Oleh Syarif Maulana, Filsuf dan Budak Cinta
Pertanyaannya, kenapa para filsuf ini begitu terpesona dengan sosok influencer dan bukannya mengajukan kritik – sebagaimana lazimnya para filsuf terhadap apapun yang trendi di zamannya? Padahal dilihat secara sepintas pun, banyak hal ganjil dari para influencer. Mereka sering berbicara atas namanya sendiri, seolah-olah gagasannya sendiri, tanpa referensi yang bisa dipertanggungjawabkan, yang kita terima karena mereka adalah “individu yang kredibel dan terpercaya”.
Hal yang sering menyilaukan kita adalah ucapan-ucapan para influencer yang ditopang aspek ad populum, kuantitas pengikut dan penyuka yang luar biasa, mengangguk pada apapun yang keluar dari liurnya. Inilah nabi baru era algoritma, diimani secara membabi buta oleh jemaahnya yang iya iya aja, ketika junjungannya mengatakan “hapus logika mistika” atau “tutup jurusan filsafat”. Pesonanya begitu dahsyat hingga sebagian filsuf memutuskan untuk mengkritik sambil malu-malu kucing, semi menjilat pantat, seraya berbisik dengan suara gemetar, seolah minta diajak pada jalan keselamatan, “Ajak aku pada engagement-mu.” Lanjutkan membaca Filsafat telah Mati, Ketika Para Filsuf Kegocek Influencer (Bagian 2)


















