Filsafat dan Kemandirian Berpikir

naoto-hattori_surrealistic-painting_surrealism_contemporary-art_beautiful-bizarre_081
beautifulbizarre.net

Oleh Reza A.A Wattimena

Kepalanya botak. Sisa rambutnya sudah putih semua. Sorot matanya tajam. Suaranya berwibawa, dan ia berbicara secara perlahan, sambil menyusun konsep-konsep yang tercecer di dalam pikirannya.

Namanya adalah Godehard Brüntrup. Ia adalah Professor Filsafat di Universitas Filsafat München, Jerman. Ia sedang diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi Jerman. Temanya adalah soal peran filsafat untuk perkembangan pendidikan di Jerman dewasa ini.

Dengan tegas dan jelas, Brüntrup menjelaskan, bahwa tugas filsafat bukanlah mengajarkan orang untuk hidup sesuai dengan aliran berpikir tertentu. Filsafat memberikan kemandirian berpikir kepada orang, sehingga ia bisa menilai semua aliran berpikir yang ada secara kritis, rasional dan sistematis. Pada akhirnya, ia lalu bisa mengembangkan pandangan hidupnya sendiri yang cocok untuknya. Saya tertegun, ketika mendengar penjelasan tersebut.

Kemandirian

Sudah lama saya gelisah dengan pola pendidikan filsafat di Indonesia dan Jerman. Filsafat dipersempit semata ke dalam satu aliran tertentu yang diajarkan kepada mahasiswa untuk dianut. Ini mirip proses cuci otak. Yang tercipta kemudian adalah manusia-manusia yang sempit dan fanatik pada satu aliran berpikir tertentu.

Keadaan ini dipersulit dengan gerak informasi dan komunikasi yang begitu cepat dewasa ini. Setiap detik, kepala kita dihantam dengan beragam pengetahuan baru. Tidak semuanya benar, dan tidak semuanya membantu kehidupan kita. Banyak diantaranya justru mengantarkan kita pada kebencian dan perpecahan antara satu sama lain.

Orang dengan mudah tergelincir pada penipuan dan fitnah. Orang juga dengan mudah terjatuh pada fanatisme buta pada satu aliran berpikir tertentu. Di titik inilah peran filsafat menjadi sungguh jelas. Ia membantu orang untuk secara kritis, rasional dan sistematis menilai beragam informasi serta aliran berpikir yang ada.

Pandangan Hidup

Dari proses ini, orang lalu bisa membangun pandangan hidupnya sendiri dari proses refleksi yang luas dan mendalam atas beragam aliran berpikir yang sudah ada. Ia bisa memberikan pendasaran pada pandangan hidupnya tersebut. Dan ia juga siap berubah, ketika memang harus berubah. Pandangan hidupnya menjadi begitu lentur, sehingga lalu bisa menanggapi beragam keadaan yang terjadi secara tepat dan jernih.

Filsafat yang hanya mengajarkan satu aliran berpikir tertentu tidak bisa disebut sebagai filsafat. Itu adalah ideologi, dan ideologi adalah kekerasan berpikir yang menjadi sumber dari segala permasalahan dan penderitaan di muka bumi ini. Ia tidak dapat dikritik dan tidak dapat dijelaskan secara rasional kepada orang lain. Ia menjadi penjara yang memisahkan orang dari kebijaksanaan.

Selesai mendengar uraian dari Brüntrup, saya mencoba melihat diri saya sendiri. Apakah saya terjatuh pada fanatisme pada satu aliran berpikir tertentu? Apakah saya sudah bisa membangun pandangan hidup saya sendiri yang bisa dipertanggungjawabkan? Setelah 15 tahun menggeluti dunia filsafat secara mendalam, saya merasa seperti kembali ke titik nol.

Titik nol yang bisa saja bukan apa-apa, tetapi juga bisa menjadi awal dari segalanya… kita lihat saja.

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Pendiri Program Pengembangan Diri dan Pengembangan Organisasi "Sudut Pandang". Penceramah, Peneliti dan Penulis di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

32 tanggapan untuk “Filsafat dan Kemandirian Berpikir”

  1. setuju bahwa tiap pribadi itu unik dan dapat menentukan makna hidupnya sendiri, tanpa harus mengikuti pola pikir orang lain. Diapun harus selalu siap pada perubahan. Oleh karena itu, saat dia telah menemukan apa yang dia anggap sebagai titik akhir ataupun titik nol dirinya, dia pun harus tetap reflektif dan tetap terbuka pada pandangan lain. Dan mungkin saja pandangan yang dulu pernah ditinggalkan, dapat kembali dipegang karena dia sudah jauh lebih memahaminya setelah dia mengalami berbagai proses perubahan pola pikir

    Suka

  2. Setelah mempelajari filsafat, saya merasa bagaikan tlah memakan apel yg dulu di makan Adam dan Hawa. Saya merasa telanjang dan mulai mempertanyakan semua. Di satu sisi hal ini bagus karena saya lebih berkembang dari sebelumnya. Namun di satu sisi pula saya merasa org2 bertingkah konyol cth org yg fanatik agama dsb .Setelah org2 ini saya ajak diskusi mereka malah menganggap saya aneh (mungkin gila). Filsafat memberikan kemerdekaan berpikir tapi setelah saya perlahan-lahan “merdeka”, saya bingung harus apa dan kemana dgn hidup saya. Kalau dulu saya harus sukses secara materi, harus kaya dsb sekarang saya merasa hal tsb tidaklah sungguh berarti. Ada pertentangan dalam batin setelah saya belajar filsafat. bagaimana dengan bapak? Setelah belajar filsafat berpuluh-puluh tahun dan memperoleh bbrapa pemikiran dari para filsuf, bapak mau apa dan kemana dgn hidup bapak? trims

    Suka

    1. Pertentangan dalam batin terjadi, karena kita terjebak pada pikiran kita sendiri. Apa yang terjadi, ketika kita melepas pikiran kita? Yang muncul kemudian adalah pikiran sejati kita, yakni pikiran kita yang sesungguhnya. Kita terlepas dari kelekatan pada pikiran kita. Lalu, kita bisa menggunakan pikiran kita dengan bebas. Justru dengan melepaskan segala bentuk ide, pikiran dan pemahaman, kita bisa mencapai pemahaman yang sejati. Mau kemana hidup saya? Saya mau sepenuhnya berada disini dan saat, kapanpun dan dimanapun. Itu tujuan tertinggi hidup saya. Tertarik mencoba?

      Suka

  3. Pak Reza, minta pendapatnya; di blog bpk di atas ada pendapat: “ideologi adalah kekerasan berpikir yang menjadi sumber dari segala permasalahan dan penderitaan di muka bumi ini”
    Apakah berarti ideologi itu tidak baik atau tidak ada yg baik ? Terima kasih atas artikel yg menarik ini ya,pak 🙂

    Suka

    1. Ideologi adalah pemikiran yang mengeras. Ia tidak toleran terhadap perbedaan. Dunia terus berubah. Ideologi menyangkal itu, dan kemudian mencoba mengubah dunia sesuai dengan pandangannya. Ini tentunya bermasalah. Ideologi adalah fanatisme terselubung rumusan konseptual.

      Suka

    1. Kita perlu berpikir, tetapi jangan berlebihan dalam berpikir. Kita perlu menganalisis, tetapi jangan berlebihan. Disinilah letak pentingnya meditasi. Ia memberikan keseimbangan hidup bagi para filsuf.

      Suka

  4. halo pak eza, senang kenalan sama bapak, pak say mahasiswa hukum semester akhir di salah satu pts di makassar, tapi rupanya saya tidak terlalu begitu tertarik dengan jurusan ini, akhir akhir ini saya lebih suka filsafat, saya mulai membaca buku pengantar filsafat tulisan lois o. kattsoff, tapi saya menemukan kesulitan dalam memahami isi buku ini, istialhnya di dalamnya masih banyak yg asing bgi saya, sya benar benar awam soal filsafat, dan rencananya saya ke S2 filsafat driakara, tapi saya ragu, saya tidak tau apa apa tentang filsafat,, dan kalau kita ambil filsfat S2, dari ijasah S1 jurusan lain, bisaka??, kalau bisa, apakah disitu masih belajar dasar dasar fisafat??
    mohon penjelasannya pak, thanks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s