Sahabat sebagai “Rumah”

imgion.com
imgion.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di München, Jerman

Gadis itu bernama Sabina (bukan nama sebenarnya). Ia tinggal di Jerman. Wajahnya cantik. Ia sangat ramah dan rajin membantu ayahnya. Ayahnya berasal dari Indonesia, dan ibunya orang Jerman. Kini, Sabina sedang melanjutkan studi antropologi di universitas di kota tempat tinggalnya.

Seperti pengalaman banyak anak keturunan campur lainnya, ia seolah hidup di dua dunia. Ia merasa dekat dengan budaya Jerman, karena ia lahir di negara itu. Namun, ia juga merasa perlu untuk memahami budaya Indonesia yang dimiliki ayahnya. Kegelisahan kultural atas pertanyaan “siapa saya?” juga menjadi kegelisahan pribadinya.

Ia mencoba memahami pengalaman dirinya dengan menulis skripsi tentang pengalaman hidup anak yang orang tuanya berasal dari kultur yang berbeda. Namun, Sabina tidak sendirian. Semakin hari, semakin banyak orang yang berasal dari keluarga dengan orang tua yang memiliki budaya berbeda. Semakin banyak yang mengalami kegelisahan pribadi, dan kemudian bertanya, “siapa saya”?

Perubahan Dunia

Namun, keadaan ini juga tidak hanya dialami oleh anak-anak yang memiliki orang tua dari budaya yang berbeda, tetapi juga oleh kita semua yang hidup die era globalisasi sekarang ini. Di dalam situasi ini, tata nilai menjadi berubah. Tidak ada lagi kepastian mutlak, karena semua tata nilai yang ada, baik yang berasal dari agama maupun budaya, memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing yang tak dapat dibandingkan satu sama lain.

Akhirnya, kita juga merasa bingung tentang akar diri kita. Seringkali juga, kita merasa terjebak di antara beberapa “dunia” (Lebenswelten) yang seringkali amat berbeda. Inilah situasi yang di dalam filsafat eksistensialisme dikenal sebagai ketanpa-akaran (Wurzellosigkeit). Di dalam keadaan ini, kita sulit untuk membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup kita, karena tata nilai yang kita punya juga amat lentur dan terus berubah.

Soal identitas lalu juga menjadi soal yang amat penting. Di atas kertas, mungkin saya adalah orang Indonesia. Namun, di dalam kepala dan keseharian saya, seringkali saya merasa bukan orang Indonesia, tetapi sesuatu yang “lain”. Perasaan ini juga amat kuat dialami oleh mereka yang tercabut dari akar budaya dan bangsanya, lalu merantau keluar ke negeri lain. Identitas lalu menjadi suatu “masalah” (Identitätsproblem).

Krisis Nilai

Ketika akar diri dan identitas goyah, kita lalu merasa tidak nyaman hidup di keluarga kita yang mungkin telah memegang nilai-nilai tertentu sebelumnya. Tegangan lalu muncul. Keluarga mengharapkan peran tertentu dari kita, sementara kita, sebagai pribadi, tidak merasa nyaman dengan peran itu. Seringkali, situasi ini membuat kita terputus dari keluarga kita sendiri.

Ketika akar diri, identitas dan keluarga menjauh, kita lalu kerap merasa bingung dan khawatir. Kita tidak lagi memiliki panduan di dalam hidup kita, guna membuat keputusan-keputusan penting. Kita tidak lagi memiliki tujuan yang jelas di dalam hidup kita. Keadaan ini juga disebut sebagai keadaan ketanpa-nilaian (Wertlosigkeit).

Lalu, hidup pun menjadi sesuatu yang kosong. Hidup menjadi seolah tanpa makna dan arah. Kita, manusia, terombang-ambing di berbagai belantara peristiwa, tanpa sungguh punya kontrol atas hidup kita. Kita bagaikan perahu yang mengarungi badai, tanpa kepastian, kemana kita akan pergi.

Masalah Kemudian

Keadaan ini bisa melahirkan masalah-masalah yang serius. Orang bisa begitu mudah bunuh diri, ketika ia mengalami kesulitan dalam hidupnya. Ini terjadi, karena ia tidak memiliki akar dan arah yang jelas dalam hidupnya. Ketika hidup terasa tak bermakna dan hampa, maka pilihan untuk mengakhiri hidup tampak menjadi pilihan yang masuk akal.

Pilihan lainnya adalah menjadi seorang hedonis murni. Artinya, kita lalu hidup dengan tujuan utama mencari kesenangan-kesenangan sesaat. Kita tidak lagi mempedulikan tujuan-tujuan lainnya. Kita menghabiskan waktu, uang dan tenaga untuk mencari kenikmatan seksual, makan tanpa aturan dan membeli barang-barang mewah yang tidak kita butuhkan, sekedar untuk mengisi kekosongan di dalam hati kita.

Kemungkinan lainnya adalah, kita lalu bergabung dengan organisasi tertentu, guna mengisi kekosongan nilai yang kita rasakan. Organisasi itu lalu seolah menjadi “tuan” atas diri kita, karena kita tidak lagi kritis di dalam memahami visi dan misi organisasi tersebut. Kita lalu disetir oleh organisasi itu, tanpa lagi mampu berpikir. Inilah salah satu akar kehadiran organisasi-organisasi teroristik yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Mencari Rumah

Gadis itu bernama Natalie. Ia tinggal dan bekerja di Jerman. Ayahnya dan dua saudara kandungnya tinggal dan bekerja di Manila, Filipina. Ibunya tinggal juga di Frankfurt bersama satu saudaranya, adik dari Natalie. Natalie menjalani sekolah dasar di Korea Selatan dan di Manila. Ia baru kembali ke Jerman, sewaktu memasuki SMA.

Sejak kecil, ia sudah terbelah di antara berbagai “dunia”. Ia hidup di berbagai tempat yang memiliki tata nilai yang berbeda-beda. Ia pun harus terpisah dengan keluarganya, dan dipaksa untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Kini, ia tinggal bersama kekasih hatinya, dan sedang menanti kelahiran anak mereka.

Natalie selalu bilang, “Saya tidak melihat keluarga saya sebagai tempat terbaik dalam hidup saya. Tetapi, saya melihat teman-teman saya sebagai tempat paling baik (der beste Platz) dalam hidup saya. Merekalah keluarga saya sesungguhnya.” Natalie merasa di “rumah” (Heimat, zu Hause), ketika ia bersama teman-temannya.

Di dunia yang semakin terglobalisasi sekarang ini, kita pun, sama seperti Natalie, juga mencari rumah. Dalam arti ini, rumah bukanlah bangunan, namun perasaan nyaman. Ini lahir bukan dari kekayaan materi, tetapi dari hubungan yang baik dan erat dengan orang lain, terutama sahabat. Gerak hati manusia globalisasi adalah gerak mencari “rumah” (Das Streben nach Heimat).

Saya menyebutnya sebagai rumah metafisis (metaphysische Heimat), karena rumah bukan dalam arti gedung, tetapi dalam arti perasaan yang lahir dari hubungan (Beziehungsgefühl). Kita mencari rumah metafisis ini di berbagai tempat, mulai dari agama, keluarga sampai dengan benda-benda. Namun, akar semua hubungan ini hanya satu, yakni persahabatan (Freundschaft).

Persahabatan sebagai Rumah

Persahabatan adalah hubungan yang bermutu tinggi. Dan semua yang bermutu tinggi tidak bisa berjumlah banyak. Hukum alam dasar berbunyi disini: kualitas tidak pernah bisa berbarengan dengan kuantitas. Maka, persahabatan pun ditemukan di dalam lingkungan kecil.

Persahabatan lahir dari kebebasan. Kita tidak bisa memilih keluarga kita. Kita lahir secara otomatis di dalam satu keluarga, tanpa pilihan. Namun, kita bisa memilih sahabat kita. Kebebasan adalah salah satu nilai yang membuat persahabatan itu amat berharga.

Persahabatan juga lahir dari kesamaan, entah itu kesamaan hobi, atau hal-hal lainnya. Namun, yang terutama adalah kesamaan visi hidup. Tentu saja, kesamaan itu bukanlah kesamaan identik, melainkan suatu irisan kesamaan. Kesamaan visi hidup memungkinkan orang bisa saling berbagi, baik saling berbagi kebahagiaan ataupun kesulitan hidup.

Sahabat itu saling merawat satu sama lain. Mereka saling mengucapkan selamat hari raya. Mereka juga saling memberikan hadiah satu sama lain. Mereka saling merawat dan membantu, ketika dunia terasa gelap oleh kesulitan dan masalah.

Sahabat juga saling menyediakan waktu dan tenaga satu sama lain. Waktu adalah pemberian tertinggi dari kita terhadap sahabat kita. Kita boleh mengirim uang, atau barang. Tetapi waktu dan “telinga” untuk mendengar, itulah hal terluhur yang bisa kita berikan kepada sahabat kita.

Persahabatan dan Makna Hidup

Persahabatan adalah akar dari semua hubungan yang bermutu. Keluarga tanpa persahabatan adalah penjara. Pernikahan tanpa persahabatan adalah neraka. Komunitas tanpa persahabatan adalah penindasan. Persahabatan adalah rumah metafisik kita. Pencarian atas rumah (das Streben nach Heimat) juga, sebenarnya, adalah pencarian atas persahabatan (das Streben nach Freundschaft).

Bersama sahabat, kita memperoleh dukungan moral, ketika dunia terasa gelap oleh masalah dan penderitaan. Bersama sahabat, kita berusaha menata nilai dan arah hidup kita, supaya juga bisa membahagiakan sahabat kita. Persahabatan menyediakan rumah, supaya kita bisa merasa, bahwa kita tidak sendirian di dunia yang semakin tidak pasti ini. Persahabatan adalah dasar hidup kita, yang membuat kita terus melanjutkan hidup, walau badai kehidupan terus menerpa, seolah tanpa ampun.

Pada akhirnya, persahabatan adalah sumber dari makna hidup kita. Viktor Frankl, bapak psikologi eksistensialis asal Jerman, menulis, bahwa ketika ia menjalani hidup di kamp konsentrasi Hitler di masa perang dunia kedua, ia selalu berbincang-bincang dengan istrinya di dalam kepalanya. Istrinya, tentu saja, ada di kamp konsentrasi perempuan. Mereka terpisah ruang dan waktu, namun persahabatan mereka tetap kokoh. Frankl menemukan “rumah” metafisik di dalam percakapannya dengan istrinya di kepalanya.

Ketika hidup kita bermakna, maka kita akan menemukan kebahagiaan. Dalam arti ini, kebahagiaan tidak pernah pernah didapatkan sendirian. Kebahagiaan selalu merupakan kebahagiaan-di-dalam-hubungan (Glück in den Beziehungen) dengan orang lain. Kebahagiaan itu harus dibagi bersama sahabat dan orang yang kita cintai. Jika tidak, kebahagiaan itu lenyap dalam sekejap mata.

Persahabatan adalah rumah kita. Sahabat kita adalah keluarga, sekaligus rumah kita. Dunia boleh gelap oleh masalah dan penderitaan. Namun, kita tahu, bahwa kita….. tidak pernah sendirian.

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 tanggapan untuk “Sahabat sebagai “Rumah””

  1. Maaf pa saya mau nanya:
    1. Mungkinkah seseorang mempunyai “rumah” lebih dari satu?
    2. Kalau ya, bagaimana saya membedakan “rumah” yang sejati dan yang tidak?

    Saya juga mau request pa. Bapak kan banyak menglas zen Buddha, saya mau request ajaran yang setipe dengan zen tapi di agama lain cthnya ajaran sufi, ajaran sejenis di Hindu, ajaran sejenis di Kristen dan ajaran konfusius. Mengapa? karena saya sulit menemukan artikel yang bermutu dan penggunaan bahasa yang sederhana di internet. Mohon bapa pertimbangkan request saya. Thx.

    Suka

    1. sejatinya, seluruh dunia adalah rumah kita. Dimanapun kita berada, selama kita berada disini dan saat ini, disitulah rumah kita. Rumah yang sejati akan muncul, jika kita memiliki sudut pandang yang pas di dalam melihat dunia. Saya akan coba ulas beberapa tradisi tersebut di tulisan-tulisan berikutnya- Salam

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s