Terorisme “Efek Samping”

Oleh Reza A.A Wattimena

Peneliti, Tinggal di Jakarta

            Terorisme adalah tindak menyebar ketakutan. Ledakan bom teror di satu tempat bisa menyebarkan ketakutan ke seluruh dunia. Terorisme sudah setua sejarah peradaban manusia itu sendiri. Sekelompok orang memutuskan untuk melakukan kekerasan, karena tidak sepakat dengan pandangan umum.

            Terorisme lahir dari paham radikal. Paham radikal adalah kesesatan berpikir tentang kemurnian sebuah ajaran. Ia melahirkan kebencian pada perbedaan paham. Ia memberikan mimpi penuh kebohongan terhadap orang-orang yang tak berpikir panjang.

            Keduanya lahir dari kesesatan berpikir. Kemurnian di dunia hanya ilusi yang berbahaya bagi fakta keberagaman kehidupan. Sayangnya, paham ini begitu mudah memangsa orang-orang yang lemah berpikir.

Agama dan Terorisme

            Sudah sejak lama, terorisme terhubung ke agama. Di dalam agama, banyak orang berhati baik, namun lemah berpikir. Mereka mudah menjadi korban cuci otak. Mereka mudah ditipu dan dimanfaatkan oleh para pemecah belah dan politisi busuk.

            Mengapa agama dengan mudah menjadi sarang teroris? Pengamatan singkat langsung menunjukkan, bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian. Namun, ada sesuatu yang terlupakan disini.

            Radikalisme dan terorisme adalah dampak samping dari pendidikan agama yang terbelakang. Keduanya bukanlah tujuan dari agama, tetapi efek samping yang tak disadari keberadaannya, dibiarkan berkembang dan, pada akhirnya, memakan korban jiwa. Ada dua ciri dasar dari pendidikan agama yang terbelakang.  

Pendidikan Agama yang Terbelakang

            Pertama, pendidikan agama yang terbelakang itu gila hormat. Guru dan pemuka agama dianggap utusan Tuhan yang tak dapat salah. Apapun yang mereka katakan adalah kebenaran mutlak yang harus ditelan mentah-mentah. Jika dilakukan dengan pola gila hormat, walaupun mengajarkan kebaikan dan kedamaian, agama justru menyebar benih-benih radikalisme dan terorisme.

            Dua, pendidikan agama yang terbelakang itu menafsirkan ajaran secara dangkal. Tradisi dan pandangan kuno dipuja layaknya kebenaran mutlak. Sejarah dan konteks dilupakan begitu saja, sehingga salah paham pun tercipta. Dengan pola ini, pendidikan agama, walaupun tak ada niat langsung, justru menyebar paham radikalisme dan terorisme.

            Supaya tidak lagi melahirkan radikalisme dan terorisme, pendidikan agama harus menghindari dua hal tersebut. Ia harus bersifat terbuka pada perbedaan, didasarkan pada sikap kritis, serta pemahaman yang tepat tentang sejarah dan konteks sebuah ajaran. Para pemuka agama pun harus menempuh proses pendidikan yang bermutu dan kontekstual. Tidak bisa sembarangan orang mengaku pemuka agama, lalu menyebarkan benih radikalisme dan terorisme seenaknya. 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

34 tanggapan untuk “Terorisme “Efek Samping””

  1. sepakat dengan tulisan diatas.
    agama yang bersifat mencari penganut (missionieren) mudah berubah kearah radikal dan fundamental, condong mempergunakan kekerasan untuk menyebar.
    kita tahu dari perselisihan 3 agama , yang asal usul nya
    “1 keluarga”, memakan korban jauh lebih banyak dari semua (I, II) perang dunia.

    Suka

  2. “pendidikan agama yg terbelakang” dengan semua faktor2nya sangat menghambat, bahkan bersifat seperti “menyiram minyak ke bara api”.
    “nalar sehat dan hati nurani” di mana dikau ???
    pertukar pikiran dengan thema agama di negara terbelakang umumnya berachir dengan perselisihan dan kemarahan yang tak terkendali.
    semoga dengan website (bermutu) ini tercapai lah setapak demi setapak kematangan rohani, yang tidak tercapai oleh agama. ( mengapa di negara2 “maju” gereja2 pada kosong dan penganut nya mencari jalan spiritual ????)
    banya salam !

    Suka

  3. Pak, apa perbedaan istilah “radikal” dalam konteks filsafat dan terorisme? mohon penjelasan. Terima kasih🙏

    Suka

  4. Tulisan yang sangat kontekstual untuk keseharian kita di indonesia..agama kini menjadi titik pisah dari ketuhanan yang kita anut masing-masing..agama menjadi inkubator dari radikalisme..politik dan terorisme adalah dua hal yang berbeda dari ular yang sama.syalam dari NTT

    Suka

  5. Model pembacaan “Holy Writ” harus memperhitungkan konteks historis, yang terkait dengan “asbab al-nujul”.

    Terima kasih atas tulisannya ^^

    Suka

  6. Kitab suci itu diturunkan dalam bentuk literatur yang sifatnya multitafsir. otoritas mana yang punya hak untuk menentukan siapa penafsir yang benar dan yang salah? sehingga kita boleh mengatakan bahwa terorisme itu berasal dari penafsiran yang salah?

    jika seandainya para teroris berpendapat bahwa aturan dari tuhan yang sifatnya divine di dalam kitab suci mereka berlaku untuk selamanya, universal tanpa terikat konteks waktu, tempat, atau kondisi yang lainnya, atas dasar apa kita mengatakan penafsiran mereka salah?

    Tentunya kita benci teroris karena mereka melawan hukum dan HAM, tapi dengan mengatakan bahwa mereka salah karena kitab suci mereka tidak mengajarkan demikian menurut saya adalah sebuah klaim yang mengada-ada dalam lingkup pembahasan yang tidak diketahui secara pasti.

    Suka

  7. Ada metode dan kriteria penafsiran. Bisa dipelajari kok. Unsur historis, konteks, bahasa dan sikap kritis amat penting disini. Prinsip HAM juga memainkan peranan penting. Menafsir ada ilmunya. Tak bisa sembarangan.

    Suka

  8. Dengan melihat keadaan negara kita yang mulai tumbuh bibit terorisme dan radikalime, maka kita sebagai orang-orang yang belajar filsafat, apa yang dapat kita lakukan? terimakasih.
    salam dari pemula Filsafat..

    Suka

  9. Setuju dengan pendapat Ini supaya tidak lagi melahirkan radikalisme dan terorisme, pendidikan agama harus menghindari dua hal tersebut. Ia harus bersifat terbuka pada perbedaan, didasarkan pada sikap kritis, serta pemahaman yang tepat tentang sejarah dan konteks sebuah ajaran. Para pemuka agama pun harus menempuh proses pendidikan yang bermutu dan kontekstual. Karena setiap Pemuka agama selalu dibuat panutan bagi umat pemeluk agamanya.

    Suka

  10. Sejutu dengan penadapat Ini Supaya tidak lagi melahirkan radikalisme dan terorisme, pendidikan agama harus menghindari dua hal tersebut. Ia harus bersifat terbuka pada perbedaan, didasarkan pada sikap kritis, serta pemahaman yang tepat tentang sejarah dan konteks sebuah ajaran. Para pemuka agama pun harus menempuh proses pendidikan yang bermutu dan kontekstual. Karena setiap pemuka agama Akan dianut bagi umat pemeluk agamanya.

    Suka

  11. Sejutu dengan penadapat Ini Supaya tidak lagi melahirkan radikalisme dan terorisme, pendidikan agama harus menghindari dua hal tersebut. Ia harus bersifat terbuka pada perbedaan, didasarkan pada sikap kritis, serta pemahaman yang tepat tentang sejarah dan konteks sebuah ajaran. Para pemuka agama pun harus menempuh proses pendidikan yang bermutu dan kontekstual. Karena setiap pemuka agama Akan dianut bagi umat pemeluk agamanya.

    Suka

  12. Lantas apa yang melatar belakangi para pelaku teroris untuk melakukan hal yang seperti demikian? Jika benar tujuannya untuk mengadu domba sesama umat, apa yang akan didapatkannya setelah melakukan hal yang keji seperti itu? Tidak ada kah rasa kemanusiaan yang tertanam dalam diri para pelaku teroris? padahal mereka sudah giat mempelajari berbagai hal dalam agamanya, dan agama pun sudah mengajarkan untuk ber lemah-lembut terhadap sesama. 🙏

    Suka

  13. Masalah radikalisme dan terorisme saat ini memang sudah marak terjadi di mana-mana, termasuk di Indonesia sendiri. Pengaruh radikalisme yang merupakan suatu pemahaman baru yang dibuat-buat oleh pihak tertentu mengenai suatu hal, seperti agama, sosial, dan politik, seakan menjadi semakin rumit karena berbaur dengan tindak terorisme yang cenderung melibatkan tindak kekerasan. Berbagai tindakan terror yang tak jarang memakan korban jiwa seakan menjadi cara dan senjata utama bagi para pelaku radikal dalam menyampaikan pemahaman mereka dalam upaya untuk mencapai sebuah perubahan.
    Pengaruh ISIS tidak hanya di Timur Tengah tetapi sudah mencapai Eropa, Amerika, dan Indonesia. Dunia internasional perlu bersatu untuk menyusun strategi dan melaksanakan pencegahan dan penanganan terorisme demi kepentingan perdamaian dunia dan kehidupan manusia damai dan bermartabat.
    Terorisme tidak hanya cukup ditangani dengan pemberantasan. Langkah pemberantasan yang cenderung menggunakan kekuatan senjata dan penegakkan hukum hanya akan menghentikan pelaku teror. Pemikiran radikal sebagai dasar untuk melakukan aksi teror tidak bisa ditangani dengan senjata dan penegakan hukum.
    Pencegahan dan penanganan terorisme sebaiknya dilakukan bertahap sesuai dengan karakteristik sasaran. Penanganan yang tidak tepat atas aksi terorisme bisa menimbulkan simpati terhadap pelaku teror. Hal ini justru akan menumbuhkan kader-kader baru yang mempunyai motif ganda, tidak hanya persoalan politik atau ideologi tetapi juga motif sakit hati atas perlakuan penanganan terorisme.
    Untuk melakukan pencegahan dan penanganan terorisme maka perlu dilakukan langkah-langkah dengan tahapan sebagai berikut, pada tahap pertama pencegahan terorisme harus dilakukan pemetaan dan deteksi dini atas potensi-potensi terorisme. Tahapan ini dilakukan di suluruh lapisan masyarakat dengan memanfaatkan intelijen. Masyarakat sebagai garda terdepan harus diajak kerja sama untuk melakukan
    pemetaan dan deteksi dini atas potensi terorisme. Maka dari itu saya Afthoni menisyaratkan dalam mencegahkan dari terorisme dilakukan sebagai berikut : 1. Belajar pendidikan yang baik, terutama ilmu agama harus mempunyai sanad guru yabg jelas dan benar, bersenambung dengan para waliyullah terdahulu. 2. Meminimalisir kesenjangan sosial. 3. Mendukung aksi perdamaian. 4. Menyaring informasi yang didapatkan (tabayyun). 5. Berperan aktif dalam melaporkan radikalisme dan terorisme. 6.

    Suka

  14. Dalam masalah terorisme justru umat Islam lah yang paling di menonjol oleh dunia. Sedangkan ajaran Islam mengajarkan tentang kedamaian. Apa mungkin pelaku terorisme berusaha menghancurkan nama Islam atau membuat image bahwa Islam identik dengan kekerasan?

    Suka

  15. Dalam masalah terorisme justru umat Islam lah yang paling di menonjol oleh dunia. Sedangkan ajaran Islam mengajarkan tentang kedamaian. Apa mungkin pelaku terorisme berusaha menghancurkan nama Islam atau membuat image bahwa Islam identik dengan kekerasan?

    Suka

  16. Islam memang sedang mengalami pertaruhan. Tugas utama pada pemikir besar Islam dan pemuka agamanya untuk melenyapkan segala bentuk radikalisme dan terorisme di agamanya. Ini juga merupakan tugas kita semua untuk peka segala bentuk radikalisme dan terorisme, serta melenyapkannya sedini mungkin. Kerja sama global amat diperlukan disini.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.