Agama dan Perdamaian Dunia

World-Peace[1] Filsafat- Dua ahli Islam yang berasal dari Kairo, yakni Fr. Emilio Platti dan Fr. Jean-Jacques Perennes, datang ke Fakultas Filsafat pada Senin, 22 November 2010. Para mahasiswa, dosen, dan beberapa peserta dari luar universitas datang untuk berdiskusi dengannya.

Di dalam diskusi ini, ada dua poin yang penting untuk ditegaskan. Pertama, kita harus bersama mengusahakan perdamaian dunia, dan itu hanya dapat dilaksanakan melalui perdamaian antar agama. Untuk itu kita perlu menemukan titik tolak yang sama, dan titik tolak itu adalah kebaikan hati, kasih, kebahagiaan, dan kepenuhan hidup manusia yang merupakan cita-cita semua agama.

Fr. Platti juga menjelaskan isi buku terbarunya yang berjudul Islam: Kawan atau Lawan?. Sebelumnya buku itu telah diluncurkan di Universitas Islam Nasional Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Kedua, ia juga menjabarkan Wahabisme, yakni paham di dalam Islam yang ingin kembali menerapkan hukum-hukum secara harafiah tanpa tafsiran kontekstual, dan mengajak kita semua untuk menanggapinya secara kritis. Atmosfir akademik yang tinggi mewarnai diskusi yang bermutu ini. (RAW)

Diskusi Bioetika: Filsafat dan Kedokteran

 

AlperFilsafat- Prof. W.F Maramis Sp.Kj memberikan pemaparan soal masalah-masalah bioetika dewasa ini da-am diskusi terbuka yang dilaksanakan bersama Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya pada Sabtu 29 Januari 2011 Pk. 08.00-10.30. Ia memaparkan berbagai kemajuan di bidang kedokteran dewasa ini, mulai dari inseminasi buatan, penciptaan kecerdasan buatan, rekayasa genetika, transplantasi organ, donor organ dari mayat, penjualan organ tubuh, euthanasia, problematik sel punca, kloning, aborsi dalam kasus-kasus cacat bawaan, terapi kanker pada wanita hamil, sampai permasalahan moral yang lahir dari semua kemajuan tersebut.

Pertanyaan penting yang perlu untuk dijawab adalah, apakah fakta bahwa dunia medis bisa melakukan itu semua, berarti semua itu boleh dan bisa dilakukan? Jika ya mengapa? Jika tidak mengapa? Fakultas Filsafat ditantang untuk bisa mengajukan pemikiran untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan berpijak pada penalaran rasional.

Reza A.A Wattimena dari Fakultas Filsafat mengajukan argumentasi dengan berpijak pada Filsafat Moral Kant. Bagi Reza prinsip utama bioetika adalah martabat manusia. Artinya manusia harus selalu menjadi tujuan pada dirinya sendiri, dan tidak boleh menjadi semata alat bagi tujuan-tujuan lain di luar dirinya sendiri. Seluruh kemajuan dan penerapan di dalam dunia kedokteran harus selalu berpijak pada prinsip tersebut. Jika tidak sesuai maka beragam kemajuan itu tidak pernah boleh diterapkan.

Peter Manoppo dari Rumah Sakit Darmo juga mengajukan pendapat. Baginya prinsip utama adalah keadilan. Setiap kemajuan boleh dilakukan, selama itu menjamin keadilan bagi setiap orang yang terkena dampaknya. Bagi Prof. Maramis walaupun kedua argumen itu berbobot, namun belum mampu mengajukan jawaban yang cukup tegas. Maka kita perlu berdiskusi lebih lanjut.

Diskusi berikutnya akan dilaksanakan pada Februari 2011 di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Tunggu tanggal mainnya! (RAW)

Tentang Guru yang Lupa

teacher-300x249

Tentang Guru yang Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tidak ada tawa pada wajahnya. Yang ada hanya muka merengut nan menyiksa jiwa. Tatapannya membuat oarang terpana. Suasana suram yang diciptakannya.

Itulah figur guru dewasa ini. Ia tidak lagi menawarkan inspirasi. Yang ditawarkannya kepada murid hanyalah beban diri. Itu terbukti dari “dentuman” soal dan penilaian yang jauh dari kebijaksanaan nurani.

Keterpaksaan

Para guru sebenarnya sadar, bahwa mereka telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami ditekan keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun tetap berubah menjadi birokrat, karena keterpaksaan.

Sosok semacam ini banyak kita temukan di Indonesia. Guru melepaskan peran esensialnya, dan berubah menjadi birokrat tanpa jiwa. Mereka sadar namun keadaan memaksa. Yang menjadi korban adalah para murid yang tidak lagi mencicip pendidikan yang bermakna.

Yang para guru butuhkan adalah sedikit keberanian dan kecerdasan. Mereka perlu menginspirasi kehidupan dan tidak boleh terjebak pada rutinitas birokrasi yang menyesakkan. Kecerdasan diperlukan untuk bersikap lentur pada birokrasi, dan tetap menjalankan peran guru yang menghidupkan. Di tangan para gurulah masa depan bangsa ditentukan.

Krisis Visi

Di sisi lain banyak pula guru yang tidak memahami esensi pendidikan. Mereka menjadi guru bukan karena terpanggil, tetapi karena kebetulan yang tak direncanakan. Akibatnya mereka pun asal bekerja. Guru macam ini mudah sekali berubah menjadi birokrat yang mirip robot tanpa jiwa.

Di Indonesia kita juga banyak menemukan guru semacam ini. Mereka belajar tentang pendidikan, tetapi tidak sungguh memahami semangat di belakangnya. Mereka sekedar melanjutkan pendidikan, tanpa sungguh berpikir, apakah ini panggilan hidupnya. Mereka terjebak di dalam bidang yang tidak bermakna bagi hidupnya.

Ini salah satu kelemahan pendidikan kita. Orang tidak diajak untuk mengenali diri, dan mengikuti panggilan hidupnya. Akibatnya banyak orang terjebak pada bidang kehidupan yang tidak bermakna bagi dirinya. Mereka asal-asalan bekerja, dan semuanya menjadi percuma.

Namun tidak pernah ada terlambat untuk mereka. Pintu kehidupan selalu terbuka. Jika bukan panggilan orang bisa meninggalkan profesi pendidik, dan mencari jati dirinya. Hanya dengan begitu hidupnya menjadi penuh dan bermakna. Mungkin dengan begitu pula, ia bisa sungguh merasa bahagia.

Pengaruh Hegemoni

Manusia hidup dalam lingkaran hegemoni. Hegemoni membuat orang dikuasai, tanpa ia merasa tertindas, atau dikuasai. Hegemoni membuat suatu perintah menjadi wajar, dan tidak dipersepsi sebagai keterpaksaan diri. Hegemoni masuk ke dalam cara berpikir seseorang, sampai ia tidak sadarkan diri, bahkan ketika melakukan apa yang melanggar nurani.

Di Indonesia hegemoni cara berpikir instrumental sangatlah perkasa. Cara berpikir instrumental mencegah orang bersikap kritis, dan hanya terjebak pada permukaan teknis semata. Mereka melakukannya tetapi tidak sadar akan perbuatannya. Inilah kekuatan hegemoni yang menghipnotis jiwa.

Yang diperlukan untuk menantang hegemoni adalah cara berpikir kritis. Dengan kemampuan ini orang diajak untuk mempertanyakan cara berpikirnya sendiri secara sistematis. Ia diajak untuk mengolah dirinya sendiri, sehingga bisa keluar dari hegemoni, dan melakukan segala sesuatu dengan kesadaran diri yang utuh. Minimal cara berpikir kritis membuat orang sadar, bahwa dirinya hidup dalam hegemoni, sehingga bisa mengambil jarak darinya, walaupun tidak secara menyeluruh.

Konformitas

Jika para guru ditanya, mengapa mereka menjadi birokrat, kebanyakan mereka akan menjawab, karena semua guru melakukannya. Itulah ciri khas sikap konformis. Orang terjebak melakukan sesuatu, karena semua orang melakukannya. Ia tidak lagi berpikir, karena dikepung oleh mentalitas massa.

Kita bisa menemukan banyak orang semacam itu di Indonesia. Mereka bekerja dan tenggelam dalam rutinitas, tanpa dasar yang kokoh, kecuali sekedar ikut-ikutan semata. Kita menjadi latah dan kemudian tenggelam dalam keadaan. Korupsi dan segala bentuk kejahatan lainnya banyak lahir dari sikap konformis tanpa pikiran.

Konformitas tanpa dasar adalah gejala yang amat berbahaya. Tidak perlu orang jahat untuk melakukan kejahatan besar, cukup orang yang tidak berpikir, dan bermental konformis sejati. Sikap adaptif memang baik, namun tanpa sikap kritis dan reflektif, sikap adaptif akan berubah menjadi sikap konformis yang menjilat pada kekuataan massa semata. Tidak heran orang bisa berubah sekejap mata menjadi penyiksa, ketika ia berada di kepungan para penyiksa.

Guru adalah pelita hati bangsa. Mereka mengarahkan ketika kita semua tersesat di perjalanan. Mereka membawa terang bagi anak-anak masa depan bangsa. Peran yang amat manusiawi ini tidak boleh lenyap, karena guru lupa akan peran sejatinya.

Guru tidak pernah boleh menjadi birokrat pendidikan!

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Opera Van Java dan Filsafat Nietzsche

kakashicosplay Opera Van Java

Opera Van Java dan Filsafat Nietzsche

Oleh: SENTOSA

Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala Surabaya

Nama-nama artis seperti: Parto, Sule, Andre Taulani, Aziz ‘Gagap’ dan Nunung tidaklah asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Wajah-wajah mereka hampir tiap hari muncul di salah satu stasiun televisi nasional. Opera Van Java, demikian nama acara stasiun televisi tersebut. Ketika jam mulai menunjukkan pukul 20.00 BBWI, baik anak-anak maupun orang dewasa, mulai bersiap di depan layar televisi untuk mengikuti acara tersebut. Acaranya cukup menghibur mereka. Tampilan para bintangnya yang lucu, kreatif, spontan, bahkan tak jarang terkesan urakan memberikan suatu kelucuan tersendiri. Unik, adalah kata yang pas diberikan kepada acara Opera Van Java atau disingkat OVJ ini. Unik karena OVJ berbeda dengan acara-acara hiburan yang lain.

Apabila dibandingkan dengan acara-acara lawakan khas Indonesia yang lain, seperti Srimulat, Tawa Sutra, Ketoprak Humor, dan lain sebagainya, ada perbedaan yang cukup berarti. Perbedaan itu antara lain: dalam hal skenario. Dalam acara-acara seperti Srimulat dan Ketoprak humor, skenario yang mereka berikan cukup tersusun rapi. Walau tidak memungkiri akan adanya spontanitas dari para pemainnya, sang sutradara tetap memberikan draft skenario dialog yang dikatakan. Sedangkan dalam acara OVJ, para artisnya tidak disodori draft skenario dialog. Para pemeran acara tersebut hanya diberi tahu apa judul dan tokoh yang mereka perankan. Sedangkan untuk jalan ceritanya secara mendetail, para artisnya tidak tahu. Yang mengetahui konsep cerita secara mendetail adalah sang dalang, yang dalam hal ini ditampilkan oleh Parto. Sang dalang-lah yang mengendalikan jalannya cerita dan para tokohnya. Para artis hanya melakukan apa yang diperintahkan sang dalang. Dalam hal ini dibutuhkan kreatifitas yang cukup tinggi dari sang artis sehingga acara dapat berlangsung dengan menarik, lucu, menghibur, dan sesuai dengan konsep cerita.

Perbedaan yang lain adalah dalam setting panggung. Acara-acara seperti Srimulat, ketoprak humor, dan yang lain-lain, sering memberikan setting panggung yang standard-standard saja, seperti: meja, kursi, lemari. Demikian halnya dalam penampilan para artisnya, mereka sering menampilkan artis dengan kostum yang standard-standard saja. Berbeda halnya dengan acara OVJ. Dalam hal setting panggung, mereka memiliki beberapa tim kreatif yang bertugas menyusun, merancang, dan membuat setting panggung yang menarik, unik, dan tentunya sesuai dengan konsep cerita yang diangkat. Juga dalam hal kostum, acara OVJ juga memiliki tim yang bertugas secara khusus merancang dan membuat kostum bagi para artis sesuai dengan cerita yang diangkat.

Selain itu, masih ada satu keunikan lagi yang dapat dilihat dari acara OVJ ini. Keunikan tersebut adalah dalam hal perlakuan para artis terhadap barang-barang yang digunakan sebagai setting panggung. Para artis diberi kebebasan oleh konseptor acara untuk memukulkan, bahkan merusak settingan panggung. Tentu saja barang yang dirusak dan dipukulkan kepada artis lain tidaklah bertujuan untuk melukai orang lain. Bahan-bahan yang dipakai untuk settingan panggung adalah bahan-bahan yang terbuat dari stereoform atau dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan istilah gabus. Inilah keunikan acara OVJ dibandingkan acara-acara humor lainnya yang ada di Indonesia.

Jika kita melihat kehidupan kita sehari-hari, kita melihat bagaimana hidup manusia itu sadar atau tidak sadar ternyata diatur oleh suatu sistem. Manusia seperti suatu robot yang dikendalikan oleh situasi yang ada. Tuntutan masyarakat, yang muncul dalam aturan, kebiasaan, prestasi hidup, apa yang dianggap sebagai bernilai, seolah-olah mengatur kehidupan seorang individu. Hidup yang monoton, keharusan untuk menjalani hidup seperti apa yang dituntut oleh masyarakat membuat orang kurang berani untuk berekspresi. Orang mengalami ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru, unik dan kreatif.

Sikap spontanitas para artis, baik dalam hal berdialog, berakting, dan juga dalam kreatifitas untuk merusak settingan panggung, ini sangatlah menarik. Semuanya itu dilakukan para artis dengan tujuan untuk menciptakan suatu hiburan dan kelucuan yang baru dan segar. Cara para artis menghibur penonton, dan juga konsep acara OVJ yang unik ini menarik bagi saya untuk mendalami sisi filosofisnya. Dalam paper ini, saya berusaha untuk menganalisa acara OVJ ini dengan menggunakan kacamata Nietzsche dan aphorismenya. Ada suatu kebijaksanaan yang dapat diberikan melalui acara OVJ ini. Kebijaksanaan yang berusaha saya dalami dan gali melalui paper ini adalah mengenai realitas kehidupan. Kehidupan itu menjadi indah, unik, dan penuh kesegaran bila manusia menyadari akan spontanitas yang dapat mereka berikan bagi sesamanya.

Dari latar belakang permasalahan sebagaimana saya uraikan di atas, saya mencoba merumuskan suatu hipotesis untuk paper ini. Hipotesis yang saya berikan di bagian pendahuluan ini adalah: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif. Untuk menguji hipotesis tersebut, saya menggunakan teori Aphorisme dari seorang filsuf modern, yakni Nietzsche.

Riwayat Hidup Nietzche

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di kota Röcken pada tanggal 15 Oktober 1844.[1] Nietzsche dilahirkan dari pasangan suami isteri Carl Ludwig Nietzsche (1813–1849) dan Franziska Oehler (1826–1897). Ayah Nietzsche adalah seorang pendeta Lutheran. [2] Friedrich Wilhelm Nietzsche adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Adik-adiknya adalah Elisabeth Förster Nietzsche lahir pada tahun 1846 dan Ludwig Josep, lahir pada tahun 1848. Ayah Nietzsche meninggal pada tahun 1849 karena penyakit otak. Juga, Ludwig Josep, adiknya bungsu meninggal pada tahun 1850. Kemudian, keluarga tersebut pindah ke Naumburg, dimana mereka tinggal bersama keluarga nenek dari pihak ayah dan dua bibinya yang tidak menikah. Mereka tinggal di sana sampai kematian nenek mereka pada tahun 1856. Setelah itu, Friedrich Nietzsche dan keluarga pindah ke rumah mereka sendiri.

Selama masa pendidikannya pada periode tahun 1858 sampai 1864, Nietzsche memiliki waktu untuk belajar komposisi music dan puisi. Pada sekolahnya itu juga, Nietzsche menerima pengajaran mengenai kesusastraan, khususnya kesusastraan Yunani kuno dan Romawi. Setelah kelulusannya pada tahun 1864, Nietzsche memulai belajar teologi dan studi bahasa (philology) di Universitas Bonn. Akan tetapi, setelah menjalani pendidikan tersebut selama satu semester, Nietzsche berhenti kuliah teologi dan mulai kehilangan imannya. Kemudian Nietzsche fokus pada kuliah philology di bawah bimbingan Professor Friedrich Wilhelm Ritschl. Pada masa ini, kuliah dijalaninya di Universitas Leipzig pada tahun berikutnya, dan pada masa ini pula terbit karangan Nietzsche yang pertama dalam bidang philology.

Pada tahun 1865, Nietzsche mempelajari secara menyeluruh karya-karya Arthur Schopenhauer. Setelah membaca buku yang berjudul “Die Welt als Wille und Vorstellung”, mulai muncullah ketertarikan Nietzsche pada perkara-perkara filosofi. Pada tahun 1866, dia membaca karya Friedrich Albert Lange yang berjudul “History of Materialism”. Schopenhauer and Lange begitu mempengaruhi Nietzsche. Schopenhauer secara khusus berpengaruh pada perkembangan pemikiran Nietzsche pada masa-masa selanjutnya. Deskripsi Lange tentang filsafat anti materialistik dari Kant, kebangkitan jaman materialism di Eropa, perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, teori Darwin, semuanya itu menggugah pemikiran Nietzsche. Lingkungan budaya yang demikian itu menyemangatinya untuk terus memperluas pengetahuannya dalam philology dan melanjutkan studinya dalam filsafat.[3]

Karir dan Karya Nietzsche

Pada tahun 1869-1879 Nietzsche memulai bekerja sebagai pengajar philology klasik pada Universitas Basel. Kemudian pada tahun 1870-1871, Nietzsche terlibat pada perang Perancis melawan Prusia. Nietzsche menjadi anggota pasukan Prusia sebagai tenaga medis. Perang ini menimbulkan suatu efek trauma dalam diri Nietzsche. Dia juga terkena penyakit dipteri dan disentri. Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa Nietzsche juga terkena penyakit sifilis pada masa ini.[4]

Setelah kembali ke Basel pada tahun 1870, Nietzsche mengamati pendirian kekaisaran Jerman pada era Otto Von Bismarck. Di universitas ini pula, dia menerbitkan tulisannya yang berjudul “Homer and Classical Philology”. Pada tahun 1872, Nietzsche mengeluarkan bukunya yang pertama, yakni berjudul “The Birth of Tragedy”. Akan tetapi, koleganya, dalam ilmu philology klasik, kurang memberikan penghargaan kepada Nietzsche atas terbitnya buku ini. Kemudian di saat-saat selanjutnya, Nietzsche juga mengalami hambatan dalam komunitas philology. Ini disikapi Nietzsche dengan mencoba berkarir di bidang filsafat pada Universitas Basel, walau juga kurang sukses.[5] Pada periode tahun 1873-1876, Nietzsche menerbitkan 4 esai. Esai-esai tersebut memberikan suatu pemahaman mengenai kritis budaya, yakni mengenai tantangan dari perkembangan budaya Jerman. Esai ini dipengaruhi oleh pemikiran Schopenhauer and Wagner. Pada tahun 1873, Nietzsche memulai mengumpulan catatan-catatannya yang kemudian diterbitkan dengan judul “Philosophy in the Tragic Age of the Greeks”. Pada tahun 1876, Nietzsche berteman dengan Paul Ree, yang mempengaruhinya dalam membebaskan sikap pesimistis yang nampak dalam tulisan-tulisan awalnya.

Pada tahun 1878, Nietzsche menerbitkan buku berjudul “Human, All Too Human”. Buu ini menunjukkan reaksi Nietzsche melawan sikap filsafat pesimistis yang diajarkan oleh Wagner dan Schopenhauer. Pada tahun 1879, setelah terjadi penurunan secara signifikan atas kondisi kesehatannya, Nietzsche mengundurkan diri dari posisinya sebagai pengajar di Universitas Basel.

Periode besar yang kedua dalam hidup Nietzsche adalah periode tahun 1879-1889.[6] Dikarenakan penyakit yang dideritanya, Nietzsche berusaha mencari tempat yang memiliki iklim yang cocok dengan kondisi kesehatannya. Dia melakukan banyak perjalanan dan hidup sebagai pengarang lepas pada berbagai kota. Nietzsche menghabiskan waktunya pada musim panas di kota Sils Maria di negara Swiss. Pada musim dingin, Nietzsche berada di kota-kota di Italia, antara lain Genoa, Rapallo, dan Turin. Pada tahun 1881, Nietzsche juga merencanakan untuk berkunjung ke Tunisia. Tujuannya adalah dia ingin mengamati eropa dari luar. Akan tetapi, rencana ini dibatalkan. Kemungkinannya adalah karena factor kesehatan yang kurang mendukung.

Setelah menerbitkan buku berjudul “Human, All Too Humanpada tahun 1878, Nietzsche menjadi aktif dalam menerbitkan buku-buku sampai tahun 1888. Tahun 1888 merupakan tahun akhir penulisan bukunya.

Tragedi

Hidup Nietzsche penuh dengan tragedi. Sejak masa kecilnya, banyak penderitaan yang dialaminya. Mulai dari meninggalnya sang ayah pada usianya yang dini, kemudian disusul dengan berbagai macam penyakit pada tubuhnya. Banyak penyakit pernah diderita oleh Nietzsche, antara lain gangguan pada mata yang hampir menyebabkan kebutaan, migren, dan ketidakmampuan pada pencernaan untuk menerima makanan keras. Gangguan pada kesehatan terus dialami pada masa dewasanya. Pada tahun 1868, dia mengalami kecelakaan, dan juga pada tahun 1870 mengalami penyakit yang lumayan berat.

Pada bulan januari 1889, Nietzsche mengalami penyakit mental yang berat. Dia menjadi gila.[7] Kegilaan Nietzsche nampak dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Dia menulis surat kepada teman-temannya dengan menggunakan berbagai macam identitas, misalnya: Yang Tersalib, Ferdinand de Lesseps, dan lain sebagainya.[8] Kegilaan ini berlangsung sampai meninggalnya pada tanggal 25 Agustus 1900.

Aphorisme dan Filsafat Nietzsche

Karya dan pemikiran Nietzsche sebagian besar tidak disusun dalam sesuatu yang sistematis. Pemikiran-pemikirannya dibuat dalam bentuk aphorisme. Aphorisme berasal dari kata yunani aphorismos. Aphorisme adalah suatu pemikiran yang asli, apa adanya, yang diucapkan atau ditulis dengan singkat atau pendek-pendek yang mudah diingat.

Nietzsche menyukai metode aphorisme. Tulisan dan pemikirannya dituangkan berupa kalimat-kalimat pendek. Ada satu kesulitan yang ditimbulkan dalam pemikiran Nietzsche ini. Menurut Budi Hardiman, yang sangat sulit adalah mengerti maksud atau arti dari kalimat-kalimat tersebut. Budi Hardiman mengatakan: “Tulisan-tulisannya bukan hanya tidak membentuk sistem, melainkan juga mengandung pertentangan satu sama lain. Pemakaian aphorisme erat kaitannya dengan penolakan Nietzsche terhadap sistem”.[9] Bagi Nietzsche, sistem membuat moral para filsuf menjadi merosot. Sistem membuat filsuf menjadi bodoh. Bagi Nietzsche, kebenaran mustahil dikemas dalam suatu sistem.[10] Pemberontakan Nietzsche terhadap sistem ini juga tampak dari tulisannya yang dikutip oleh Franz Magnis: “Aku bukan manusia, aku dinamit..Aku menentang sebagaimana belum pernah ada yang menentang.[11] Walaupun pemikirannya dalam bentuk yang tidak sistematik dan merupakan suatu pertentangan akan sistem, pemikiran Nietzsche tetaplah sangat berpengaruh dan memberikan banyak inspirasi yang positif bagi kehidupan.

Ada beberapa ciri aphorisme, yaitu: kreatif, agresif, paragraph-paragraf pendek, tidak terkait satu sama lain, tidak ada sistematika. Para penganut aphorisme memandang realitas sebagai sesuatu yang terbuka. Realitas itu tidak terbatas. Mereka juga mencintai daya-daya kehidupan. Nietzsche mengambil bentuk aphorisme ini juga karena pengaruh tragedi-tragedi yang terjadi dalam hidupnya. Tragedi-tragedi dalam kehidupannya dapat dimanfaatkannya menjadi sesuatu yang positif bagi perkembangan pemikiran filsafat. Dikatakan oleh Nietzsche demikian: “..bahwa periode panjang kesakitan terasa bagiku kini..aku menemukan hidup seolah ia sesuatu yang baru.[12] Banyak hal baru diberikan Nietzsche sebagai hasil pengaruh pemikirannya.

Nietzsche dan Opera Van Java

Tayangan “Opera Van Java”, yang akhir-akhir ini sering muncul di sebuah televisi swasta Indonesia, tentulah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Acaranya cukup menghibur. Kelucuan yang ditampilkan oleh para artis pendukung acara ini sangat bervariatif. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau acara ini begitu disenangi masyarakat. Walaupun hampir tiap hari ditayangkan orang tidaklah bosan dengan acara tersebut. Kreatifitas para pendukung acaranya seperti tidak ada habis-habisnya. Selalu ada ide cerita yang baru dan layak untuk disajikan kepada pemirsanya.

Dalam kacamata Nietzsche, konsep acara OVJ ini hampir sama dengan metode aphorisme yang dianutnya. Apabila acara-acara hiburan yang lain menggunakan konsep yang terstruktur rapi dalam dialognya, maka OVJ tidak mau seperti itu. Para pendukung acara ini mencoba suatu cara yang baru. Para artisnya tidak diberi naskah dialog untuk dihapal. Mereka hanya diberitahu apa cerita yang mau dibawakan. Lalu, dengan bantuan seorang dalang, para artisnya akan dituntun mengenai apa yang harus dilakukan. Dalam hal ini, dituntut suatu kreatifitas dan orisinalitas sang artis untuk mengucapkan dialog yang menarik, lucu, dan menghibur. Spontanitas sangat dituntut dari para artisnya.

Dari tayangan OVJ ini, saya mencoba merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana banyak orang merasakan dalam kehidupannya, manusia terbiasa hidup dalam suatu sistem. Dari manusia lahir sampai mati, mereka tidak bisa terlepas dari apa yang dinamakan sistem. Sadar atau tidak sadar, sistem tersebut sudah melekat pada diri manusia. Nilai-nilai kehidupan, ukuran kesuksesan, apa itu yang berharga, bagaimana manusia hidup, dan lain sebagainya merupakan sistem-sistem yang mengatur hidup manusia. Manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri yang otentik. Hidup seseorang seolah-olah diatur oleh masyarakat. Ini dirumuskan oleh Nietzsche demikian: “Realitas telah dirampas nilainya, maknanya, kejujurannya..[13]

Dalam bidang pendidikan, orang digiring untuk merasa nyaman dan aman bila bersekolah dalam sekolah formal. Mulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMA, lalu masuk perguruan tinggi. Orang tidak lagi merefleksikan apa yang menjadi minat dan tujuan hidupnya. Untuk sebagian orang memang jalur pendidikan seperti itu cukup tepat. Akan tetapi, kita harus merenungkan secara lebih mendalam, bagaimana dengan orang yang kurang cocok untuk pendidikan formal semacam itu. Banyak orang kurang bisa belajar pelajaran-pelajaran formal. Mereka ini bisa lebih nyaman bila diberikan pendidikan yang model praktek kerja. Juga tidak menutup kemungkinan orang belajar dari jalur-jalur non-formal, misalnya melalui televisi, internet, koran, dan lain sebagainya. Juga melalui magang kerja orang bisa belajar sesuatu yang berharga dan berguna bagi hidupnya.

Dalam hal pilihan hidup, sistem dalam masyarakat menganggap normal bila orang yang sudah dewasa untuk menikah. Apabila ada orang yang sudah mencapai umur yang matang tapi masih belum menikah, banyak yang memberi cap negatif pada mereka ini. Bisa jadi pilihan orang untuk tidak menikah karena mereka lebih nyaman hidup sebagai seorang yang single. Tapi, masyarakat umum masih menganggap sikap dan pilihan hidup untuk tidak berkeluarga adalah sesuatu yang aneh. Ini adalah suatu pilihan. Masyarakat harus mau menyadari dan menghargai akan pilihan hidup seseorang. Justru dengan mereka hidup single, mereka bisa merasa nyaman dalam menjalani kehidupan mereka. Ketika mereka nyaman dalam menjalani hidup mereka, mereka bisa lebih produktif dan lebih banyak memberikan sumbangan bagi masyarakat dunia ini. Ini bukan berarti menyepelekan pilihan hidup orang untuk berkeluarga. Tapi, yang mau saya tekankan adalah pada penghargaan atau apresiasi atas pilihan hidup seseorang untuk hidup tidak berkeluarga.

Dalam hal pekerjaan, banyak orang yang mengejar suatu kemapanan dalam pekerjaan. Pekerjaan tetap, karir tinggi, bekerja dari senin-sabtu, bahkan kalau bisa hari minggu juga bekerja. Hidup untuk mengejar uang dan kekayaan. Bila direnungkan lagi, hidup demikian sebenarnya sangatlah monoton. Hidup menjadi hambar dan kosong. Apa artinya hidup kalau hanya untuk itu. Pagi berangkat kerja, pulang larut malam. Orang yang demikian tidak dapat menikmati hidup ini. Hidup hanya dihabiskan untuk mengejar kekayaan dan prestasi belaka. Ada banyak hal yang berharga dalam hidup ini. Hidup bukan untuk uang saja. Hidup manusia pada dirinya sendiri sudah berharga. Banyak hal yang menarik dan berharga untuk dilakukan. Bagi mereka yang memiliki teman dan sahabat dekat, mereka dapat memberikan waktu untuk mau ngobrol dan hadir bersama sahabat-sahabat mereka. Bagi mereka yang memiliki keluarga, misalnya ayah, ibu, anak, istri, dan saudara-saudara kandung, mereka dapat memberikan waktu untuk hadir bersama keluarganya.

Be yourself merupakan semboyan yang kritis dan filosofis. Jadilah dirimu sendiri. Sebagaimana dikatakan Nietzsche dalam bukunya: “Aku adalah begini dan begitu. Janganlah, di atas segalanya, mengaburkan aku dengan apa yang bukan diriku![14] Kehidupan manusia sungguh-sungguh dapat dikatakan hidup apabila tiap-tiap individu menyadari akan hal ini. Hidup manusia itu unik, menarik. Dalam kebebasan dan kreatifitasnya masing-masing, orang dapat memberi corak kehidupan bagi dunia ini. Seperti halnya pandangan Nietzsche mengenai suatu sistem, apabila kehidupan ini dijalani sesuai dengan sistem yang ada, maka nilai-nilai dalam kehidupan menjadi merosot. Sistem membuat masyarakat menjadi bodoh dan tidak kreatif. Orang hanya bersikap pasif dan menjalani hidupnya seperti suatu robot. Beranilah tampil beda. Perbedaan ini akan membuat kehidupan menjadi penuh warna dan hidup.

Hidup secara kreatif. Tidak perlu takut dengan sistem pemikiran yang ada dalam masyarakat. Ini sebagaimana ditulis oleh Nietzsche: “…orang yang menghancurkan sekumpulan nilai-nilai, para penghancur ini,…dia adalah seorang yang kreatif..[15]. Gali dan kembangkan segala potensi yang ada dalam tiap diri seseorang. Ciptakan ide-ide baru dalam kehidupan ini. Berani membuat pilihan-pilihan hidup yang baru dan tidak memaksakan suatu sistem kepada orang lain. Nikmatilah hidup. Banyak keindahan yang bisa dihasilkan dari kreatifitas semacam ini. Nietzsche menyadari hal ini. Ini tampak dalam tulisannya: “..aku menoleh ke belakangku, aku menatap ke hadapanku, belum pernah sebelumnya kulihat hal-hal yang begitu banyak dan begitu baik bersama-sama..[16] Jangan sampai kita tertipu oleh buaian-buaian semu yang dibuat oleh sistem dalam masyarakat. Dengan itu semua, maka kehidupan ini bisa menjadi lebih indah, kreatif, menarik, dan sungguh-sungguh menjadi hidup.

Kesimpulan

Berani tampil beda dan menjadi diri sendiri, merupakan sesuatu yang harus disadari dan diperjuangkan oleh masyarakat sekarang ini. Sebagaimana ditunjukkan dalam tayangan OVJ, dan juga melalui pemikiran aphorisme dari Nietzsche, kita bisa merasakan hasilnya. Banyak hal bisa diberikan dari kesadaran demikian ini. Hidup menjadi lebih penuh warna dan menarik. Orang juga bisa menikmati kehidupan ini dengan sepenuhnya. Sehingga, orang tidak lagi hidup dengan penuh tekanan-tekanan. Tekanan-tekanan yang didapat orang juga tidak terlepas dari sistem-sistem yang dibuat oleh masyarakat. Padahal, sistem-sistem tersebut merupakan hal yang semu dan mengaburkan orang akan realitas kehidupan. Orang tidak lagi menyadari keindahan dalam kehidupan ini.

Dari analisa dan pembahasan ini, saya akan menarik kesimpulan dari hipotesis awal yang saya berikan. Hipotesis awal saya adalah: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif. Dan dari analisa permasalahan dalam pandangan Nietzsche, saya menyimpulkan bahwa: kehidupan itu menjadi lebih hidup dan menarik apabila kehidupan ini dijalani dengan spontanitas yang kreatif.

Tanggapan Kritis

Dalam bagian akhir paper ini, saya akan memberikan tanggapan kritis saya mengenai penerapan pemikiran saya di atas dalam kehidupan sehari-hari. Berani tampil beda dan menjadi diri sendiri memang merupakan suatu impian dalam diri kita masing-masing supaya kehidupan kita menjadi lebih bermakna. Akan tetapi, dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat, kita memiliki peraturan dan norma-norma yang tidak bisa dihindari. Memang terkadang peraturan tersebut terlalu mengatur dan mengarahkan kehidupan kita, sehingga kita tidak dapat menjadi bebas dan tidak dapat mengembangkan diri kita secara maksimal. Tetapi, di sisi lain, peraturan dan norma tersebut juga memberikan sesuatu yang positif bagi kehidupan manusia.

Hal positif tersebut adalah dalam hal pengalaman. Ketika seseorang menjalani kehidupannya pada saat sekarang ini, dia dapat melihat pengalaman dari orang yang hidup lebih dahulu sebelum dirinya. Dengan demikian, orang tersebut tidak mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana telah dilakukan oleh orang lain. Dengan melihat pengalaman orang lain, yang seringkali terbentuk dalam norma-norma, kebiasaan-kebiasanaan, dan juga peraturan, seseorang bisa bertumbuh dengan lebih baik dan bisa memikirkan hal lain yang lebih baru dan lebih berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Daftar Pustaka

clip_image001 Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007.

clip_image001[1] Magnis, Franz, 13 Tokoh Etika, Kanisius, Yogyakarta, 1997.

clip_image001[2] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000.

clip_image001[3] Nietzsche, Friedrich, Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press, Cambridge, 2006.

Sumber Internet

clip_image001[4] http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36

clip_image001[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36.

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche diunduh pada tanggal 29 Oktober 2010, pada pk. 18.36

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007, hal 260.

[8] Ibid, hal 261.

[9] Ibid, hal 261

[10] Ibid, hal 262

[11] Magnis, Franz, 13 Tokoh Etika, Kanisius, Yogyakarta, 1997, hal 195.

[12] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000, hal 13.

[13] Ibid, hal 3.

[14] Ibid, hal 3.

[15] Nietzsche, Friedrich, Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press, Cambridge, 2006, hal 9.

[16] Nietzsche, Friedrich, Ecce Homo, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2000,, hal 8.

Mencari “Keadilan?”, Sebuah Persoalan Abadi

justice pic

Mencari “Keadilan?”

Sebuah Persoalan Abadi

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Mencari keadilan adalah proses sepanjang masa. Ya, keadilan adalah masalah abadi manusia. Keadilan diinginkan tetapi hampir tak pernah terpenuhi sepenuhnya. Ia diimpikan tetapi tak pernah terengkuh seutuhnya. Ia adalah tanda tanya.

Proses mencari keadilan inilah yang mewarnai simposium I Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya yang bertemakan “Mencari Keadilan di dalam Masyarakat Multikultur” pada Sabtu 13 November 2010 pk 10.00-16.00 di UNIKA Widya Mandala Surabaya Gedung Dinoyo 42-44.

Ada tiga pembicara yang diundang, yakni Daniel Dhakidae dari Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Jakarta, F. Budi Hardiman dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan Romo Markus Rudi Hermawan sebagai pendamping korban ketidakadilan di Surabaya. Mereka membagikan pengetahuan mereka soal permasalahan keadilan di Indonesia. Dua pembicara pertama memberikan pendekatan teoritis. Sementara pembicara ketiga membagikan pengalamannya.

Masalah Abadi

Keadilan adalah pergulatan abadi manusia, baik itu secara teoritis maupun praksis. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Plato melihat keadilan sebagai harmoni, baik di tataran sosial maupun individual. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang anggotanya bekerja sesuai fungsi sosialnya untuk menjamin kesejahteraan bersama. Sementara individu yang sehat itu mirip seperti masyarakat yang adil, di mana semua organ tubuhnya berfungsi sempurna.

Plato mempunyai murid tercinta. Namanya Aristoteles. Ia tidak setuju dengan pendapat gurunya, dan kemudian mencoba mengajukan argumen yang lain. Baginya keadilan adalah bagian dari keutamaan, dan keutamaan hanya dapat dibentuk melalui kebiasaan. Jika anda ingin jujur, tidak cukup anda hanya mengetahui apa arti jujur, tetapi anda juga perlu terbiasa bertindak jujur di dalam keseharian.

Di masa abad pertengahan, Thomas Aquinas mencoba mengajukan argumen tambahan. Baginya keadilan adalah upaya memberikan pada orang apa yang menjadi haknya. Jika ia berhak atas gaji tinggi, maka tindakan yang adil adalah memberikannya gaji tinggi. Jika ia berhak atas nilai yang bagus, maka berikan ia nilai yang tinggi.

Perdebatan masih berlangsung. Pada masa modern Immanuel Kant melihat keadilan sebagai bagian dari kewajiban moral yang tidak bisa dipertanyakan. Keadilan berpijak pada tiga prinsip, yakni tindakan yang bisa disetujui oleh semua orang, memperlakukan manusia sebagai tujuan pada dirinya sendiri, dan berasal dari kebebasan. Keadilan adalah bagian dari moralitas yang tegak berdiri di dalam sanubari manusia.

Pada akhir abad keduapuluh, perdebatan tentang keadilan masih berlanjut. John Rawls melihat keadilan sebagai suatu sikap fair yang didasarkan pada prinsip-prinsip rasional yang terukur. Sementara Habermas melihat keadilan sebagai hasil dari kesepakatan dari proses komunikasi yang bebas. Jacques Derrida berpendapat lain. Baginya keadilan tidak mungkin terwujud di masa sekarang. Keadilan adalah harapan yang selalu lolos dari genggaman masa kini, dan menunggu untuk diwujudkan di masa mendatang.

Pemahaman tentang keadilan selalu berkembang dan mengundang perdebatan. Para filsuf masih berdiskusi keras untuk memahami arti sesungguhnya, dan mencari kemungkinan penerapan di masa yang terus berubah. Pada level praksis di Indonesia, keadilan juga masih menjadi impian. Keadilan menjadi harapan bagi mereka yang peduli pada kemanusiaan.

Situasi Indonesia

Bagi Daniel Dhakidae arti keadilan tidak lagi perlu diperdebatkan. Makna keadilan yang sejati telah tercantum di dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Maka secara konseptual baginya, tidak perlu lagi kita berdebat secara teoritis tentang arti keadilan. Itu hanya membuang amunisi pikiran.

Baginya Indonesia sekarang ini telah mengalami perubahan besar. Pada masa Orde Baru, negara, dengan institusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), memiliki kekuasaan besar, karena mereka mengatur bidang-bidang yang terkait dengan kehidupan rakyat banyak, seperti listrik, air, dan sebagainya. Otoritas politik negara begitu kuat. Perusahaan swasta nyaris tidak memiliki tempat untuk bersaing.

Model negara semacam itu disebut Dhakidae sebagai negara organistik. Negara itu seperti tubuh yang besar, dan organ-organ di dalamnya yang memiliki fungsi spesifik. Pemimpin negara dianggap sebagai kepala yang memimpin dan memerintah semua organ-organ tersebut. Negara juga dianggap sebagai keluarga dengan presiden sebagai figur ayah.

Setelah reformasi negara organistik semacam itu ambruk. Yang tercipta kemudian adalah negara yang terpecah-pecah. BUMN lenyap digantikan oleh perusahaan-perusahaan swasta. Inilah fenomena yang banyak dikenal sebagai deregulasi dan privatisasi. Negara tidak lagi berkuasa. Yang berkuasa kini adalah korporasi-korporasi raksasa.

Di dalam negara organistik, menurut Dhakidae, peluang korupsi oleh aparatur negara amat besar. Tidak ada kontrol masyarakat yang cukup kuat atas kekuasaan negara. Di dalam negara neo-liberal sekarang ini, di mana negara tidak lagi berkuasa mutlak, peluang korupsi melebar tidak hanya di antara aparatur negara, tetapi juga di kalangan perusahaan-perusahaan bermodal raksasa. Kekuasaan absolut negara yang korup digantikan oleh kekuasaan korporasi raksasa yang penuh dengan kerakusan.

Inilah situasi Indonesia dewasa ini. Di dalam pergantian peta politik tersebut, keadilan hampir tidak pernah dibicarakan. Rapat DPR hanya soal teknis prosedural tanpa ada pikiran kritis untuk menerapkan keadilan. Pada titik ini apa yang perlu dilakukan?

Model Keadilan

Budi Hardiman mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Baginya setelah reformasi Indonesia memiliki empat macam model keadilan politik. Model pertama adalah model keadilan komunitarian. Di dalam model ini, keadilan berpijak pada paham satu kelompok dominan tertentu yang ada di masyarakat. Nilai-nilai kultural kelompok tersebut dianggap berlaku umum untuk semua masyarakat.

Di dalam model ini, negara beroperasi dengan berpijak pada nilai kelompok kultural dominan tertentu. Kelompok lain diharapkan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kelompok dominan. Jika tidak mereka akan menghadapi penghukuman. Inilah model tata politik keadilan komunitarian, di mana arti keadilan di dasarkan pada satu ajaran kelompok kultural tertentu.

Model ini jelas mengandung ketidakadilan tertentu. Model kedua yang diamati Budi Hardiman adalah model keadilan liberal. Di dalam model ini, negara bersikap netral terhadap semua pandangan kultural yang ada di dalam masyarakat. Negara hanya menjamin keamanan tiap warga negara, tanpa berpihak pada satu kelompok apapun. Model semacam ini banyak ditemukan di negara-negara liberal Barat.

Menurut Budi Hardiman model kedua ini juga mengandung ketidakadilan tertentu. Model ketiga yang diamatinya adalah model keadilan multikultural. Di dalam model ini, negara merangkul semua kelompok kultural yang ada di dalam masyarakat, baik yang minoritas maupun mayoritas. Tidak hanya merangkul negara juga mendorong perkembangan setiap kelompok kultural yang ada dalam bentuk subsidi ataupun pemotongan pajak. Sekilas model ini kelihatan ideal. Namun Budi Hardiman mengajukan model lain yang, menurutnya, lebih tepat, yakni model keadilan transformasional.

Di dalam model keempat, yakni model keadilan transformasional, ini, negara membuka forum-forum di dalam masyarakat, supaya setiap orang bisa berdiskusi tentang apa itu keadilan, dan bagaimana penerapannya. Forum-forum tersebut bisa dalam bentuk acara di TV, opini di koran, forum-forum ilmiah, aktivitas LSM, dan sebagainya. Setiap orang bisa membawa nilai-nilai kultural kelompoknya, dan berdiskusi dengan nilai-nilai kelompok lain tentang pelbagai kebijakan yang ada di dalam masyarakat. Fungsi negara adalah menjamin kebebasan dan keamanan forum-forum tersebut.

Di dalam model keadilan tranformasional ini, keadilan adalah suatu proses yang terus diperjuangkan, baik dalam teori maupun praksis. Proses perjuangan dilakukan dalam diskusi yang berkelanjutan di dalam forum-forum publik yang ada. Keadilan adalah suatu ketidakmungkinan di masa sekarang, tetapi terus diperjuangkan untuk diwujudkan di masa depan. Untuk itu peran masyarakat sipil sangat penting. Masyarakat sipil harus aktif dalam kegiatan-kegiatan publik, supaya bisa menciptakan kebijakan-kebijakan yang lebih adil di masyarakat. Tanpa peran masyarakat sipil yang besar, model keadilan ini tidak akan pernah terlaksana.

Pengalaman Ketidakadilan

Dua sumbangan ide di atas adalah sumbangan teoritis. Romo Markus Rudi Hermawan memperkenalkan pendekatan yang lain, yakni pendekatan dari sudut pandang korban. Ia mengundang dua korban ketidakadilan. Yang satu adalah korban lumpur Lapindo, dan yang kedua adalah korban penggusuran kali Jagir. Mereka menceritakan kisah ketidakadilan yang menimpa mereka, dan ribuan orang lainnya.

Ketidakadilan yang mereka rasakan adalah ketidakadilan yang berkelanjutan. Seolah setelah jatuh lalu tertimpa tangga. Rumah hilang lalu diikat dalam perjanjian yang merugikan. Masyarakat pun masih mempertanyakan apakah mereka menderita atau tidak. Sungguh naas nasib mereka.

Ketidakadilan yang mereka rasakan merusak martabat. Mereka dianggap sebagai hewan atau barang yang tidak berguna. Padahal mereka adalah manusia dan warga negara yang memiliki hak-hak asasi dan hak-hak legal. Namun itu semua sia-sia dilindas oleh mesin ketidakadilan yang bernama negara dan korporasi raksasa.

Budi Hardiman berpendapat bahwa para korban harus bekerja sama dan terus bercerita. Mereka harus terus menggalang kesadaran publik. Mereka harus terus melawan dan mengingatkan pemerintah, bahwa mereka adalah manusia yang punya hak dan hati nurani. Masyarakat sipil yang lain perlu terus menyediakan forum dan mendukung untuk para korban supaya tetap bersuara. Para akademisi perlu menyumbangkan pemikiran dan jaringan mereka, supaya suara korban terus didengar, dan bisa ditindaklanjuti secara efektif.

Pada akhirnya keadilan bukanlah sebuah tanda tanya, melainkan tanda seru. “Keadilan!” adalah kata yang mencerminkan tuntutan. Kita semua yang bekerja untuk mewujudkannya. Karena kita semua yang akan merasakannya. ***

Penulis adalah Dosen Filsafat Politik, Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Undangan Diskusi Terbuka: Masalah-masalah Bioetika Dewasa Ini

Diskusi-bioetika-11

Antara Kita dan Lupa

why-do-we-forget-things_1

Antara Kita dan Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tak ada yang lebih sulit daripada perjuangan melawan lupa. Ingatan begitu mudah lenyap ditelan peristiwa. Banyak hal buruk diredam, dan dibuat tak bermakna. Yang tersisa kemudian adalah rasa tak berdaya.

Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang ini: LUPA. Banyak kasus dan skandal politik raksasa lolos dari perhatian masyarakat. Media menawarkan hasrat konsumtif yang mengalihkan perhatian. Kejahatan pun berlalu tanpa ada pertanggungjawaban.

Tidak Berpikir

Mengapa kita begitu mudah lupa? Karena kita tidak berpikir tentang apa yang bermakna. Lebih dari setengah abad yang lalu, Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, mengajukan argumen begini: jaman kita ditandai dengan satu gejala, yakni ketidakberpikiran. Yang dimaksudkannya adalah kita hanya mampu berpikir teknis dan mekanis, tetapi tidak pernah secara radikal menyentuh apa yang sungguh signifikan. Argumen ini dikembangkan oleh muridnya, Hannah Arendt, untuk menjelaskan keganasan rezim NAZI di Jerman pada masa perang dunia kedua.

Di Indonesia banyak orang cerdas. Prestasi akademis menghiasi ruang tamu secara berkelas. Namun semua itu hanyalah simbol dari kecerdasan teknis, dan bukan kedalaman berpikir. Akibatnya prestasi hanya hiasan, tanpa ada kebijaksanaan yang sungguh terukir.

Tanpa kedalaman orang akan terjebak pada apa yang dangkal. Dan salah satu tanda kedangkalan adalah kelupaan. Tak heran ingatan kita sebagai bangsa begitu pendek, karena kita tak pernah sungguh mendalami apa yang kita alami dan pikirkan. Kejahatan demi kejahatan publik berlalu tanpa ada upaya untuk mengusung keadilan.

Tanpa Sikap Kritis

Kita juga cenderung tidak kritis. Pendidikan difokuskan untuk menghafal dan mengulang, tanpa ada pengolahan materi yang kritis dan sistematis. Kita pun cenderung menerima, tanpa pernah mempertanyakan. Kita bagaikan anak yang disuap oleh kejahatan dan kebodohan, tanpa ada upaya untuk melawan.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Berbagai skandal dan kejahatan terjadi di depan mata, tetapi kita bebal dan merasa tak berdaya. Lalu kita pun lupa. Jauh lebih enak melupakan, daripada banting tulang mengejar keadilan yang berharga.

Maka kita perlu untuk belajar berpikir kritis. Berpikir kritis berarti siap menguji sesuatu, sampai sesuatu itu layak untuk diterima. Tidak boleh ada pernyataan ataupun peristiwa yang berlalu tanpa ditanya. Dengan berpikir kritis maka kita akan terlepas dari bahaya lupa.

Peka pada Pengalihan

Sikap tidak berpikir dan tidak kritis membuat kita muda tertipu. Media dan politisi mengalihkan dan membawa kita menuju apa yang semu. Bahkan upaya sistematis untuk menutupi kebenaran pun tidak terlihat oleh mata yang telah tertutup oleh debu. Kita ditipu di siang bolong tanpa sadar.

Tujuan dari pengalihan ini adalah kelupaan. Orang dibombardir dengan tawaran-tawaran produk yang membuat nikmat, supaya mereka terjebak di dalam kelupaan. Pada akhirnya orang menjadi rakus, dan tak peduli dengan soal keadilan. Kecepatan pergantian berita di media massa membuat kita cepat pula berganti fokus perhatian.

Maka kita perlu melihat dan menyadari, betapa kita telah ditipu. Kita perlu sadar betapa kita telah dibombardir dengan apa yang semu. Ini adalah awal untuk memerangi kelupaan. Dengan terbebas dari kelupaan, kita bisa fokus berjuang untuk apa yang sungguh penting, baik untuk diri kita sendiri, masyarakat, maupun keseluruhan peradaban.

Melampaui Rasa Takut

Musuh terbesar dari keberanian untuk mengingat adalah rasa takut. Rasa takut menggerogoti jiwa dan nurani orang, sehingga ia menjadi opurtunis dan pengecut. Ia melihat dan sadar, bahwa ada yang salah. Namun karena takut ia kemudian memilih untuk lupa, diam, dan mengubur rasa bersalah.

Sekarang ini di Indonesia, banyak orang tahu, bahwa ada yang tidak beres. Namun mereka takut untuk menyatakannya. Mereka memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan-urusan pribadi yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam perjalanan waktu mereka terhanyut di dalam “rezim” yang ada, dan tenggelam di dalam lautan lupa bersama dengan yang lainnya.

Namun mau sampai kapan kita diam? Apakah menunggu sampai kita yang sungguh terkena dampak dari ketidakadilan? Bukankah itu sudah terlambat? Pada akhirnya kita perlu melampaui rasa takut, dan mempertaruhkan hidup kita untuk apa yang sungguh penting di dalam kehidupan, yakni rasa kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan.

Di bawah tekanan untuk berpikir dangkal dan teknis, tekanan yang membuat kita takut untuk berpikir dan bertindak kritis, serta godaan kenikmatan untuk menjadi lupa, kualitas kita sebagai manusia ditempa.

Pilihan ada pada anda.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Luka yang Memperkaya

pain: Google Images

Luka yang Memperkaya

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Hati terluka. Air mata menetes tanpa daya. Hidup terasa begitu sepi. Keluarga dan teman diam tersembunyi.

Itulah situasi batin orang-orang yang tersiksa. Hidup menggiring mereka ke ujung nestapa. Tak ada teman seperjalanan yang menguatkan. Yang ada adalah butir-butir kenangan akan pengkhianatan.

Seorang filsuf kontemporer terkemuka asal Slovenia, Slavoj Zizek, pernah menyatakan, bahwa hidup berasal dari katastrofi, atau bencana besar. Alam semesta bermula dari ledakan besar. Orang lahir ke dunia melalui penderitaan sang ibu. Cinta bukanlah gula kehidupan, namun justru sumber dari rasa sendu.

Maka orang perlu untuk melihat guncangan hidup sebagai bentuk kelahiran dari “yang lain”. Bahkan segala sesuatu yang di sekitar kita sekarang ini bermula dari sebuah bencana raksasa yang menimpa penguasa dunia sebelumnya, yakni dinosaurus. Maka guncangan bukanlah bagian dari kehidupan, melainkan justru kehidupan itu sendiri.

Situasi Batas

Manusia kerap kali terbentur situasi-situasi sulit dalam hidupnya. Situasi sulit ini menurut Karl Jasper, seorang filsuf Jerman, adalah situasi batas, termasuk di dalamnya adalah penderitaan, kematian, rasa bersalah, ketergantungan pada nasib, dan perjuangan di tengah bencana. Situasi batas ini membuat manusia sadar, betapa ia lemah dan tak berdaya. Situasi batas ini mengantarkan manusia pada kesadaran, bahwa Tuhan itu ada.

Dalam hidup kita dikepung oleh krisis tanpa henti. Kematian dari orang yang dicintai. Kehancuran bisnis yang dibangun di atas rencana dan mimpi. Hati yang terluka akibat pengkhianatan orang yang dikasihi. Sampai ditipu sahabat yang dipercaya.

Jasper mengajak kita menjalani semua ini dengan lapang dada. Krisis adalah situasi di mana manusia terbuka pada yang tak terbatas, atau Tuhan itu sendiri. Pada saat krisislah manusia menyadari, betapa ia bukan apa-apa. Krisis adalah pintu pencerahan dan penemuan kesejatian diri yang sesungguhnya.

Luka yang Memperkaya

Para pahlawan adalah mereka yang terluka. Medan perang menempa mereka. Luka tubuh adalah buktinya. Luka adalah simbol dari kepahlawanan yang perkasa.

Hal ini berlaku pula untuk luka mental. Kekecewaan dan penderitaan mental adalah simbol dari kepahlawanan jiwa. Orang perlu menyadari dan merawat luka itu dengan setia. Luka mental tidak boleh dilupakan, melainkan justru diterima dengan lapang dada.

Banyak orang takut akan lukanya. Lalu mereka tenggelam dalam hiburan semu, mulai dari alkohol, seks bebas, dan narkoba. Luka tidak jadi memperkaya, melainkan sesuatu yang berlalu tanpa makna. Buah dari semua itu adalah kedangkalan hidup di dunia.

Luka mental tidak pernah boleh dilupakan. Sayatan batin adalah simbol dari keperkasaan jiwa. Orang perlu melihatnya sebagai koleksi yang membanggakan. Penderitaan dan kekecewaan adalah piala-piala tanda keagungan jiwa.

Kesempatan

Luka adalah kesempatan. Krisis adalah peluang. Keduanya adalah peluang untuk menunjukkan, siapa kita sesungguhnya. Terlebih krisis adalah kesempatan untuk berbuat baik.

Kita seringkali melihat kekecewaan sebagai kerugian. Padahal kekecewaan adalah kesempatan untuk memaafkan. Kekecewaan adalah waktu yang tepat untuk berbuat baik. Kekecewaan adalah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan.

Ketika bencana alam terjadi, itu adalah kesempatan untuk menolong mereka yang kesulitan. Ketika terjadi pengkhianatan maka itu adalah kesempatan untuk belajar tentang kesetiaan. Ketika terjadi banyak kejahatan, maka itu adalah kesempatan untuk memberi cinta yang menyegarkan.

Krisis juga kesempatan untuk membuktikan diri. Dengan krisis orang ditempa situasi, dan menjadi dirinya yang sejati. Orang hanya perlu bertahan melaluinya, dan semua akan selesai pada akhirnya. Pada saat itu orang merasa puas, karena ia memetik buah-buah dari kesulitan hidupnya.

Banyak orang patah karena krisis. Mereka putus asa lalu bunuh diri. Mereka tidak bertahan di dalam badai. Mereka takluk oleh hidup yang memang tak selalu adil.

Sikap semacam itu tidak bisa disalahkan. Itu juga bagian dari pilihan. Namun sebetulnya itu tidak perlu terjadi. Orang bisa melihat kekecewaan dan penderitaan hidup sebagai kesempatan untuk membuktikan diri, maupun untuk sungguh berbuat baik pada yang membutuhkan.

Absurditas Hidup

Seorang filsuf dan sastrawan Prancis, Albert Camus, pernah menulis, bahwa satu-satunya penjelasan atas banyaknya penderitaan yang tidak beralasan di dunia adalah, bahwa hidup itu pada hakekatnya adalah absurditas. Orang tidak bisa menjelaskan, mengapa mereka menderita. Orang juga tidak bisa menjelaskan, mengapa mereka yang tertimpa bencana. Hidup ini absurd karena tak pernah sepenuhnya terpahami.

Yang perlu dilakukan adalah menerima fakta absurditas itu sendiri, dan menjalaninya secara perlahan. Jika tidak orang akan terus terbentur, karena harapan tidak pernah sesuai dengan kenyataan. Orang akan bermimpi dan kecewa, karena mimpi tetaplah mimpi, tanpa realitas. Rasa putus asa ada di depan mata, juga disertai kecewa dan tangis.

Kita sering melihat betapa orang patah akibat kekecewaan. Kita juga sering melihat, betapa orang hancur, karena ditekan situasi. Namun sebetulnya mereka tidak perlu hancur, jika belajar menerima fakta absurditas hidup dan diri mereka sendiri. Mereka hanya perlu tertawa melihat, betapa hidup telah mempermainkan mereka.

Kekecewaan, penderitaan, dan krisis bukanlah bumbu kehidupan, melainkan justru esensi dari kehidupan itu sendiri. Absurd memang tetapi itulah yang terjadi. Bahkan awal mula alam semesta adalah sebuah katastrofi maha dasyat yang banyak disebut sebagai Dentuman Agung (the Big Bang). Kita tidak boleh lari darinya. Kita perlu memeluknya, merengkuhnya, dan bahkan mentertawakan absurditas dari semua yang ada. Hanya dengan begitu kita tidak tergoda untuk bunuh diri. ***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Tahun Baru dan Kesetiaan Kita

loyalty_rewards_dog

Tahun Baru dan Kesetiaan Kita

Refleksi Awal Tahun 2011

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Apa yang baru dari tahun baru? Secara hakiki tidak ada yang baru sebenarnya. Yang baru adalah cara kita memaknainya. Yang baru adalah cara kita menjalaninya.

Salah satu nilai yang perlu kita telaah kembali pada awal tahun ini adalah soal kesetiaan. Ketika mendengar kata ini, yang biasanya muncul adalah kesetiaan pada kekasih. Namun soalnya bukan hanya itu. Yang perlu kita telaah dan perdalam lebih jauh adalah kesetiaan pada panggilan hidup kita.

Dimensi dari Kesetiaan

Kesetiaan selalu melibatkan kejujuran. Dan kejujuran adalah momen, ketika kata dan tindakan berjalan searah. Bisa juga dikatakan bahwa kejujuran adalah jantung hati dari kesetiaan. Tanpa kejujuran tidak akan pernah ada kesetiaan.

Di Indonesia semakin lama kejujuran semakin sulit ditemukan. Politisi yang berbohong. Pengusaha yang menipu konsumen. Suami yang menipu istrinya, atau sebaliknya. Perempuan yang menipu kekasihnya, dan sebagainya.

Jika kejujuran dan kesetiaan telah lenyap, maka kepercayaan juga akan lenyap. Tanpa kepercayaan tidak akan ada persahabatan. Tanpa kepercayaan keluarga pun akan rapuh. Jika keluarga rapuh maka masyarakat secara keseluruhan juga mengalami kerapuhan.

Di awal tahun ini, kita perlu mempertegas komitmen kita pada nilai kejujuran dan kesetiaan. Kita perlu menempatkan nilai-nilai ini dalam keseharian hidup kita. Hanya dengan begitu kehidupan kita jadi berkualitas, baik untuk diri kita sendiri, maupun untuk orang lain. Hanya dengan begitu hidup kita jadi bermakna.

Kesetiaan juga menuntut integritas. Dalam arti ini integritas adalah keteguhan dalam menerapkan prinsip-prinsip hidup, walaupun situasi menekan untuk melakukan sebaliknya. Integritas menuntut kita untuk melakukan apa yang benar, dan bukan apa yang mudah. Integritas memanggil kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, dan bukan sekedar mahluk yang numpang lewat di dunia yang sementara ini.

Di Indonesia nilai integritas amat sulit ditemukan. Orang mencari jalan mudah untuk mencapai kekayaan. Politisi korupsi. Pengusaha menipu konsumen dan mengeksploitasi pegawainya. Jalan pintas untuk mencapai sukses jauh lebih digemari daripada jalan sulit untuk mencapai kesejatian diri.

Tanpa integritas janji akan terpatahkan. Kesetiaan akan lenyap. Kita akan sulit hidup bersama. Dan hidup akan terasa sulit untuk dijalani, karena selalu diwarnai kecurigaan.

Di awal tahun ini, kita perlu mengingat kembali arti integritas bagi diri kita masing-masing. Kita perlu sadar bahwa jalan sulit untuk mencapai kesejatian diri jauh lebih berharga dari jalan pintas untuk mencapai kesuksesan sementara yang sifatnya semu. Kita perlu melakukan apa yang benar, dan bukan apa yang mudah. Hanya dengan begitu hidup kita jadi tenang, bahagia, dan memiliki arti yang sejati.

Ujung tombak dari integritas adalah kata yang disertai komitmen. Ketika berkata “ya” maka orang perlu untuk mengikatkan totalitas dirinya pada kata itu. Ia akan menjalankannya lepas dari kesulitan yang menghadang di depan mata. Maka sebelum berkata orang perlu berpikir dalam-dalam, karena kata itu akan mengikat keseluruhan dirinya.

Dalam keseharian kita melihat orang yang hidup tanpa komitmen. Ia berkata “ya” tetapi tidak sungguh memaksudkannya. Ia berkata “tidak” tetapi itu pun tidak sesuai dengan hatinya. Janji terucap namun semua itu sia-sia, karena hanya buih kata-kata tanpa makna.

Kita perlu sadar akan arti penting dari komitmen dalam hidup. Komitmen akan melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan amatlah penting, baik dalam konteks hubungan antar pribadi, maupun hubungan sosial politik. Jika tidak mampu janganlah memberikan janji. Keberanian untuk mengakui kelemahan diri juga adalah bagian penting dari komitmen.

Pada akhirnya ini semualah yang membedakan kita dari hewan maupun tumbuhan. Manusia mampu berkata jujur, memiliki integritas, kesetiaan, dan membuat komitmen pada apa yang dikatakannya. Ia bisa tidak larut dalam situasi, namun mampu mengambil jarak, dan membuat keputusan yang mandiri berdasarkan pertimbangan nuraninya. Ia bisa melatih dirinya untuk menjadi luhur, lepas dari segala kesulitan yang menerkamnya.

Memperbarui Tekad

Kesetiaan selalu melibatkan kejujuran, integritas, dan komitmen. Namun kesetiaan tidak hanya soal hubungan antar personal, tetapi juga kesetiaan pada panggilan hidup. Orang perlu untuk menemukan misi mereka dalam hidup, dan berjuang untuk mewujudkannya, apapun yang terjadi. Orang perlu untuk setia pada jati dirinya yang sejati.

Banyak orang tidak mengenal dirinya sendiri. Akibatnya mereka terombang ambing dalam berbagai pilihan hidup tanpa arah. Mereka mengalami kebingungan. Di dalam situasi semacam itu, orang tidak bisa hidup dalam kesetiaan.

Mereka mencari peluang paling mudah untuk mencari uang. Komitmen dan integritas adalah konsep yang terlalu mewah untuk diwujudkan. Mereka tidak tahu apa yang mereka sungguh inginkan dalam hidup. Ataupun jika tahu mereka terlalu takut untuk mewujudkannya.

Inilah sikap pengecut yang sesungguhnya. Inilah simbol ketidaksetiaan yang sesungguhnya, yakni ketidaksetiaan pada panggilan hidup. Orang tidak percaya bahwa hidup menyimpan misi yang luhur untuk dijalankan oleh masing-masing orang, sesuai dengan panggilan hidupnya. Yang tercipta kemudian adalah sebuah masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang bingung dan dangkal.

Pada awal tahun ini, saya ingin mengajak anda untuk memahami kembali arti kesetiaan. Saya ingin mengajak anda untuk melihat ke dalam diri anda sendiri, menemukan misi yang sejati, dan berjuang mewujudkannya dengan kesetiaan yang teguh, kejujuran, integritas, komitmen, dan upaya yang tak mengenal lelah. Hanya dengan begitu orang bisa merasa berarti di dalam hidupnya.

Selamat tahun baru.

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

Featured image

About 3 million people visit the Taj Mahal every year. This blog was viewed about 27,000 times in 2010. If it were the Taj Mahal, it would take about 3 days for that many people to see it.

 

In 2010, there were 90 new posts, growing the total archive of this blog to 217 posts. There were 196 pictures uploaded, taking up a total of 15mb. That’s about 4 pictures per week.

The busiest day of the year was October 13th with 240 views. The most popular post that day was Terorisme dan Cinta yang Gagal.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, google.co.id, mail.yahoo.com, facebook.com, and id.wordpress.com.

Some visitors came searching, mostly for konflik, rumah filsafat, konflik antar etnis, filsafat yahudi, and pengangguran.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Terorisme dan Cinta yang Gagal October 2010
26 comments

2

Memahami Seluk Beluk Konflik antar Etnis Bersama Michael E. Brown August 2008
13 comments

3

Peranan Filsafat bagi Perkembangan Ilmu Psikologi October 2008
22 comments

4

Buku Filsafat Immanuel Kant Baru: Filsafat Kritis Immanuel Kant March 2010

5

Teori Sistem Masyarakat Niklas Luhmann January 2010

Merayakan Kedangkalan Hidup

album-born-ruffians

Merayakan Kedangkalan Hidup

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Radio berbunyi di pagi hari. Tawa terpingkal menghibur diri. Perbincangan dilakukan tanpa substansi. Yang ada hanya upaya untuk menghias pagi hari.

Ada yang indah ketika kita tidak lagi berfokus pada substansi. Ada yang indah ketika kita merayakan apa yang tampak, tanpa berpikir tentang esensi. Beberapa orang bilang itu pertanda krisis. Beberapa orang lainnya bilang, itu tanda kelahiran gaya hidup baru.

Gaya hidup yang merayakan kedangkalan.

Kultur Penampakan

Berabad-abad orang mencari esensi. Yang mereka temukan adalah abstraksi konseptual. Para filsuf mencari hakiki. Para ilmuwan mencari hukum-hukum abadi.

Kini semua itu terlupakan. Yang lahir adalah modifikasi apa yang di permukaan. Orang lupa akan esensi. Orang lupa akan hukum-hukum abadi.

Di Indonesia orang alergi dengan esensi. Orang anti dengan kedalaman. Yang dirayakan adalah apa yang tampak. Yang diagungkan adalah permukaan.

Pola berpikir mendalam dianggap sebagai elitis. Semuanya digampangkan. Tradisi lenyap ditelan keadaan. Orang-orang tua berteriak tentang akhir jaman.

Orang mencintai permukaan. Mereka tidak peduli tentang apa yang ada di belakang semua itu. Orang tidak lagi membedakan apa yang sejati dan apa yang semu. Semua melebur di dalam lintasan ruang dan waktu.

Di Indonesia apa yang tampak selalu mengorbankan apa yang sejati. Mental boros dikedepankan tak peduli pada apa yang didapat dari penghasilan sehari-hari. Besar pasak dari pada tiang, kata orang. Kedangkalan dan kebodohan dianggap lebih berharga daripada kedalaman maupun kesejatian.

Pembalikan Nilai-nilai

Yang terjadi adalah pembalikan. Apa yang permukaan menjadi apa yang sejati. Yang esensi dianggap sebagai tidak asli. Secara perlahan yang esensial menyelinap didalam ketiadaan.

Inilah yang tepat terjadi di Indonesia. Yang esensial tidaklah lenyap, melainkan berganti muka. Yang esensial adalah yang permukaan. Yang esensial adalah apa yang tampak.

Kesejatian diri disamakan dengan jumlah kekayaan material. Kebahagiaan disamakan dengan jumlah saham dan deposito finansial. Kedewasaan disamakan dengan cara berpakaian. Harga diri disamakan dengan tipe Blackberry yang digunakan.

Yang esensi melebur dengan yang eksistensi. Pembedaan keduanya tak lagi bermakna di jaman ini. Sikap displin dan serius digantikan dengan humor dan tawa. Permenungan mendalam atas suatu peristiwa kini menjadi langka.

Merayakan Kedangkalan

Ada dua analisis atas gejala ini. Yang pertama mengatakan bahwa ini adalah krisis peradaban yang perlu diratapi. Yang kedua mengatakan bahwa ini adalah gejala lahirnya gaya hidup baru yang perlu untuk dirayakan. Masyarakat kita terbelah di dalam dua kelompok itu.

Yang pertama meratapi perubahan. Sikap pesimis tercium di udara. Krisis menjadi wacana utama. Tak pelak lagi orang berteriak dengan kematian moralitas dan akhir jaman.

Di Indonesia kalangan pemuka agama dan ada berada di kelompok ini. Mereka menyatakan keprihatinan mendalam yang mengikis diri. Argumen-argumen moralis keluar dari wicara mereka. Di balik semua ini bercokol rasa ketidakpercayaan diri.

Yang kedua merayakan perubahan. Mereka merayakan pembalikan nilai-nilai yang mengguncang keseharian. Humor dan tawa mewarnai hari-hari. Tindakan diwarnai dengan optimisme diri.

Di Indonesia mereka adalah orang-orang progresif yang mengedepankan perubahan. Para seniman, budayawan, dan intelektual tercakup di dalamnya. Pembalikan nilai-nilai bukanlah tabu, melainkan bukti, bahwa sejarah bekerja. Krisis dimaknai sebagai kesempatan untuk bergerak ke depan.

Yang sesungguhnya terjadi adalah esensi tidak menghilang. Esensi hanya berganti wajah. Ia menyelinap di dalam permukaan, dan membuatnya berwarna serta bermakna. Sejarah tidak berubah, melainkan hanya berganti muka.

Para pemuka adat dan agama tak perlu khawatir, karena peradaban bergerak ke arah keseimbangan. Tradisi tidak lenyap melainkan menemukan wajah baru yang lebih relevan. Para seniman, budayawan, dan intelektual merayakan kedangkalan, karena mereka menemukan kesejatian terselip di dalamnya. Keduanya berpelukan tanpa bisa sungguh terbedakan.

Kita hidup di era paradoks, di mana kedangkalan adalah sesuatu yang perlu dirayakan, sama seperti kita merayakan kesejatian.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya