Penderitaan dan Peradaban

186092_x089a
artmajeur.com

Oleh Reza A.A Wattimena

Lebih dari enam botol bir menemani percakapan kami. Sudah hampir semalam suntuk, kami berbincang. Kawan saya, yang berasal dari Jerman, bercerita, bagaimana ia terjebak di dalam cinta segita: jatuh cinta dengan orang yang sudah menikah, dan bahkan punya anak. Kisahnya penuh derita, mirip telenovela, namun nyata.

Sejenak, saya bertanya, “Mengapa kamu tidak pergi, dan melanjutkan hidupmu?” Pertanyaan tersebut tampak menghentaknya. Setitik air mata terlihat menggenang, entah karena sedih, atau karena alkohol. Setelah terdiam sesaat, ia menjawab, “Saya mencintainya. Semua penderitaan yang saya rasakan akan terbayar, jika saya bisa bersamanya. Saya akan terus berjuang, walaupun luka dan derita datang menghadang.”

Penderitaan dan Eropa

Jawaban itu tidak mengherankan buat saya. Orang-orang Eropa memang memiliki latar belakang yang unik di dalam menghadapi penderitaan. Julian Nida-Rümelin, filsuf politik asal München, berulang kali menegaskan, bahwa akar peradaban Eropa adalah peradaban Yunani dan Romawi Kuno. Sikap mereka di dalam  menghadapi penderitaan juga berakar pada pandangan dua peradaban tua tersebut.

Peradaban Yunani adalah peradaban yang memuja sikap kepahlawanan. Ada banyak cerita tragedi yang berkembang di dalam peradaban ini. Semua kiranya bertema satu hal, bahwa hidup penuh ketidakadilan dan penderitaan, namun manusia harus menghadapi semuanya dengan keberanian, ketulusan dan sikap pantang menyerah. Sikap itulah yang kiranya muncul di dalam diri kawan saya, ketika ia tenggelam di dalam derita cinta segitiga.

Di dalam tradisi Filsafat Eropa, sikap kepahlawanan ini direnungkan secara mendalam di dalam pemikiran Albert Camus, filsuf Prancis. Ia berpendapat, bahwa hidup manusia itu, pada dasarnya, absurd. Tidak ada makna di balik semua ini. Orang jahat tambah kaya dan berkuasa. Sementara, orang baik tetap miskin dan terhina. Absurd.

Ketidakadilan tampak sepanjang mata memandang. Anak kecil tak berdosa mati menggenaskan dihempas tsunami di Aceh, atau terkena bom teroris. Penyakit mematikan menggerogoti tubuh jutaan orang, tanpa ada obat yang bisa melawannya. Namun, ini bukan berarti, bahwa manusia harus menyerah.

Sebaliknya, orang justru harus tegak berdiri, dan menghadapi segala yang terjadi dengan keberanian. Orang harus terus berjuang, walaupun ia sadar, bahwa ia akan kalah. Absurditas kehidupan haruslah dihadapi dengan tekad membara sekeras baja. Bahkan, Camus menyarankan, bahwa kita harus terus berusaha menemukan makna di balik segala absurditas yang kita alami.

Monoteisme

Sikap kepahlawanan ini seolah redup, ketika Eropa dikuasai Kristianitas. Di dalam pandangan Kristiani, penderitaan adalah jalan yang harus ditempuh, supaya orang bisa sampai pada Tuhan. Yesus sendiri, yang dipandang sebagai Tuhan di dalam Kristianitas, juga menderita, disiksa dan bahkan mati terhina di kayu Salib, karena cintanya kepada manusia. Setiap penganut Kristiani diminta untuk menghubungkan penderitaan hidupnya dengan penderitaan Yesus itu sendiri.

Di dalam Islam dan tradisi Yahudi, penderitaan dianggap sebagai tanda cobaan dari Tuhan. Ketika manusia bisa berteguh di dalam segala cobaan, maka ia akan memperoleh pahala dari Tuhan. Penderitaan juga dilihat sebagai ujian atas iman kita terhadap Tuhan. Ketika cobaan dan penderitaan dilampaui, pahala dan kenikmatan surgawi sudah duduk menanti.

Ada yang Lain

Peradaban Eropa adalah peradaban yang berusaha memeluk penderitaan sebagai bagian dari hidup manusia. Mereka melihat penderitaan sebagai bagian penting di dalam proses pengembangan diri manusia. Tidak hanya itu, dalam banyak hal, mereka justru mengundang penderitaan dalam hidup mereka. Sampai sekarang, saya masih tak bisa memahami pandangan ini.

Mungkinkah mereka menderita, karena mereka tak tahu, bahwa ada jalan untuk keluar dari penderitaan hidup manusia? Mungkinkah sikap naif mereka berpijak pada ketidaktahuan? Saya bertanya kembali ke teman saya tersebut, “Mengapa kamu suka menderita? Apakah kamu tidak lelah?” Ia dengan enteng menjawab, “Itulah hidup: so ist das Leben.”

Saya mencoba menjelaskan, bahwa ada cara lain. Ada peradaban lain yang secara mendalam mencoba memahami penderitaan manusia, dan bahkan berhasil menemukan jalan keluarnya. Ia tidak mau dengar. Entah karena pengaruh alkohol, atau memang kita berdua sudah lelah.

Di dalam tradisi filsafat Timur, lebih tepatnya di dalam tradisi Zen yang berkembang di Cina, Jepang dan Korea, penderitaan dilihat sebagai hasil dari ketidaktahuan. Orang menderita, karena ia mengalami kesalahan berpikir. Untuk bisa melampaui kesalahan berpikir semacam ini, orang perlu untuk menyadari, siapa diri mereka sebenarnya. Dan untuk bisa sampai pada kesadaran ini, orang hanya perlu bertanya berulang kali ke diri mereka sendiri, “Darimana asal semua perasaan dan pikiran yang membuat saya menderita ini?”

Pertanyaan ini perlu dipikirkan secara mendalam. Darimana asal semua pikiran dan perasaan yang muncul ini? Jawaban yang biasa muncul adalah “Dari diriku”. Namun, apa atau siapa itu “diri”? Apakah ia sungguh ada? Bagaimana penjelasannya?

Hwadu

Gaya berpikir semacam ini berkembang di dalam tradisi Seon di Korea. Ia disebut sebagai Hwadu, atau kata yang hidup. Sebagai orang yang menekuni filsafat, saya senang merawat pertanyaan-pertanyaan bermutu. Hwadu adalah model yang paling cocok untuk saya.

Ketika pertanyaan tersebut diulang, ia akan menjadi bagian dari hidup kita. Ketika kita berjalan atau bekerja, pertanyaan itu mengulang dengan sendirinya di dalam diri kita. Pertanyaan tersebut menyerap semua pikiran dan perasaan yang muncul. Pada satu titik, jawaban muncul.

Jawaban yang muncul ini bukanlah jawaban teoritis. Ia bukanlah konsep. Ia lebih merupakan sebentuk kesadaran, tempat segala hal muncul dan menghilang. Kesadaran ini adalah diri kita yang sebenarnya. Darinya, segala bentuk pikiran dan perasaan lahir, dan menghilang.

Ketika sampai pada titik ini, (yang sebenarnya bukan titik sama sekali, karena titik adalah konsep), maka orang akan menemukan kejernihan yang sebenarnya. Kejernihan itu berlangsung lama dan stabil. Pikiran dan perasaan bisa datang. Namun, semua itu bisa disadari, dan bahkan bisa digunakan untuk tujuan-tujuan baik.

Tak ada gunanya saya menjelaskan soal ini kepada teman saya. Dia sudah mabuk, dan ia terlalu keras kepala untuk mendengarkan apapun yang bertentangan dengan pandangannya. Satu hal melintas di kepala saya. Mungkin, dia butuh penderitaan yang lebih besar, baru ia mau mendengarkan saya. Mungkin…

Saya hanya bisa berharap dalam hati, “Teman, teruslah menderita!!”

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Presiden, Cikarang. Peneliti di President Center for International Studies (PRECIS). Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

16 tanggapan untuk “Penderitaan dan Peradaban”

  1. jangan-jangan inti perbincangan ikut menjadi absurd karena kehadiran teman lain yang ada di dalam botol-botol itu, dengan begitu, mungkin, penderitaan seberat apa pun, bahkan gagasan terbaik apa pun – tidak akan mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik – lain kali botol dan isinya akan turut berbicara. itulah kehidupan. selamat pagi

    Suka

    1. Pembicaraan sudah dimulai, sebelum minuman berdatangan. Tapi benar kata anda, akhir pembicaraan kami amat dipengaruhi oleh alkohol. Akhir minggu bersama orang Jerman, nyaris tidak mungkin tanpa alkohol… Semoga poin tulisan ini tetap terlihat, karena ia dibuat setelah pengaruh alkohol menghilang…

      Suka

  2. artikel menarik pa…
    jika boleh saya ikut nyimak,penderitaan,susah, senang,,sakit, sehat, itu semua bagi saya bukanlah ujian.akan tetapi itu adalah nikmat dari tuhan..termasuk surga ataupun neraka,itu juga nikmat dari tuhan.
    yang disebut ujian bagi keimanan seseorang bukanlah penderitaaannya ataupun susahnya,akan tetapi dari pilihannya..apakah manusia itu memilih kesusahan ataukah kesenangan.. semua tergantung pilihannya,karena manusia itu bukanlah wayang yang hidup tanpa pilihan.
    saya setuju dengan uraian bapa,memang kesadaran dirilah yang menjadi kunci dari manusia itu untuk menentukan pilihannya.

    Suka

    1. saya tidak mau membawa Tuhan atau agama. Saya bukan pemuka agama ataupun teolog. Tapi saya sepakat, kesadaran murni menjadi kunci dalam menentukan pilihan. Apakah anda sudah memahami kesadaran murni, yang adalah jati diri sejati anda? Hwadu bisa membantu dalam hal ini. Salam…

      Suka

      1. Pak saya sangat tertarik uraian Bapak tentang Hwadu, kalau adakesempatan tolong uraiannya ditambah dan diperjelas dengan contoh-contah pak, terima kasih

        Suka

  3. Penderitaan juga sebuah konsep. Itu jalan untuk sebuah pengalaman aktual, menemukan apa yang lebih jauh dari apa yang bisa ditangkap akal. Saya setuju dengan kalimat terakhir Anda 🙂

    Suka

    1. penderitaan menuntut pada kesadaran, ketika penderitaan itu begitu kuat dan besar, sehingga orang terpaksa harus mencari jalan untuk keluar darinya. Ini seperti sudah dipukul mentok kebawah, sehingga tidak ada jalan lain, selain bergerak ke atas.

      Suka

  4. Penderitaan terkait erat dengan pikiran, perasaan dan kenyataan. Berpikiran menderita menghasilkan perasaan menderita, dan perasaan menderita akan memunculkan kenyataan menderita. Begitulah seterusnya, dan ketiganya akan membentuk lingkaran keterkaitan yang sulit untuk diputuskan. Salah satu definisi yang umum dari penderitaan adalah ketidaksesuaian antara keinginan dan kenyataan.
    Kebanyakan apa yang kita peroleh dari luar adalah sampah. Beragam informasi memberitakan tentang berbagai penderitaan, kejahatan, perang, korupsi, penindasan, ketidakadilan, bencana, dan akan lebih parahnya lagi, hal2 tersebut dapat menghanyutkan pikiran dan perasaan kita seolah2 kita adalah bagian dari penderitaan itu. Akibatnya sudah bisa ditebak, bahwa berpikiran menderita akan mengundang lebih banyak penderitaan dan lebih banyak lagi.
    Penderitaan juga berasal dari ketidaktahuan akan apa yang betul2 kita inginkan. Biasanya, keinginan yang tidak sesuai dengan kenyataan adalah keinginan yang lebih banyak berasal dari pikiran kita, yang diperoleh dari pertimbangan2 akal, alasan2 dan keragu raguan. Keinginan yang sangat didasarkan pada pengalaman masa lalu, yang didasarkan atas keinginan2 orang lain, keinginan bias dan semu. Berbeda sekali dengan keinginan yang muncul dari kejernihan, yang keluar melalui panel2 intuitif kita, akan senantiasa selaras dengan keinginan kita dan semesta raya.
    Pada akhirnya, kita dapat mengubah kenyataan anggapan tentang diri kita dan dunia yang dipenuhi penderitaan serta ketidakadilan, dengan keinginan yang memenuhi pikiran2 kita akan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dengan begitu, mudah2an dunia materi kita betul2 mewujud menjadi dunia materi yang berkelimpahan kebahagiaan…

    Suka

      1. Betul sekali pak Reza… mudah2an pada waktunya nanti kita tidak lagi menginginkan sesuatupun serta tidak lagi mampu memiih apapun… semuanya akan mengalir begitu saja…

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s