Manusia Advaitan

778cd8e588989048470ded49abd98f69Oleh Reza A.A Wattimena

Patah hati memang tak bisa diremehkan. Ia terkesan dangkal dan biasa. Namun, bagi yang mengalami, patah hati bisa menjadi dorongan mengakhiri segalanya. Tak heran, patah hati menjadi tema abadi para pemikir dan seniman dunia.

Seorang teman mengalaminya. Dunianya hancur. Semua harapan dan rencana yang telah dirancang hancur di depan matanya. Batin menjadi sempit, dan begitu menyakitkan, bahkan untuk sekedar bernafas.

Kegagalan memang bisa mengaburkan mata. Ada ilusi yang tercipta, bahwa semua tak lagi berharga. Apa yang berhasil pun terabaikan. Hidup menjadi sempit, dan bahkan mencekik.

Seolah, derita membuat manusia memakai kaca mata kuda. Hanya derita yang tampak. Apa yang bahagia dan berharga seolah lenyap sirna begitu saja. Buahnya hanya satu, yakni putus asa.

Putus asa menyediakan ilusi berbahaya. Seolah, semua tak lagi berharga. Seolah, sinar mentari dan udara segara adalah sesuatu yang sia-sia. Seolah, tatapan keluarga dan tawa dari anak-anak tidak lagi bermakna.

Di titik ini, banyak hal yang bisa membantu kita. Zen dan Yoga tentu bisa membantu. Namun,  ada satu tradisi tua yang kiranya perlu kita simak. Namanya adalah Advaita Vedanta, yang berarti pengetahuan non dual tentang kehidupan. Inti dari kehidupan itu bukan satu, atau dua, tetapi non-dual.

Orang yang menekuni tradisi ini disebut juga sebagai seorang Advaitan. Ada tiga prinsip utama dari tradisi ini. Pertama, segalanya adalah kesadaran. Dalam hal ini, kesadaran adalah kehidupan itu sendiri.

Kesadaran bukanlah hanya sesuatu yang dimiliki manusia. Ia tidak berada di dalam kepala, atau di dalam otak. Kesadaran meresap ke segala yang ada, termasuk ke dalam ruang hampa yang merupakan bagian terbesar dari alam semesta. Bagaimana ini dibuktikan?

Dari pengalaman kita sendiri. Semua terjadi di dalam kesadaran kita. Apa yang terjadi di depan hidung kita, dan yang terjadi di galaksi tetangga nun jauh di sana, terjadi di dalam kesadaran. Semua adalah bagian dari pengalaman sadar kita. Tak ada sesuatu yang berada di luar kesadaran.

Dua, segala yang ada adalah penampakan dari kesadaran. Penampakan tersebut datang. Ia menetap sebentar. Lalu, ia pergi, tanpa jejak.

Penampakan ini mencakup segala yang ada, mulai dari manusia, bumi sampai dengan alam semesta itu sendiri. Ia bagaikan ombak di laut yang tak bertepi. Ia bagaikan gerak meteor kecil di tengah galaksi yang maha luas dan tak terbatas. Semuanya sementara dan rapuh, tanpa kecuali.

Tiga, kesadaran itu adalah diri kita yang sejati. Ia bukanlah tuhan yang hidup jauh di luar sana. Ia bukanlah tuhan yang menuntut untuk disembah. Ia bukanlah tuhan yang penuh rasa iri dan amarah.

Diri kita yang asli adalah kesadaran tanpa batas. Diri kita yang asli adalah lautan kesadaran yang tak bertepi. Ini bukanlah ego yang hanya merupakan sekumpulan ide dari sisa pengalaman masa lalu. Salah satu ciri utama ego adalah dorongan untuk mengontrol segala yang ia anggap berharga.

Ego ingin mengontrol perilaku orang lain. Ego ingin mengontrol isi pikiran orang lain. Bahkan, ego ingin mengontrol cuaca. Ini semua jelas tak mungkin dilakukan.

Di titik ini, kegagalan adalah kepastian. Rasa kecewa akan muncul, dan bermuara pada frustasi. Jadi, ego adalah sumber dari derita manusia. Sebagai manusia advaitan, ego pun dilihat sebagai percikan kecil di tengah semesta kesadaran yang tak berbatas.

Apa ciri dari kesadaran yang tak berbatas ini, yang merupakan rumah dari segala yang ada, dan merupakan diri kita yang asli? Cirinya sederhana, yakni ia hanya mengamati. Ia melihat segalanya dari sisi yang tak terbatas. Semua masalah menjadi kecil tak berarti, jika diamati dari sudut pandang tak terbatas dari kesadaran.

Hidup pun menjadi luas. Sudut pandang menjadi tak terbatas. Ini jati diri asali kita sebagai manusia. Ia tak pernah terpisah dengan segalanya.

Patah hati bisa terjadi, bahkan berkali-kali. Gagal dalam karir, itu soal biasa. Sebagai mahluk yang tak terbatas, semua dijalani secara alami, dari saat ke saat. Semua hanya percikan ombak di lautan kesadaran yang tak bertepi. Lautan tak bertepi itu adalah diri kita sendiri yang sejati.

***

cropped-rf-logo-done-rumah-filsafat-2-1.png

Rumah Filsafat kini bertopang pada Crowdfunding, yakni pendanaan dari publik yang terbuka luas dengan jumlah yang sebebasnya. Dana bisa ditransfer ke rekening pribadi saya: Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. Lebih lengkapnya lihat di https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020), Urban Zen (2021), Revolusi Pendidikan (2022) dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.