Menuju Perdamaian Dunia

Conceptual image of a mountain landscape held by a hand, flowing water cascading and tourist hiking . Ecology concept. This is a 3d render illustration

Oleh Reza A.A Wattimena

Pagi ini, 20 Mei 2025, tawuran besar terjadi di dekat rumah saya di Jakarta. Sekumpulan anak muda berkendara motor dan bersenjata tajam saling bertengkar. Suasana begitu kacau. Bahkan, polisi yang mencoba melerai juga diserang dengan batu dan petasan.

Hal ini sudah sering terjadi, dan tak pernah ada jalan keluar yang memadai. Di masa saya remaja, sekitar pertangahan tahun 1990-an, tawuran sudah menjadi tradisi. Kerap kali, tak ada sebab yang jelas. Bahkan, ketika pulang sekolah, saya sempat terjebak di tengah tawuran pelajar yang sedang terjadi. Lanjutkan membaca Menuju Perdamaian Dunia

Indonesia, Dunia dan Entropi

Oleh Reza A.A Wattimena

Indonesia diterangi matahari kembar. Karena begitu panas, dua matahari ini membakar segalanya. Yang hangus terbakar tidak hanya keadaan ekonomi, tetapi juga kepercayaan rakyat. Drama kekuasaan juga mendorong amarah rakyat yang bisa bermuara pada revolusi berdarah.

Yang juga terbakar hangus adalah upaya pemberantasan korupsi. Masyarakat terpesona oleh isu-isu murahan, lalu melupakan monster ini. Padahal, musuh terbesar negeri ini adalah korupsi, yakni pembusukan hidup politik dan moral bangsa. Ketika ia dilupakan, monster ini akan siap memangsa habis harapan bangsa. Lanjutkan membaca Indonesia, Dunia dan Entropi

Agama, Kurban Hewan dan Persaudaraan Kosmik

(Potongan Tulisan dalam buku Hewan dan Ritus Agama)

Oleh Reza A.A Wattimena, Pendiri Rumah Filsafat; Pengembang Teori Transformasi Kesadaran, Agama, Politik dan Etika Natural Empiris

Sudah ribuan tahun, ritus agama identik dengan pengorbanan. Darah hewan tertumpah sebagai tanda kepatuhan manusia pada Tuhannya. Bahkan, di beberapa tempat, darah manusia dijadikan sarana kurban untuk sang pencipta. Di abad 21, praktek-praktek ini sungguh dipertanyakan, terutama karena perkembangan kesadaran manusia di seluruh dunia.

Di Indonesia, setiap hari raya Idul Adha, umat Islam melakukan korban hewan. Ini dilakukan sebagai tanda ketakwaan manusia pada Tuhan, sekaligus saat untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan daging kurban. Dengan perkembangan kesadaran, diikuti dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu pesat, apakah praktek ini masih relevan? Ada tiga pandangan dasar yang dijabarkan oleh Deny JA di dalam tulisannya yang berjudul Akan Menguatkah? Tafsir yang Tak Lagi Harus Hewan Dijadikan Kurban Ritus Agama, Renungan Idul Adha. Lanjutkan membaca Agama, Kurban Hewan dan Persaudaraan Kosmik

Buku Terbaru Karangan Bersama: Hewan dan Ritus Agama

Menjelang Hari Raya Idul Adha pada September 2014, masyarakat DKI Jakarta dihebohkan dengan spanduk-spanduk yang berjajar di banyak trotoar. Spanduk itu berisi larangan berjualan hewan kurban pada jalur hijau, taman kota, trotoar, dan fasilitas umum. Bau khas kambing dan sapi kurban di jalan-jalan Jakarta tak lagi dijumpai tahun itu.

Ternyata tak hanya itu. Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 67 tahun 2014 tentang “Pengendalian, Penampungan, dan Pemotongan Hewan” juga melarang melakukan pemotongan hewan di sekolah-sekolah, masjid, dan rumah-rumah. Pemotongan hewan kurban diarahkan untuk dilakukan hanya di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Lanjutkan membaca Buku Terbaru Karangan Bersama: Hewan dan Ritus Agama

New Book: Theory of Consciousness Transformation and Its Developments

This book is a compilation of four theories I have developed over time. They include the theory of consciousness transformation, the theory of religious typology, the theory of inclusive progressive politics, and the theory of empirical natural ethics. These theories are rooted in my research in philosophy, politics, and neuroscience over the past two decades. The translation to English of this book is done by artificial intelligence.

Happy reading — may you find insight and illumination within.

Pekanbaru, May 2025

Reza A.A Wattimena

Please download here: English Version

Antara Kesepian dan Kesendirian

illustration of mind prison surreal abstract concept

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu belakangan, tiga teman berkabar ke saya. Mereka banyak bercerita tentang hidup mereka. Satu hal yang sama, yakni mereka dilanda kesepian akut. Di tengah ketidakpastian politik ekonomi dunia, bahkan justru di tengah keberhasilan karir yang mereka bangun, mereka merasa sepi.

Ada yang kesepiaannya begitu mencekam. Kesedihan menjadi bagian utuh dari kesehariannya. Segalanya seolah menjadi tak bermakna, dan bahkan menyakitkan dada. Ada yang hendak memutuskan untuk bunuh diri. Lanjutkan membaca Antara Kesepian dan Kesendirian

Membusuknya Dunia Perguruan Tinggi Indonesia

illustration of man burying head under the ground, minimal humorist ironic concept

Oleh Reza A.A Wattimena

Rismon Sianipar, ahli teknik elektro lulusan Jepang dengan ratusan karya ilmiah, terus bersuara terkait pemalsuan Ijazah Jokowi. Ia berharap, bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) berani mengajukan bukti-bukti ilmiah dan siap berargumentasi secara rasional untuk kasus ini. Rismon melanjutkan, bahwa universitas adalah tempat pencarian kebenaran ilmiah. Ia harus bebas dari politik korup khas penguasa busuk. Lalu, UGM mengajukan argumen-argumen dangkal, dan kemudian membisu.

Hal serupa terjadi di Universitas Indonesia (UI) dengan skandal yang melibatkan Bahlil. Tipu daya menjadi jurus untuk lulus. Para dosen dan pejabat kampus ikut serta terlibat di dalam kebusukan yang terjadi. Walaupun terbukti berbuat curang dengan berbagai kejanggalan yang penuh kebusukan, Bahlil tetap diperbolehkan tercatat sebagai mahasiswa, dan melanjutkan studi doktoralnya. UI juga diam membisu… Lanjutkan membaca Membusuknya Dunia Perguruan Tinggi Indonesia

Tak Perlu Memaafkan (ataupun Dimaafkan)

Oleh Reza A.A Wattimena

Saya menerima pesan dari seorang teman. Tanpa alasan, ia meminta maaf. Ia merasa telah banyak merepotkan saya. Ia merasa bersalah, karena tidak bisa memberikan balasan yang sepadan.

Pesan ini memicu pemikiran reflektif saya. Mengapa orang meminta maaf? Mengapa orang ingin dimaafkan? Mengapa kita, kerap kali dipaksa, juga perlu memaafkan? Lanjutkan membaca Tak Perlu Memaafkan (ataupun Dimaafkan)

Publikasi Ilmiah Terbaru; Dasar Terdalam Pengetahuan: Kesadaran Diri dan Akal Budi di dalam Filsafat Immanuel Kant

Oleh Reza A.A Wattimena

DITERBITKAN DI THE ARY SUTA CENTER SERIES ON STRATEGIC MANAGEMENT  April 2025 VOLUME 69

Abstrak

Tulisan ini membahas kaitan antara kesadaran diri dan akal budi di dalam pemikiran Immanuel Kant. Latar belakang filsafat Kant akan dijelaskan. Lalu, pandangannya tentang kesadaran diri akan dipaparkan. Kajian tentang kesadaran diri dan akal budi terdapat di dalam epistemologi Kant. Pandangan utama Kant adalah, bahwa kesadaran diri merupakan dasar terdalam dari pengetahuan manusia. Dari kesadaran diri, konsep diri-aku bisa berkembang, dan akal budi bisa digunakan untuk mencapai pengetahuan. Kant menyediakan pijakan awal bagi kajian neurosains tentang kesadaran diri.

Kata-kata Kunci: Kesadaran Diri, Akal Budi, Konsep Diri, Konsep Aku, Appersepsi, Pengetahuan

Silahkan diunduh disini: Jurnal Reza, Kant Akal Budi dan Kesadaran Diri

Politik sebagai Transformasi Kesadaran

Oleh Reza A.A Wattimena

Pertengahan April 2025, saya berpergian dari Ubud menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai di Kuta, Bali. Di perjalanan, seperti biasa, saya mengobrol santai dengan supir. Ia adalah warga Sleman, Yogyakarta yang kini merantau ke Bali. Bersama istrinya, mereka mencari rejeki di Pulau Dewata ini.

Baru dua bulan ini, ia menjadi supir. Sebelumnya, ia adalah seorang kontraktor alat-alat berat. Ia mendirikan perusahaan di Balikpapan, Kalimantan. Salah satu kontrak terbesarnya berasal dari proses pembangunan IKN (Ibu Kota Nusantara) yang menjadi ambisi buta penguasa Indonesia sebelumnya. Lanjutkan membaca Politik sebagai Transformasi Kesadaran

Seni menjadi Mangkok

Oleh Reza A.A Wattimena

Dua minggu ini, akhir Maret 2025, ketika orang sibuk libur Lebaran, saya melakukan begitu banyak kegiatan. Ada kegiatan yang sungguh saya nikmati, seperti misalnya menulis, bermusik dan mengajar. Namun, ada kegiatan-kegiatan yang wajib dilakukan, kerap dengan penuh keterpaksaan.

Akibatnya, tubuh dan pikiran saya menjadi begitu lelah. Begitu banyak hal yang mesti dipikirkan dan dikerjakan, nyaris secara bersamaan. Persis awal April 2025, terutama karena kelelahan, semua itu meledak. Emosi saya meluap, dan saya berkonflik besar dengan salah seorang kawan. Lanjutkan membaca Seni menjadi Mangkok

Raungan-raungan Keterbelakangan

Oleh Reza A.A Wattimena

Jakarta, Maret 2025, waktu menunjukkan jam 8 malam. Cuaca cerah, disertai angin semilir yang menciptakan rasa nyaman. Saya berdiri di tepi lapangan sepak bola kecil di daerah Jakarta Selatan, menikmati malam yang syahdu. Tiba-tiba, ada suara orang meraung keras, seperti sedang marah-marah.

Suara itu keluar dari kampung terdekat. Orang yang berteriak menggunakan bahasa asing yang tak saya kenali. Ia seperti meracau, layaknya orang gila. Suaranya merusak telinga. Keindahan malam rusak oleh raungan tersebut. Lanjutkan membaca Raungan-raungan Keterbelakangan

Buku Teori Transformasi Kesadaran dan Pengembangannya

Karya Reza A.A Wattimena

Buku ini adalah kumpulan empat teori yang saya kembangkan. Ada empat teori, yakni teori transformasi kesadaran, teori tipologi agama, teori politik progresif inklusif dan etika natural empiris. Pijakannya adalah penelitian saya di bidang filsafat, politik dan neurosains selama lebih dari dua puluh tahun. Selamat membaca, dan semoga menemukan pencerahan.

Jakarta, Maret 2025

Reza A.A Wattimena

Silahkan diunduh: Teori Transformasi Kesadaran dan Pengembangannya

Buku ini saya sebarkan secara gratis. Jika tertarik, anda bisa berdonasi di Rekening BCA (Bank Central Asia) 0885100231 atas nama Reza Alexander Antonius. 

Buku Terbaru: Etika Natural Empiris

Karya Reza A.A Wattimena

Buku tipis ini lahir dari salah satu kuliah umum yang saya berikan di awal Maret 2025. Saya memberikan kuliah soal Filsafat Asia, terutama terkait dengan konsep kesadaran. Ini juga terhubung dengan Teori Transformasi Kesadaran yang saya kembangkan sejak 2023 lalu.[1] Saya merasa perlu merumuskan suatu bentuk etika yang terkait dengan transformasi kesadaran, sekaligus relevan dengan keadaan kita sekarang ini.

Teori transformasi kesadaran sudah saya kembangkan di ranah politik dan agama. Kini, visi yang sama dikembangkan di ranah etika. Bisa juga dibilang, etika natural empiris adalah anak kandung dari teori transformasi kesadaran dalam ranah etika. Di dalam sejarah filsafat secara umum, etika natural empiris terlibat di dalam diskursus filosofis yang dikembangkan oleh teori kritis Frankfurt, terutama terkait konsep rasionalitas.[2] Lanjutkan membaca Buku Terbaru: Etika Natural Empiris

Memulihkan Diri, Negeri dan Bumi

Oleh Reza A.A Wattimena

Hari itu, sekujur tubuh saya terasa lelah. Begitu banyak kegiatan yang dilakukan. Begitu banyak orang yang ditemui. Kekacauan lalu lintas Jakarta juga memperlemah tubuh.

Karena begitu lelah, saya tak lagi memiliki energi, ketika sampai di rumah. Seluruh tubuh terasa letih. Bahkan, saya tak lagi mampu melakukan meditasi formal. Saya hanya ingin mandi, lalu beristirahat. Lanjutkan membaca Memulihkan Diri, Negeri dan Bumi

Provokasi Revolusi dan Kesadaran Kita

Oleh Reza A.A Wattimena

2025 ini, Indonesia semakin kacau. Sebenarnya, ini bukan kejutan. Saya pernah menulis ini di 2024 lalu. Persis setelah rezim gemoy fufufafa terpilih, saya meramalkan, jika kita akan memasuki masa kegelapan.

Ramalan saya benar. Ini sebenarnya bukanlah ramalan yang berakar pada kesaktian. Sedikit pengamatan dengan akal sehat akan membawa kita pada kesimpulan serupa. Sampai Maret 2025 ini, deretan kasus korupsi yang menyakitkan hati, bencana banjir akibat kesalahan kebijakan serta berbagai keputusan bodoh rezim gemoy fufufafa, terus membakar amarah di batin rakyat. Lanjutkan membaca Provokasi Revolusi dan Kesadaran Kita

Menolak Menjadi Got Mampat

Oleh Reza A.A Wattimena

Sudah sekitar 24 tahun, saya berkendara di Jakarta. Terkadang, saya naik motor. Kadang, saya mengendarai mobil. Ada satu pengalaman yang terus berulang.

Saya seringkali dipotong oleh kendaraan lain. Mobil dan motor masuk ke depan kendaraan saya begitu saja. Terkadang, saya kaget. Kerap juga muncul rasa marah di dada. Lanjutkan membaca Menolak Menjadi Got Mampat

Zen dan Kesadaran, Jalan Sunyi Pembebasan dari Penderitaan dan Kebahagiaan

Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Oleh Reza A.A Wattimena

Akhir Februari 2025, saya berkendara di daerah Cawang. Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Begitu banyak kendaraan di jalan. Kemacetan besar pun tak terhindarkan.

Di tengah kemacetan, saya kaget. Ada motor kencang sekali melewati jalan pejalan kaki. Ia mengebut di tengah trotoar. Ada polisi di sekitar. Namun, mereka diam saja, seolah tak melihat, dan tak peduli. Lanjutkan membaca Ketika Kata tak Lagi Bermakna

Meresapi Ketidaktahuan

Oleh Reza A.A Wattimena

Di 2025, ketika Indonesia diterkam kegelapan, banyak orang bertanya, bagaimana dengan nasib kita? Apakah Indonesia akan terus miskin dan terbelakang, seperti sekarang? Apakah ketidakadilan akan terus terjadi pada mayoritas warga Indonesia, seperti sekarang ini? Jawaban jujur atas ini semua: tidak ada yang tahu.

Jangankan masa depan bangsa, atau dunia, masa depan saya pribadi juga tidak bisa diketahui. Saya…tidak… tahu. Saya bisa mengajukan banyak pandangan soal masa depan saya. Namun, itu semua hanya spekulasi. Sejujurnya, saya tidak tahu… Lanjutkan membaca Meresapi Ketidaktahuan