang ini. Di dalam wacana ilmu manajemen, ini disebut juga sebagai manajemen kualitas menyeluruh, atau Total Quality Management. Wacana ini menjadi paradigma dominan di dalam ilmu manajemen sekarang ini. Bagian penting dari wacana ini adalah pembangunan tata nilai di dalam perusahaan yang berjalan berbarengan dengan efektivitas dan efisiensi kinerja perusahaan. Dengan kata lain, manajemen kualitas menyeluruh melibatkan tiga hal sekaligus, yakni efisiensi, efektivitas dan panduan nilai yang jelas di dalam segala bentuk aktivitas manajemen. Dalam konteks ini, dua hal amat penting untuk diperhatikan, yakni peningkatan kreativitas di dalam perusahaan untuk melahirkan beragam penemuan baru yang bermakna, dan penguasaan jaringan informasi serta teknologi yang memadai. Semua ini melibatkan sebuah cara berpikir yang kritis dan menyeluruh yang hanya bisa ditawarkan oleh filsafat.[3]

Berbagai kemampuan ini dibutuhkan, karena perekonomian dunia terus berkembang. Seluruh dunia kini terlibat dalam perdagangan dengan intensitas yang luar biasa tinggi. Barang, jasa dan uang dipertukarkan dalam jumlah raksasa setiap detiknya di berbagai belahan dunia. Anak muda di kamarnya bisa dengan mudah membeli barang yang dijual dari daerah lain di belahan dunia lainnya. Tingkat produksi dan konsumsi global mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah manusia. Semua perkembangan ini membawa sebuah kesadaran baru, bahwa dunia kita ini terbatas. Sumber daya yang terkandung di dunia ini, yang menjadi bahan dasar untuk produksi dan konsumsi, juga terbatas. Wacana di dalam ilmu manajemen kini mulai membicarakan tanggung jawab ekologi, yakni tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup secara keseluruhan.[4] Wacana ini amat penting, terutama karena begitu banyak perusahaan yang mengeruk sumber daya alam dan membuang limbah sembarangan, tanpa memperhatikan kelestarian alam secara keseluruhan.

Banyak pakar manajemen yang kini menempatkan tanggung jawab sosial sebagai inti utama dari bisnis. Dorongan mencari untung tidak boleh melebihi tanggung jawab sosial yang selalu lahir dari setiap praktek bisnis. Beberapa contoh konkret dari hal ini adalah kesetaraan gender di dalam dunia kerja, pembatasan bonus dan upah untuk para pimpinan perusahaan, transaksi yang melibatkan nilai-nilai moral yang jelas serta kepedulian pada kelestarian ekosistem secara keseluruhan. Hal-hal ini kini meresapi seluruh penelitian ilmu manajemen. Kegagalan perusahaan untuk melibatkan diri secara aktif di dalam perwujudan hal-hal di atas dianggap secara langsung sebagai kesalahan pihak manajemen perusahaan. Ketika perusahaan dan praktek bisnis secara keseluruhan memperhatikan hal ini, maka ini akan mempengaruhi terciptanya budaya perusahaan yang baik untuk semua pihak. Budaya perusahaan ini akan meningkatkan kinerja perusahaan dalam kaitan dengan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat secara luas.[5]

Arti penting dari hadirnya budaya perusahaan ini semakin jelas, karena kita hidup di dalam masyarakat yang semakin rumit dan dinamis. Tata nilai mengalami perubahan begitu cepat, akibat perubahan masyarakat yang juga amat cepat. Apa yang baik dan buruk tidak lagi sejelas di masa lalu. Berbagai arahan nilai memberikan petunjuk dan pertimbangan di antara berbagai keadaan yang ada. Ini tentu menciptakan kebingungan dan ketidakpastian yang besar. Beban keputusan dan tanggung jawab yang harus dibuat pun juga semakin besar. Pada beberapa kasus, ini menciptakan beban yang berlebihan bagi para pimpinan bisnis.[6] Mereka tidak mampu lagi mempertimbangkan semua hal yang ada di dalam membuat keputusan. Akibatnya, kinerja mereka dan organisasi yang mereka pimpin pun menurun. Pada titik ini jelas dibutuhkan suatu cara berpikir baru yang berfokus pada jalan keluar yang menyeluruh. Cara berpikir baru ini tidak hanya harus mempertimbangkan aspek-aspek langsung yang terkait dengan bisnis, tetapi juga aspek-aspek lainnya di luar bisnis itu sendiri, seperti persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang ada di dalam masyarakat luas.

Cara berpikir yang menyeluruh ini juga menjadi dasar dari sosok manajer di abad 21 ini. Ia tidak hanya merupakan figur otoritas, tetapi juga harus memberikan pendasaran yang masuk akal bagi otoritasnya tersebut.[7] Dalam konteks ini, ia sekaligus adalah figur dan teman bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia menyediakan arah bagi organisasi yang dipimpinnya dengan menetapkan target pencapaian kerja, memimpin rapat dan koordinasi, berhubungan dengan media massa, berhubungan dengan pemerintah, menjadi perantara di antara berbagai bagian organisasi, meredakan konflik dan sebagainya. Ia menekankan, apa yang menjadi fokus utama dan pendamping di dalam organisasinya. Kepercayaan menjadi kata kunci disini. Segala yang dilakukan seorang manajer akan menjadi percuma, jika ia tidak mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang ia pimpin. Kepercayaan ini bisa lahir, karena sang manajer menepati janjinya kepada orang-orang yang dipimpinnya, dan juga karena ia mampu melihat keadaan organisasi dari apa yang disebut sebagai metaperspektif, yakni melihat segalanya dari kaca mata yang lebih luas. Metaperspektif ini berakar pada kesadaran, bahwa tidak ada yang pasti di dalam hidup. Ada beragam kemungkinan yang bisa timbul dari beragam keadaan. Untuk bisa membuat keputusan yang tepat di tengah keadaan yang tidak pasti ini, seorang manajer membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan ini adalah kemampuan untuk melihat apa yang ada di balik dari berbagai gejala yang tampak di depan mata. Dengan kata lain, ia bisa melihat akar dari semua keadaan yang terjadi. Kemampuan berpikir kritis dan analitis yang dikembangkan filsafat jelas amat berguna disini.

Dengan mempertimbangkan hal ini, maka filsafat manajemen bisnis jelas merupakan aspek yang amat penting di dalam ilmu manajemen. Filsafat manajemen bisnis tidak hanya membicarakan proses-proses manajerial, seperti kecenderungan di dalam ilmu manajemen, tetapi juga cara berpikir dan pandangan dunia yang mendorong orang untuk bertindak dan berperilaku tertentu di dalam konteks bisnis. Filsafat manajemen bisnis juga membuka ruang besar untuk melihat kaitan antara dunia bisnis dengan bidang-bidang lainnya di kehidupan manusia secara kritis dan mendasar. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat sebagai kajian lintas ilmu yang tidak hanya mencoba memahami praktek-praktek bisnis yang telah terjadi, tetapi juga menawarkan arah bagi perkembangan bisnis di kemudian hari dalam kaitan dengan kehidupan manusia secara keseluruhan. Filsafat manajemen bisnis, menurut Fall Hecker, adalah puncak perkembangan dari ilmu manajemen yang telah terjadi sejak 1960-an lalu di Eropa dan Amerika Serikat. Bagan dari Hecker in kiranya bisa membantu.[8]

 

Perkembangan Ilmu Manajemen Era
Spesialisasi di dalam fungsi manajerial 1960-an
Manajemen pemasaran 1970-an
Manajemen Stratejik 1980-an
Manajemen Proses dan Pembelajaran Organisasi 1990-an
Manajemen Nilai 2000-an
Manajemen dan Tanggung Jawab Sosial 2010-an
Filsafat Manajemen Bisnis Dewasa ini.

 

  1. Filsafat

Di dalam filsafat, kita mengenal setidaknya lima cabang umum.[9] Yang paling mendasar adalah metafisika, yakni penyelidikan keseluruhan kenyataan. Metafisika ini terkait dengan ontologi, yakni pemahaman tentang “ada” yang menjadi dasar/hakekat dari segala sesuatu. Dua hal ini dipandu dengan cabang ketiga dari filsafat, yakni logika. Logika dapat dimengerti sebagai seni berpikir lurus dengan menarik kesimpulan dari premis-premis yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Dengan pola pikir yang lurus ini, orang lalu bisa sampai pada kebenaran-kebenaran yang bersifat kontekstual dan partikular. Cabang keempat adalah etika, yakni kajian kritis atas pemahaman tentang baik dan buruk yang ada di masyarakat. Etika mencangkup kajian kritis dan rasional atas berbagai kemungkinan tindakan manusia di dalam keadaan-keadaan tertentu. Cabang kelima adalah estetika, yakni pemahaman tentang keindahan di dalam berbagai bentuknya, misalnya di dalam seni dan alam. Cabang keenam adalah filsafat manusia, yakni pemahaman tentang manusia dan kaitannya dengan dunianya. Filsafat, secara umum, hendak memahami dunia manusia dengan menggunakan berbagai kajian yang kritis dan rasional. Dalam arti ini, peran bahasa dan logika amatlah penting. Bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi dan alat menyampaikan ide semata, tetapi juga sebagai pengandaian dasar sekaligus batas-batas dari tindak berpikir manusia. Dengan bahasa, manusia bisa menciptakan dan memahami dunianya. Manusia juga bisa menjadi manusia, karena bahasa yang ia gunakan. Salah satu prinsip dasar filsafat adalah tindak berpikir. Dalam arti ini, pendapat Rene Descartes, filsuf Prancis abad ke 16, kiranya perlu didengar, bahwa tindak berpikir adalah ciri dari keberadaan manusia. Aku berpikir maka aku ada, demikian kata Descartes. Ia sampai pada pemahaman ini, setelah meragukan segalanya, dan sampai pada sesuatu yang tak bisa lagi diragukan, bahwa aku sedang meragukan. Dan untuk bisa meragukan, manusia perlu berpikir. Maka, tindak berpikir adalah tindak fundamental yang tak terbantahkan.

 

Cabang Filsafat Definisi
Metafisika Kenyataan sebagai Keseluruhan
Ontologi Dasar atau hakekat kenyataan
Logika Seni berpikir lurus
Etika Kajian kritis tentang baik dan buruk
Estetika Kajian tentang keindahan di dalam seni dan alam
Filsafat Manusia Pemahaman menyeluruh dan mendasar tentang manusia dalam kaitan dengan dunianya.

 

Sejak Descartes, tindak berpikir menjadi pusat dari filsafat Barat.[10] Cara berpikir semacam ini lalu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, seperti kita kenal sekarang ini. Namun, tindak berpikir semacam ini harus dipandu juga dengan logika. Artinya, segala penarikan kesimpulan dan pernyataan yang dibuat harus berpijak pada penalaran yang runtut sekaligus bisa dibuktikan melalui pengalaman nyata. Dari sinilah lahir metode penelitian ilmiah yang menggunakan bahasa-bahasa yang akurat di dalam menyampaikan argumen. Namun, harus juga disadari, bahwa bahasa bukanlah benda mati yang tak bisa berubah. Bahasa selalu bersifat dinamis, bergerak dan berubah dalam kaitan dengan bidang-bidang lainnya yang juga terus berubah. Selalu ada kemungkinan penafsiran lain dari arti suatu kata atau kalimat. Bahasa adalah gabungan antara kebetulan dan ketepatan di dalam tindak berpikir manusia.

Kemampuan untuk merumuskan bahasa sebagai alat untuk berpikir dan berkomunikasi tampaknya merupakan ciri khas manusia, jika dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya. Sampai detik tulisan ini dibuat, belum ada penelitian yang mendalam soal bahasa dan pikiran di dalam diri mahluk hidup lainnya. Dengan bahasa dan pikirannya, manusia membangun dunia yang berpijak pada pemahamannya. Seorang anak mengenal dunianya melalui bahasa yang diajarkan kepadanya. Ia memberi nama pada segala yang ia temui. Nama dan kata tersebut lalu menjadi bagian dari ekspresi pikirannya. Dengan meluasnya pemahaman akan bahasa, maka bertambah luas pula pengetahuan serta pemahaman seseorang. Filsafat sendiri terdiri dari dua kata, yakni philo yang berarti pecinta, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Berpijak pada ini, maka filsafat dapat dipahami sebagai pencinta kebijaksanaan.[11] Kebijaksanaan ini haruslah dipahami lebih dari sekedar kebijaksanaan yang berpijak pada tradisi tertentu belaka yang biasanya dirumuskan dalam bentuk moralitas, yakni pemahaman tradisional tentang baik dan buruk dalam konteks tertentu.

Di dalam filsafat modern, kebijaksanaan dilihat sebagai kemampuan untuk berpikir kritis, rasional dan sistematis untuk memahami segala sesuatu.[12] Dalam arti ini, filsafat perlu dibedakan dengan agama. Inti dari agama adalah iman pada satu ajaran tertentu. Di dalam filsafat, inti utamanya adalah penalaran kritis, rasional dan sistematis yang terus mengajukan mencari dan mengajukan pertanyaan. Obyek penelitian filsafat adalah seluruh kenyataan yang ada, tanpa batasan apapun. Filsafat juga bisa melakukan refleksi atas konsep tuhan dan agama. Namun, metode yang digunakan berbeda, dan ini tentunya juga menghasilkan pola refleksi yang berbeda pula.

Refleksi filosofis juga memberikan sumbangan yang amat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.[13] Selama ratusan tahun, filsafat menjadi satu-satunya bentuk ilmu pengetahuan. Filsafat mencakup semua bentuk pengetahuan manusia yang mungkin tentang dunianya. Sejak abad 18, pemisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan mulai terjadi. Ini dimulai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam dan kemudian ilmu-ilmu manusia di Eropa. Dengan pemisahan ini, filsafat pun juga mengembangkan cabangnya, mulai dari filsafat alam, filsafat ilmu pengetahuan, filsafat budaya, filsafat ekonomi, filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat politik, filsafat manajemen bisnis dan sebagainya.

 

  1. Filsafat Manajemen Bisnis

Filsafat manajemen bisnis adalah bagian dari filsafat praktis.[14] Sejatinya, filsafat praktis memiliki tiga bagian dasar, yakni ekonomi, politik dan etika. Ketiganya terkait erat, dan harus dilihat sebagai satu kesatuan. Adam Smith, yang banyak dikenal sebagai bapak ekonomi modern, pun masih melihat kesatuan ini. Namun, sekarang ini, ekonomi dilihat sebagai sesuatu yang mandiri, dan terlepas dari pertimbangan politis maupun etis. Ilmu ekonomi berkembang menjadi sedemikian teknis dan mekanis. Yang menjadi fokus adalah efisiensi, efektivitas dan kemampuan untuk menghasilkan keuntungan finansial yang lebih besar lagi. Pertimbangan politis dan etis tidak lagi diperhatikan.

Padahal, ekonomi adalah tindakan manusia yang tak bisa dipisahkan dari pertimbangan etis dan politis. Tanpa tindakan manusia, ekonomi tidak mungkin ada dan berjalan. Maka dari itu, sejatinya, pertimbangan politik dan etis tidak bisa dihindari begitu saja di dalam ekonomi, karena kehidupan manusia selalu dipenuhi dengan berbagai pertimbangan politis maupun etis. Manajemen bisnis, sebagai bagian dari aktivitas ekonomi, pun tidak pernah bisa dipisahkan dari pertimbangan politis dan etis. Prinsip peraihan keuntungan semaksimal mungkin harus dipandu dengan erat dengan prinsip-prinsip politis dan etis yang ada.[15]

Ilmu ekonomi dan ilmu manajemen bisnis pun harus juga memahami kaitan antara nilai-nilai etis, pertimbangan politis dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara-cara yang efektif dan efisien di dalam berbagai penelitiannya. Dasar dari semua ini, sekali lagi, adalah tindakan manusia. Perusahaan bisnis adalah sebuah organisasi yang dikelola oleh manusia. Ia adalah suatu entitas sosial. Oleh karena itu, ia juga merupakan bahan kajian dari filsafat sosial yang mencoba memahami akar dan tata kelola yang tepat dari dunia sosial manusia. Latar belakang pemikiran seseorang tentu mempengaruhi tindakannya di dalam konteks manajemen bisnis. Ini juga terkait dengan pilihan bebasnya yang ia buat di dalam konteks yang sama. Di titik ini, Hecker merumuskan beberapa pertanyaan dasar yang menjadi bahan kajian dari filsafat manajemen bisnis.[16]

 

Pertanyaan-pertanyaan Penelitian Filsafat Manajemen Bisnis
Paradigma apa yang digunakan orang-orang yang bekerja di dalam suatu perusahaan?
Prinsip-prinsip tata kelola dan kepemimpinan macam apa yang tepat di dalam suatu perusahaan?
Tata kelola macam apa yang diperlukan, supaya perusahaan bisa bertahan di dalam persaingan?
Langkah-langkah apa yang perlu dilakukan, guna memastikan perkembangan perusahaan di dalam jangka pendek maupun jangka panjang?
Hal-hal apa yang diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat luas?
Bagaimana supaya kepentingan para pemilik perusahaan bisa terpenuhi?
Bagaimana perusahaan mengelola bisnisnya dalam kaitan dengan pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam?

 

Filsafat manajemen bisnis hendak menjawab beragam pertanyaan tersebut secara kritis, rasional dan sistematis. Setiap perusahaan tentu memiliki konteks yang berbeda yang perlu diperhatikan secara jeli.

Dalam arti ini, secara padat, filsafat manajemen bisnis dapat dirumuskan sebagai sebuah refleksi yang kritis, rasional, mendasar dan sistematis tentang cara berpikir, pola bertindak, serta dasar-dasar nilai yang mempengaruhi tata kelola di dalam suatu perusahaan bisnis. Filsafat manajemen bisnis tidak hanya ingin memahami, apa yang sesungguhnya terjadi di dalam tata kelola berbagai perusahaan bisnis (deskriptif-faktual), tetapi juga ingin menawarkan arah bagi perkembangan beragam perusahaan bisnis tersebut dalam kepentingan yang lebih luas (normatif), yakni kepentingan masyarakat dan kepentingan pelestarian lingkungan. Arah tersebut kemudian menjadi roh dari sebuah perusahaan yang harus terus diberdayakan, disebarkan dan dikembangkan di dalam aktivitas sehari-hari perusahaan tersebut.[17]

Roh perusahaan tersebut berisi setidaknya enam aspek, yakni nilai-nilai dasar perusahaan, kepemimpinan, efektivitas keputusan, efisiensi kebijakan serta dampak yang diberikan kepada masyarakat luas dan lingkungan hidup. Keenam hal ini tidak diterima begitu saja sebagai ada, tetapi juga dikaji terus secara kritis, sehingga bisa selalu sesuai dengan keadaan serta kebutuhan yang ada. Kajian kritis atas roh perusahaan tersebut merupakan tugas utama dari filsafat manajemen bisnis. Dalam arti ini, filsafat manajemen bisnis merupakan sebuah refleksi menyeluruh (Gesamtheitsbesinnung) atas segala aspek yang ada di dalam perusahaan. Ia tidak terjebak pada hal-hal khusus di dalam pola manajerial, seperti ilmu manajemen lainnya. Ia menyediakan pandangan yang lebih luas untuk memandu segala kebijakan perusahaan. Hal ini amatlah penting di dalam dunia yang terkait erat satu sama lain sekarang ini. Proses globalisasi yang terjadi di seluruh dunia membuat semua kebijakan manajerial perusahaan harus memiliki pandangan yang menyeluruh terkait bagian dalam maupun pola hubungan dengan dunia luar dari perusahaan tersebut. Filsafat manajemen bisnis berkembang dalam kaitan erat dengan keadaan politik, ekonomi makro dunia, keadaan sosial masyarakat serta perkembangan-perkembangan terbaru di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.[18]

 

3.1 Manusia dan Filsafat

Praktek manajemen bisnis dan filsafat jelas tidak pernah bisa dipisahkan dari hidup manusia. Immanuel Kant, filsuf Jerman, pernah menyatakan, bahwa ada tiga pertanyaan mendasar di dalam filsafat dalam kaitan dengan hidup manusia. Yang pertama adalah, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, apa yang harus kita lakukan? Dan ketiga, apa yang boleh kita harapkan? Pertanyaan pertama terkait dengan pengetahuan manusia. Apa yang kita ketahui mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita di dalam menyingkapi sesuatu. Pengetahuan kita juga membentuk dunia kita.[19] Pertanyaan kedua terkait dengan tindakan manusia dan prinsip-prinsip yang sebaiknya menjadi dasar dari tindakannya. Ini juga terkait dengan sikap kita kepada orang lain. Pertanyaan ketiga terkait dengan pemahaman manusia soal keindahan yang terdapat di alam dan seni hasil karya manusia. Filsafat, menurut Kant, hendak memberikan jawaban yang kritis, rasional dan sistematis terhadap ketiga pertanyaan tersebut dengan sepenuhnya menggunakan akal budi manusia. Filsafat tidak mengacu pada agama atau aliran kepercayaan apapun.

Tujuan dasar filsafat adalah memberi arah bagi hidup manusia, yakni arah menuju kebijaksanaan yang kritis, rasional dan sistematis. Dalam arti ini, tujuan utama filsafat adalah mengembangkan hidup manusia semaksimal mungkin sesuai dengan kemungkinan yang ia miliki. Filsafat manajemen bisnis juga dapat dilihat dalam arti ini, yakni sebagai upaya untuk mengembangkan bisnis di dalam perusahaan semaksimal mungkin, sesuai dengan potensi yang ia punya. Di titik ini, filsafat manajemen bisnis adalah bagian yang amat penting di dalam kepemimpinan sebuah perusahaan. Fokus kajian dari filsafat manajemen bisnis adalah hidup manusia sebagai individual dalam kaitannya tindakannya di dalam konteks perusahaan.[20] Oleh karena itu, beragam pertimbangan etis, sosial, budaya, religius dan biologis yang mendasari hidup manusia juga patut menjadi perhatian. Beragam aspek di dalam diri manusia ini juga menjadi tema dasar dari filsafat manajemen bisnis. Manusia memang adalah mahluk ekonomi. Namun, itu hanya satu bagian dari beragam dimensi manusia lainnya. Semuanya salilng bertaut erat, tanpa bisa dipisahkan satu sama lain.

Setiap pimpinan bisnis pasti harus berurusan dengan manusia-manusia yang memiliki beragam dimensi ini. Setiap pegawai, pelanggan ataupun partner perusahaan lainnya pasti memiliki beragam dimensi ini yang mempengaruhi perilakunya sehari-hari, terutama di dalam soal pembuatan keputusan. Manusia memang mahluk yang unik. Mereka memiliki satu kemampuan yang amat unik, yakni kesadaran diri.[21] Mereka sadar, bahwa mereka sadar. Mereka tidak hanya hidup, tetapi juga memikirkan kehidupan. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi berpikir soal penyebab sekaligus dampak dari pekerjaannya. Mereka memikirkan hampir semua hal. Mereka bertanya tentang alasan keberadaan mereka, atau tujuan hidup mereka. Tentu saja, semua ini menarik untuk tema penelitian ilmiah maupun filosofis. Namun, semua ini bisa menimbulkan kerasahan mendasar di dalam hidup manusia yang berujung pada beragam penyakit, baik fisik maupun psikologis, jika dibiarkan tanpa kendali.

Keberadaan manusia di dunia ini juga kerap menjadi obyek pemikiran. Manusia bertanya tentang hubungannya dengan mahluk hidup lainnya, dan juga dengan alam. Mereka juga kerap melihat dirinya sebagai pusat dari alam. Segala hal yang ada bertujuan untuk menopang kehidupannya. Mereka melihat dirinya juga sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Mereka tidak merasa sekedar sebagai benda, melainkan sebagai seorang pribadi yang luhur pada dirinya sendiri. Setiap pribadi adalah berharga, unik dan tidak dapat ditukarkan dengan yang lain. Setiap manusia juga membutuhkan manusia lainnya. Mereka saling mendukung untuk mengobati rasa kesepian yang ada, dan untuk keperluan bertahan hidup. Dalam kebersamaan tersebut, mereka membentuk keluarga, masyarakat dan negara.[22] Dalam kebersamaan itu, mereka berkembang sebagai sebuah spesies, dan membangun peradaban. Di dalam sela-sela kehidupan itu, selalu ada tegangan antara “aku” dan “kamu”, antara “aku” dan kami, dan beragam kategori-kategori buatan manusia lainnya.

Ketika “aku” terlalu menjadi fokus, maka orang menjadi egois. Ketika “kita” terlalu ditekankan, maka orang akan jatuh ke dalam kolektivisme. Kepentingan pribadi selalu dikorbankan demi kepentingan orang banyak. Di antara dua dimensi ini, ada dimensi ketiga lainnya yang amat menentukan hidup manusia, yakni kerinduan untuk mencapai yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Manusia selalu terdorong untnuk mencari apa yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar dari keadaannya sekarang ini. Ia mencari makna dan tujuan yang lebih dari apa yang sudah dimilikinya sekarang ini. Kerinduan ini menciptakan kecemasan dan tegangan besar di dalam diri manusia, jika ia tidak mampu mengaturnya. Di sisi lain, kerinduan ini juga merupakan tanda, bahwa hidup manusia selalu ada dalam proses. Hidupnya adalah proyek yang tidak pernah selesai. Hal ini membuka banyak kemungkinan untuk berbagai bentuk perubahan.[23]

Kita bisa mengenal beragam perubahan yang terjadi ini, karena kita hidup dalam ruang dan waktu. Perubahan mungkin, karena adanya ruang dan waktu. Para filsuf dan ilmuwan telah lama berdiskusi tentang hakekat dari ruang dan waktu. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah ruang dan waktu itu sungguh ada sebagai sesuatu yang tetap di luar diri manusia, atau lebih merupakan konsep hasil dari ciptaan pikiran manusia? Jika diamati secara jeli, waktu dan ruang lebih merupakan hasil dari pikiran kita. Waktu yang biasa kita pahami, yakni sebagai masa lalu, masa kini dan masa depan, juga sebenarnya tidak ada. Masa lalu merupakan ingatan. Masa depan merupakan harapan. Masa kini segera berlalu, ketika kita menyebutnya sebagai masa kini. Ketiganya tidak ada sebagai kenyataan yang tetap, tetapi lebih sebagai bagian dari kesadaran manusia. Dalam arti ini, ada hal ketiga yang perlu dipertimbangkan, yakni kesadaran manusia. Ruang dan waktu ada sejauh itu terkait dengan kesadaran manusia.[24] Dengan pemahaman ini, orang lalu bisa menata hidupnya sedemikian rupa, tanpa dijajah oleh ruang dan waktu yang merupakan ciptaan dari kesadarannya. Ini, pada hemat saya, merupakan hal penting di dalam kepemimpinan.

Dengan memahami ruang dan waktu dalam kaitan dengan kesadaran, manusia membuka ruang untuk kebebasannya. Kebebasan ini nantinya juga menjadi dasar bagi sikap kepemimpinan yang tepat, guna menyingkapi berbagai keadaan yang terjadi. Ia menciptakan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak melulu ditentukan oleh ruang dan waktu yang ada di sekitarnya. Pemahaman ini juga telah melahirkan pemahaman modern tentang dunia, bahwa manusia adalah subyek yang berhadapan dengan dunia sebagai obyek. Kita tidak melihat diri kita sebagai bagian dari dunia, tetapi sebagai sesuatu yang terpisah dan berjarak darinya. Pemahaman ini berakar begitu dalam di cara berpikir modern. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengabdi pada kepentingan manusia, tetapi merusak kehidupan alam dan mahluk hidup lainnya.[25] Namun, cara pandang ini kini telah banyak ditantang. Seluruh insting di dalam diri kita sebagai manusia menyatakan, bahwa kita adalah bagian dari dunia, dan dunia adalah bagian dari kita. Keterpisahan hanyalah ilusi yang dihasilkan oleh kesalahan berpikir. Beragam tradisi agama, seni dan filsafat dari berbagai penjuru dunia telah berulang kali menyatakan hal ini. Kesadaran akan keterkaitan dari segala sesuatu di alam semesta ini juga menjadi bagian penting di dalam praktek manajerial dan kepemimpinan.

 

3.2 Filsafat dan Pikiran Manusia

Di dalam tradisi filsafat Timur, terutama Buddhisme, pikiran manusia berperan amat besar di dalam kehidupan.[26] Segala yang ada di dunia ini, yang dapat dipahami manusia melalui konsep dan teori, adalah hasil ciptaan dari pikiran manusia. Hidup kita dan sikap kita di dalam menanggapi beragam hal yang terjadi juga merupakan hasil dari cara berpikir kita. Segala perubahan di tingkat sosial hanya mungkin, jika manusia pertama-tama mengubah cara berpikirnya. Segala rencana bisa terwujud, jika manusia memiliki motivasi dan komitmen kuat untuk mewujudkan cita-cita hidupnya. Pendapat ini tidak hanya kental di dalam filsafat Timur, tetapi juga di dalam tradisi filsafat Stoa di masa Yunani Kuno, terutama di dalam pemikiran Marcus Aurelius, Kaisar Roma pada tahun 121 sampai 180.

Marcus Aurelius juga menekankan pentingnya penguasaan diri di dalam hidup.[27] Emosi dan pikiran kerap kali membuat orang bingung. Kebingungan ini melahirkan ketegangan dan penderitaan di dalam diri. Orang yang hidupnya dipenuhi penderitaan akan membuat orang lain menderita. Inilah sumber dari beragam masalah yang muncul di dunia, mulai dari krisis ekonomi sampai dengan perang berkepanjangan. Penguasaan diri ini berarti orang mampu melihat emosi dan pikirannya sebagai sesuatu yang berbeda darinya. Orang tidak menyamakan dirinya begitu saja dengan beragam emosi dan pikiran yang muncul di kepalanya. Untuk bisa melakukan ini, orang perlu menjadi pengamat dari segala sesuatu yang muncul di dalam maupun di luar dirinya. Kemampuan mengamati ini adalah sumber dari segala kebijaksanaan. Hanya dengan begini, manusia bisa menjadi tuan atas pikirannya. Ia lalu bisa menggunakan pikirannya secara maksimal untuk menciptakan atau mengubah sesuatu, tergantung beragam keadaan yang sedang terjadi. Kemampuan untuk mengamati dan menjaga jarak dari beragam emosi dan pikiran yang muncul akan melahirkan kejernihan. Kejernihan semacam ini akan menjadi dasar bagi pikiran-pikiran yang kritis yang penting untuk perkembangan hidup manusia.

Pengetahuan manusia akan dunia juga dihasilkan oleh pikirannya. Tema ini menjadi kajian utama para filsuf Barat, mulai dari masa Yunani Kuno sampai sekarang ini. Di masa Yunani kuno, Sokrates menegaskan, bahwa pikiran rasional adalah jalan untuk menuju kebenaran dan kebijaksanaan. Terkenal juga perdebatannya dengan kaum Sofis. Keduanya masih mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat sampai saat ini, juga di dalam perkembangan ilmu manajemen bisnis. Keduanya melihat kebenaran sebagai proses pencarian yang dilakukan dengan menggunakan pikiran manusia. Sokrates menekankan pemikiran rasional dan langkah-langkah penarikan kesimpulan yang sistematik. Kaum Sofis menekankan seni merangkai argumen dan berbicara meyakinkan di depan umum, guna meyakinkan orang lain. Satu metode penting yang dikembangkan Sokrates adalah metode bidan, yakni membantu orang menemukan jalannya sendiri dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang pikirannya.[28] Sampai sekarang, filsafat dan ilmu pengetahuan berkembang dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang kritis dan mengubah cara pandang yang sudah ada.

Plato adalah murid Sokrates yang mengembangkan pandangannya sendiri terkait dengan kemampuan berpikir kritis manusia. Ia menulis sebuah cerita kecil tentang orang-orang yang hidup di dalam gua. Intinya adalah bahwa dunia yang kita lihat sehari-hari sebenarnya hanya merupakan bayangan dari kenyataan yang sesungguhnya.[29] Dengan akal budinya, manusia bisa mempertanyakan bayangan-bayangan ini, dan sampai pada kenyataan yang sesungguhnya. Namun, kenyataan yang sesungguhnya ini melampaui kemampuan berpikir manusia. Dengan kata lain, pikiran manusia tidak pernah akan mampu untuk mencapai pengetahuan ini seutuhnya. Selalu ada jarak antara apa yang dapat diketahui pikiran manusia, dan kebenaran atau kenyataan sebagaimana adanya. Hanya orang naif yang dipenuhi kebodohan serta kesombongan yang merasa, bahwa apa yang ia tangkap dengan panca indera dan pikirannya adalah kebenaran yang sejati. Plato mengajak kita untuk mempertanyakan apa yang kita tahu, karena itu sejatinya hanya merupakan bayangan-bayangan semata yang terus berubah. Ia mengajak kita untuk memahami hakekat dari segala sesuatu, atau apa yang disebutnya sebagai Eidos dari hal-hal yang bisa kita cerap dan pahami.

Di dalam filsafat Plato, Eidos, atau ide, adalah bentuk ideal dari hal-hal yang ada di dunia.[30] Ia adalah semacam cetak biru dari segala sesuatu yang ada di dunia. Aristoteles, yang adalah murid Plato, melanjutkan cara berpikir semacam ini. Baginya, ide suatu benda tidaklah terletak di luar benda itu, tetapi di dalam bentuk, atau forma, dari benda itu sendiri. Ia juga nantinya mengembangkan logika sebagai hukum berpikir lurus di dalam penarikan kesimpulan. Ini menjadi dasar bagi perkembangan filsafat maupun ilmu pengetahuan, sebagaimana kita kenal sekarang ini. Di dalam logika, orang bisa menarik kesimpulan dari data-data yang ada, sehingga ia bisa sampai pada kesimpulan umum yang kurang lebih berlaku untuk semua. Sebaliknya, dengan logika, orang juga bisa memahami data-data partikular dengan berpijak pada kesimpulan umum yang sudah ada sebelumnya. Yang pertama disebut sebagai logika induksi, yakni dari yang partikular menuju yang umum. Yang kedua disebut sebagai logika deduksi, yakni penarikan kesimpulan dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang khusus, atau partikular.

Logika deduksi dan induksi menjadi alat berpikir yang amat berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 15 dan 16.[31] Salah satu filsuf yang berpengaruh pada masa ini adalah John Locke. Ia menekankan pentingnya pengalaman inderawi di dalam proses pembentukan pengetahuan manusia. Manusia lahir di dunia tidak dengan ide di kepalanya. Ia bagaikan kertas putih yang siap diisi dengan berbagai hal dari pengalamannya di dunia. Inilah yang disebut tabula rasa di dalam filsafat Locke. Dari pengalaman inderawinya bersentuhan dengan dunia inilah manusia lalu mempunyai ide di dalam dirinya tentang dunia. Secara alamiah, pikiran manusia memiliki kemampuan untuk mengolah beragam macam informasi menjadi semacam bentuk pengetahuan. Hal ini terjadi melalui proses abstraksi, pembandingan maupun penarikan kesimpulan dari beragam data yang terpisah. Pikiran yang digabungkan dengan pengalaman inderawi akan melahirkan konsep dan pengetahuan. Namun, pengetahuan kita sifatnya selalu terbatas.[32] Kita tidak pernah bisa mengetahui segalanya. Kita juga tidak akan pernah bisa memahami kebenaran yang sejati pada dirinya sendiri dengan pikiran kita.

 

3.3 Pikiran dan Kenyataan

Setiap pikiran selalu merupakan sebuah kemungkinan. Ia adalah benih-benih kenyataan. Pikiran akan mendorong sikap dan tindakan. Keduanya lalu akan melahirkan kenyataan. Ini adalah gerak hukum sebab akibat yang menjadi hukum dasar dari kenyataan. Ketika sebuah pikiran berkembang di dalam diri manusia, ia akan secara otomatis mengubah hidup dan kebiasaannya sesuai dengan pikiran tersebut. Maka amatlah penting bagi manusia untuk menyadari isi dari pikirannya dari saat ke saat. Ketika kesadaran ini hilang, maka pikirannya akan berjalan otomatis, tanpa kontrol. Kenyataan hidupnya pun lalu lepas dari pegangannya sendiri. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam hidup seseorang juga amat tergantung dari pikiran macam apa yang dipelihara dan disadarinya dari saat ke saat di dalam hidupnya.

Di dalam wacana filsafat manajemen bisnis, cara berpikir manusia di dalam menanggapi keadaan dibagi menjadi dua, yakni optimis dan pesimis.[33] Cara berpikir optimis mencoba melihat peluang dari beragam tantangan yang ada. Sementara, cara berpikir pesimis melihat kesulitan dari segala peristiwa yang terjadi. Orang-orang optimis sering dicap sebagai pemimpi. Mereka tak memiliki pijakan di kenyataan. Namun, kenyataan yang ada diciptakan oleh pikiran kita. Orang-orang optimis sering berusaha mengubah kenyataan sesuai dengan pikirannya. Mereka membawa perubahan ke dunia. Ini tentu memiliki sisi baik sekaligus sisi buruk. Sementara, orang pesimis cenderung untuk merasa kalah di hadapan segala perubahan dan tantangan yang ada. Ada nuansa pasrah dan melepas di dalam sikap hidupnya. Tegangan antara keduanya, yakni sikap pesimis dan optimis, tentu perlu untuk dicermati lebih dalam.

Orang optimis melihat peristiwa jelek sebagai sesuatu yang sementara. Dengan usaha yang cukup dan motivasi yang kuat, peristiwa tersebut akan segera berlalu. Sebaliknya, orang pesimis melihat peristiwa baik sebagai sesuatu yang sementara. Ia lalu mempersiapkan diri untuk krisis yang akan datang berikutnya. Sayangnya, media massa lebih menyukai berita jelek daripada berita baik. Berita jelek dianggap lebih menjual. Mereka lalu menyajikan berita yang tidak seimbang kepada masyarakat. Akibatnya, masyarakat mengira, bahwa peristiwa jelek jauh lebih banyak daripada peristiwa baik. Banyak orang berubah menjadi pesimis, akibat berita-berita yang tidak seimbang ini. Pada titik ini, kita tentu perlu menggunakan kemampuan berpikir kritis kita, sehingga tidak jatuh ke dalam sikap pesimis semacam ini. Orang yang pesimis berlebihan akan jatuh ke dalam depresi. Ia tidak bisa menjalankan hidupnya dengan baik. Sebaliknya, orang yang optimis berlebihan akan jatuh pada sikap naif. Ia akan terus tersandung pada masalah yang sama, tanpa pernah bisa belajar darinya. Menjaga keseimbangan antara sikap optimis dan sikap pesimis secara sehat menjadi kunci bagi kepemimpinan yang baik.[34] Keseimbangan ini akan menciptakan pribadi yang kritis dan realistis.

Orang yang kritis dan realistis cenderung melihat segala sesuatu secara lebih mendalam. Mereka tidak terjebak oleh penampilan permukaan yang memang kerap kali menipu. Mereka juga mampu bekerja sama dengan orang lain, tanpa ikut arus begitu saja. Mereka bisa melakukan kritik, tanpa menyakiti orang lain. Secara umum, mereka lebih mampu menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang ada. Dengan kemampuan ini, mereka lalu lebih bisa mewujudkan hidup yang bermutu. Semuanya berawal dari cara berpikir yang tepat di dalam melihat dunia.[35] Cara berpikir yang dilatih dan digunakan secara rutin akan berubah menjadi prinsip hidup. Prinsip hidup yang secara konsisten diterapkan akan menciptakan sudut pandang yang menetap di dalam diri. Sudut pandang ini lalu akan membimbing semua tindakan yang dilakukan. Pada akhirnya, ia akan menetap menjadi kepribadian, atau karakter.

 

3.4 Berpikir Kritis

Di dalam filsafat dan ilmu pengetahuan, kebenaran didekati melalui proses berpikir rasional. Di dalam proses berpikir ini, beragam pendapat diuji dengan akal sehat dan pembuktian nyata. Kerja sama dengan orang lain dalam bentuk dialog dan diskusi memainkan peranan penting. Di dalam semua proses ini, kemampuan berpikir kritis amat diperlukan. Berpikir kritis berarti mengajukan pertanyaan secara rasional dan sistematis atas segala pendapat yang telah ada sebelumnya. Dalam hal ini, orang juga dituntut untuk melihat hal-hal lama secara baru. Dengan kata lain, orang diminta untuk berpikir secara kreatif. Semua penemuan, mulai dari pesawat terbang, mobil, kereta api dan obat-obatan, muncul dari cara berpikir kritis ini. Para penemu adalah orang-orang yang mempertanyakan pola pikir yang berkembang pada jamannya, dan menawarkan cara pandang yang lain. Dalam arti ini, kreativitas bukan hanya berarti orang mencoba mempertanyakan pendapat orang lain, tetapi juga ia mempertanyakan sudut pandangnya sendiri. Setiap orang memiliki pola berpikir yang terbentuk dari latar belakangnya, seperti hubungan dengan orang tua, proses pendidikan di sekolah, informasi serta pengetahuan yang ia peroleh dan pergaulan umumnya di masyarakat. Ini juga disebut sebagai skemata berpikir. Berpikir kritis dan kreatif berarti mencoba untuk keluar dari skemata semacam ini, dan mengajukan sudut pandang baru.[36]

Skemata ini aktif, misalnya, ketika kita mendengar satu kata: hitam. Kata itu langsung membuat kita berpikir tentang hal-hal yang terkait dengan warna hitam di dalam hidup kita, misalnya ban mobil, baju hitam, rambut hitam, warna langit di malam hari dan sebagainya. Pikiran kita bagaikan jaringan yang berisi beragam arti kata hitam. Jaringan tersebut bereaksi, ketika kita mendengar kata hitam. Hal ini juga berlaku untuk berbagai contoh lainnya. Kita berpikir selalu dalam jaringan yang memiliki pola tertentu di dalam diri kita. Semua informasi baru yang kita terima selalu diolah dengan berpijak pada skemata, atau jaringan terpola, yang sudah ada sebelumnya.[37] Proses perbandingan selalu terjadi, ketika kita mendengar hal-hal baru. Jaringan yang terpola ini menciptakan hal-hal yang familiar di dalam diri kita. Kita menjadi terbiasa dengan pola berpikir tertentu. Jika ini dibiarkan, kita menjadi amat nyaman dengan pola pikir kita, dan sulit untuk berpikir kreatif. Kita menjadi sulit untuk menemukan sudut pandang baru. Untuk bisa berpikir kreatif, kita perlu meninggalkan pola berpikir kita yang lama. Kita perlu meninggalkan zona nyaman dalam hidup kita. Kemampuan ini amat penting, supaya kita bisa menghadapi beragam tantangan hidup yang muncul, yang sejatinya terus berubah setiap saat.

Untuk bisa memahami cara kerja pikiran kita, dan kemudian menemukan cara untuk berpikir secara baru, kita perlu juga sedikit memahami salah satu organ biologis terpenting di dalam diri kita, yakni otak. Otak manusia memiliki milyaran jaringan saraf. Namun, hanya sebagian yang sungguh digunakan dalam hidup sehari-hari. Beragam penelitian di bidang neurosains, atau ilmu saraf, menegaskan, bahwa otak manusia memiliki dua bagian, yakni otak kiri dan otak kanan. Bagian otak kiri memiliki peran menggerakkan tubuh bagian kanan. Ia juga memungkinkan manusia berpikir secara analitis, sistematis dan masuk akal. Bagian otak kanan menggerakan tubuh bagian kiri, dan mumungkinkan manusia untuk merasa dan menyatakan perasaannya melalui karya. Emosi dan intuisi manusia dimungkinkan, karena bagian otak kanan ini. Pembagian ini dirumuskan oleh seoran ilmuwan saraf yang bernama Roger Perry.

Pembagian otak kiri dan otak kanan ini lalu banyak ditanggapi secara kritis. Salah satunya dari penelitian yang dibuat oleh Ned Herrmann. Baginya, otak manusia terdiri dari bagian atas dan bawah. Bagian atas terdiri dari bagian kortikal dan selebral. Sementara, bagian bawah terdiri dari bagian limbik. Bagian limbik berada di pusat otak dan memungkinkan manusia untuk merasa. Ia juga memungkinkan orang untuk mengambil sudut pandang orang lainnya, dan melihat dari sudut pandang lain. Kemampuan berpikir rasional dan analitis dimungkinkan oleh bagian atas otak manusia. Herrmann kemudian menjelaskan lebih detil kedua pembagian tersebut ke empat area otak manusia.[38]

 

Bagian Otak Kemampuan Profesi yang cocok
Kuadran A Analisis, logis teknis, matematis, konseptual Insinyur, ilmuwan, banker
Kuadran B Organisasional, struktur, administrator, konservatif, terkontrol, terencana Akuntan, manajer
Kuadran C Sensitif secara emosional, musikalis, spiritual, terampil dengan bahasa, kemampuan sosial tinggi Guru, pekerja rumah sakit, pekerja sosial
Kuadran D Berpikir menyeluruh, berbakat seni, peka pada detil, konsepsional. Wirausahawan, penulis, seniman

 

Setiap bagian memiliki kemampuannya masing-masing. Orang yang bagian atas otaknya lebih berkembang cenderung memiliki kemampuan untuk berpikir analitis, logis, teknis, matematis dan konseptual. Mereka juga cenderung untuk mampu berpikir secara terstruktur, terkontrol dan terencana. Beragam profesi yang cocok dengan pola pikir semacam ini adalah ilmuwan, banker, insinyur dan manajer. Sementara itu, orang yang bagian bawah otaknya, yakni bagian limbik, lebih berkembang cenderung untuk mampu merasa secara emosional, berbakat bermain musik, spiritual, berpikir menyeluruh serta terampil dengan bahasa. Mereka amat cocok untuk bekerja sebagai pekerja sosial, guru, pekerja di rumah sakit, wirausahawan, penulis dan seniman. Pandangan Herrmann tentang empat area otak manusia ini banyak diacu. Namun, pandangan ini juga perlu ditanggapi secara kritis. Otak manusia tidak pernah bekerja secara sendirian. Ia merupakan bagian dari sebuah sistem biologis yang disebut sebagai tubuh manusia.[39] Tubuh manusia juga tidak pernah berdiri sendiri. Ia juga merupakan bagian dari sistem lainnya yang lebih besar, yakni lingkungan alam dan lingkungan sosial. Kesalingterkaitan ini tidak pernah boleh dilupakan.

 

4.Kesimpulan

Filsafat manajemen bisnis adalah sebuah kajian yang bersifat reflektif, kritis, rasional dan sistematis tentang cara berpikir serta nilai-nilai yang mendasari tata kelola sebuah perusahaan ataupun organisasi bisnis lainnya. Filsafat manajemen bisnis bergerak di dua tingkat, yakni mengamati apa yang terjadi di dalam beragam praktek manajemen bisnis sekarang ini (deskriptif-faktual) dan memberikan arah untuk pengembangan tata kelola tersebut berdasarkan pada kesadaran yang bersifat menyeluruh (normatif-prinsipiil). Dalam konteks ini, yang amat ditekankan adalah pengaruh cara berpikir manusia yang bermuara pada lahirnya tindakan dan kebiasaan di dalam tata kelola perusahaan bisnis. Karena juga banyak berbicara soal pikiran dan cara berpikir manusia, filsafat manajemen bisnis juga perlu belajar dari perkembangan terbaru di dalam penelitian otak dan neurosains. Sikap kritis dan reflektif menjadi bagian utama di dalam penelitian-penelitian filsafat manajemen bisnis.

 

Daftar Acuan

Bendixen, Peter, Die Kultur des unternehmerischen Handelns: Unternehmensführung jenseits der Betriebswirtschaft, Wiesbaden, 2011.

Capra, Fritjof, Das Tao der Physik, Die Konvergenz von Westlicher Wissenschaft und östlicher Philosophie, Bern, 1973.

Descartes: Gombay, Andre, Descartes, Singapore, 2007.

Drosdek, Andreas, Sokrates für Manager Eine Begegnung mit zeitloser Weisheit, Frankfurt, 2007.

Forst, Rainer, Das Recht auf Rechtfertigung: Elemente einer konstruktivistischer Theorie der Gerechtigkeit, Frankfurt, 2007.

Hansen, Hendrik, Politik und Wirtschaftlicher Wettbewerb in der Globalisierung: Kritik der Paradigmendiskussion in der Internationalen Politischen Ökonomie, Wiesbaden, 2008.

Habermas, Jürgen, Im Sog der Technokratie – Kleine Politische Schriften XII, Frankfurt, 2013.

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, Jakarta, 2003

Hecker, Falk, Management-Philosophie: Strategien fur dieUnternehmensführung, Grundregeln fur ein erfolgreiches Management, Berlin, 2012.

Hübner, Johannes, Einführung in die theoretische Philosophie, Stuttgart, 2015.

Husserl, Edmund, Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie: Eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie, Walter Biemel ed., The Hague, 1954.

Jäger, Willigis, Westöstliche Weisheit, Visionen einer integralen Spiritualität, Bielefeld, 2013.

Lasalle-Enomiya, H.M., Zen und Christliche Mystik, Freiburg, 1966

Loebbert, Michael, Kultur entscheidet: Kulturelle Muster in Unternehmen erkennen und verändern, Leonberg, 2014.

Loebbert, Michael, The Art of Change, Von der Kunst, Veränderungen in Unternehmen und Organisationen zu führen, Wiesbaden, 2015.

Lowe, E.J., Locke on Human Understanding, New York, 1995.

Metzinger, Thomas, Der Ego-Tunnel: Eine neue Philosophie des Selbst: Von der Hirnforschung zur Bewusstseinsethik, Berlin, 2009.

Montagová, Kristina Simona, Transzendentale Genesis des Bewusstseins und der Erkenntnis Studie zum Konstitutionsprozess in der Phänomenologie von Edmund Husserl durch wertende und synthetische Bewusstseinsleistungen, Heidelberg, 2013.

Neymeyr, Barbara (editor), et.al., Stoizismus in der europäischen Philosophie, Literatur, Kunst und Politik Eine Kulturgeschichte von der Antike bis zur Moderne, Berlin, 2008.

Radermacher, Franz-Joseph, Ökosoziale Marktwirtschaft: Historie, Programm und Perspektive eines zukunftsfähigen globalen Wirtschaftssystems, München, 2011.

Rinpoche, Mingyur Yongey, Buddha und die Wissenschaft vom Glück: Ein tibetischer Meister zeigt, wie Meditation den Körper und das Bewusstsein verändert, Köln, 2007.

Rommerskirchen, Jan, Das Gute und das Gerechte, Einführung in die praktische Philosophie, Wiesbaden, 2015.

Ross, Sir David, Plato’s Theory of Ideas, Oxford, 1951.

Seung Sahn, The Compass of Zen, Boston, 2012.

Wattimena, Reza A.A. (Editor), Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta, 2011.

Wattimena, Reza A.A., Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar, Jakarta, 2008.

Wattimena, Reza A.A. (Editor), Filsafat Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Kontekstual, Surabaya, 2011.

Wattimena, Reza A.A., “Pemikiran Christian Felber tentang Ekonomi Kesejahteraan Publik”, Jurnal Respons, VOLUME 18 – NOMOR 02, Jakarta, 2013.

Wattimena, Reza A.A., Filsafat Kritis Immanuel Kant: Mempertimbangkan Kritik Karl Ameriks terhadap Kritik Immanuel Kant atas Metafisika, Jakarta, 2010.

Wattimena, Reza A.A., Menjadi Pemimpin Sejati: Sebuah Refleksi Lintas Ilmu, Jakarta, 2012.

Wattimena, Reza A.A., “Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa? Sebuah Pendekatan Fenomenologi Politis”, Jurnal Filsafat Arete, Surabaya, 2011.

Wattimena Reza A.A., Bahagia, Kenapa Tidak?, Yogyakarta, 2015.

Wattimena, Reza A.A., Filsafat sebagai Revolusi Hidup, Yogyakarta, 2015.

Westphal, Arianne, Ethikbasierte Unternehmensführung und Commitment der Mitarbeiter, Wiesbaden, 2011.

 

Catatan Akhir:

[1] Saya terinspirasi uraian dari, Hecker, Falk, Management-Philosophie: Strategien fur dieUnternehmensführung, Grundregeln fur ein erfolgreiches Management, Berlin, 2012.

[2] Proses globalisasi diikuti dengan beragam aspek negatif, seperti meningkatnya konflik dan ketimpangan sosial ekonomi yang semakin besar. Lihat, Hansen, Hendrik, Politik und Wirtschaftlicher Wettbewerb in der Globalisierung: Kritik der Paradigmendiskussion in der Internationalen Politischen Ökonomie, Wiesbaden, 2008.

[3] Tentang cara berpikir filosofis, bisa dilihat di: Wattimena, Reza A.A. (Editor), Metodologi Penelitian Filsafat, Yogyakarta, 2011.

[4] Dengan memperhatikan ini, maka para ilmuwan dan filsuf mengembangkan wacana ekonomi pasar sosial ekologis Lihat, Radermacher, Franz-Joseph, Ökosoziale Marktwirtschaft: Historie, Programm und Perspektive eines zukunftsfähigen globalen Wirtschaftssystems, München, 2011.

[5] Budaya perusahaan yang kuat adalah kunci untuk melampaui beragam krisis yang melanda masyarakat dunia sekarang ini, mulai dari krisis lingkungan sampai dengan krisis ekonomi. Lihat, Bendixen, Peter, Die Kultur des unternehmerischen Handelns: Unternehmensführung jenseits der Betriebswirtschaft, Wiesbaden, 2011.

[6] Ada beragam cara untuk memimpin perusahaan di tengah perubahan yang amat cepat. Lihat uraian: Loebbert, Michael, The Art of Change, Von der Kunst, Veränderungen in Unternehmen und Organisationen zu führen, Wiesbaden, 2015.

[7] Hak atas penjelasan dan pendasaran adalah bagian dari hak dasar manusia. Begitu argumen dari Rainer Forst. Lihat, Forst, Rainer, Das Recht auf Rechtfertigung: Elemente einer konstruktivistischer Theorie der Gerechtigkeit, Frankfurt, 2007.

[8] Hecker, Falk, hal. 13.

[9] Uraian lainnya terkait hal ini bisa dilihat di: Wattimena, Reza A.A., Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar, Jakarta, 2008.

[10] Uraian pengantar tentang hidup dan pemikiran Descartes: Gombay, Andre, Descartes, Singapore, 2007.

[11] Pengantar cukup mendalam tentang filsafat bisa dilihat: Hübner, Johannes, Einführung in die theoretische Philosophie, Stuttgart, 2015.

[12] Pengantar ke dalam filsafat modern bisa dilihat: Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, Jakarta, 2003

[13] Beragam refleksi tentang filsafat dan ilmu pengetahuan di dalam kaitan dengan beragam bidang kehidupan yang lebih luas bisa dilihat di: Wattimena, Reza A.A. (Editor), Filsafat Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pendekatan Kontekstual, Surabaya, 2011.

[14] Pengantar mendalam tentang filsafat praktis bisa dilihat di: Rommerskirchen, Jan, Das Gute und das Gerechte, Einführung in die praktische Philosophie, Wiesbaden, 2015.

[15] Komitmen terhadap nilai-nilai di dalam memimpin perusahaan kini menjadi kebutuhan dasar bisnis. Lihat, Westphal, Arianne, Ethikbasierte Unternehmensführung und Commitment der Mitarbeiter, Wiesbaden, 2011.

[16] Lihat, Hecker, 18.

[17] Filsafat manajemen bisnis secara langsung memikirkan secara kritis pengembangan budaya perusahaan. Lihat, Loebbert, Michael, Kultur entscheidet: Kulturelle Muster in Unternehmen erkennen und verändern, Leonberg, 2014.

[18] Filsafat manajemen bisnis juga terkait dengan tata ekonomi politik sebuah negara. Tentang tata ekonomi politik yang pas untuk masa sekarang, dapat dilihat di: Wattimena, Reza A.A., “Pemikiran Christian Felber tentang Ekonomi Kesejahteraan Publik”, Jurnal Respons, VOLUME 18 – NOMOR 02, Jakarta, 2013.

[19] Uraian tentang epistemologi Kant: Wattimena, Reza A.A., Filsafat Kritis Immanuel Kant: Mempertimbangkan Kritik Karl Ameriks terhadap Kritik Immanuel Kant atas Metafisika, Jakarta, 2010.

[20] Uraian tentang kaitan antara filsafat dan kepemimpinan: Wattimena, Reza A.A., Menjadi Pemimpin Sejati: Sebuah Refleksi Lintas Ilmu, Jakarta, 2012.

[21] Husserl menjadikan tema kesadaran diri sebagai elemen dasar dari fenomenologi transendentalnya. Lihat: Montagová, Kristina Simona, Transzendentale Genesis des Bewusstseins und der Erkenntnis Studie zum Konstitutionsprozess in der Phänomenologie von Edmund Husserl durch wertende und synthetische Bewusstseinsleistungen, Heidelberg, 2013.

[22] Tentang fenomenologi dari komunitas politis, bisa dilihat: Wattimena, Reza A.A., “Komunitas Politis: Fakta atau Hipotesa? Sebuah Pendekatan Fenomenologi Politis”, Jurnal Filsafat Arete, Surabaya, 2011.

[23] Dorongan eksistensial semacam ini juga bisa mendorong terciptanya kecemasan eksistensial yang mendasar: Lihat, Wattimena Reza A.A., Bahagia, Kenapa Tidak?, Yogyakarta, 2015.

[24] Ruang dan waktu adalah ciptaan dari kesadaran manusia. Tentang ini bisa dilihat lebih jauh dalam: Jäger, Willigis, Westöstliche Weisheit, Visionen einer integralen Spiritualität, Bielefeld, 2013.

[25] Kritik terhadap teknologisasi kehidupan telah lama dilakukan oleh Jürgen Habermas. Di buku terbarunya, ia melihat proses teknologisasi kehidupan politik Uni Eropa yang menghasilkan krisis demokrasi. Lihat, Habermas, Jürgen, Im Sog der Technokratie – Kleine Politische Schriften XII, Frankfurt, 2013.

[26] Tentang hubungan antara Buddhisme dan neurosains, bisa dilihat di: Rinpoche, Mingyur Yongey, Buddha und die Wissenschaft vom Glück: Ein tibetischer Meister zeigt, wie Meditation den Körper und das Bewusstsein verändert, Köln, 2007.

[27] Filsafat Marcus Aurelius adalah bagian dari tradisi filsafat Stoa yang berkembang di Yunani Kuno. Pengaruhnya masih amat dirasakan di dalam peradaban Eropa modern. Lihat, Neymeyr, Barbara (editor), et.al., Stoizismus in der europäischen Philosophie, Literatur, Kunst und Politik Eine Kulturgeschichte von der Antike bis zur Moderne, Berlin, 2008.

[28] Pemikiran Sokrates juga dapat diterapkan dalam konteks perkembangan ilmu manajemen. Lihat, Drosdek, Andreas, Sokrates für Manager Eine Begegnung mit zeitloser Weisheit, Frankfurt, 2007.

[29] Pandangan Plato ini sejalan dengan pemahaman dasar di dalam Zen Buddhisme dan tradisi mistik Kristiani. Lihat, Lasalle-Enomiya, H.M., Zen und Christliche Mystik, Freiburg, 1966

[30] Salah satu karya klasik tentang Teori Ide dari Plato bisa dilihat: Ross, Sir David, Plato’s Theory of Ideas, Oxford, 1951.

[31] Pengantar yang amat baik tentang epistemologi John Locke bisa dilihat: Lowe, E.J., Locke on Human Understanding, New York, 1995.

[32] Edmund Husserl menyebutnya sebagai pengetahuan manusia yang selalu merupakan sudut pandang tertentu. Ciri pengetahuan semacam ini disebutnya sebagai Perspektivität. Lihat, Husserl, Edmund, Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie: Eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie, Walter Biemel ed., The Hague, 1954.

[33] Lihat, Hecker, hal. 28.

[34] Filsafat Timur menyebutnya sebagai kemampuan untuk melihat kenyataan apa adanya, yakni sikap ilmiah. Tegangan antara sikap optimis dan sikap pesimis akan menghasilkan sikap realistis. Tentang filsafat Timur dalam kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern bisa dilihat di: Capra, Fritjof, Das Tao der Physik, Die Konvergenz von Westlicher Wissenschaft und östlicher Philosophie, Bern, 1973.

[35] Tradisi Zen yang berkembang di Jepang, Cina dan Korea menekankan peranan pikiran di dalam menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia. Lihat, Seung Sahn, The Compass of Zen, Boston, 2012.

[36] Filsafat, pada intinya yang terdalam, adalah sebuah revolusi. Lihat, Wattimena, Reza A.A., Filsafat sebagai Revolusi Hidup, Yogyakarta, 2015.

[37] Edmund Husserl menyebut jaringan ini sebagai dunia kehidupan yang menjadi latar belakang semua tindakan manusia. Lihat, Husserl, 1954.

[38] Lihat, Hecker, hal. 33.

[39] Refleksi filosofis terkait dengan kaitan antara otak dan perkembangan jati diri manusia bisa dilihat di: Metzinger, Thomas, Der Ego-Tunnel: Eine neue Philosophie des Selbst: Von der Hirnforschung zur Bewusstseinsethik, Berlin, 2009.

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 tanggapan untuk “Filsafat Manajemen Bisnis”

  1. Tulisannya bagus sekali pak reza….
    Apakah mungkin perusahaan menjadi lebih bertanggung jawab secara sosial dan ekologis sementara pencapaian keuntungan belum terpenuhi? Manajemen perusahaan seperti itu mungkin bisa diterapkan saat ini ketika ia telah lama eksis dan/atau telah mengeruk keuntungan melimpah. Kalaupun di terapkan, itu lebih bersifat terpaksa karena tuntutan masyarakat dan otoritas tertentu. Justru yang terjadi sekarang banyak perusahaan2 besar yang kemudian menerapkan manajemen kamuflase untuk mengelabui berbagai macam tuntutan, dari mulai program CSR sampai pada pelestarian lingkungan hidup alias jeruk makan jeruk. Agaknya tema utama dunia bisnis kita dari dulu sampai sekarang masih tetap sama yaitu mendapatkan keuntungan sebesar besarnya.
    Filsafat manajemen bisnis mutlak diperlukan agar pelaku bisnis mau dengan sadar dan sukarela melaksanakan tanggung jawab sosial, ekologi dan menerapkan manjemen perusahaan yang lebih manusiawi. Namun, masihkah ada harapan bahwa manusia si pelaku bisnis akan rela menanggalkan sifat keserakahannya?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Saya sepakat mas. Ini memang harus sejalan. Keuntungan tidak bisa dibaca secara sempit sebagai keuntungan finansial. Keuntungan itu memiliki banyak sisi. Kelestarian ekologis harus dilihat sebagai bagian dari visi perusahaan. Kita tidak punya pilihan. Alternatifnya adalah kehancuran bumi. Tentang keserakahan, ini memang perlu untuk dipikirkan lebih dalam dari sekedar filsafat manajemen bisnis. Cukup dikatakan, bahwa keserakahan justru menghancurkan orang yang serakah itu sendiri.

      Suka

  2. Penguasaan diri di dalam hidup merupakan keunggulan personal yang wajib dimiliki, entah dari faktor bawaan atau karena pelatihan intensif. Kurangnya penguasaan diri cenderung berakibat gangguan kepribadian, gangguan kepribadian identik dengan penderitaan, dan biasanya penderitaan mental akan merembet ke penderitaan fisik. Yang lebih parah lagi bahwa orang yang hidupnya dipenuhi penderitaan akan menyebabkan orang lain menderita ( sudah jatuh ketimpa tangga pula )…
    Berbicara tentang penderitaan, hampir dipastikan tidak ada manusia yang bercita cita hidup menderita, Namun sedikit banyak dari mereka telah ‘dipaksa’ hidup di bawah ambang kewajaran manusia pada umumnya. Bagaimana mereka yang terus menerus hidup di daerah konflik, yang terpasung seumur hidup, yang menanggung cacat lahir, yang lahir dari kemiskinan, salah asuh, broken home, dsb. Maka cukup relevan sekiranya ada yang mengatakan bahwa kehidupan/hidup begitu membingungkan, terutama ketika menyaksikan penderitaan anak anak kecil yang tidak berdosa…
    Barangkali, alangkah baiknya jika pelaku bisnis atau siapapun orangnya, dalam memainkan perannya di dunia harus mau menggali dan memahami makna dan tujuan hidupnya sebagai manusia sehingga tidak akan ada lagi istilah menang kalah atau kalah menang…

    Suka

    1. Saya sepakat mas. Tentang ketidakadilan, kita hanya perlu melakukan satu hal: menolong. Kita tidak akan bisa menolong, jika kita sendiri terjebak di dalam kesedihan. Jadi, jangan sedih dan kecewa. Bantu mereka. Salam….

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s