Ilmu Pengetahuan di Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Pxleyes

Oleh Reza A.A Wattimena

Di Indonesia, pengetahuan belumlah menjadi kebutuhan. Ilmu pengetahuan masih sekedar menjadi hiasan kepribadian. Gelar akademik sekedar dipampang di undangan pernikahan (bahkan berita duka pemakaman), guna meningkatkan nama baik keluarga. Pada akhirnya, kesulitan menekuni bidang keilmuan hanya bermuara pada kegiatan pamer pada tetangga dan keluarga.

Hal serupa pun terjadi pada para ilmuwan. Dunia penelitian tidak ditekuni untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, melainkan untuk mengejar proyek. Proyek tersebut berupa dukungan dana, entah dari pemerintah atau dari luar negeri. Hasil penelitian pun sekedar menjadi laporan yang tak berdampak pada perubahan sosial masyarakat luas. Lanjutkan membaca Ilmu Pengetahuan di Indonesia, Mau Dibawa Kemana?

Zen dalam Percakapan

Thomas Michel Contemporary Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Praktisi Zen, Tinggal di Jakarta

Tulisan ini berawal dari percakapan dengan seorang teman. Sebagai anak dari keluarga pengusaha, ia sebenarnya cukup beruntung. Ia bisa mendapatkan penghidupan yang layak, dan pendidikan yang bermutu tinggi. Setelah itu, ia pun diharapkan bisa melanjutkan dan mengembangkan usaha keluarga.

Sejak kecil, ia dididik untuk menjadi pekerja keras. Keluarganya berharap, supaya ia bisa menjadi fondasi keluarga, ketika orang tuanya tidak lagi mampu mengelola bisnis. Maka dari itu, ia pun diajar untuk menjadi manusia yang memiliki ambisi besar. Nilai-nilai persaingan, kerja keras dan fokus adalah nilai-nilai yang telah ia terima, sejak kecil. Lanjutkan membaca Zen dalam Percakapan

Martabat di Pusaran Politik Predator

Essay And Cover Letter

Oleh Reza A.A Wattimena

Warga Negara Indonesia, Tinggal di Jakarta

Masa-masa Pemilihan Umum, termasuk Pemilihan Presiden, Legislatif atau Kepala Daerah, adalah masa-masa yang menarik. Di masyarakat demokratis modern, seperti Indonesia, ini adalah masa-masa yang amat menentukan bentuk dan masa depan bangsa. Tak berlebihan, jika masa-masa ini juga dikenal sebagai pesta demokrasi, dimana rakyat menggunakan kekuasaannya untuk memilih para pemimpin bangsa. Namun, sisi gelapnya juga terus merongrong, yakni kehadiran politik predator yang rakus kuasa dan siap memangsa.

Masa-masa ini juga adalah masa penuh tawa. Kita tertawa melihat kelakuan para calon pemimpin bangsa, ketika berkampanye. Kepalsuan dan kebohongan begitu kuat tercium di udara. Dalam banyak hal, perilaku mereka menghibur, namun dengan cara-cara yang bisa membuat sakit perut. Lanjutkan membaca Martabat di Pusaran Politik Predator

Tentang Perempuan

Mayhem & Muse

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Ah, betapa sulitnya menjadi perempuan. Seperti kata Jean-Jacques Rousseau, seorang pemikir Perancis, manusia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara. Begitulah nasib perempuan. Ia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara.

Siapa yang memilih untuk menjadi perempuan? Ketika lahir, alat kelamin sudah ditentukan oleh alam. Namun, dengan perbedaan kelamin, perbedaan peran sosial pun lahir. “Perempuan” adalah peran sosial yang diciptakan oleh masyarakat, dan bukan oleh alam. Lanjutkan membaca Tentang Perempuan

Posprimordialisme, Pancasila dan Demokrasi Kita

indofanfictkpop.wordpress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Bagaimana kita melihat diri kita sendiri? Sebagian besar orang di Indonesia masih melihat dirinya sebagai bagian dari kelompok primordial. Dalam arti ini, primordialisme adalah ikatan-ikatan alami di dalam hubungan antar manusia. Bentuknya adalah ikatan ras, etnis dan agama, terutama agama warisan.

Bahaya Primordialisme

Di satu sisi, pandangan ini mengikat orang ke dalam sebuah ikatan. Ikatan tersebut bersifat primitif, karena terberi begitu saja. Tidak ada kebebasan dan pertimbangan akal sehat di sana. Orang lahir, dan ia, mau tak mau, terikat dengannya. Lanjutkan membaca Posprimordialisme, Pancasila dan Demokrasi Kita

Publikasi Terbaru: Pedagogi Kritis

Pemikiran Henry Giroux Tentang Pendidikan dan Relevansinya untuk Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Diterbitkan di 

Jurnal Filsafat, ISSN: 0853-1870 (print); 2528-6811 (online) Vol. 28, No. 2 (2018), p. 180-199, doi: 10.22146/jf.34714

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Tulisan ini merupakan kritik terhadap pedagogi tradisional di dalam pendidikan dengan menggunakan konsep pedagogi kritis yang dirumuskan oleh Henry Giroux. Pedagogi kritis berupaya mempertanyakan dan mengungkap hubungan-hubungan kekuasaan di dalam masyarakat yang menciptakan penindasan dan ketidakadilan sosial. Ia menyediakan wawasan yang luas sekaligus kepekaan moral untuk mendorong orang terlibat di dalam perubahan sosial, guna menciptakan masyarakat yang lebih bebas dan adil. Pedagogi kritis hendak mempertanyakan pola pikir neoliberalisme yang kini merasuki berbagai bidang kehidupan manusia. Tulisan ini juga melihat kemungkinan menerapkan konsep pedagogi kritis dari Henry Giroux untuk konteks Indonesia.

Silahkan diunduh: Pedagogi Kritis Giroux 2

 

Koruptor yang Santun

Saatchi Art

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Salah satu sekolah di Jakarta mengeluh, karena murid-muridnya banyak berperilaku kurang ajar. Mereka cenderung tak bisa diatur. Mereka juga cenderung tak hormat terhadap orang lain, apalagi terhadap orang yang lebih tua. Mereka juga menjadi pengguna berlebihan beragam gadget teknologi yang ada sekarang, tanpa bisa dikontrol.

Akhirnya, sekolah ini memutuskan untuk memberikan pelatihan terhadap murid-murid tersebut dalam bentuk latihan dasar kepemimpinan. Alasannya sederhana. Mereka ingin, supaya murid-murid sekolah tersebut bisa lebih patuh. Mereka ingin, supaya murid-muridnya menjadi lebih mudah dikendalikan, sesuai dengan keinginan keluarga dan sekolah. Lanjutkan membaca Koruptor yang Santun

Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan

Evening Standard

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Seorang teman bertanya, mengapa orang Indonesia begitu fanatik dengan agamanya? Ia berasal dari negara yang tak peduli pada agama. Maka dari itu, ia heran, mengapa orang Indonesia sangat gandrung dengan agama. Saya terdiam di hadapan pertanyaan tersebut.

Saya mulai berpikir soal asal muasal agama. Mengapa agama ada? Mengapa ia bisa begitu tersebar di berbagai belahan dunia? Lanjutkan membaca Agama, Kemiskinan dan Politik Kekuasaan