Kenyataan dan Moralitas

i.kinja-img.com
i.kinja-img.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya

Banyak orang hidup sekedar untuk mengumpulkan uang. Ia haus akan harta, guna memuaskan semua keinginannya. Orang-orang ini juga hidup untuk memperoleh nama baik. Ia mengira, uang dan nama baik akan memberikan kepenuhan hidup baginya.

Sayangnya, orang yang telah memperoleh uang banyak dan nama baik seringkali tidak kunjung merasa bahagia. Sebaliknya, mereka hidup dengan rasa takut akan kehilangan uang dan nama baik tersebut. Mereka melekat pada kedua benda itu. Dikiranya, tanpa kedua benda itu, hidupnya akan hancur.

Hidup dalam Ilusi

Inilah salah satu salah paham terbesar manusia dalam hidupnya. Ia mengira ilusi sebagai kenyataan. Akhirnya, ia hidup dalam kebohongan. Dari kebohongan lahirlah penderitaan yang mendorong dia untuk membuat orang-orang sekitarnya juga menderita.

Uang dan nama baik sejatinya adalah kosong. Keduanya adalah ilusi. Ketika kita lapar, kita tidak bisa makan uang. Ketika kita haus, kita tidak bisa minum nama baik. Uang dan nama baik adalah sesuatu yang rapuh, sementara dan, dalam banyak kasus, justru berbahaya.

Perang dan pembunuhan dilakukan demi uang dan nama baik. Mereka yang memperolehnya menjadi tergantung padanya. Hidupnya berada dalam keadaan kompetisi terus menerus dengan orang-orang lain yang dianggap sebagai lawannya. Ia hidup dalam tegangan dan penderitaan terus menerus.

Orang yang berhasil memperoleh uang dan nama baik juga akan tiba di tujuan yang sama dengan orang yang miskin dan memiliki reputasi jelek, yakni kehampaan batin. Alih-alih memberikan kebahagiaan, uang dan nama baik justru membuat mereka takut dan agresif terhadap orang lain. Sejatinya, uang dan nama baik adalah sesuatu yang netral, yang bisa dipakai untuk mempertahankan hidup dan membantu orang lain. Namun, jika orang melekatkan dirinya pada kedua benda itu, maka masalah besar akan timbul.

Kriminalitas berakar dalam pada kelekatan manusia akan uang dan nama baik tersebut. Korupsi dan penipuan lahir dari kelekatan akan uang. Kehampaan dan ketergantungan pada narkoba serta alkohol lahir dari kelekatan pada nama baik. Semuanya adalah ilusi yang kosong dan rapuh.

Orang yang hidup semata untuk uang dan nama baik berarti hidup dalam ilusi. Mereka hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Justru mereka adalah orang-orang yang “lari dari kenyataan”. Kenyataan yang sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan kelekatan pada uang dan nama baik.

Maka dari itu, orang perlu untuk keluar dari ilusi yang mencengkramnya. Ia perlu keluar dari kebohongan dan penipuan yang ia peluk erat sebelumnya. Ia perlu untuk melihat dan memahami kenyataan sebagaimana adanya. Dari pemahaman tersebut, ia lalu bisa menjalani hidup yang penuh makna dan kebahagiaan.

Kenyataan Sebagaimana Adanya

Apa yang sesungguhnya nyata? Apa kenyataan sebagaimana adanya, tanpa bumbu kelekatan yang dibuat oleh pikiran dan perasaan manusia? Kenyataan apa adanya berarti kenyataan sebelum kita memikirkannya dalam konsep dan bahasa. Di dalam kenyataan ini, yang ada hanya satu hal, yakni kekosongan yang besar.

Kekosongan yang besar ini adalah keadaan asali dari seluruh alam semesta. Ia juga menjadi bagian tersebar dari seluruh alam semesta. Segalanya lahir dari kekosongan besar, dan kemudian berakhir pada kekosongan semacam itu pula. Pemahaman semacam ini merupakan buah dari penelitian astrofisika dan fisika modern yang menemukan, bahwa unsur terkecil materi adalah kekosongan.

Dalam konteks ini, orang lalu diajak untuk hidup dengan berpijak pada kenyataan sebagaimana adanya. Ia diajak untuk melepaskan semua kelekatan pada uang, nama baik, pikiran maupun perasaannya. Di dalam kekosongan yang luas ini, orang akan menemukan kejernihan dan kedamaian. Ia lalu bisa menjalani hidupnya penuh kebahagiaan, sekaligus membantu orang lain di dalam prosesnya.

Bagaimana cara melepaskan semua kelekatan, pikiran dan perasaan? Yang jelas, orang perlu melepaskan semua bentuk kelekatan pada uang dan nama baik. Setelah itu, ia perlu melepaskan semua kelekatannya pada ide, identitas, harapan, ketakutan dan segala bentuk perasaan maupun pikiran yang muncul di kepalanya. Ia lalu sampai pada kekosongan itu sendiri, yakni kenyataan sebagaimana adanya.

Pada titik ini, orang menemukan kejernihan dan kedamaian. Namun, ini belum cukup. Pada titik ini, orang justru seringkali melekat pada kekosongan itu sendiri, yakni melekat pada ide tentang kekosongan yang juga bisa menggiringnya pada penderitaan dan kehampaan batin. Maka dari itu, ia harus bergerak maju dengan melepaskan kekosongan itu sendiri, yakni melepaskan ide tentang kekosongan.

Ketika ia melepaskan kelekatannya pada kekosongan, ia lalu kembali ke dunia. Ia kembali hidup dan bergerak di dalam masyarakat. Namun, ia hidup dalam kebebasan yang sejati, yakni kebebasan dari kelekatan pada apapun. Ia bisa berpikir, merasa, mencari uang, dan memperoleh nama baik, namun semua itu dilihatnya hanya sebagai alat untuk membantu alam semesta itu sendiri, dan bukan tujuan dari hidup itu sendiri.

Moralitas yang Baru

Orang yang telah menyentuh kenyataan sebagaimana adanya akan sampai pada kesadaran, bahwa segala hal di alam semesta ini satu dan sama. Semua orang adalah bagian dari segala sesuatu. Tidak ada keterpisahan. Yang ada hanya kesatuan dan kesalingbergantungan satu sama lain.

Ia lalu tidak akan berbuat jahat pada orang lain. Ia tidak akan menyakiti apapun dan siapapun, karena ia sepenuhnya sadar, bahwa ia adalah segala sesuatu, dan segala sesuatu adalah dia. Tidak ada yang disebut sebagai diri pribadi yang terpisah dari alam semesta dengan segala isinya.

Inilah moralitas yang baru. Ia tidak lagi berpijak pada perintah, himbauan, pahala ataupun hukuman, tetapi pada sikap batin alamiah manusia yang berpijak pada pemahaman tentang kenyataan sebagaimana adanya. Ia tidak lagi lari dari kenyataan, melainkan memeluk kenyataan itu di dalam batin dan pikirannya. Ini adalah cinta yang sesungguhnya. Orang yang hidup dengan cara semacam ini akan membawa kebahagiaan bagi dunia di sekitarnya.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

17 tanggapan untuk “Kenyataan dan Moralitas”

  1. Selamat Sore,

    Setelah sekian lama cuma menjadi tukang baca saja, baru kali ini saya memberanikan diri untuk menulis komentar.

    Kenyataan dan Moralitas, pilihan topik menarik. Terima kasih atas artikel-artikel Bapak yang selalu menawan dan mencerahkan. Ditengah kesibukan mengajar, Bapak selalu meluangkan waktu untuk menulis dan membagi pengetahuan. Sekali lagi terima kasih.

    Salam
    wage rahadjo

    Suka

  2. Maaf, pak saya ada pertanyaan tentang kebahagiaan, monggo di jawab:
    1. Eudaimonia: Apakah mungkin bagi kita untuk mencapai eudaimonia/well-being/true happiness? Apakah ia hanya ilusi yg kita/para filsuf buat? Jika mungkin bagaimana caranya? Jika tidak mungkin, apakah berarti kita harus melupakan konsep kebahagiaan sejati dan hidup apa adanya atau bagaimana?
    2. Pernah bapak mengulas bahwa kesehatan fisik membuat orang bahagia lalu bagaimana mungkin saudara saya yg terkena kanker prostat meninggal dengan tersenyum seakan-akan tidak menganggung beban dan bahagia? semasa hidupnya juga ketika ia sakit, ia tidak terlihat murung walau dia sering muntah2 dan semakin kurus.
    3. Umur saya 22 th, sejak mengenal filsafat dan tahu konsep eudaimonia saya memutuskan tujuan hdup saya utk mendapatkan eudaimonia, apakah tujuan saya salah atau tidak masuk akal?
    4. Menurut bapak, definisi kebahagiaan itu apa?
    Trims atas jawabannya 🙂 🙂

    Suka

    1. 1. Mungkin, tp dengan melepas semua konsep, pikiran dan bahasa yang kita punya.
      2. Saudara anda sudah tercerahkan. Saya yang salah. Kebahagiaan tidak ada hubungan dengan sakit fisik. Maaf.
      3. Eudaimonia harus dilepas, kalau anda ingin mencapainya. Lepaskan kebahagiaan, maka anda akan bahagia.
      4. Kebahagiaan tanpa kebahagiaan. Sebelum konsep, pikiran dan bahasa.
      Sama2.. salam hangat..

      Suka

    2. “Pernah bapak mengulas bahwa kesehatan fisik membuat orang bahagia”
      Setau saya yang berpengaruh cukup tinggi dalam kesehatan manusia adalah keadaan hati dan pikiran. Ketika pikiran dan hati seseorang sedang kacau, ia akan mudah untuk terserang penyakit. Dan ketika seseorang merasa bahagia, ia akan memiliki kekebalan tubuh yang lebih daripada seseorang yang merasa tidak bahagia.

      “saudara saya yg terkena kanker prostat meninggal dengan tersenyum seakan-akan tidak menganggung beban dan bahagia? semasa hidupnya juga ketika ia sakit, ia tidak terlihat murung walau dia sering muntah2 dan semakin kurus.”

      Kita semua tidak tau apa yang saudara anda rasakan. Mungkin, ia mencoba tersenyum dalam rasa sakit. Dan ketika seseorang itu mencoba tersenyum dari rasa sakit, ia adalah orang yang hebat. Seketika saya jadi ingat sebuah quote yang lumayan membuat tersentuh “Tidak selamanya orang yang kuat adalah orang yang bisa menganggkat barbel dengan ukuran beban tinggi. Melainkan, orang yang tersenyum dikala ia mengalami rasa sakit, orang yang menahan air matanya hingga tak seorangpun melihatnya”.

      Mohon maaf jika keluar dari topik.

      Suka

  3. Salam kenal pak Reza, menarik membaca tulisan anda ttg kelekatan manusia pada uang dan nama baik. Pada era saat ini hampir semua orang mengalami hal ini. Satu hal yg sedikit menggelitik pemikiran saya adalah ketika manusia era saat ini berada pada keadaan sakit, lalu membutuhkan biaya untuk mendapatkan perawatan medis? Tentu mereka butuh uang, artinya bahwa uang itu tidak sepenuhnya ilusi saja, kita masih butuh uang dlm beberapa kondisi yg kita tak mampu mengatasinya.

    Hehehe maaf kalau pemikiran Pemula seperti saya terlihat ngawur pak reza, hanya ingin sedikit belajar mengungkapkan pemikiran saya dlm belajar filsafat.

    Suka

  4. Tulisan-tulisan Reza ini memang selalu menggugah dan mengusik pikiran pembacanya 🙂
    Ijinkan saya membagikan keterusikan saya…

    Buat saya, moralitas itu absurd. Mengapa? Karena tidak mungkin seseorang bermoral tanpa ada unsur “untuk dirinya” atau will to power itu sendiri. Jika orang harus hidup seperti yang dikemukakan penulis, yang disebut dengan “moralitas baru” (bahwa ia menyadari kesatuan dengan segala sesuatu, dst.), bukankah berarti harus siap menempatkan diri sebagai orang yang ditipu, disakiti, ditusuk dari belakang, diselingkuhi, ditelikung, dikhianati? Untuk hidup seperti itu, adakah yang mau? Kecuali di baliknya ada motif tertentu/politik tertentu.
    Kalau saya sih nggak mau 🙂

    Maaf jika agak nggak nyambung dan terkesan imoral hehe… tetapi itulah yang mengganggu pikiran saya… Terimakasih…

    Suka

    1. halo Jess. thx buat messagenya. Terusik itu bagus. Itu awal dari pencerahan. Ketika saya bagian dari keseluruhan, bisakah saya disakiti? Ketika saya adalah alam semesta, bisakah saya ditusuk dari belakang? Coba renungkan ini deh.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s