Menjadi Merdeka

Freedom Oil Painting By Abed Alem | absolutearts.comOleh Reza A.A Wattimena

Tentunya, kita ingin hidup yang otentik. Kita tidak ingin berpura-pura dalam hidup. Kita tidak ingin jatuh ke dalam kemunafikan. Tak ada orang yang ingin hidup dalam kepalsuan terus menerus.

Kita juga tak ingin hidup dengan rasa takut. Kita tidak ingin terus mengingkari nurani dan akal sehat yang kita punya. Untuk jangka pendek, kita mungkin rela ditindas. Namun, untuk jangka panjang, hasrat untuk merdeka akan menghujam keluar.

Di Indonesia, kita ditikam oleh ajaran sesat yang mengaku suci. Ajaran ini menindas perempuan dengan dalih kesucian dan surga. Ajaran ini merusak budaya setempat yang sudah hidup ribuan tahun lamanya. Ajaran ini menjadi pembenaran untuk ibadah yang merusak ketenangan hidup bersama.

Kita tentu tak ingin hidup seperti ini terus menerus. Penjajahan bisa terjadi. Namun, naluri untuk merdeka tak akan pernah bisa dibunuh. Ada sesuatu di dalam diri manusia yang menolak untuk tunduk pada segala bentuk penindasan, walaupun itu berkedok kesucian.

Kita juga harus ingat, bahwa pemberontakan tak bisa tanpa arah. Ia harus berpola, supaya tidak jatuh pada kekacauan. Jika tanpa arah, pemberontakan itu hanya seperti mengganti masalah yang satu dengan masalah yang lain. Ini seperti keluar dari mulut singa, dan masuk ke mulut serigala.

Maka, kita perlu pijakan. Dalam hal ini, pijakan paling tepat adalah kebenaran itu sendiri, yakni kebenaran tentang kenyataan sebagaimana adanya. Inilah kenyataan sebelum teori, konsep dan bahasa. Inilah kenyataan yang berujung pada kebijaksanaan dan pencerahan batin.

Empat Hukum Dunia

Kenyataan sebagaimana adanya memiliki empat hukum. Pertama, ia terus berubah. Ia adalah aliran deras yang tak akan pernah berhenti. Kenyataan itu tak akan pernah bisa tunduk pada konsep dan teori, karena ia selalu bergerak.

Dua, dunia adalah hasil ciptaan kesadaran manusia. Segala hal adalah persoalan sudut pandang. Kita bisa sepakat tentang beberapa hal, misalnya tentang tata nilai moral bersama. Namun, kesepakatan itu pun bermakna berbeda untuk orang-orang yang berbeda. Ia tak abadi.

Tiga, tak ada diri, atau ego. Itu hanya hasil kebiasaan semata. Itu juga hanya konsep dan bahasa yang berpijak pada ingatan. Diri kita yang asli bersifat kosong, sadar dan selalu terhubung dengan segala yang ada.

Empat, semua emosi dan pikiran akan berakhir pada ketidakpuasan. Ini terjadi, karena emosi dan pikiran mencoba menggenggam kenyataan yang terus berubah. Ini seperti orang yang hendak menggenggam asap. Ia tak akan pernah berhasil, dan justru menjadi frustasi.

Orang mengira, pikiran positif akan menciptakan kebahagiaan. Orang juga mengira, bahwa kenikmatan adalah kebahagiaan. Maka, mereka memanjakan tubuh mereka dengan berbagai kenikmatan. Namun, ini semua adalah usaha sia-sia yang akan bermuara pada rasa tidak puas.

Makan kenyang dan enak akan melahirkan rasa penuh atau mual di perut. Bercinta akan menghasilkan rasa lelah. Belanja akan menghasilkan rasa bersalah, dan bahkan hutang. Harapan akan menghasilkan kekecewaan, jika tidak sesuai dengan kenyataan.

Menjadi Merdeka

Menjadi merdeka bukanlah bertindak semaunya. Menjadi merdeka haruslah berpijak pada kebenaran, yakni pemahaman tentang dunia sebagaimana adanya. Pemahaman ini akan melahirkan kebijaksanaan. Merdeka haruslah bijaksana.

Orang yang bertindak semaunya justru tidak merdeka. Ia dijajah oleh hasrat-hasrat di dalam dirinya. Padahal, hasrat-hasratnya bukanlah miliknya, melainkan hasil rayuan pasar, ataupun pengaruh kuat dari lingkungan sosial. Hidupnya pun akan dangkal, dan berakhir di dalam ketidakpuasan. Ia juga akan membuat sulit hidup orang lain, terutama orang-orang terdekatnya.

Menjadi merdeka berarti paham kebenaran, dan hidup sejalan dengannya. Ini berarti orang punya pemahaman memadai tentang empat hukum dunia, dan hidup sesuai dengannya. Segala keinginan yang tak sesuai kenyataan akan lenyap seketika. Inilah keadaan batin yang tercerahkan, yakni ketika orang melihat kekosongan dari segala sesuatu.

Tidak ada ambisi berlebihan, dan tidak ada kekecewaan berlebihan. Bagaimanapun rumitnya, hidup hanya sementara. Ia adalah permainan. Kita hanya perlu bermain dengan gembira dan merdeka.

Dengan pemahaman ini, baru bisa menjadi manusia yang sungguh merdeka. Kita pun bisa bertindak menolong orang lain dengan ketulusan. Tidak ada agenda yang disembunyikan. Ketulusan murni adalah buah dari kemerdekaan batin yang sejati.***

             

           

 

 

Diterbitkan oleh

Reza A.A Wattimena

Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Beberapa karyanya: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

2 tanggapan untuk “Menjadi Merdeka”

  1. setuju banget !!
    mengapa di negara dimana penduduk umumnya mampu membaca dan menulis, memakai ponsel, tapi rela di kelabu i pengaruh asing ???
    menurut pandangan saya, mentalität “manut wae”, tidak kritis, takut, tidak mampu berpikir bebas , juga system pendidikan yg begitu terbelakang , dan faktor2 lain yg sangat merugikan, mengakibatkan rusak nya kebudayaan asli bangsa.
    umumnya masyarakat sangat tersinggung , kalau kita berusaha bertukar pikiran dgn baik2, percakapan berachir dgn kemarahan, bahkan pemikiran yg tidak masuk akal.
    siapa tidak setuju / merasa tertindas setidak2 nya berusaha angkat kaki , pergi mencari tempat dimana makna kebebasan berlaku.
    minat mempelajari budaya asli ? pergilah kenegara asing, di mana budaya indonesia di pelihara, mungkin juga di perkembang di kalangan tertentu.
    sangat memilukan, tapi nyata !!
    salam hangat !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.