Terorisme dan Cinta yang Gagal

love-never-fails-red

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Fenomena terorisme lahir dari kebencian dan dendam. Begitulah pandangan umum. Namun pandangan itu masih satu sisi. Kebencian dan dendam adalah konsekuensi dari cinta yang gagal. Dalam arti ini terorisme adalah simbol dari cinta yang gagal.

Cinta memerlukan kesadaran. Tanpa kesadaran cinta akan bermuara pada kebencian. Terorisme adalah bukti akan hal ini. Kesadaran dapat dibentuk melalui keraguan akan posisi diri, serta kemampuan menerima ironi dan paradoks sebagai fakta kehidupan.

Kegagalan Cinta

Terorisme modern diawali dengan cinta yang meluap akan Tuhan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai kehidupan, dan orang mematuhi serta menerapkannya dalam kehidupan. Keteguhan hati pada prinsip-prinsip hidup mewarnai tindakan. Cinta yang meluap dan hidup penuh penghayatan menjadi kenyataan eksistensial yang bermakna.

Kita dapat menemukan banyak orang semacam ini di Indonesia, yakni orang-orang kecil dengan semangat besar untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan, seperti tertera pada agama yang dihayatinya. Mereka menjalani hari-hari dengan penghayatan diri yang asli, tanpa kepura-puraan. Hidup mereka bermakna.

Cinta akan Tuhan juga memiliki batasnya. Itulah kelemahan manusia. Ia selalu terbatas bahkan untuk melakukan hal-hal luhur di hadapan ‘yang tak terbatas’, yakni Tuhan sendiri. Cinta yang lelah adalah cinta yang gagal. Cinta yang gagal akan bermuara pada kebencian.

Itulah yang kiranya terjadi pada orang-orang yang menghayati nilai-nilai agamanya secara mendalam. Mereka hidup sesuai dengan nilai, namun mereka menyaksikan tiap hari, betapa mereka sendirian dan kesepian. Hidup mereka tetap sulit. Para pimpinan yang mereka agungkan tidak mencerminkan nilai-nilai kehidupan luhur yang mereka hayati.

Kita juga banyak menemukan fenomena semacam ini di Indonesia. Banyak orang hidup dengan nilai. Namun mereka kecewa melihat keadaan. Orang-orang sekitarnya hidup dengan kemunafikan dan penipuan. Akhirnya mereka pun lelah.

Cinta pun menjadi lelah. Cinta akan nilai dan Tuhan berubah menjadi kebencian atas manusia, yakni manusia-manusia munafik yang hidup dalam topeng kehormatan. Kelelahan cinta akan menjadi kegagalan cinta. Kegagalan cinta adalah kebencian itu sendiri.

Cinta yang gagal akan memukul rata semua orang sebagai musuh. Cinta yang gagal adalah cinta yang menyeragamkan. Cinta yang gagal membunuh akal sehat. Cinta yang gagal akan memiliki daya untuk menghancurkan, dan inilah sumber energi bagi terorisme.

Di Indonesia para teroris adalah orang-orang yang kecewa. Mereka mencintai hidup, nilai, dan Tuhan, namun lelah melihat keadaan yang menyakitkan. Cinta mereka gagal dan berubah menjadi dendam. Dendam dan kebencian itu menyeragamkan, sekaligus menyingkirkan perbedaan-perbedaan kecil yang membuat setiap orang itu unik dan berarti.

Cinta dan Kesadaran

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Aristoteles sudah berpendapat, bahwa keutamaan terletak di tengah. Segala yang ekstrem selalu berakhir pada kejahatan. Ungkapan ini mengandung kebijaksanaan yang besar. Cinta yang ekstrem akan bermuara pada kebencian itu sendiri. Itulah yang dengan mudah kita temukan pada jiwa para teroris.

Maka cinta haruslah disertai kesadaran. Cinta tidak boleh menjadi berlebihan, karena, seperti yang dikatakan Aristoteles, apapun yang berlebihan selalu menjadi rahim bagi “si jahat”. Cinta yang berlebihan pada hakekatnya bukanlah cinta, melainkan potensi bagi kebencian, kejahatan, dan dendam itu sendiri.

Bumbu ironi juga diperlukan di dalam cinta, supaya ia tidak melewati batas kewajaran. Ironi adalah semacam rasa untuk menerima ketidakwajaran di dalam hidup sebagai sesuatu yang ada, dan tidak bisa ditolak, seberapapun kita berusaha menolaknya. Rasa ironi memberi peluang untuk paradoks, yakni kemampuan untuk menerima tumpang tindih hal-hal yang berlawanan sebagai fakta kehidupan. Dengan ironi dan paradoks, orang bisa menyentuh kebijaksanaan di dalam hidupnya, sekaligus menjauhkan diri dari bahan bakar terorisme, yakni dendam dan kebencian.

Yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan. Keraguan membuat kita tidak bisa penuh. Keraguan menjauhkan kita dari sikap ekstrem. Hidup dengan prinsip tanpa disertai sedikit keraguan membuat kita tak ubahnya seperti robot-robot ideologis yang bermental fundamentalis. Tanpa keraguan cinta akan lelah, gagal, dan berubah menjadi kebencian. Inilah mekanisme jiwa para teroris. Pola inilah yang pelan-pelan harus kita sadari dan hindari.

Cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian, supaya ia tidak jatuh berubah menjadi kebencian murni itu sendiri. Inilah salah satu paradoks dan ironi kehidupan yang masih jauh dari pemahaman kita sebagai bangsa yang mengaku bermoral dan beragama, tetapi tidak pernah berani menyentuh keraguan sebagai obat untuk tetap waras. Akibatnya kita merasa bermoral sekaligus membenci dalam waktu yang sama. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

28 tanggapan untuk “Terorisme dan Cinta yang Gagal”

      1. Tidak semua terorisme modern diawali dengan cinta yang meluap akan Tuhan, lagi pula tuhan yang mana yang di maksud juga tidak jelas, jika berlaku untuk semua, apakah sudah dilakukan penelitian mendalam? 🙂

        Suka

  1. Tidak ada penelitian mendalam. Saya sebenarnya kurang tertarik dengan tema ini. Seperti sudah dibilang ini sketsa kecil hasil dari refleksi sejenak.

    Argumen anda juga kurang tepat. Di dalam sains tendensi generalisasi memang tak terhindarkan, apapun ilmunya. Memang tidak semua tetapi ini argumen yang pada hemat saya cukup berlaku untuk mekanisme psikologis teroris. Perlu wawancara dan pembacaan literatur lebih jauh soal ini. Tapi saya kurang tertarik mendalaminya.

    Tuhan yang saya maksud adalah Tuhan dalam agamanya masing-masing. Ini khas terorisme kontemporer abad ke-21 awal.

    Suka

    1. Saya tidak mempermasalahkan tentang generalisasi berdasar psikologi teroris tapi ada suatu kesimpulan yang kurang bijaksana seperti “Yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan” dan “cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian”.

      Suka

      1. yah itu tesis yang berasal dari permenungan saya, mengingat aspek paradoks yang selalu melekat dalam diri manusia. Dari sudut positivisme memang kurang bijaksana. Tapi dari sudut filsafat paradoks, itulah yang terjadi.

        Tinggal di mana anda merasa kurang pas, dan ajukan argumentasi kontra, supaya dialektika diskusi bisa berlanjut. Jangan hanya bilang bahwa itu kurang bijaksana. Pernyataan itu juga kurang bijaksana sebenarnya.

        Suka

  2. Saya sekali lagi tidak mempermasalahkan perenungan anda, termasuk generalisasi yang yang di dasarkan pada psikologis penulis, tapi saya mempermasalahkan pernyataan kesimpulan “Yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan” dan ““cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian” itu tidak bisa di pukul rata ke semua agama

    Matius 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

    Lukas 6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu

    Orang kristen fundamentalis 100% jelas tidak melakukan perlawanan jika ada orang yang berlaku jahat pada dirinya karena dia terikat pada hukum kasih, kesimpulan atau mungkin ajakan anda tidak dapat berlaku untuk semua orang atau pada semua agama.

    Suka

    1. Ok. Thx atas argumentasinya. Ini yang saya tunggu2. 🙂

      Saya rasa ini adalah masalah tafsir. Kitab Suci adalah buku yang bisa menjadi dorongan untuk berbagai hal baik, sekaligus hal-hal buruk, tergantung kerangka berpikir apa yang digunakan untuk membacanya. Dua kutipan di atas memang menandakan tafsiran yang “positif” atas Kitab Suci. Tapi jangan lupa banyak orang-orang Fundamentalis masih mendasarkan pada hukum Yahudi kuno: mata ganti mata, dan gigi ganti gigi, karena itu pun tertulis di KS Kristen pada bagian Perjanjian Lama.

      Yang kita butuhkan adalah kerangka berpikir yang bisa digunakan untuk menafsirkan KS secara sehat, apapun agamanya. Kerangka berpikir itu haruslah mendasarkan diri pada HAM universal. Tujuannya sama dengan anda, supaya KS atau ajaran agama apapun tidak pernah bisa dijadikan pembenaran bagi kekerasan.

      Suka

    2. Tentang argumen yang saya ajukan: “Yang kita butuhkan di dalam mencintai adalah sedikit keraguan” dan ““cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian”

      Argumen ini berakar pada pemikiran Aristoteles dan Nietzsche. Aristoteles melihat pentingnya untuk tetap berada di tengah, yakni tidak jatuh pada ekstrem. Keraguan membuat cinta tidak jatuh pada ekstrem.

      Nietzsche melihat hidup sebagai kumpulan kontradiksi dan paradoks. Dalam konteks cinta saya menafsirkan, bahwa cinta selalu membutuhkan sedikit lawannya, yakni kebencian, supaya cinta itu bisa hidup dan berkembang secara sehat. Ini memang tidak logis. Tapi kontradiksi dan paradoks memang melampaui logika, karena keduanya berbicara tentang hidup yang tidak pernah seratus persen logis.

      Suka

      1. Hal ini tidak berlaku dalam kekristenan fundamental karena orang kristen terikat dalam hukum kasih dan ini tidak memberikan ruang untuk kebencian tapi justru slalu membawa ruang untuk mengasihi.

        Suka

  3. Hukum taurat masuk di perjanjian lama. Hukum Taurat memiliki dua fungsi utama yaitu penuntun (guru) dan penuntut (hakim). Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah penuntun (guru) bagi manusia menggantikan hukum Taurat. Setelah kenaikan Kristus ke Sorga, Roh Kudus menggantikan tugasnya sebagai penuntun umat manusia. Hukum Taurat walaupun tidak menjadi penuntun lagi namun tetap adalah penuntut. Ketika Hukum Taurat menuntut, Kristus membela orang kristen. Ketika Hukum Taurat menghukum atau memvonis Kristus menebus orang kristen. Apabila Hukum Taurat batal bukankah itu berarti manusia tidak perlu dibela dan ditebus karena tidak ada yang menuntut dan menghukum atau memvonis? Hukum Taurat tidak akan berlaku lagi pada hari kiamat karena pada hari itu Kristus menggantikannya menjadi penuntut (hakim) untuk menjatuhkan vonis. Contoh penuntun adalah mata ganti mata, dan gigi ganti gigi dan itu sudah tidak berlaku lagi.

    Suka

    1. Semoga orang-orang Kristen berpikiran seperti anda, bahwa cinta yang harus dikedepankan, dan bukan kekerasan ataupun kebencian. 🙂 Tapi saya rasa memang sulit, terutama karena perbedaan kerangka di dalam tafsir KS tersebut.

      Suka

  4. Untuk menafsirkan alkitab ada ilmunya sendiri yaitu hermeneutika, dengan ini diterangkan prinsip-prinsip ilmu tafsir. Dalam hermeneutika ilmu tafsir dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, khususnya secara teologis. Untuk hal lain misal jika ada kalimat yang kurang dipahami dari sisi bahasa bisa langsung mengacu ke text Ibrani (PL) dan text Yunani (PB). 🙂

    Suka

    1. Ya tepat Sekali! Harapan saya adalah ilmu tafsir itu bisa disosialisasikan ke berbagai pihak, terutama mereka yang memiliki kecenderungan fundamentalistik. Misalnya tulis blog khusus soal tafisr KS secara ilmiah, teori2hermeneutik KS, tulis buku, bikin seminar, dan sebagainya. INtinya ilmu tafisr yang sehat dan ilmiah itu haruslah dipropagandakan ke seluruh dunia. Itu kunci untuk membongkar terorisme atas nama agama, ataupun bentuk2 fundamentalisme religius lainnya.

      Suka

  5. Wah….baru sempat membuka, sudah ramai diskusinya 🙂

    Saya mencium pemikiran Frommian disini hehehehe…….Saya rasa cinta tidak boleh dimaknai tanpai refleksi. Apakah betul cinta itu secara hermenutika memiliki pemaknaan yang generic? Sejarah manusia kaya akan contoh bahwa cinta ternyata dimaknai dalam ribuan cara yang berbeda. Banyak sekali cinta yang egoistik dan narsistik, dan itulah yang dikritisi oleh Erich Fromm.

    Terkait dengan itu, saya sepakat dengan frame dalam tulisan ini tentang cinta yang membuta sejatinya bukan cinta. Kalau kita pernah menonton video rekaman para pelaku teroris bunuh diri, mereka menunjukkan ekspresi keyakinan dan kebahagiaan akan kebenaran dalam tindakan mereka. Di benak mereka, menghancurkan ‘iblis’ adalah tindakan kasih. Ini tentu sama sekali tidak kongruen dengan kita yang memiliki frame yang berbeda tentang apa itu cinta dan kasih. Ini namanya cinta itu sesuatu yang tidak bermakna tunggal dalam realitas hidup manusia yang jamak.

    Contoh konkretnya dalam sehari-hari adalah cinta antara suami istri. Untuk sebuah pernikahan bertahan, harus ada pemaknaan ulang yang baru atas cinta dan bagaimana cinta itu bertumbuh dan berkembang. Kalau tidak ada ini, dan ini yang banyak terjadi dalam banyak pernikahan, cinta cuma berupa ikatan antara dua insan yang sudah terlanjur kawin. Mau bilang nggak cinta, takut dosa dan cap sosial, sementara sudah ada anak dan orangtua yang jadi pengikat. Tapi kalau mau bilang cinta, kenyataannya semangat cinta kasih yang mengembangan dan menumbuhkan sudah tidak ada lagi.
    Jadinya mungkin tidak cerai hukum, tapi sudah cerai esensi. Ini karena tidak ada kesebangunan dan dinamika kreatif dalam memaknai cinta antara suami dan istri. Inilah bagaimana cinta menjadi benci dalam hidup keluarga.

    Cinta dan kasih, sebagaimana semua konsep sosial yang lain adalah socially-constructed proposition. Oleh sebab itu, hermeneutikanya haruslah berupa penafsiran kritis dan kreatif.

    Suka

    1. Cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian dalam tulisan dan cinta yang membuta sejatinya bukan cinta adalah 2 yang berbeda, Pertama ada kalimat cinta yang sejati selalu memberi ruang untuk kebencian lalu ada kesimpulan cinta yang membuta sejatinya bukan cinta, apakah cinta sejati = cinta membuta? lalu dilakukan analogi yang mendukung contoh-contoh apa itu cinta membuta, seakan-akan analogi itu adalah pasti cinta sejati adalah hal yang salah. Jika memang di arahkan ke situ, ini adalah bukan hal yang bijaksana.

      Suka

      1. hmm… poinnya adalah cinta harus ada kesadaran. Atau dalam bahasa James, cinta harus diikuti refleksi. Saya menuliskan dengan ekstrem, cinta harus memiliki sedikit kadar dari lawannya, yakni kebencian, supaya ia tetap berjarak dari cinta yang membuta. Pola berpikir dialektis paradoksal ini berpijak pada gaya NIetzsche dan Hegel dalam melihat kehidupan. Sesuatu harus memiliki anti tesis dalam dirinya sendiri, supaya ia bisa berkembang.

        Suka

      2. Hehehehe….saya pikir ada yang missed disini 🙂
        Saya memang berpendapat bahwa cinta yang membuta sejatinya bukan cinta, tapi saya tidak paham bagaimana itu membawa pada pemaknaan “apakah cinta sejati = cinta membuta?”

        Saya pikir diskusi ini tidak begitu imajinatif dalam arti mengarahkan kemana atau kemana, tapi lebih pada upaya reflektif untuk mencari kejernihan dalam dunia yang multimakna ini.

        Dalam kerangka itu, analogi yang ada adalah untuk menunjukkan cinta membuta membuat cinta tidak lagi intersubyektif, dan tentunya bukan cinta sejati. Analogi di atas mencerminkan cinta yang posesif, mengikat dalam keterpaksaan, menekan kesadaran hati nurani, dan bahkan self-centric. Itulah yang banyak dialami oleh kawan-kawan ekstremis. Sebaliknya, kalau cintanya intersubyektif, reflektif dan kreatif, seperti yang diusulkan Fromm, maka disitu terbentuk sebuah pengalaman cinta sejati.

        Ini saya pikir tidak ada arah atau hubungan dengan “seakan-akan analogi itu adalah pasti cinta sejati adalah hal yang salah”. Ada perbedaan kontekstual di sini 😉

        Suka

    2. Ya sepakat dengan hal ini. Di dalam mencintai pun harus ada pemahaman serta penghayatan tentang esensi. Tanpa pemahaman tentang esensi, cinta bisa bermuara pada kebencian, atau pada terciptanya hidup yang penuh penyangkalan dan kebohongan. Kasus terorisme dan ilustrasi pernikahan sangat menarik disini. 🙂

      Suka

  6. Ada 2 hukum kasih dalam kristen

    “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

    Cinta memang harus ada kesadaran dan direfleksikan, tapi jika refleksi cinta dari seseorang berubah maka yang bermasalah adalah pada manusianya. kecuali agama memberikan penuntun untuk melakukan suatu kebencian.

    Kalau anda jeli pada isi hukum kasih tidak ada celah untuk melakukan kebencian dari sisi hukumnya (bukan objek yang menjalaninya). Ini harus dibedakan, untuk contoh tidak bisa analogi amerika melakukan kekerasan atas nama negara lalu yang disalahkan dari sisi agama yang dianut, ini tidak obyektif, tapi jika orang melakukan kekerasan atas nama agama, maka yang perlu diselidiki siapa? ini yang harus di cari, bukan menyalahkan yang pasti salahnya ada di cinta sejati. jika punya pandalangan lain ttg istilah cinta sejati, tidak bisa juga cinta sejati tidak bisa diartikan secara semua pasti itu. tapi harus dilihat secara substansial masalah secara mendalam.

    Cinta sejati itu bukan pasti cinta membuta, tapi cinta yang mempunyai nilai kebencian artinya itu bukan cinta sejati, cinta membuta adalah cinta yang berlebihan sehingga memunculkan kebencian, ini bukan cinta sejati.

    Suka

    1. Menarik ketika ketika kita membicarakan hal yang sama dan kita sepakati, namun melalui dua pendekatan yang berbeda; biblical di satu pihak dan fenomenologi eksistential di lain pihak. Ini indahnya diskusi progresif.

      Suka

  7. Saya membawa kontekstual yang lebih luas, walaupun ada yang membawa kontekstual yang lebih sempit, ini hanya perbedaan bagaimana sudut pandang melihat, disini saya melihat tentang adanya kompresi menuju ke arah istilah cinta yang membuta, setelah dilakukan estraksi kenapa bisa ada hal yang berbeda, ini pasti ada yang salah, apakah ekstremis itu hasil kompresi dari polarisasi tentang fundamentalis? secara lebih luas saya melihat adanya “seakan-akan analogi itu adalah pasti cinta sejati adalah hal yang salah” setelah saya melakukan ekstrasi apa yang telah apa anda kompress, upaya reflektif untuk mencari kejernihan dalam dunia yang multimakna harus dilandasi dengan relasi ekuivalen yang tepat.

    Suka

  8. apakah tuhan senang di puji?
    apakah tuhan senang di cintai?
    semua masih menjadi misteri……………..manusia mengejar sesuatu yang memang belum tentu di dapatkan, inilah kesalahan sejarah yang mengatakan jika kita akan masuk surga…..

    Suka

    1. Yah. Jika ia sungguh2 Tuhan, ia tidak perlu dan tidak ingin dipuji atau dicintai, karena ia sudah cukup sempurna dengan dirinya sendiri. Tapi itulah kita, manusia, selalu melakukan hal-hal irasional. Mungkin karena kita memang mahluk yang irasional.

      Suka

  9. Manusia memuji dan mencintai yang menciptakan adalah hal yang wajar, apa korelasinya dengan kesalahan sejarah dengan akan masuk surga? sejarah apa? surganya siapa?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s