Rasa Takut

rsconnett
rsconnett

Akar dan Obat dari Rasa Takut

Oleh Reza A.A Wattimena

Semua orang pasti pernah merasa takut. Saya pernah merasa takut. Anda juga pasti pernah merasa takut. Takut menjadi bagian hidup manusia dari seluruh jaman.

Padahal, rasa takut adalah benda paling jahat di dunia. Ia membuat orang khawatir berlebihan akan hidupnya. Pikirannya kacau. Badannya pun juga ikut sakit.

Orang menderita, karena diterkam rasa takut. Hidupnya bagai di neraka. Orang yang merasa takut juga cenderung jahat pada orang lain. Ia gampang marah, dan gampang berbuat kasar.

Pada tingkat yang lebih tinggi, rasa takut juga menciptakan perang. Kelompok yang satu khawatir, bahwa kelompok lainnya akan menyerang dia. Maka, ia menyerang duluan. Perang pun meletus.

Pada tingkat pribadi, rasa takut menciptakan penyakit jiwa. Deretan penyakit jiwa muncul, karena orang merasa takut. Rasa takut juga mendorong orang berbuat yang aneh-aneh. Pada kasus yang parah, rasa takut mendorong orang untuk melakukan bunuh diri.

Apa itu rasa takut? Mengapa orang merasa takut? Bagaimana cara melampaui rasa takut? Inilah pertanyaan-pertanyaan penting untuk hidup setiap orang.

Rasa Takut

Rasa takut adalah perasaan tegang di dalam pikiran, karena kemungkinan akan kehilangan sesuatu. Sesuatu itu bisa berupa harta, reputasi atau hidup. Rasa takut biasanya timbul, karena perasaan terancam. Ada yang mengancam harta kita, reputasi kita atau hidup kita, sehingga kita lalu merasa takut.

Akar rasa takut, sejatinya, adalah kesalahan berpikir. Kita mengira, sesuatu itu abadi. Maka, kita lalu menggantungkan hidup kita pada sesuatu itu, entah uang, reputasi atau pekerjaan kita. Kita mengira, semua itu adalah kebenaran sejati yang akan ada selamanya.

Kita mengira, dunia itu ada. Kita mengira, uang itu ada. Kita mengira, reputasi itu ada. Padahal, jika dipikirkan lebih dalam, segala sesuatu itu kosong. Ia ada, karena pikiran kita semata.

Kita juga mengira, kita ini ada. Kita mengira, reputasi kita adalah segalanya. Kita mengira, karir kita adalah segalanya. Padahal, jika dicari lebih dalam, kita tidak akan menemukan sesuatu yang utuh dan abadi di dalam diri, reputasi ataupun karir kita. Semuanya fana dan sementara, bagaikan bayangan.

Kita ditipu oleh pikiran kita sendiri. Pikiran kita menciptakan segalanya, dan kita mengira, itu semua sebagai benar, utuh dan abadi. Padahal, pikiran kita itu rapuh. Ia bisa berubah, dan bahkan lenyap.

Melampaui Rasa Takut

Obat paling manjur untuk rasa takut adalah dengan menyadari, bahwa segala sesuatu itu kosong, bagaikan bayangan. Dunia itu kosong. Diri kita itu kosong. Yang ada hanyalah ruang hampa yang besar dan mencakup semuanya.

Tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Semuanya adalah “apa adanya”. Tidak baik, tidak buruk, tidak benar, tidak salah, semuanya hanya “apa adanya”.

Jika obat “kekosongan” ini diminum, kita akan bebas dari rasa takut. Kita tidak akan menderita secara batin ataupun badan. Kita juga tidak akan membuat orang lain susah. Kita hanya hidup saat demi saat dengan kejernihan dan kedamaian hati.

Jika lapar, maka kita makan. Jika haus, maka minum. Jika lelah, maka tidur. Semuanya dilakukan dengan kesederhanaan, tanpa rasa takut.

Kesadaran akan kekosongan dari segala sesuatu adalah kebijaksanaan tertinggi. Orang yang menyadarinya akan bebas dari rasa takut. Bebas dari rasa takut berarti bebas dari penderitaan. Bebas dari penderitaan berarti hidup yang penuh dengan kedamaian, kejernihan dan cinta untuk semua.

Jadi, tunggu apa lagi?

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

10 thoughts on “Rasa Takut”

  1. Saya senang membaca tulisan bapak, terimakasih sudah banyak berbagi pak….ijinkan saya bertanya…Bagaimana membedakan rasa takut yang diakibatkan trauma sebagai contoh : berkali-kali diperlakukan tidak sesuai/dihina/dicacimaki, dipermalukan didepan orang (terlebih konteks yang disampaikan adalah ketidakbenaran itu sendiri) mengasosiasikan menjadi kebenaran sendiri sudah dilakukan, refleksi diri, tetapi karena terjadi berulang akibatnya menjadi trauma (seolah-olah cara tersebut sudah tidak lagi mempan, terlebih ketika saya sudah sampai pada titik netralitas)…apa yang harus dilakukan dalam menyikapi ini pak?

    Suka

    1. salam kenal ya… cuma satu jalannya: sadari semua perasaan yang muncul di dalam diri, namun jangan ditolak atau dinilai… cukup disadari.. semua perasaan akan datang.. dan ia akan pergi… ini berlaku untuk semua perasaan… perasaan itu seperti bau kentut.. ia datang.. bau.. dan kemudian pergi… jangan ditolak, dan jangan dicari… semoga membantu ya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s