Tentang Guru yang Lupa

teacher-300x249

Tentang Guru yang Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tidak ada tawa pada wajahnya. Yang ada hanya muka merengut nan menyiksa jiwa. Tatapannya membuat oarang terpana. Suasana suram yang diciptakannya.

Itulah figur guru dewasa ini. Ia tidak lagi menawarkan inspirasi. Yang ditawarkannya kepada murid hanyalah beban diri. Itu terbukti dari “dentuman” soal dan penilaian yang jauh dari kebijaksanaan nurani.

Keterpaksaan

Para guru sebenarnya sadar, bahwa mereka telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami ditekan keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun tetap berubah menjadi birokrat, karena keterpaksaan.

Sosok semacam ini banyak kita temukan di Indonesia. Guru melepaskan peran esensialnya, dan berubah menjadi birokrat tanpa jiwa. Mereka sadar namun keadaan memaksa. Yang menjadi korban adalah para murid yang tidak lagi mencicip pendidikan yang bermakna.

Yang para guru butuhkan adalah sedikit keberanian dan kecerdasan. Mereka perlu menginspirasi kehidupan dan tidak boleh terjebak pada rutinitas birokrasi yang menyesakkan. Kecerdasan diperlukan untuk bersikap lentur pada birokrasi, dan tetap menjalankan peran guru yang menghidupkan. Di tangan para gurulah masa depan bangsa ditentukan.

Krisis Visi

Di sisi lain banyak pula guru yang tidak memahami esensi pendidikan. Mereka menjadi guru bukan karena terpanggil, tetapi karena kebetulan yang tak direncanakan. Akibatnya mereka pun asal bekerja. Guru macam ini mudah sekali berubah menjadi birokrat yang mirip robot tanpa jiwa.

Di Indonesia kita juga banyak menemukan guru semacam ini. Mereka belajar tentang pendidikan, tetapi tidak sungguh memahami semangat di belakangnya. Mereka sekedar melanjutkan pendidikan, tanpa sungguh berpikir, apakah ini panggilan hidupnya. Mereka terjebak di dalam bidang yang tidak bermakna bagi hidupnya.

Ini salah satu kelemahan pendidikan kita. Orang tidak diajak untuk mengenali diri, dan mengikuti panggilan hidupnya. Akibatnya banyak orang terjebak pada bidang kehidupan yang tidak bermakna bagi dirinya. Mereka asal-asalan bekerja, dan semuanya menjadi percuma.

Namun tidak pernah ada terlambat untuk mereka. Pintu kehidupan selalu terbuka. Jika bukan panggilan orang bisa meninggalkan profesi pendidik, dan mencari jati dirinya. Hanya dengan begitu hidupnya menjadi penuh dan bermakna. Mungkin dengan begitu pula, ia bisa sungguh merasa bahagia.

Pengaruh Hegemoni

Manusia hidup dalam lingkaran hegemoni. Hegemoni membuat orang dikuasai, tanpa ia merasa tertindas, atau dikuasai. Hegemoni membuat suatu perintah menjadi wajar, dan tidak dipersepsi sebagai keterpaksaan diri. Hegemoni masuk ke dalam cara berpikir seseorang, sampai ia tidak sadarkan diri, bahkan ketika melakukan apa yang melanggar nurani.

Di Indonesia hegemoni cara berpikir instrumental sangatlah perkasa. Cara berpikir instrumental mencegah orang bersikap kritis, dan hanya terjebak pada permukaan teknis semata. Mereka melakukannya tetapi tidak sadar akan perbuatannya. Inilah kekuatan hegemoni yang menghipnotis jiwa.

Yang diperlukan untuk menantang hegemoni adalah cara berpikir kritis. Dengan kemampuan ini orang diajak untuk mempertanyakan cara berpikirnya sendiri secara sistematis. Ia diajak untuk mengolah dirinya sendiri, sehingga bisa keluar dari hegemoni, dan melakukan segala sesuatu dengan kesadaran diri yang utuh. Minimal cara berpikir kritis membuat orang sadar, bahwa dirinya hidup dalam hegemoni, sehingga bisa mengambil jarak darinya, walaupun tidak secara menyeluruh.

Konformitas

Jika para guru ditanya, mengapa mereka menjadi birokrat, kebanyakan mereka akan menjawab, karena semua guru melakukannya. Itulah ciri khas sikap konformis. Orang terjebak melakukan sesuatu, karena semua orang melakukannya. Ia tidak lagi berpikir, karena dikepung oleh mentalitas massa.

Kita bisa menemukan banyak orang semacam itu di Indonesia. Mereka bekerja dan tenggelam dalam rutinitas, tanpa dasar yang kokoh, kecuali sekedar ikut-ikutan semata. Kita menjadi latah dan kemudian tenggelam dalam keadaan. Korupsi dan segala bentuk kejahatan lainnya banyak lahir dari sikap konformis tanpa pikiran.

Konformitas tanpa dasar adalah gejala yang amat berbahaya. Tidak perlu orang jahat untuk melakukan kejahatan besar, cukup orang yang tidak berpikir, dan bermental konformis sejati. Sikap adaptif memang baik, namun tanpa sikap kritis dan reflektif, sikap adaptif akan berubah menjadi sikap konformis yang menjilat pada kekuataan massa semata. Tidak heran orang bisa berubah sekejap mata menjadi penyiksa, ketika ia berada di kepungan para penyiksa.

Guru adalah pelita hati bangsa. Mereka mengarahkan ketika kita semua tersesat di perjalanan. Mereka membawa terang bagi anak-anak masa depan bangsa. Peran yang amat manusiawi ini tidak boleh lenyap, karena guru lupa akan peran sejatinya.

Guru tidak pernah boleh menjadi birokrat pendidikan!

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s