Panik!

panic

Izdihar Afyouni (Jordan)

Oleh Reza A.A Wattimena

Gejalanya sangat menyakitkan. Jantung berdetak amat keras. Keringat dingin mengucuri tubuh. Pikiran dan emosi kacau berantakan.

Rasanya seperti bom nuklir yang meledak di dalam dada. Seluruh dada terasa sakit tak terkira. Seringkali, kejang-kejang pun tampil ke depan. Tanpa campur tangan yang tepat, orang bisa pingsan.

Tak hanya itu, serangan panik adalah serangan kematian itu sendiri. Orang seperti dijemput kematian. Walaupun, kehidupan mungkin masih panjang di depannya. Di hadapan panik, tanpa kesadaran yang tepat, orang seperti mencicipi saat-saat kematiannya sendiri.

Konsep Panik

Panik adalah rasa takut yang mengguncang tubuh. Pemikiran logis lenyap. Akal sehat tertutup kabut emosi. Kecemasan mendorong manusia ke naluri purbanya, yakni menyelamatkan diri dengan segala cara.

Kata panik diambil dari mitologi Yunani, tepatnya Pan, yakni nama seorang dewa. Pan adalah dewa para gembala. Pada keadaan biasa, Pan bekerja dengan tenang menggembala dombanya. Namun, jika dikagetkan dari istirahatnya, maka ia bisa berteriak keras, dan menciptakan kekacauan besar.

Pan lalu dipakai menjadi kata Yunani Panikos. (Merriam-Webster) Artinya adalah ketakutan yang muncul tiba-tiba. Ini lalu menjadi kata Panic di dalam bahasa Inggris, dan panik di dalam bahasa Indonesia. Secara singkat, panik adalah perasaan ketakutan yang amat mencekam serta terjadi mendadak. (Adriana, 2010)

Panik Pribadi

Minyur Rinpoche, salah satu master meditasi asal Tibet, mengalami panik kuat di dalam hidupnya. Di masa kecil, panik selalu menyerangnya. Perubahan kecil akan memicu panik di dalam dirinya. Akibat rasa panik yang terus datang, masa kecilnya penuh dengan penderitaan.

Namun, ia tak menyerah di hadapan panik. Ia tidak putus asa, atau melarikan diri. Ia mengamati panik yang muncul, dan mencoba berteman dengannya. Panik dan derita membawanya ke jalan meditatif.

Mingyur mengamati paniknya dengan lembut. Ia membawa kesadarannya ke dalam panik yang menerpanya. Ia bersikap lembut kepada derita panik yang mencekam. Ia melihatnya sebagai teman lama, menyambutnya dengan lembut, lalu membiarkannya pergi.

Kisahnya menjadi legendaris. Kisah Minyur menjadi contoh nyata, bagaimana jalan meditatif bisa menuntun orang keluar dari gangguan kejiwaan. Derita bukanlah musuh yang mesti dibasmi. Ia adalah kawan lama yang perlu ditemani, lalu dibiarkan pergi.

Panik Politik

Namun, panik tidak hanya menyerang orang pribadi. Masyarakat, dan bahkan bangsa, pun mengalaminya. Gejalanya serupa. Masyarakat mengalami teror dan rasa sakit yang luar biasa besar.

Di dalam sejarah manusia, banyak bencana yang memicu panik. Bencana alam adalah salah satunya, mulai dari gempa bumi sampai dengan tsunami. Di dalam bencana, harta dan nyawa lenyap seketika. Yang selamat pun hidup dalam rasa takut dan panik.

Di masa kita, kemungkinan bencana semakin besar. Bukan alam yang kini mengancam kita, tetapi manusia. Dengan senjata pemusnah massal, baik nuklir ataupun biologis, manusia menciptakan bencana untuk manusia lainnya. Takut dan panik pun tercipta di seluruh penjuru dunia.

Ketika panik, akal sehat meredup. Orang didorong untuk melakukan sesuatu yang ekstrem, entah berteriak, lari atau menyerang tanpa arah. Emosi ekstrem melanda jiwa, ketika panik menikam. Segala hal yang dianggap berharga bisa berakhir seketika.

Namun, panik tak pernah ada gunanya. Ia mencekam dan membuat derita yang tak bermakna. Ia mendorong manusia ke sisi terendahnya, yakni memikirkan diri sendiri sambil menyiksa mahluk lain. Ketika panik, manusia seperti kehilangan kemanusiaannya.

Panik merusak segalanya. Kejernihan lenyap seketika. Akal budi sirna sementara. Hanya dorongan bertahan hidup yang tampil ke depan mata.

Panik Dewasa Ini

Di era media sosial, panik nyaris tak terhindarkan. Media menyebar berita-berita heboh yang dibuat dengan tidak akurat dan tidak seimbang. Semua menciptakan ketakutan dan kepanikan yang sia-sia. Banyak pihak yang diuntungkan, ketika masyarakat panik, dan hidup dalam ketakutan.

Politisi busuk bahagia, ketika masyarakat hidup dalam panik. Mereka selalu ingin, supaya kehidupan bersama kacau dan penuh ketakutan. Ada keuntungan uang maupun kuasa yang bisa diperoleh disitu. Ini salah satu taktik lama di dalam politik busuk kekuasaan.

Salah satu yang paling jelas adalah soal pengalihan isu. Media dipakai untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari hal-hal yang penting untuk diamati. Karena terus diserang berita-berita palsu yang menakutkan, perhatian masyarakat pun menjadi lemah, dan bahkan lenyap. Ini racun paling mematikan untuk demokrasi sekarang ini.

Panik politik juga bisa melahirkan pahlawan palsu. Politisi busuk menyebarkan berita yang mengundang panik dan takut. Lalu, ia, dengan kelompoknya, seolah tampil ke depan sebagai penyelamat. Kepercayaan masyarakat pun bisa digenggamnya.

Kontra Panik

Di banyak tempat, korona menciptakan panik sosial politik. Pemimpin palsu tak akan sanggup mengelola panik dan bencana. Mereka hanya akan mengambil langkah-langkah yang justru memperparah keadaan. Mereka hanya ikut arus, tanpa sikap jernih dan kritis.

Ini tentu tak bisa didiamkan. Di dalam masyarakat, panik bisa sirna dengan hadirnya pemimpin yang kuat. Pemimpin tersebut harus mampu berpikir kritis dan jernih di dalam memahami keadaan, lalu mengambil tindakan tegas yang diperlukan. Ia tak boleh hanyut dalam tekanan, dan ikut arus secara buta.

Namun, masyarakat tak boleh bergantung sepenuhnya pada sosok pemimpin. Itu adalah racun baru yang akan mengundang bencana. Masyarakat harus belajar untuk mengambil jeda, ketika mencoba memahami sesuatu. Jeda memberikan ruang untuk kejernihan dan kemampuan berpikir kritis. Ini yang harus dilatih bersama.

 

4 thoughts on “Panik!

  1. terimakasih pak Reza, ulasan yang cerdas juga menarik dan relevan untuk situasi kita hari-hari ini. Teror yang menciptakan kepanikan di tengah masyarakat membuat orang begitu takut. Nah situasi itu rupanya dibuat-buat juga sehingga tampil orang-orang yang sok-sok menjadi pahlawan untuk menyelamatkan masyarakat kebanyakan….salam perubahan pak, tetap menyajikan info-info berkualitas bagi kepentingan bangsa ini.

    Suka

  2. Kepanikan sebagian besar ada di media, tetapi banyak orang percaya hal itu di media , mereka adalah domba yang tidak punya akal dan juga histeris.Saya benar-benar sedih oleh orang-orang yang mengatakan “Saya tidak mendukung kepanikan tetapi saya telah mengisi ruang bawah tanah saya dengan makanan, masker, pembersih, dan hal-hal lain”. Jika semua orang melakukannya, kekurangan akan ada di mana-mana. Mengapa orang-orang seperti itu – softcore atau preppers hardcore – tampaknya tidak menyadari fakta nyata bahwa apa yang mereka lakukan menjadikan mereka beberapa orang yang paling histeris di Bumi , kepanikan itu liar dan tidak bermoral
    Salam rahsyu ….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.