
Saya semakin yakin, dunia ini hanya menawarkan harapan palsu. Bukan karena dunia ini jahat, tetapi karena segalanya berubah. Alam tak seindah dulu, dan semakin tak mampu menopang gaya hidup manusia. Politik yang juga semakin kusut.
Karena perubahan itu pasti, maka harapan pun selalu ada. Namun, harapan akan terus menjadi kosong, tanpa upaya mewujudkan keadaan yang tepat. Filsafat adalah jawaban disini. Jika pola pikir filsafati, sebagaimana ditawarkan di buku ini, diterapkan, maka sebagian besar masalah-masalah hidup kita akan selesai.
Jika dan hanya jika…
Ada empat hal yang kiranya penting untuk terus diingat. Pertama, filsafat bukan hanya filsafat Eropa, atau filsafat Arab. Asia, juga Indonesia, memiliki tradisi filsafat yang mendalam. Di dalam tradisi Asia, filsafat bukan hanya soal kemampuan berpikir rasional, sistematis dan kritis, tetapi juga soal pembebasan dan pencerahan batin. Pada hemat saya, ini adalah langkah awal yang mesti dilakukan oleh semua manusia, yakni terbebas dan tercerahkan, sebelum mulai berbicara soal politik, ekonomi, hukum dan budaya.
Dua, pembebasan dan pencerahan juga berarti meluasnya tingkat kesadaran seseorang. Ini yang menjadi inti dari teori transformasi kesadaran yang saya kembangkan. Dengan kesadaran yang meluas, orang lalu terlibat di dalam menjalani berbagai kegiatan di dalam hidupnya. Kebaikan bersama pun lalu bisa terwujud.
Tiga, setelah mengalami transformasi kesadaran, baru kita bisa berbicara tentang politik. Buku ini penuh dengan analisis politik yang dikaitkan dengan sudut pandang filsafat dan teori transformasi kesadaran. Dalam terang kesadaran yang luas, politik menjadi soal tata kelola dengan akal sehat untuk kebaikan bersama. Agama pun menjadi pembebas batin dan pikiran, bukan belenggu yang memperbodoh, seperti sekarang ini.
Empat, pada akhirnya, tujuan buku ini sederhana, yakni melenyapkan korupsi di segala bidang. Korupsi bukan hanya soal pencurian uang negara untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Korupsi adalah pembusukan di dalam tata hidup bersama. Bentuk nyatanya adalah ketika orang tidak menjalankan kewajibannya sebagai warga negara dan manusia, serta menciptakan ketidakadilan bagi orang lain.

Buku ini adalah kumpulan karya saya yang tersebar di berbagai media pada 2023 dan 2024. Sebagian besar sudah tersebar di website www.rumahfilsafat.com Namun, walaupun saya yang menulisnya, ketika menyunting buku ini, saya masih banyak mendapat inspirasi baru. Semoga anda juga merasakan hal serupa.
Buku ini bisa dibaca dengan berbagai cara. Anda bisa membaca dari awal, perlahan sampai akhir. Anda juga bisa melihat daftar isi, lalu mencari tema yang kiranya dibutuhkan. Anda juga bisa asal buka, lalu mulai membaca. Silahkan dinikmati sesuai dengan keinginan dan kebutuhan anda.
Jika terbantu, saya terbuka untuk menerima sumbangan, guna menopang kegiatan Rumah Filsafat. Buku setebal 571 halaman ini disebarkan secara gratis. Jika anda ingin mencetak dan menjualnya, silahkan. Soal donasi, bisa cek di halaman berikut: https://rumahfilsafat.com/rumah-filsafat-dari-kita-untuk-kita-dan-oleh-kita-ajakan-untuk-bekerja-sama/
Semoga percikan filsafat, politik dan spiritualitas di dalam buku ini bisa mencerahkan hidup pribadi anda, membebaskan anda dari penderitaan dan membawa nuansa akal sehat di dalam hidup keseharian. Selamat membaca.
Reza A.A Wattimena
Jakarta, Januari 2025
Versi ebook bisa diperoleh di Naskah Reza, Percikan Filsafat
