Antara Kita dan Lupa

why-do-we-forget-things_1

Antara Kita dan Lupa

Oleh: REZA A.A WATTIMENA

Tak ada yang lebih sulit daripada perjuangan melawan lupa. Ingatan begitu mudah lenyap ditelan peristiwa. Banyak hal buruk diredam, dan dibuat tak bermakna. Yang tersisa kemudian adalah rasa tak berdaya.

Itulah yang terjadi di Indonesia sekarang ini: LUPA. Banyak kasus dan skandal politik raksasa lolos dari perhatian masyarakat. Media menawarkan hasrat konsumtif yang mengalihkan perhatian. Kejahatan pun berlalu tanpa ada pertanggungjawaban.

Tidak Berpikir

Mengapa kita begitu mudah lupa? Karena kita tidak berpikir tentang apa yang bermakna. Lebih dari setengah abad yang lalu, Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman, mengajukan argumen begini: jaman kita ditandai dengan satu gejala, yakni ketidakberpikiran. Yang dimaksudkannya adalah kita hanya mampu berpikir teknis dan mekanis, tetapi tidak pernah secara radikal menyentuh apa yang sungguh signifikan. Argumen ini dikembangkan oleh muridnya, Hannah Arendt, untuk menjelaskan keganasan rezim NAZI di Jerman pada masa perang dunia kedua.

Di Indonesia banyak orang cerdas. Prestasi akademis menghiasi ruang tamu secara berkelas. Namun semua itu hanyalah simbol dari kecerdasan teknis, dan bukan kedalaman berpikir. Akibatnya prestasi hanya hiasan, tanpa ada kebijaksanaan yang sungguh terukir.

Tanpa kedalaman orang akan terjebak pada apa yang dangkal. Dan salah satu tanda kedangkalan adalah kelupaan. Tak heran ingatan kita sebagai bangsa begitu pendek, karena kita tak pernah sungguh mendalami apa yang kita alami dan pikirkan. Kejahatan demi kejahatan publik berlalu tanpa ada upaya untuk mengusung keadilan.

Tanpa Sikap Kritis

Kita juga cenderung tidak kritis. Pendidikan difokuskan untuk menghafal dan mengulang, tanpa ada pengolahan materi yang kritis dan sistematis. Kita pun cenderung menerima, tanpa pernah mempertanyakan. Kita bagaikan anak yang disuap oleh kejahatan dan kebodohan, tanpa ada upaya untuk melawan.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Berbagai skandal dan kejahatan terjadi di depan mata, tetapi kita bebal dan merasa tak berdaya. Lalu kita pun lupa. Jauh lebih enak melupakan, daripada banting tulang mengejar keadilan yang berharga.

Maka kita perlu untuk belajar berpikir kritis. Berpikir kritis berarti siap menguji sesuatu, sampai sesuatu itu layak untuk diterima. Tidak boleh ada pernyataan ataupun peristiwa yang berlalu tanpa ditanya. Dengan berpikir kritis maka kita akan terlepas dari bahaya lupa.

Peka pada Pengalihan

Sikap tidak berpikir dan tidak kritis membuat kita muda tertipu. Media dan politisi mengalihkan dan membawa kita menuju apa yang semu. Bahkan upaya sistematis untuk menutupi kebenaran pun tidak terlihat oleh mata yang telah tertutup oleh debu. Kita ditipu di siang bolong tanpa sadar.

Tujuan dari pengalihan ini adalah kelupaan. Orang dibombardir dengan tawaran-tawaran produk yang membuat nikmat, supaya mereka terjebak di dalam kelupaan. Pada akhirnya orang menjadi rakus, dan tak peduli dengan soal keadilan. Kecepatan pergantian berita di media massa membuat kita cepat pula berganti fokus perhatian.

Maka kita perlu melihat dan menyadari, betapa kita telah ditipu. Kita perlu sadar betapa kita telah dibombardir dengan apa yang semu. Ini adalah awal untuk memerangi kelupaan. Dengan terbebas dari kelupaan, kita bisa fokus berjuang untuk apa yang sungguh penting, baik untuk diri kita sendiri, masyarakat, maupun keseluruhan peradaban.

Melampaui Rasa Takut

Musuh terbesar dari keberanian untuk mengingat adalah rasa takut. Rasa takut menggerogoti jiwa dan nurani orang, sehingga ia menjadi opurtunis dan pengecut. Ia melihat dan sadar, bahwa ada yang salah. Namun karena takut ia kemudian memilih untuk lupa, diam, dan mengubur rasa bersalah.

Sekarang ini di Indonesia, banyak orang tahu, bahwa ada yang tidak beres. Namun mereka takut untuk menyatakannya. Mereka memilih untuk menyibukkan diri dengan urusan-urusan pribadi yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Dalam perjalanan waktu mereka terhanyut di dalam “rezim” yang ada, dan tenggelam di dalam lautan lupa bersama dengan yang lainnya.

Namun mau sampai kapan kita diam? Apakah menunggu sampai kita yang sungguh terkena dampak dari ketidakadilan? Bukankah itu sudah terlambat? Pada akhirnya kita perlu melampaui rasa takut, dan mempertaruhkan hidup kita untuk apa yang sungguh penting di dalam kehidupan, yakni rasa kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan.

Di bawah tekanan untuk berpikir dangkal dan teknis, tekanan yang membuat kita takut untuk berpikir dan bertindak kritis, serta godaan kenikmatan untuk menjadi lupa, kualitas kita sebagai manusia ditempa.

Pilihan ada pada anda.***

Penulis

Reza A.A Wattimena

Dosen Filsafat Politik,

Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

Iklan

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Pengembangan Diri dan Organisasi, Metode Berpikir Ilmiah dan Kebijaksanaan Timur. Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Kebijaksanaan Timur dan Jalan Pembebasan (akan terbit- 2016), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), dan berbagai karya lainnya.

2 thoughts on “Antara Kita dan Lupa”

  1. Hehehehe…..betul, sesederhana ini sebenarnya masalah kita. Tapi sayangnya, ini masalah ini ternyata tak sederhana 🙂

    Amnesia sistemik begini adalah sebuah hasil kesengajaan, yang diperkuat dengan hasrat mencari keleluasaan psikologis. Jadi yang dikejar adalah sebuah pembenaran dan kenyamanan emosional atas kegagalan menghadapi persoalan. Saya tidak menganjurkan bahwa ini adalah salah, karena pembenaran dan kenyamanan emosional adalah kewajaran manusia. Tapi, tenggelam dalam keduanya adalah ekstremisme yang menghasilkan amnesia sistemik yang jelas destruktif dan tidak sustainable.

    Suka

  2. Ya. Itu yang biasa disebut sebagai “kenyamanan sebagai ideologi”. Artinya kenyamanan yang menjadi selubung bagi sikap pengecut manusia. Kenyamanan sebagai kesadaran palsu. Jenis kenyamanan semu semacam ini yang harus kita hindari bersama.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s