Ini juga Belum Selesai

Pinterest

Oleh Reza A.A Wattimena

Setiap manusia memiliki satu kerinduan dasar, yakni rindu akan kesempurnaan. Ia ingin hidupnya sempurna. Ia ingin semuanya terjadi sesuai keinginannya. Muda kaya raya, dan mati masuk surga, begitu katanya.

Namun, kerap kali, kerinduan ini jugalah yang menjadi sumber masalah kita. Hidup ternyata tak pernah sempurna. Upaya untuk menjadi kaya raya tak semudah membalik telapak tangan. Kita bisa menderet kisah kegagalan orang yang sebelumnya dianggap kaya raya.

Surga juga masih jauh dari genggaman. Tidak ada yang tahu pasti, apakah surga ada, atau tidak. Pun orang-orang yang beriman tidak mau cepat-cepat menuju kesana. Mereka ternyata juga takut mati.

Tegangan antara apa yang kita inginkan dan apa yang kita dapatkan inilah yang menjadi sumber penderitaan hidup. Di dalam bahasa Jerman, ini disebut juga sebagai Weltschmerz, yakni rasa sakit dunia. Setiap orang mengalaminya. Kerinduan akan kesempurnaan dihantam dengan petaka dunia yang menghasilkan derita.

Setiap orang ingin menjadi pribadi yang sempurna. Ia ingin kuat, cerdas dan sehat. Ia juga ingin tampil cantik atau tampan, supaya lebih mudah mendapatkan kekasih. Sayangnya, keinginan tersebut ditabrak dunia nyata, bahwa orang tidak selalu bisa kuat dan sehat.

Ada waktunya, ketika orang merasa rapuh dan kesepian. Ia menjadi lemah. Ada waktunya, orang merasa bodoh, terutama ketika tenggelam dalam kisah cinta. Ada waktunya, ketika penyakit berkunjung, dan memaksa orang terikat di tempat tidur, lalu tenggelam dalam kesepian.

Setiap orang juga ingin memiliki kekasih yang sempurna. Pria ataupun wanita idaman yang mengerti dan memenuhi semua kebutuhannya. Pria ataupun wanita yang selalu hadir, ketika dibutuhkan. Pria ataupun wanita yang selalu setia dan siap berkorban demi kebaikan keluarga.

Semua kerinduan tersebut lenyap, ketika dunia nyata datang mengetuk. Kekasih yang kita cintai kerap kali sangat egois, dan tak peduli pada kebutuhan kita. Ia tak pernah hadir, ketika dibutuhkan. Bahkan, ia berselingkuh, dan rela meninggalkan keluarganya.

Pola yang sama bisa ditemukan di beragam bidang kehidupan manusia, mulai dari harapan tentang karir yang sempurna, sampai dengan perdamaian dunia yang tak pernah kunjung tiba. Kerinduan akan yang sempurna ditabrak dengan dunia nyata, sehingga melahirkan derita. Jika orang tak sadar akan hal ini, ia akan terus terjatuh kembali ke dalam derita yang sia-sia. Para pemikir Buddhis punya istilah untuk keadaan ini, yakni Samsara.

Mungkin, kita memerlukan pemahaman baru tentang apa artinya kesempurnaan. Kita perlu melihat kesempurnaan bukan sebagai keadaan yang tetap dan sudah selesai, melainkan sebuah sebuah proses. Kesempurnaan dipahami ulang dari kata benda “sempurna” menjadi kata kerja“menuju sempurna”. Dengan kata lain, kesempurnaan adalah sesuatu yang belum selesai.

Jika kita memahami kesempurnaan sebagai sesuatu yang belum selesai, kita akan bersabar, ketika harapan kita tidak sejalan dengan kenyataan. Ketika kekasih kita berkhianat, kita akan sadar, sebuah hubungan yang sempurna pun tidak akan pernah selesai. Mungkin, kita bisa berbaikan, atau berpisah dengan damai sebagai orang dewasa. Ketika karir kita berantakan, kita juga bisa tetap sadar, bahwa ini pun belum selesai.

Kata ini, “ini juga belum selesai”, lalu  menjadi mantera kehidupan baru. Kita tak lagi merindukan kesempurnaan mutlak, dan kemudian jatuh ke dalam kekecewaan. Kita menjadi lebih dewasa menyingkapi berbagai peristiwa yang terjadi. Sambil membaca tulisan ini, anda bisa berkata di dalam hati: tulisan ini pun.. belum selesai…

Pencarian anda juga belum selesai…

 

 

 

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

8 thoughts on “Ini juga Belum Selesai”

  1. “ini juga belum selesai” bisa di mengerti dengan “tidak ada permulaan dan achir”, seperti arus sungai.
    kita semua machluk sudah sempurna , hanya ikatan2 dalam kepala yg menghindari kita untuk menyadari kesempurnaan kita.
    nah, disinilah “rahasia” nya yang perlu kita pecahkan, kalau kita benar2 minat untuk mengalami apa arti nya”sempurna”
    salam hangat !!
    gasho

    Suka

  2. Seperti yang dikatakan plato yang berada dalam artikel anda sebelumnya. Bahwa cinta adalah menggenggam tanpa memiliki dan mencari tanpa pernah menemukan . Jujur hati saya terketuk saat membaca blog bapak. :’)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s