“Korupsi” atas Korupsi

UNDP in Indonesia

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

“Korupsi adalah bumbu birokrasi,” begitu kata seorang teman yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Bavaria, Jerman. “Asalkan tak besar, korupsi itu variasi,” begitu lanjutnya.

Ungkapan ini secara jelas menggambarkan sulitnya menumpas korupsi sampai ke akarnya. Bahkan di negara seketat Jerman, korupsi tetap bercokol di jantung birokrasi pelayanan publik.

Memang, masalahnya bukannya melenyapkan korupsi, tetapi membuatnya terkontrol. Ini lalu masalah jumlah, bukan masalah keberadaan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Membaca berbagai berita soal korupsi membuat kita tercengang akan betapa mengakarnya korupsi di birokrasi pelayanan publik Indonesia. Lanjutkan membaca “Korupsi” atas Korupsi

Internet, Sosial Media dan Gejolak Budaya: Sebuah Wawancara

 

Wawancara dengan Pers Mahasiswa IDEA Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Januari, 2018 dengan Reza A.A Wattimena. Dimuat di Terbitan IDEA Edisi 41, Mei 2018

Internet, media sosial dan alat-alat digital kini menjadi kebutuhan primer masyarakat modern. Digital bukan lagi sekedar era, tapi sudah menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat. Saking larutnya dalam dunia internet, muncul statement usil menyebut “harta-tahta-kuota” sebagai kebutuhan dasar hidup masyarakat saat ini.

Dengan membuka smartphone atau perangkat gawai yang tersambung dengan koneksi internet, masyarakat disuguhi berbagai bentuk informasi dari mulai teks, gambar, suara, bahkan vidio.

Terkait hal tersebut, bagaimana Anda memaknai literasi di zaman sekarang?

(Reza A.A Wattimena) Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini menciptakan banjir informasi. Orang tak lagi mempunyai waktu, tenaga dan kehendak untuk mengolah informasi yang ada menjadi sebentuk pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Informasi justru menjauhkan orang dari pengetahuan dan kebijaksanaan. Informasi terlalu banyak, dan banyak di antaranya cenderung tak berguna, bahkan merusak. Inilah paradoks perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini. Lanjutkan membaca Internet, Sosial Media dan Gejolak Budaya: Sebuah Wawancara

Apakah Kita Memerlukan Negara?

The Flying Merchant by Christian Schloe

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Apakah kita masih memerlukan negara? Ketika negara harus berhutang ribuan trilyun rupiah, guna menggaji para pejabat negara ratusan juta rupiah setiap bulannya, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika banyak kepala daerah dan pejabat negara melakukan korupsi terhadap uang rakyat, apakah kita masih memerlukan negara?

Ketika para penegak hukum tunduk pada suap dan hanya membela hak-hak orang kaya dan kelompok mayoritas, apakah kita masih memerlukan negara? Ketika pejabat negara bertindak layaknya raja kecil di jalan raya, dan menindas hak pengguna jalan lainnya, apakah kita masih memerlukan negara? Lanjutkan membaca Apakah Kita Memerlukan Negara?

Kreativitas yang Masih Dinanti

Forever is not (julia.kropinova)

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Kreativitas adalah hal alami yang dimiliki manusia. Semua orang mempunyainya, tak ada perkecualian. Lihatlah bagaimana kreatifnya seorang anak kecil. Jika ada waktu luang, mereka langsung menciptakan sesuatu, entah dengan tangan, tubuh maupun pikirannya.

Walaupun alami, kreativitas membutuhkan tempat untuk berkembang. Ia membutuhkan budaya tertentu, supaya bisa mendorong terciptanya hal-hal baru yang berguna untuk kehidupan. Budaya ini adalah budaya kebebasan berpikir dan berpendapat. Di dalamnya terdapat orang-orang yang tak takut untuk memikirkan hal-hal baru, guna melampaui beragam tantangan kehidupan. Lanjutkan membaca Kreativitas yang Masih Dinanti

Jangan Lupa Tersenyum

Surreal mouth

Oleh Reza A.A Wattimena

Entah mengapa, perasaan saya jelek sekali hari itu. Mengendarai motor, sesuatu yang biasanya sangat saya nikmati, pun terasa tak nyaman. Apalagi, mendadak, ada motor yang menyalip dengan agresif. Emosi pun naik, dan otomatis, saya mengejarnya.

Seolah balapan liar terjadi hari itu. Padahal, jalanan cukup ramai. Ini tentu membahayakan tidak hanya diri saya sendiri, tetapi juga pengendara lain. Akan tetapi, saya tak peduli. Begitulah jika kita sedang dimakan emosi tinggi. Lanjutkan membaca Jangan Lupa Tersenyum

Dibunuh oleh Fiksi?

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Senang rasanya melihat toko buku begitu ramai dikunjungi orang. Pun jika menjadi konsumtif, orang lebih baik berbelanja buku, daripada sekedar makan enak, atau membeli barang yang tak dibutuhkan. Buku membuka wawasan, sekaligus menjadi hiburan sehat di kala waktu luang. Namun, ada satu gejala yang menarik perhatian.

Deretan buku fiksi, terutama dalam bentuk novel, begitu banyak. Sementara, buku-buku lainnya, seperti politik, sejarah, agama maupun bisnis jauh lebih sedikit. Deretan buku komik pun tak kalah banyaknya. Lanjutkan membaca Dibunuh oleh Fiksi?

Kutukan Kelompok Mayoritas

Past is Prologue – WordPress.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

Sejak awal peradaban, manusia selalu hidup dalam kelompok. Di dalam kelompok tersebut, ada kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas berjumlah lebih besar, daripada kelompok minoritas. Dalam banyak hal, kelompok mayoritas menjadi penentu kebijakan.

Di masa modern, pembedaan mayoritas dan minoritas seringkali dilakukan atas dasar agama, ras, suku maupun ideologi. Kelompok agama, suku, ras ataupun ideologi tertentu lebih banyak jumlahnya, sehingga mereka menjadi mayoritas. Kelompok lain dianggap sebagai minoritas. Walaupun terlihat diuntungkan, namun kelompok mayoritas memiliki kutukannya sendiri. Lanjutkan membaca Kutukan Kelompok Mayoritas

Seluk Beluk Kerakusan

Fiveprime

Oleh Reza A.A Wattimena

Rasa rakus itu merongrong dari dalam. Ia selalu ingin lebih, daripada apa yang ada. Tak ada batas dari keinginan tersebut. Kenikmatan apapun, baik dalam bentuk makanan, nama besar, uang, barang, maupun seks, tak akan pernah bisa memuaskan.

Rasa rakus ingin mengumpulkan barang-barang mewah. Untuk itu, ia butuh uang. Orang pun didorong untuk melakukan beragam cara, guna memuaskan rasa rakus yang bercokol di dalam dirinya. Tak heran, banyak orang kaya tetap saja menjadi maling, supaya ia bisa mendapat uang lebih banyak, dan mengumpulkan lebih banyak harta benda yang, sebenarnya, tak ia butuhkan. Lanjutkan membaca Seluk Beluk Kerakusan

Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Universalisme dan Radikalisme Agama

KOSMOPOLITANISME SEBAGAI JALAN KELUAR ATAS TEGANGAN ABADI ANTARA NEOKOLONIALISME, RADIKALISME AGAMA, DAN MULTIKULTURALISME

Diterbitkan di

JURNAL LEDALERO, Vol. 17, No. 7, Juni 2018

Oleh Reza A.A Wattimena

Abstrak

Tulisan ini hendak mengajukan jalan keluar teoritis untuk perdebatan universalisme dan partikularisme. Perdebatan ini berkembang menjadi tegangan antara neokolonialisme, multikulturalisme dan radikalisme agama di abad 21. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual kritis dengan terlebih dahulu memberikan definisi tentang universalisme, partikularisme, multikulturalisme dan radikalisme agama, serta masuk pada jalan keluar yang diajukan, yakni kosmopolitanisme. Sebagai sebuah pendekatan, kosmpolitanisme juga memiliki dampak luas di berbagai bidang. Dampak ini juga akan menjadi bagian dari tulisan.    Lanjutkan membaca Terbitan Terbaru: Kosmopolitanisme, Universalisme dan Radikalisme Agama

Tentang Iri Hati

Lisa Lach-Nielsen | ACRYLIC | Envy

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta  

Setiap orang pasti mengenali rasa iri. Entah mereka pernah mengalaminya, atau melihat orang yang saling iri hati satu sama lain. Mengapa orang merasa iri hati terhadap orang lain? Jawaban singkatnya, sebagaimana diuraikan oleh Antonio Cabrales, peneliti dari Universitas Madrid, adalah karena rasa iri hati sudah ada di dalam genetik manusia.

Rasa iri memiliki peranan besar di dalam perkembangan manusia sebagai spesies. Ia membantu manusia untuk memperoleh sumber daya yang memang terbatas dalam persaingan dengan manusia lain, ataupun spesies lain. Di dalam kelompok primitif, rasa iri memacu orang untuk memiliki lebih banyak harta benda, daripada orang-orang lainnya. Pemilik harta benda terbanyak lalu dianggap sebagai orang yang paling tepat untuk membangun keluarga yang unggul, sekaligus menjadi pemimpin kelompok. (Kupczik, 2014) Lanjutkan membaca Tentang Iri Hati